Sebongkah Batu

Karya . Dikliping tanggal 9 Maret 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

AKU memang hanya sebongkah batu, sebesar kepala bocah anakmu dan berlumut. Aku memaklumi jika kau mengabaikan keberadaanku. Aku tak berkausa atas diriku. Ketika Tuhan meletakkan aku di antara cengkeraman akar-akar pohon, aku tak kuasa menolak. Kau pun begitu. Kau tak berkuasa atas dirimu. Apakah kau bisa menolak ketika kau mendapati dirimu berada di rahim seorang pelacur? Aku, kau, pohon, semua tunduk pada-Nya.

SUATU hari kantung kemihmu terasa penuh. Kau ingin kencing dan kau mencari tempat yang sekiranya nyaman. Aku berada di antara akar-akar yang pohonnya tinggi menjulang. Kau pun menyirami aku dengan air kencingmu. Aku memakluminya karena aku memang hanya sebongkah batu. Lalu ketika perutmu mual sebab berbotol-botol arak kau tenggak, kau muntahkan kotoran isi perutmu ke atasku, aku tak kuasa menolak.
Seandainya satu hari saja kau mau mengakrabi aku, maka akan kau temukan banyak cerita yang akan memberi pencerahan untukmu. Sejatinya, kau, aku dan seluruh alam semesta ini hanya menunggu datangnya kepastian: kepunahan. Kita berada di dalam terompet sangkakala.
Mungkin tak kau sadari jika umurku lebih tua darimu, bahkan lebih tua dari nenek moyangmu. Banyak cerita manusia yang telah aku saksikan. Dan sumber semua cerita itu muaranya tetap sama: harta, kekuasaan, dan birahi. Perjalanan manusia selalu berputar pada masalah itu. Dan sepertinya manusia tidak pernah belajar dengan kesalahan masa lalunya.
Aku pernah menyaksikan seorang tua yang kesepian, sendirian menjemput ajal di sini.
“Semua harta yang aku kumpulkan tak ada gunanya.” Suara orang tua itu terdengar lirih. “Hidupku hancur.”
Aku lihat ia memegangi dadanya. Mungkin ia merasakan sakit di jantungnya. Ia merintih menahan sakit.
“Sejak muda aku giat mencari harta. Aku kumpulkan dengan harapan kelak jika aku tua akan bahagia.”
Angin bertiup. Daun-daun pohon di atasku berjatuhan, sebagian menimpa wajah orang tua itu. Nafasnya sudah tak beraturan lagi.
Aku diciptakan hanya untuk menyaksikan. Aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Segala cara, entah benar atau tidak, aku lakukan untuk menumpuk harta. Semua sia-sia.” Ia makin kepayahan.
Kepastian pun menghampirinya. Tuhan berkehendak. Ia meninggal berselimut tipu daya gemerlap duniawi. Dan lebih menyakitkan lagi ia meninggal tanpa kehangatan orang-orang dekatnya.
**
TUHAN menciptakan semesta dengan penuh keseimbangan. Tulang di tubuhmu adalah batu. Coba kau pikirkan jika tubuhmu tak bertulang. Kau tak akan bisa berdiri tegak. Kau seperti adonan lembek dan menjijikkan. Sama halnya jika bumi tak berbatu. Bumi seperti pasir penghisap. Semua yang ada di atas bumi akan terhisap.
Kadang kau mencoba merusak keseimbangan itu. Kau luluh-lantakkan pohon-pohon besar. Dan kau mengubahnya menjadi pundi-pundi kekayaan. Seolah harta akan memberimu kebahagiaan. Ternyata tidak.
Karena keserakahanmu, aku pun terkena imbasnya. Tiba-tiba tanah di atasku longsor. Aku tertimbun. Aku dalam kegelapan. Dan di dalam kegelapan itu aku sempat mendengar erangan seorang remaja. Erangannya tersekat di antara tenggorokannya. Ia benar-benar kesakitan karena tak bisa bernafas. Ia pun meninggal. Kau tahu? Karena keserakahanmu, kau sudah mengubur impian remaja itu. Impian yang mungkin lebih mulia dari impianmu.
Tidak jauh dari seorang remaja, aku juga melihat laki-laki dewasa sedang berusaha melawan kematian. Sekuat tenaga ia kerahkan agar terbebas dari timbunan tanah. Apakah kau bisa bayangkan, ia tertimbun tanah sedalam tujuh meter dan berusaha melepaskan diri? Tentu saja ia tak akan bisa. Ia pun meninggal.
Kini di dalam tanah menjadi hening. Suara erangan menuju kematian tak terdengar lagi.
**
SEKARANG aku bisa melihat dunia terang kembali. Dunia di mana kau bisa melihatku, mengencingiku. Ternyata untuk bisa kembali ke dunia terang butuh proses yang sangat panjang. Pelan-pelan aliran air di atasku mengikis tanah yang menguburku. Pelan-pelan aku pun mulai menyembul di atas tanah.
Seandainya boleh memilih, aku lebih senang berada di dalam tanah. Di sana aku merasa lebih tenang. Dan seperti yang tadi aku bilang, aku tak berkuasa atas diriku. Kembali aku bisa melihat segala tingkah lakumu yang sebenarnya membuat aku muak.
Di sini, di tempat ini, pada malam hari, datang tiga orang laki-laki. Rupanya mereka sedang merencanakan pembunuhan.
“Aku dapat tawaran bagus dengan imbalan besar,” kata laki-laki agak gemuk membuka pembicaraan.
“Tawaran apa?”
“Aku disuruh membunuh wanita ini.”
Laki-laki agak gemuk tadi memperlihatkan foto seorang wanita. Teman-temannya yang lain pun mengerubungi foto yang dipegang laki-laki agak gemuk.
“Bagaimana?” tanya laki-laki agak gemuk.
“Aku setuju asal imbalannya sesuai.”
“Masing-masing akan mendapatkan tiga ratus juta. Bagaimana?”
Dua teman laki-laki agak gemuk itu wajahnya terlihat gembira setelah mendengar besarnya imbalan yang diberikan. Mereka pun setuju.
Aku hanya sebongkah batu.Seandainya Tuhan, sekali saja, membuat aku bisa bicara, pasti mereka akan aku nasihati: “Demi uang kalian akan melakukan kekejian itu? Apakah kalian sadari jika seandainya rencana membunuh wanita itu berhasil kalian lakukan, bagaimana nasib orang-orang yang ditinggalkan wanita itu?”
Dan aku hanya sebongkah batu. Aku hanya bisa melihat dan tak bisa menasihati. Tapi seandainya satu hari saja kau mau mengakrabi aku, maka akan kau temukan banyak cerita yang akan memberi pencerahan untukmu. Sejatinya, kau, aku dan seluruh alam semesta ini hanya menunggu datangnya kepastian: kepunahan. Kemudian dibangkitkan kembali dan Tuhan akan meminta pertanggungjawabanmu selama kau hidup di dunia.***
Rumah mimpi, 2014.

Basuki Fitrianto, tinggal di Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Basuki Fitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 6 Maret 2016