Seekor Kucing dalam Rashomon

Karya . Dikliping tanggal 15 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

MALAM hari dalam paduan dekut panjang burung hantu dengan lolongan anjing. Diembus angin dingin bergelung di sekitar tubuhnya, seekor kucing tengah membersihkan diri dengan kaki depannya di bawah gerbang rashomon yang begitu luas saat seorang pria membawa karung dari arah tangga menuju kuil yang terbentang itu.

Kucing itu selesai membersihkan tubuh dan ia mengamati si lelaki yang terbungkuk-bungkuk memanggul karung yang tampak berat di punggung. Sebentar kemudian kucing itu memutar tubuh mendahului si lelaki melewati gerbang yang tiang-tiangnya tebal dan membawa gelegak sunyi saking sepinya kuil itu di malam yang telah larut. Gerimis baru saja turun setelah si lelaki berhasil mencapai ujung gerbang dan berhadapan dengan pintu kuil yang megah.

Yumiura dilindungi gunung-gunung dan kota ini begitu dingin meski musim panas telah sampai dua minggu lalu. Namun, pria muda yang esoknya akan bertugas sebagai salah satu orang terdepan yang mengusung mikoshi itu tampak mencurigakan sebab tak ada yang datang di kuil ini pada malam selarut ini. Semua orang sedang tertidur dengan benak dan mimpi pada festival nanti.

Rashomon yang menyelubungi kuil Shinto itu sudah ada sejak pertengahan zaman Edo. Warna merah tiang-tiangnya telah kusam, tetapi menyisakan kesan megah yang jarang ada. Tidak semua kuil di negeri ini punya gerbang semacam itu. Hanya sedikit yang memiliki gerbang sejembar itu. Biasanya kuil-kuil hanya ditandai dengan beberapa torii.

Kegelapan yang merayap sedari petang kini telah melingkupi luasnya sudut-sudut dalam rashomon. Tak ada yang tertangkap mata dengan baik saat memasuki gerbang itu. Ruang gelap gulita harus dilewati dengan perasaan takut hingga cahaya tampak di ujung dan itu menandakan kita hampir pungkas melangkah melewati gerbang, lalu daerah terbuka depan kuil menampilkan langit yang kini menurunkan gerimis.

Karena ada kuil baru yang lebih cerah telah dibangun pada awal zaman Showa ini, kuil di atas bukit itu ditinggalkan umatnya untuk hancur digerus waktu. Kuil baru letaknya mudah dijangkau dan berada di pusat kehidupan kota. Kuil lama ini dibiarkan lapuk sebab orang-orang sudah melupakannya, seperti patung Jizo berabad-abad di pinggir jalanan, sangat kusam dan terus-menerus ditembusi hujan hingga batok kepalanya jadi ceruk membentuk kubang. Orang-orang tua yang meninggal satu per satu tidak lagi mengingat kuil ini dan anak-anak muda lebih suka kemeriahan baru di kuil pusat kota. Jadi, kuil ini hanyalah persinggahan para hantu dan kesunyian.

Geta pria itu berkeletak-keletuk sepanjang dia berjalan mengusung mayat di pundaknya. Dengan pasti dia menyabarkan diri agar tidak tergesa melangkah di kegelapan rashomon supaya suara geta-nya tidak terdengar keras. Seharusnya aku memakai zori saja, pria muda itu berpikir. Namun, tak ada yang menyiapkan sandalnya. Dia hanya mengenakan kinagashi biasa dengan geta sebagai alas kaki.

Pria itu telah membunuh seorang perempuan yang beberapa saat sebelumnya menolak dirinya. Perempuan ini salah satu dari gadis kuil yang nantinya menari tarian Kagura khas malam musim panas. Orang-orang tak akan mengira perempuan itu pergi sebab ada tiga penari utama. Perempuan ini salah satunya.

Perempuan itu seharusnya akan minggat dari rumah setelah festival. Dia sudah ditunggu kekasihnya yang datang jauh-jauh dari Kofu untuk membawanya pergi meninggalkan lingkungan yang dengan terpaksa ditinggalinya sebab pria yang telah membunuhnya ialah Tuan Muda. Ya, perempuan itu pembantu di sebuah klan.
Sebut saja klan Midori, yang tetap memegang teguh tradisi. Perempuan itu disayang si pria pembunuh, tetapi cintanya pada kekasihnya lebih besar. Dia memilih pergi, tapi malam celaka ini kali mengubah nasibnya.

