Sebuah Cara Jitu Menghapus Kelaparan dan Kemiskinan

Karya . Dikliping tanggal 19 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Sudah satu minggu Tuan Kuasa tidak bisa tidur nyenyak. Saat malam tiba, rasa cemas memakan kantuknya, mengganti dengan penglihatan berulang akan bara, api, mulut-mulut manusia yang meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.

Siang hari, rasa letih dan putus asa mendera. Di antara mata yang setengah membuka dan pikiran setengah sadar, ia terus teringat percakapan dengan Bapak Suci, lelaki tua agung yang bertugas memberi nasihat bijak tentang kehidupan bumi dan Langit.

Saat itu ia sedang mengunjungi Kuil Putih, tempat di puncak gunung tertinggi, yang dipersiapkan untuk upacara memuja Langit. Seperti biasa, seusai melakukan ritual Langit, Tuan Kuasa duduk berbincang dengan Bapak Suci.

Percakapan mereka hangat dan pribadi. Hanya ada mereka berdua, teh panas dan penganan di atas pinggan, serta kesunyian yang menggigit.

Tuan Kuasa ingat, sebelum percakapan itu terjadi, mereka tekun memandang lekuk desa dan kota yang kerdil di kejauhan.

”Pembangunan tampaknya berjalan lancar,” suara Bapak Suci memecah sunyi.

”Ya, begitulah. Kehendak Langit memudahkan semua upaya saya membangun negeri ini,” timpal Tuan Kuasa. Ia mencoba merendah, tetapi nada jemawa tak bisa disembunyikan dari kalimatnya.

Bapak Suci tersenyum, mengangguk.

”Akhirnya saya bisa membawa negeri ini ke keadaan aman, damai, dan tenteram,” tambah Tuan Kuasa.

Lagi-lagi Bapak Suci tersenyum, mengangguk.

”Oh ya, Bapak Suci, katakan kepada saya, apakah saya pemimpin yang baik? Saya sudah tak muda lagi dan akhir-akhir ini mulai mengingat mati. Jika Langit menghendaki saya mati, apakah Langit menerima saya dan menempatkan saya di surga?”

Hening.

Bapak Suci terdiam. Senyumnya samar, lalu pelan-pelan menghilang.

”Kenapa diam, Bapak Suci? Katakanlah sejujurnya,” suara Tuan Kuasa terdengar gusar.

Bapak Suci menghela napas pelan. Ia memandang lekat pada Tuan Kuasa.

”Sejujurnya saya sudah lama ingin mengatakan hal ini kepada Tuan. Namun Tuan terlalu sibuk. Saya rasa sekaranglah waktu yang tepat untuk mengutarakan.”

”Ada apa, Bapak Suci? Ceritakan pada saya segera!” pintanya tak sabar.

Dengan wajah muram, Bapak Suci pun berkata, ”Selama tiga bulan ini saya bermimpi. Mimpi yang selalu sama: bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.”

”Oh, tidak! Itu sangat menyeramkan. Namun apa hubungannya dengan saya?”

Bapak Suci bermenung sejenak. Tuan Kuasa menggeser duduk, tak sabar menunggu jawaban.

”Tuan ada di sana,” jawab Bapak Suci murung, ”di antara tubuh-tubuh yang menyala oleh bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, serta suara jeritan yang tak terselesaikan.”

Mendengar itu, seolah darah menghilang dari wajah Tuan Kuasa. Sesaat ia takut. Namun yang terjadi kemudian, ia malah marah dan gusar.

”Tidak mungkin saya ada di sana! Bapak Suci tahu, saya telah berbuat banyak untuk rakyat dan negeri ini. Banyak orang memuji dan meniru cara saya menjalankan kekuasaan. Mana mungkin saya ada di tempat mengerikan sebagaimana Bapak Suci katakan?”

Wajah Bapak Suci makin muram. Ia menunduk. Ia tahu persis bagaimana Tuan Kuasa menjalankan kekuasaan sehari-hari. Ia pun telah memberi banyak nasihat. Namun tak semua Tuan Kuasa jalankan.

”Saya mengubah desa dan kota yang sepi dan muram menjadi pusat-pusat perdagangan yang ramai. Saya membangun tempat-tempat indah di segala penjuru agar seluruh dunia tahu betapa megah negeri yang kita huni. Saya pun membuat aturan yang mampu menertibkan kejahatan, menjadikan negeri kita tempat aman untuk dikunjungi. Saya mendapat banyak penghargaan dari negara-negara lain atas keberhasilan saya memimpin. Lantas, bagaimana mungkin saya tidak diterima Langit?”

Bapak Suci mengangkat wajah, kembali memandang lekat Tuan Kuasa, berharap kali ini Tuan Kuasa benar-benar mendengar nasihatnya.

”Tuan Kuasa yang bijaksana, datanglah ke pelosok-pelosok negeri, ke sudut-sudut tersembunyi oleh kemegahan bangunan. Ketuklah pintu rumah penduduk. Jika Tuan masih menemukan orang tua, perempuan, dan anak-anak berperut lapar akibat kemiskinan, Langit tak akan menerima Tuan, bahkan Tuan pun tak akan mencium aroma surga.”

