Sebuah Cerita yang Serius, Mengerikan, dan Tidak Main-Main

Karya . Dikliping tanggal 22 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

KARENA ini adalah sebuah cerita yang serius, mengerikan, dan tidak main-main diperlukan semacam adegan pembuka yang dahsyat. Seperti ini misalnya:

Lelaki itu duduk di sebuah kursi kayu, tangannya terbelenggu ke belakang, begitupun kakinya yang telanjang tanpa alas, terikat dengan kaki kursi bagian depan. Badannya tampak ringkih dengan pakaian kecokelatan yang robek di sana-sini. Wajahnya yang menampakkan raut kepedihan itu dipenuhi lebam dan luka. Mulutnya terus-menerus meneteskan darah. Maklum, gigi-giginya telah rontok dan berserakan di lantai. Sementara di hadapannya dua orang berbadan besar sedang menyiapkan beberapa peralatan listrik. Suasana di ruangan itu cukup remang, lampu pijar hanya ada satu, dan itu pun hidup-mati. Udara begitu pengap seperti aroma cucian yang lama direndam dan diangkat sebelum benar-benar kering. Sementara di luar, hujan terus mengirim suara empasan air, percik-perciknya menembus jendela yang dibiarkan terbuka.

Jglerrr….

Sesekali petir datang mengirim cahaya, seperti bentuk lain dari pesan keputusasaan.

Ah, tunggu dulu. Agar lebih menyakinkan, ada baiknya cerita ini diberi tanggal tertentu sehingga seolah-olah ini adalah sebuah cerita yang bersifat kronologi dan bersejarah, seolah ini adalah fragmen kejadian yang lama disembunyikan oleh penguasa. Maka, kita ambil satu tanggal dari tanggal-tanggal yang telah berlalu sebagaimana ahli sejarah yang begitu peduli dengan masa lalu.

25 April 1987

Tidak, tidak, itu tanggal kelahiran penulis cerita ini, kita maju ke beberapa tahun setelahnya.

23 April 1994

Nah. 23 April 1994. Di atas mobil, lelaki itu masih tampak gagah berorasi untuk membakar semangat kawan-kawannya.

“Buruh harus sejahtera! Buruh bukan budak!”

Di depan ada barisan polisi yang hanya berbaris rapi, seperti benteng dalam diam. Seperti perasaan yang menunggu disulut sumbunya. Sementara orasi-orasi diteriakkan makin keras. Cuaca begitu panas, matahari menggigit bumi dengan gigi gerahamnya.

Tak lama kemudian api mulai disulut, ban-ban dibakar, massa makin banyak dan makin berani. Lelaki yang menjadi tokoh cerita ini tiba-tiba melemparkan satu botol yang telah diisi bensin. Tepat ke arah kerumunan pagar polisi. Maka, pecahlah kekacauan yang sebenar-benarnya, sesempurna-sempurnanya.

Sementara itu, di halaman belakang sebuah rumah, seorang lelaki tua sedang memberi makan ikan-ikan ketika seorang pembantu mengabarkan ada telepon. Lelaki tua itu berjalan ke ruangan dapur dan mengangkat telepon.

Terdengar keributan di seberang sana.

“Pak, keadaan makin tak terkendali. Buruh-buruh sialan itu sudah tidak bisa diatur.”

“Semboyan lima,” jawabnya singkat.

“Baik, Pak. Semboyan lima.”

Kemudian, ia pun kembali ke halaman belakang, memberi makan ikan.

Dalam kekacauan itu, baru saja terdengar beberapa tembakan. Beberapa buruh mulai diseret, termasuk lelaki tokoh cerita ini. Ketika ia ditarik ke atas mobil bak terbuka, mulutnya masih sempat meneriakkan “Revolusi! Revolusi!” sebelum rahangnya nyaris lepas karena dihantam popor senapan. Ia kemudian pingsan, dan terjaga setelah disiram seember air, dalam keadaan dirinya telah duduk terikat di kursi eksekusi.

Sebelum cerita ini dilanjutkan, saya ingin mengingatkan bahwa saya tidak main-main, ini serius. Lelaki yang tampak sangat menderita itu mungkin tidak sadar bahwa ia sebenarnya sedang berada dalam cerita pendek sehingga mungkin saja ia berharap itu hanya cerita kejutan yang diakhiri ucapan “Selamat tahun baru” atau yang semisalnya. Pembaca sekalian tentu juga tahu bahwa semua ini hanya karangan belaka. Kerusuhan 23 April 1994 itu sesungguhnya tidak ada. Lelaki itu tidak pernah ada di sunia nyata, ruangan kumuh itu tidak pernah ada, aroma cucian yang terlalu lama direndam itu juga tidak pernah tercium. Namun, begitu jika sebuah cerita telah terjadi, ia haruslah membuat pembacanya yakin bahwa peristiwa itu benar-benar ada dan berjalan dalam pikiran mereka.

“Ada keinginan terakhir?” tanya algojo berbadan besar.

Lelaki yang telah lemah dan terikat itu hanya tersenyum, bahkan kemudian tertawa, hingga tampak rongga mulutnya yang kini seperti kolam penuh darah.

Tentu Anda jengkel sekali dengan orang masih bisa tersenyum ketika ditanya ada keinginan terakhir. Tapi, barangkali lelaki itu hanya ingin menertawakan kenyataan. Apa yang bisa jadi keinginan terakhir jika semuanya harus berakhir? Toh, ketika disebutkan satuk eiginan, ia tidak lantas membuatmu terbebas dari penderitaan.

