Sebelum Peristiwa – Di Antara Subuh – Meditasi Batu

Karya . Dikliping tanggal 16 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Sebelum Peristiwa

Telah kusaksikan segulung duri
yang nancap di jantung hati
dan aku pun tahu siapa membuang mawar
lalu membawa tangkainya ke rumah duka
sebelum peristiwa itu terjadi
Bukan jerit dan tangisan
menjadi barang bukti
para saksi dan korban
Demi kalam dan lautan tinta
lidah sang hamba mesti memilih
menatah kata semesta dalam lembaran
kertas putih, mengulang waktu dan ingatan
yang berdetak di pergelangan tangan
walau negeri menjelma arang dan bara api
: keadilan tak pernah gosong dan mati!
Hanya bangsa mengaduh
nganga luka bagai kubangan
peta terbuka sekujur tubuh
[2015]

Di Antara Subuh

Di antara subuh dan langit keruh
para nelayan tak pernah bosan
membawa mimpi gulungan ombak
yang bakal bersinar sepanjang hari
di sela pasir dan gerak bumi
Seperti ikan-ikan dalam samudra
kita juga mesti bergandeng tangan
merinci segala yang pernah terjadi
di depan mata, di cekung hati
walau angin lantang bicara
mengulang-ngulang kisahnya
tanpa kata yang bisa diterka
: buih berputar di atas gelombang
Janji-janji tak pernah pergi
dari halaman buku dan kitab suci
menolak diam yang mengampas
bagai kopi di dasar gelas
walau laut dan pantai menghitam
perahu dan jaring tenggelam
Tak ada makam di ruang pengadilan!
[2015]

Meditasi Batu

Kaucari-cari sejarah masa lalu
dalam batu. Segumpal debu yang hilang
di antara lahar berapi dan banjir bandang
kelopak jiwa meneteskan airmata
mengepakkan sayapnya tanpa bulu
terbang tinggi menuju langit ketujuh
Kaugali-gali kuburmu sendiri
sebagai hiburan. Kilau cincin permata
menembus waktu sepanjang zaman
sampai engkau pun tahu, tanpa cahaya
siang dan malam sama gelapnya
Kausaksikan seribu anak panah
melesat dari gundukan tanah
membawa rupa segala yang fana
lalu berserah pada sunyi yang baka
Kaulupakan asal hujan dan air garam
muara laut dan sungai-sungai kehidupan
yang mengalirkan darah dalam tubuhmu
Gunung-gunung menyimpan rahasia
gulungan ombak dan badai katulistiwa
Sepasang batu menangis di jari manismu
[2015]
Hamdy Salad, dosen Agama dan Budaya Islam di ISI Yogyakarta. Buku puisinya yang sudah terbit: Sebutir Debu di Tepi Jurang (2004), Rubaiyyat Sebiji Sawi (2004), Sajadah di Pipi Mawar (2005), Mahar Cinta bagi Kekasih (2005), Zikir Logam (dami, 2009) dan, Tasbih Merapi (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamdy Salad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 16 Agustus 2015