Tuan Kuasa terdiam. Lalu katanya dengan sedih, ”Jika ternyata saya tak memiliki rakyat miskin yang kelaparan, apakah itu berarti mimpi Anda keliru dan sesungguhnya saya akan masuk surga?”

”Jika Tuan memang pemimpin yang adil dan bijaksana, yang menempatkan kepentingan dan kesejahteraan seluruh rakyat kecil, saya yakin tak ada yang bisa menghalangi Tuan membuka Gerbang Langit dan memasuki surga-Nya!”

Itulah kata Bapak Suci. Itu pula yang selalu terngiang dalam kepala Tuan Kuasa yang menyebabkan dia kini hidup tak tenang dan menderita.

Sepulang dari Kuil Putih, Tuan Kuasa segera memerintah para menteri pergi ke pelosok-pelosok, mengetuk pintu rumah penduduk, mencari tahu adakah orang tua, perempuan, dan anak-anak yang lapar akibat kemiskinan.

Laporan para menteri sangat mengejutkan. Tuan Kuasa duduk terenyak di kursi setelah mendapati begitu banyak angka yang memperlihatkan jumlah rakyat miskin dan kelaparan di negerinya. Seluruh tubuhnya gemetar. Terbayang lagi bara, api, mulut-mulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan.

Tuan Kuasa mencoba menenangkan diri, berpikir jernih. Ia mengadakan rapat dengan para menteri dan kalangan intelektual, mencari jalan keluar bagaimana menghilangkan kemiskinan. Namun apa pun yang mereka ajukan sebagai penyelesaian, tidak mungkin ia laksanakan.

Jumlah kaum miskin terlalu besar. Negeri ini akan bangkrut jika harus memberi subsidi demi mengisi perut lapar mereka. Para menteri juga protes ketika kaum intelektual menyarankan para pejabat negara menyerahkan setengah kekayaan mereka untuk dibagikan kepada si miskin.

Tak ada jalan keluar! Itulah yang membuat Tuan Kuasa gusar. Tak ada yang tahu kapan seseorang mati. Namun Tuan Kuasa ingin mati dengan tenang, dan masuk surga.

Minggu demi minggu berlalu. Tuan Kuasa makin menderita karena penglihatannya yang makin jelas tentang bara, api, mulut-mulut manusia meleleh dan jeritan yang tak terselesaikan. Akhirnya, ia pun sakit.

Namun, sakit dan obat-obatan tak dapat membuatnya tertidur nyenyak barang sebentar. Kantuknya benar-benar dimakan rasa takut dan depresi. Ketika demam mencapai puncak, di antara gigil dan peluh tak berkesudahan, Tuan Kuasa mendapat penglihatan lain dari biasa.

Dalam penglihatannya, orang tua, perempuan, dan anak-anak berkumpul di sebuah lubang sangat besar dan dalam. Berbaju lusuh bertambal. Sebagian mengangkat kedua tangan ke udara, sebagian memegangi perut dengan wajah pilu. Ratapan dan erangan tergambar dari mulut-mulut mereka yang tak bersuara.

Tiba-tiba sesuatu terjatuh dari langit. Mereka bersorak, memperebutkan benda yang makin deras jatuh ke dalam lubang. Orang-orang tua meraup benda itu dan dengan gemetar memasukkan ke dalam mulut, para perempuan mengunyah cepat-cepat dan tak sabaran, anak-anak menggigit dan menjilati sisa-sisa benda di tangan dengan rakus. Cokelat-hitam wajah dan tubuh mereka. Semua menjadi cokelat hitam hingga akhirnya Tuan Kuasa tak dapat lagi melihat tangan atau kepala mereka. Terkubur oleh benda cokelat hitam yang jatuh dari langit. Tanah.

***

Pagi ini, Tuan Kuasa sembuh dari demam. Darah mengalir hangat di sekujur tubuh. Cemas dan sakit lenyap dari badan. Setelah demam semalam, penglihatan akan bara, api, mulutmulut manusia meleleh, dan suara jeritan yang tak terselesaikan telah menghilang, berganti penglihatan baru tentang orang tua, perempuan, dan anak-anak yang berkumpul di dalam lubang sangat besar dan dalam.

Tuan Kuasa tersenyum lega sekarang. Ia menemukan cara jitu menghapus kelaparan dan kemiskinan, sehingga kelak langkahnya ke surga tak terganjal lagi.

Segera ia bangkit dan mengumpulkan pasukan. (28)

–  Nilla A Asrudian, cerpenis dan penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Buku cerpennya Warna Cinta(-mu Apa?). Cerpennya dimuat Kompas dan Suara Merdeka. Tulisan lain dimuat di blog lifestyle beritasatu.com, jakartabeat.com, galeribukujakarta.com.


[1] Disalin dari karya Nilla A Asrudian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 17 Maret 2019.