Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

SAAT warna matahari berangsur jingga kegelapan, aku masih duduk di ruangan. Kupandangi beberapa gedung yang tampak sama tinggi dengan ruanganku. Juga tampak permukiman padat yang mengerubungi bagian bawah gedung-gedung itu.

Hanya sedikit pepohonan yang tampak. Daftar putar lagu di laptopku sedang mengalunkan tembang Adhitya Sofyan, “Blue Sky Collapse”.

Lagu itu mengiringi rasa letihku, yang kuredam dengan menilik keindahan alam kota saat matahari sore berangsur tenggelam, hingga kuteringat sebuah tujuan. Tujuan yang belum kucapai. Perlahan mataku terasa panas hingga satu per satu bulir air melewati pipiku.

Dia telah melanjutkan hidup, di alam lain. Sebagian jiwaku terasa lepas dari raga, terbang bersama nyawanya. Hanya dia satu-satunya orang yang menyayangiku, memedulikanku, juga menasihatiku dengan tulus, tanpa pernah berkata tulus.

Hanya dia seorang yang membesarkanku sejak kecil hingga kini aku telah mengikuti upacara wisuda dua bulan sebelum dia tiada.

Namun kakak-adiknya terus menyemangatiku. Suatu waktu adiknya berujar kepadaku, “ukacita boleh, tapi jangan berlarut ya. Hidup itu rangkaian cobaan yang bertingkat.

Sekarang kamu lagi diberi cobaan untuk lebih siap menghadapi cobaan setingkat di atas ini. Kamu harus semangat! Kan baru jadi sarjana.”

Lalu bibiku tersenyum menilikku. Lain waktu kakaknya yang berujar, “Belajarlah melepas sesuatu, dari yang kecil hingga terbesar.

Bude tahu, ibumu adalah anugerah terbesar dalam hidupmu. Tapi bagaimanapun ibumu milik Tuhan. Jangankan ibumu, diri kita pun bukan sepenuhnya milik kita.

Legawa ya.” Lalu budeku mengelus-elus pundakku. Saat itu, kugenggam lipatan kertas seraya menilik gemerlap lampu kota dari atas bukit. Tempat yang paling kusuka untuk bersuluk.

Kendati masih terdengar suara orang bicara, hilir-mudik kendaraan, ataupun iringan lagu, tetap terasa hening bagi batinku. Kubuka lipatan kertas pemberian Bude dengan mata masih menilik gemerlap malam.

Perlahan kuarahkan mata ke kertas. “Utono, kalau kamu baca pesan ini, berarti Ibu sudah bertemu dengan-Nya.

Kamu gak boleh sedih. Karena Ibu gak pernah mengajari kamu menjadi lemah. Kamu harus semangat dan terus bersyukur.

Ibu sudah sangat bangga melihat kamu wisuda. “Maaf kalau kamu sering tanya tentang bapakmu dan Ibu gak pernah jawab.

Sebenarnya Ibulah yang membuat bapakmu pergi waktu kamu kecil. Ibu gak pernah sanggup menceritakan ke kamu.Tapi Ibu punya sesuatu untuk kamu.

“Bapakmu bernama Sutisna. Dia pergi waktu umurmu dua tahun. Carilah dia dan bertanya apa pun kepadanya. Ibu yakin, bapakmu pasti akan menjawab.

Berkunjunglah dulu ke rumah adik bapakmu, di Semarang. Siapa tahu, dia lebih tahu di mana bapakmu.

Mintalah alamatnya ke budemu. Ibu sudah titipkan kepadanya.”

“Permisi, Pak.

Belum pulang?”

Sapaan petugas kebersihan di kantorku menghancurkan rentetan visual kejadian belasan tahun silam di benakku. “Iya, bentar lagi, Beh.

Masih capek nih,” ujarku membelakanginya dan masih menilik alam perkotaan yang berangsur gemerlap, seraya menggenggam secarik kertas.

***

Kini mereka berdua duduk di antara banyak orang yang membuat kerumunan. Kepulan asap yang memenuhi ruang udara di sekitar mereka, selalu membuat perut Utono merasa lapar lantaran aromanya yang menggiurkan.

“Kamu tahu gak, aku tadi lihat bemo unik deh. Bemo itu dijadiin perpustakaan.”

“Perpustakaan berjalan?”

“Seratus buat kamu,” ujar Tina sambil nyengir.

“Di mana?”

“Tanah Abang.

Jadi bapak itu gak cuma narik bemo.

Dia tuh keliling ke sekolah-sekolah dan kampung-kampung, biar banyak anak yang baca buku.” Matanya berseri-seri saat bercerita. Utono hanya bergumam dan mengangguk-angguk.

“Terus kadang-kadang saat malem dia sering nyetel dan nonton film bareng pakai LCD di kampung-kampung.”