“Ee… ooo.. uu..iii….” Ia membuka suara. Lalu, tertawa. Ia masih ingin berkata revolusi, meski tak tahu lagi apa sebenarnya revolusi. Yang ia tahu adalah rongga mulutnya telah ompong dan lidahnya serasa akan digunting.

Lalu, sebuah tamparan menghujam di pipi lelaki itu. Ada luka sayatan karena ternyata petugas itu memakai cincin batu akik di tangannya. Cincin yang diimpor dari Tanah Abang.

“Masih saja berani bilang revolusi. Sudah untung tidak kucongkel matamu dan kubikin tengkleng seperti cerpen Saksi Mata.”

Tiba-tiba pintu terbuka. Dua orang lain masuk, langkah-langkah yang berat di atas lantai papan yang berderit.

“Lho, belum dihabisi juga?” tanya salah satu dari mereka yang baru datang. Sementara yang satunya langsung duduk di atas meja, menyalakan rokok. Bersiul-siul sepanjang waktu. Keduanya memakai jas yang tampak kuyup. Ternyata di luar hujan makin deras saja.

“Yah, kita cuma ingin menikmati saat-saat terakhirnya,” jawab algojo yang sejak awal sudah berada di situ.

“Sudahlah, untuk curut seperti ini tidak perlu dramatisasi. Kita masih banyak urusan.”

Mereka kemmudian memakaikan semacam helm yang dipenuhi kabel-kabel di atas kepala lelaki itu, mengikatkan tali ke dagunya. Tangannya juga telah dirantai lebih kencang. Kemudian, saklar listrik digerakkan. Dan badan lelaki itu berkelonjotan, berasap, dan lemas…. Jika Anda menganggap ini mengada-ada, maka bacalah sejarah Amerika tentang eksekusi di atas kursi listrik. Cerita ini pun sedikit-banyak terinspirasi dari sana.

Seusai eksekusi, semua ikatan dilepas dan tubuh lelaki yang masih berasap itu dilempar begitu saja ke sudut ruangan seperti seekor ayam. Kemudian, salah seorang algojo berjalan ke sebuah lemari yang ada di sudut lain. Sebuah lemari yang kayunya telah keropos, kacanya retak dan buram. Sepertinya mereka tahu, masih ada orang lain di ruangan ini. Pintu lemari ditendang keras, didapati seorang lelaki yang sedang meringkuk ketakutan. Lelaki itu berbadan kurus, berwajah pucat, dan sepertinya miskin. Lelaki itu adalah… Aku sendiri. Penulis cerita ini.

“Cepat keluar!” Algojo itu membentak.

“Tapi, tapi, saya hanya penulis cerita.”

“Tidak ada tapi-tapi! Sekarang giliranmu.” Ia menjambak rambut dan menyeret kepalaku begitu saja. Aku terpaksa merangkak sambil tersandung-sandung. Lantai ini teryata begitu kotor dan lembap, serta dipenuhi pecahan kayu dan paku. Meskipun aku terbiasa mendeskripsikan sesuatu, ternyata mengalaminya langsung terasa lebih nyata dari deskripsi paling detail sekalipun.

“Duduk!”

Aku kemudian dipaksa duduk di kursi yang ditempati lelaki tadi.

“Apa salah saya? Saya cuma penulis cerita. Tidak mungkin seorang penulis cerita dieksekusi di dalam cerita buatannya sendiri.”

Petugas itu tetawa, kemudian satu tamparan keras mendarat di wajahku. Sepertinya aku mimisan.

“Tidak ada yang tidak mungkin, Bung.” Mereka lantas melilitkan temali di badanku. Praktis, tidak ada ruang gerak sama sekali.

“Sekarang katakan, kau juga menulis untuk melawan kami, mengungkap kejahatan kami lewat cerita-cerita fiksi, ya kan?”

“Ti… tidak….” Aku mulai gemetar. Huruf-huruf seperti raib dan bahasa seperti sesuatu yang asing dalam ingatan.

“Jawab yang jelas!”

“Tidak… tidak…. saya biasanya hanya menulis tentang taman, senja….”

“Ah. Bohong. Pasti kamu berpikir fiksi tidak pernah bisa dibungkam.”

“Sumpah, saya tidak ada urusan dengan kasus-kasus besar seperti kerusuhan. Saya cuma menulis untuk mencari uang…. Cerita-cerita saya justru sering dianggap klise karena tidak pernah membawakan tema berat seperti PKI.”

“Haha! Bohong terus dia! Kalau memang begitu, untuk apa dia sembunyi di lemari kalau bukan memata-matai kami?”

Tampaknya memang mereka tidak main-main. Aku hanya bisa pasrah ketika tiba-tiba saja helm listrik dipasang. Mereka bahkan tidak menanyakan permintaan terakhir kepadaku. Namun, sesaat sebelum listrik dinyalakan, masih bisa kudengar rencana mereka bahwa setelah ini, mereka juga akan mendatangi setiap pembaca cerita ini. Iya. Setiap pembaca cerita ini, untuk diseret ke kursi yang sama. Termasuk Anda tentunya. Sebab, mereka telah berjanji tak ada satu pun pembaca cerita ini yang lolos dari eksekusi…. Mungkin Anda akan bertanya, mana ada cerita yang bahkan mengeksekusi seluruh pembacanya tanpa terkecuali? Ya memang di cerita inilah hal itu terjadi. Sebab sudah kukatakan bahwa ini adalah sebuah cerita yang serius, mengerikan, dan tidak main-main. ***

Sungging Raga

Menulis cerpen sejak 2009. Buku terbarunya “Apeirophobia”, terbit pada 2018. Saat ini penulis tinggal di Tangerang, Banten.

[1] Disalin dari karya Sungging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 17 Februari 2019