Secangkir Glühwein untuk Darda’il

Karya . Dikliping tanggal 25 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

DI saat gerimis menggaris tipis, dan tebal kabut begitu akut, aku melamunkan burung möwe, krähe, atau taube, dan segala jenis burung yang biasa berkitar liar di sekitar pantai dan teluk di sini, pastilah sedang mendekam dengan bulu terkembang sembari saling bercumbu dengan pasangan masing-masing. Dalam cuaca dingin di mana api unggun hanya sebatas rencana yang gagal, dan selimut tebal tak bisa menahan gigil yang bebal, bergumul bisa menjadi pilihan terbaik selain menenggak anggur ditemani cerutu sampai jatuh dan tersungkur.

Tapi, sungguh, aku tak paham dengan tingkah gadis asing yang sedang duduk sambil terpingkal-pingkal di depanku ini. Tak pernah bertemu sebelumnya, tiba-tiba ia datang menghampiri sambil membawa dua gelas glühwein dan mengatakan akan mentraktirku malam ini. Ia juga menawarkan –lebih tepatnya melemparkan– cerutu ke arahku, yang jika dilihat dari jenisnya sulit untuk mengatakan dia tipe gadis yang hanya merokok di kala putus asa, atau sekadar coba-coba.

Kemudian, dia memperkenalkan diri bernama Helen, asli Jerman. Dengan alasan basa-basi paling basi sekalipun, sungguh, tak ingin aku merespons salam pekenalan darinya. Hanya sekilas kuperhatikan matanya saat ia bicara; mata yang lebar dengan pupil kebiruan. Alisnya cokelat muda tebal, sangat kontras dengan kulit wajahnya yang khas Eropa; putih terang dan nyaman dipandang. Dia mengenakan sweater wol rajut bermotif kereta santa, yang terlihat agak terlalu besar untuk tubuhnya. Rambutnya lurus sebahu, terbungkus penutup kepala warna merah muda

“Dari mana asalmu?” Aku tak bicara. Hanya menggeleng. Tatapannya teduh, namun mendalam seakan teluh hendak merelungi tubuhku. Lalu, dia berkata setengah tersenyum, “Cuaca dingin seperti ini kau bahkan tak memakai sehelai mantel pun? Sangat aneh.” Aku membalas senyumannya dengan tarikan napas panjang sambil mengangguk-angguk kecil setengah terpaksa. Jujur saja, aku tak suka jika ada yang mengganggu kegemaran sekaligus tugasku untuk bersendiri dan diam-diam mengamati.

Bagi banyak manusia, barangkali kegemaran dan tugas adalah dua hal berbeda. Hidup mereka pun selalu berada di antara gaya tarik-menarik antardua hal itu. Maka, perasaan lelah, ketidakadilan, bahkan kadang putus asa sama purbanya dengan usia dunia mereka. Tapi, tidak bagiku. Keduanya adalah sama. Kesendirian adalah momentum paling sempurna untuk bercakap-cakap dengan diri sendiri tentang apa saja, tanpa perlu malu, takut, atau gelisah pada suatu perasaan apa pun. Lain halnya manusia yang berinteraksi dengan rutinitas sehari-hari yang sering kali terlalu menuntut dan mutlak harus diturut.

Lagi pula aku sudah telanjur yakin bahwa aku memang hidup untuk sendiri, diam-diam mengamati, merekam tiap getir, keluh kesah, atau harapan yang kadang terkatakan lantang, kadang lemah dalam bisikan, atau bahkan yang teredam dalam diam dari tiap manusia. Itu adalah kegemaranku, sekaligus tugas yang tak pernah lepas dariku. Aku akan berpindah, selalu tak pernah menetap lama. Aku hanya mendengar dan tak harus mengenal kata berbagi, ingin, atau lain-lainnya lagi.