Setelah mabuk sake, Tuan Muda datang ke kamarnya yang berada di lingkaran terakhir dari rumah klan yang megah dan luas. Tak seharusnya seorang Tuan Muda muncul di kamar itu, tetapi nafsu telah menguasainya. Berbekal alkohol, dia memaksakan diri pada perempuan itu. Tentu perempuan itu berusaha lari dan dia berhasil. Koridor-koridor panjang dia langkahi dengan tergesa-gesa.
Namun, pada belokan terakhir saat bulan memampangkan wujudnya di tengah langit, Tuan Muda berhasil menangkapnya kembali.

Perempuan itu meronta. Dia kena tampar. Lalu Tuan Muda menyeretnya. Dan setelah bergulat, mengguncang-guncang tubuh perempuan mungil itu dengan sentakan-sentakan dahsyat untuk menjinakkannya dari perlawanan, perempuan itu mengembuskan napas terakhir. Mati dalam takut. Iblis yang bersemayam dalam diri Tuan Muda telah tersenyum puas lalu meninggalkan dirinya; menjadi sang tersangka. Barulah Tuan Muda sadar, dan menyesalkan kedunguannya itu.

Maka tak ada jalan lain kecuali menyembunyikan tubuh perempuan tersebut. Mula-mula dengan menutupnya menggunakan selimut. Seorang tua kepercayaannya, sempat terkejut melihat Tuan Muda ketakutan. Saat diperlihatkan mayat perempuan muda itu, orang kepercayaannya ini rubuh dan mengatakan bahwa dosa harus ditanggung sepenuhnya oleh Tuan Muda.

Orang tua ini tidak akan mengatakan apa-apa tentang kejadian malam itu. Dia berjanji tutup mulut, tapi tidak mau membantu mengurus si mayat. Tuan Muda tak bisa menangis terlalu lama. Dia harus berpikir keras mencari cara. Pertama dengan gelisah dia tanamkan mayat itu di rumpun dekat tugur raksasa pohon kusu no ki tak jauh dari kamarnya. Namun, kegelisahannya selama beberapa saat itu berlanjut seiring waktu berjalan. Tak ada cara lain. Dari balik taman di hadapannya itu dia memanggul mayat menyedihkan tersebut untuk membawanya ke bukit.

Bukit dengan kuil lawas itu berada di sebalik jalan setapak yang berada di sisi lain kediaman klan Midori. Karena letak kamarnya terbilang stategis, mencapai kuil itu langsung dari kediamannya bisa dengan mudah dilakukan. Kuil itu didirikan oleh leluhurnya dan kini dengan membawa dosa ia mesti menanam buah celaka yang dilakukannya.

Rasa mabuknya sudah hilang sama sekali saking takut dan panik. Orang tua yang lepas tangan hanya memandang Tuan Muda-nya dengan penuh kecemasan. Dia tak bisa melakukan apa pun atas dosa yang diperbuat calon penerus pimpinan klan tersebut. Yang bisa diperbuatnya hanya membisu untuk selamanya. Sampai dia mati dan membawa rahasia itu ke alam kubur. Memikirkan hal ini, orang tua itu hanya bisa mendesah dan berdoa.

Selesai menanam tubuh perempuan pembantunya itu, Tuan Muda hendak kembali ke rumah saat dirinya terkejut akan dua bola mata yang menyala di kegelapan. Sebagai penyaksi atas tindakannya, seekor kucing yang tengah berteduh dari hujan.

Tuan Muda seakan tertodong sejenak. Namun, dia menguatkan dirinya berkali-kali: Itu hanya kucing, hanya seekor kucing. Langit luas terbentang di atasnya tapi tanpa bintang. Hujan makin deras. Dengan langkah tergesa-gesa dia meninggalkan kuil. Tuan Muda pun akan mengarang kisah bahwa pada tengah malam itu dia melihat si pembantu meninggalkan rumah diam-diam bersama seorang lelaki tak dikenal. Semua orang akan memercayainya dan menyumpahi si pembantu kurang ajar yang baru saja tinggal di rumah klan itu selama 7 bulan ini.

Ya, dia akan mengarang kisah seperti itu, meyakinkan seluruh orang yang pada saat ini masih terlelap, kecuali si orang tua abdi setianya yang berjanji untuk tutup mulut.

Kini gadis itu mendekam di antara pohon-pohon. Sedang seekor kucing masih tertahan hujan dan dinginnya malam.
Kucing itu menyimpan aroma pria muda yang bercampur keringat tubuh dan tanah lembap; tergesa-gesa menutupi kejahatannya sampai meninggalkan sesuatu yang pada akhirnya akan menjadi bukti. Tinggal menunggu waktu, seseorang akan tahu dan mengendusnya. Seperti seekor kucing. (M-2)


[1] Disalin dari karya Bagus Dwi Hananto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 14 April 2019