“Kamu ngobrol dengan dia sampai tahu banyak?” “Iya dong.

esok aku ingin ketemu dia lagi. Aku ingin ikut keliling pas bemo jadi perpustakaan.”

Raut wajahnya amat riang dengan gigi terpampang menawan. “Terus aku ingin nulis tentang dia.

Pasti redakturku suka.”

“Kayak biasa ya, kalau udah seneng sama sesuatu kamu menggebu-gebu.” Utono nyengir, Tina juga.

“Tapi, sayang sekali, pemerintah daerah mau meremajakan bemo.”

“Maksudmu?”

“Ya memperbarui.”

“Gratis?”

“Gaklah.”

“Lo kok gitu?

Kalau para supir bemo gak mau?”

“Ya pemerintah bakal mengoperasi kalau masih ada bemo berusia lebih dari sepuluh tahun berkeliaran di Jakarta.”

“Jadi intinya Dinas Perhubungan Jakarta ingin ngilangin bemo dari Jakarta?” Utono hanya mengangguk.

“Lagian bikin macet!”

“Lo! Gak bisa gitu dong.

Justru kendaraan pribadi yang lebih berkontribusi terhadap kemacetan.

Coba kalau sebagian besar penghuni Jabodetabek pakai transportasi umum, setidaknya kemacetan berkurang. Kamu kerja di Dinas Perhubungan, tapi malah bilang bemo bikin macet.” Utono diam.

Dia jarang berani membantah jika Tina sudah ketus bicara. Mereka tak lagi berucap. Hanya terdengar hiruk-pikuk di sekitar.

“Tin, cari waktu ke Solo yuk.”

“Kenapa kamu tiba-tiba ingin pulang?”

***

Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat“Hai, Beh Kinong,” sapa Tina dengan wajah riang.

“Eh, Neng Tina. Sendirian?”

“Tadi sih berdua, Beh, sama abang ojek.” Tina meringis.

“Bisa aja dah, Neng Tina.”

“Wuih, yang baca rame nih, Beh,” ujar Tina seraya melirik ke bemo yang telah dikerubungi siswa-siswi SMP yang sedang istirahat.

“Lumayan, Neng.

Kalau rame, aye seneng.”

Tina memperhatikan bemo itu. Ada yang membaca di kursi penumpang, kursi supir, bahkan di atas bemo.

Ada yang membaca sambil mengernyitkan dahi, tertawa, menggaruk- garuk kepala, bahkan mata berkaca-kaca. Tina senyum-senyum melihat itu.

“Sungguh, pemandangan langka di Jakarta,” batin dia, lalu memotret. Bel sekolah berbunyi. Para siswa melempar buku yang mereka baca ke segala arah, lalu berlarian menuju ke sekolah. Tina tertawa ngekek.

“Lucu sekali mereka, Beh.”

Babeh Kinong pun tertawa. “Emang jadi hiburan bagi aye, Neng. Meski aye harus beresin tiap kali mereka lempar buku sembarangan.”

Babeh Kinong dan Tina memasukkan buku bacaan ke dalam bemo, lalu merapikan.

“Habis ini mau ke mana, Beh?” “Narik lagi, Neng. Nanti pas istirahat kedua baru buka lagi di depan sekolah.”

“Saya boleh ikut narik, Beh?”

“Emang gak ngerepotin, Neng?”

“Justru kalau ada saya,

Babeh repot gak?”

“Gaklah, Neng, aye malah seneng.

Zaman sekarang, jarang-jarang ada cewek cantik mau-maunya naik bemo.” Babeh Kinong tertawa ngekek, Tina juga.

***

Di beranda, Utono dan Tina duduk kala langit berwarna jingga dan biru. Menilik beberapa pohon rindang serta aneka tanaman di depan mereka.

Sesekali mereka makan singkong goreng yang lebih dulu dicocol dengan sambal buatan Tina. Lalu, asap menabun dari dua gelas teh panas di antara mereka.

“Sebenarnya aku ingin ke Solo bukan hanya perkara rindu.” Tina tak membalas perkataan Utono. Seketika dia pandangi wajah Utono, lalu menggenggam lembut dan mengusap perlahan tangan kiri Utono.

“Lalu?” Suaranya agak terhambat, seperti terkelolong.

Mata Utono berkaca-kaca. Namun sebelum menitik, dia merogoh kantong baju, lalu menaruh secarik kertas di atas meja.

“Ini apa?”

“Baca saja.”

Wajah Tina tampak gamam melirik secarik kertas itu. Perlahan dia meraih, lalu membuka lipatan. Tina membaca.

Seusai membaca, Tina pandangi wajah Utono lekat-lekat dengan mata memanas dan berkaca-kaca. “Ternyata ayahmu… aku mengenalnya,” batin Tina. (44)

Semarang, 5 Agustus 2018

Galang Hutriadi, mahasiswa Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang

[1] Disalin dari karya Galang Hutriadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” 9 September 2018