Tetapi, kenyataan sekarang memang sungguh ganjil. Meski makhluk bernama Helen ini kusadari sedang menginterupsi kesendirianku, aku tak cukup punya alasan untuk pergi. Cuaca di luar teramat buruk: kabut membuat jarak pandang berkisar tiga meter, dan membuat segelas glühwein panas hanya mampu mempertahankan kehangatannya tak lebih dari waktu yang dibutuhkan mengisap setengah batang cerutu. Lagi pula, selain penjaga gerai di weihnachtsmarkt yang meringkuk menahan dingin dan kantuk, tak ada lagi makhluk selain aku dan gadis kejutan ini. Mana bisa mendadak pergi?

Baca juga:  Alkisah Sal Mencari Kang Mad

“Rupanya kamu orang yang suka diam, ya?” tanyanya lagi. Aku menggerakkan sedikit kepalaku, dan kutarik alisku agak ke atas. Dia mengangguk, seakan memahami maksudku.

“Baiklah. Kalau begitu, aku saja yang berbicara. Kalau kamu mau membalas, aku akan senang. Kalau kadu diam pun, tidak mengapa. Aku hanya ingin kamu tahu. Deal?” Begitu katanya. Aku menghela napas panjang dan mengangguk. Ah, ini akan jadi lebih lama dari yang kuduga, pikirku.

Jam menunjuk pukul dua dini hari ketika dia bercerita tentang hidupnya: yatim-piatu semenjak usia sembilan tahun; kerja sambil belajar di suatu perguruan tinggi di daerah pinggiran Hamburg; bertunangan dengan seorang pelaut untuk kemudian gagal karena kapal yang dinakhodai kekasihnya dinyatakan tak akan pernah berlabuh kembali di suatu malam badai beberapa tahun lalu.

Aku memang tak seberapa menghiraukan ceritanya. Tetapi, dapatlah kukatakan bahwa pada awalnya dia mampu bercerita dengan jelas dan kronologi. Namun, selepas dia menenggak lima–enam gelas glühwein dicampur dengan rum, bicaranya jadi tak keruan. Ini diperparah dengan cerutu tipis yang daun tembakau dan kertas lintingannya dijual terpisah itu. Helen mengeluarkannya tanpa perasaan bersalah sedikit pun, melintingnya, lalu mengisapnya dengan detail bibir yang begitu subtil hingga per satuan helai asap seolah terlalu sayang untuk dibuang. Aromanya sungguh kuat dan khas. Maka, beberapa saat setelah itu, jadilah semua yang diceritakannya terkesan ambigu, tak tentu maksud, dengan ekspresi bicara yang teaterikal dan terkesan absurd.

Apa yang membuatnya terpingkal-pingkal seperti saat ini adalah ketika ia bertanya kepadaku, “Mengapa banyak orang justru membeli kemabukan di eh..eh…situ? Ha..ha..,” ucapnya sambil menunjuk menara rumah ibadah. Itulah pertanyaan yang diajukannya kepadaku, sekitar lima menit lalu. Selama itu pula dan hingga kini, ia tertawa begitu lepas tak tentu arah.

Ah, aku tahu, itu jenis pertanyaan sindir ejekan yang bukan tanpa dasar. Eropa, ya aku paham. Tempat di mana ilmu dan logika pernah menjadi segalanya. Menyempit ke Jerman, negeri penghasil banyak pemikir berotak kidal sehingga pemikirannya pun kerap kekiri-kirian, namun tetap liberal memuja kebebasan. Dan mengapa aku bilang bahwa pertanyaan Helen tadi adalah sindiran, lebih tepatnya sindir satir yang cerdas, adalah diam-diam aku berpikir dia tak sepenuhnya keliru.

Pertanyaannya itu mengingatkanku akan kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika di suatu negeri nun jauh di sana terjadi bencana dahsyat tak berkeputusan. Pada musim kemarau, segalanya mengering dan menyedihkan: sawah hanya tanah kering yang retak, pepohonan meranggas, dan sungai-sungai mengering menjelma tanah lapang tempat bocah-bocah bertubuh layu bermain sepak bola bergawang debu.

Baca juga:  November di Bruges - Kerudung Merah Padam - Tentang Katedral - Di Tepi Pelabuhan - Peta Buta

Udara dan pemandangan yang terlampau gerah dan menyedihkan itu diperparah dengan beberapa ladang yang mulai terbakar. Tak begitu jelas mengapa dan siapa yang membakar. Yang pasti, terjadi keributan antar penduduk tentang siapa yang harus dipersalahkan dalam kebakaran seperti itu. Beberapa pihak yang dituduh mengaku dirinya hanya disuruh oleh tuan tanah yang mereka sendiri tak pernah melihatnya. Ketika ia terus dipaksa dan akhirnya dengan pasrah menyebut sebuah nama, tertuduh itu kemudian dianggap tak hanya membakar hutan, tapi juga tukang fitnah!

Begitulah, keributan itu menerus berulang, seperti sengketa tak berkesudahan. Perangkat desa itu sudah berusaha melakukan berbagai tindakan untuk meredakan kegusaran warga. Tetapi, itu saja tidak cukup. Seluruh warga seolah terlalu sangsi untuk menuruti segala perintah yang diberi. Sampai pada saat para tetua di negeri itu mengumandangkan seruan-seruan sebagai penenang. Ajaib! Sebagian besar penduduk seolah terbius, mendadak terdiam seakan suatu mantra sakti mandraguna meredam segala kegalauan.

Selang beberapa bulan kemudian, langit seolah menjawab doa mereka. Hujan membayar dahaga mereka dengan curah yang setimpal. Sungai menderas, rumput-rumput hijau semarak dengan celoteh girang dari kanak-kanak. Semua orang bergembira menyambut hujan yang dianggap selalu membawa mujur karena mereka kini tak lagi menganggur sebab sawah dan ladang kini siap disemai dengan padi, rempah, atau biji anggur.

Sayang, keceriaan karena lepas dari langit kemarau itu tak berlangsung lama. Bala banjir dan gelombang pasang dari laut di utara negeri menjelma lengan-lengan Izrail yang datang mengambili nyawa-nyawa penduduk desa itu secara acak. Di bukit, di pesisir, setiap hari, selalu saja ada yang meninggal. Penduduk desa mulai putus asa dan marah. Di saat itulah, sekolompok tetua dengan hiasan zirah di tubuh dan kepala bekerja keras mencegah keputusasaan penduduk macam itu. Dan sekali lagi, seperti waktu lalu, mereka berkumpul untuk berdoa beramai-ramai. Setelah berdoa dengan seksama, mereka pulang bersama dada lapang sembari serempak berkata, “Beruntunglah terdapat bencana susul-menyusul seperti ini. Sebab, dengan begini, persatuan dan kesatuan kita yang selalu rentan kini semakin terkuatkan.” Dan tak ada upaya lain yang sungguhsungguh kulihat dari mereka agar malapetaka semacam itu tak terulang di tahun berikutnya.

Ah, aneh sekali. Memang begitukah tabiat manusia?
Sering aku merenung dan membayangkan jawaban atas pertanyaanku itu. Dan Helen yang masih saja terpingkal-pingkal di depanku ini membuatku sedikit menemu jawab. Ah, sudah lewat delapan menit ia tertawa. Tidakkah ia lelah?

Tiba-tiba Helen menutup bibirnya, lalu terdiam. Bahkan lebih aneh, mimik mukanya berbalik total seperti hendak menangis. Matanya membening, bibirnya bergemetar samar. Ia sedang menahan air mata.

Tiba-tiba dia menggeser posisinya: duduk tepat rapat di sebelah bahu kananku. Kerlip lampulampu dari kapal yang hendak merapat ke pelabuhan tampak sedikit cemerlang. Barangkali kabut sudah berangsur menipis. Tiba-tiba saja disandarkannya kepalanya itu pada lenganku, dan dengan setengah memeluk ia mulai terisak.

“Kau lihatlah di luar sana. Lautan itu menyimpan begitu banyak riak di dalamnya, yang pada suatu saat akan meledak menjadi gelombang. Setiap kali aku menatap ombak, juga kapal-kapal yang datang dan pergi itu, aku selalu teringat…” suaranya kembali parau. Dingin. Helen tak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia menangis lagi.

Baca juga:  Rasanya, Bus Ini Teramat Lamban

“Dia masih di sana bukan? Ah..mengapa..bahkan sekadar bisik menenangkan. Tak ada jawab, selain bunyi-bunyi ganjil yang selalu menerorku di malam hari dan membuatku menggigil tak henti mengutuki diri sendiri!”

Helen seakan bermonolog, dan kalimatnya yang terakhir itu seakan marah sekaligus lemah, dan jujur saja aku sedikit tertarik.

“Kenapa kamu masih diam saja? Kamu mengerti ceritaku, kan?” tanyanya.
Pada jarak dan suasana sedemikian dekat, aku putuskan untuk membalas tatapannya. Ah, sepasang mata yang indah, namun dengan tatapan kesepian yang begitu pucat. Kukira Helen juga merelungi mataku, dan kurasakan kini dia sengaja lebih mendesakkan tubuhnya kepadaku. Tapi, sungguh, aku tetap tak menemukan alasan untuk berlaku lebih dari diam.

“Kenapa kamu baru datang sekarang, malaikatku?” Nada bicaranya kini selembut kabut. Diraihnya tanganku, lalu ditempatkannya pada pipi kanannya yang basah oleh air mata. Aku membalas pandangan matanya yang masih membasah, sama dalam dan tenangnya. Sementara aku dan dia saling melepaskan pandangan, aku merasa di antara jarak pandang itu beribu cemara tumbuh menjulang begitu rimbun dan tinggi. Terlalu rimbun, hingga aku, dan mungkin dia, tak bisa melihat sesuatu yang dicari dengan lebih seksama. Tak bisa! Hanya bisa saling menebak-nebak, memanjat, kemudian turun, dan naik di pohon yang lain lagi, begitu seterusnya, berharap bisa menemukan sudut penglihatan yang lebih baik.

Mendadak ia melepaskan tanganku, berdiri dan berjalan agak linglung, menoleh sejenak ke arahku, lalu pergi menembus kabut dan gerimis. Ah, segelas glühwein yang Helen berikan untukku bahkan belum terminum separo.

Ketika melihat punggungnya menjauh, sungguh aku tak tahu persis apa yang sebenarnya Helen pikirkan atau duga tentangku. Mungkin ia berpikir bahwa aku bisu. Atau, aku tak berminat pada nafsu. Aku maklum, dan itu bukan masalah bagiku. Tapi, karena kejadian barusan, aku mulai berpikir bagaimana seandainya aku ini manusia, yang ternyata bisa begitu rela melakukan apa saja demi menawarkan rasa sepi dan kerinduannya….

Hamburg, 2018

Möwe: camar
Krähe: gagak
Taube: merpati
Glühwein: Minuman lokal Jerman. Terbuat dari campuran wine, jeruk, dan rempah-rempah yang disajikan hangat. Hanya dijual di bulan Desember jelang perayaan Natal
Weihnachtsmarkt: Pasar Natal, umumnya buka sore hingga dini hari

K.Y. Karnanta
Kukuh Yudha Karnanta, staf pengajar di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FIB Universitas Airlangga Surabaya. Visiting lecture di Departemen Languages and Cultures of Southeast Asian Universitat Hamburg, Jerman.


[1] Disalin dari karya K.Y. Karnanta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 23 Desember 2018