Sehabis Pilkada

Karya . Dikliping tanggal 10 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SEHABIS pilkada, Wanjidul tampak gembira, padahal dirinya kalah sebagai calon independen. Di balik kegembiraannya, Wanjidul membayangkan praktik politik yang telah dipilihnya.

Mula-mula Wanjidul ingin mencoba menjaring cukong dengan menjadi calon kepala daerah. Keinginannya itu makin kuat setelah melihat banyak proyek di daerahnya beraroma korup, sedangkan yang menikmatinya adalah kepala daerah bersama pejabat lain dan cukong. Selain itu, ada isu lain: semua calon kepala daerah pasti akan didukung cukong agar siapa pun yang menang pilkada merasa berhutang budi kepada cukong.

Karena tak ada partai yang mendukungnya, Wanjidul pun maju sebagai calon independen. Baginya, dengan punya banyak teman yang tersebar di banyak pelosok desa, menjadi calon independen lebih mudah dibanding menjadi calon yang diusung partai. Sebab, syarat menjadi calon independen cukup dengan dukungan sejumlah rakyat yang dibuktikan dengan copy KTP, sedangkan dukungan partai harus diperoleh dengan menyetor mahar politik yang besar.

Wanjidul yakin, banyak temannya akan bersedia membantunya mengumpulkan 65 ribu lembar copy KTPsebagai syarat maju sebagai calon independen. Tiap lembar copy KTP akan dihargai 10 ribu rupiah, sedangkan pengumpulnya diberi honor satu juta rupiah untuk tiap desa. Itu artinya hanya butuh modal sekitar 1 miliar rupiah saja sudah cukup membuatnya maju sebagai calon independen. Dan, begitu dirinya sudah mendaftarkan diri sebagai calon independen, ternyata memang bermunculan cukong yang ingin mendukungnya dengan dana segar.

Mula-mula yang datang pertama kali di rumah Wanjidul adalah Bos Heru dan rekan-rekannya yang sudah lama dikenal sebagai kontraktor besar lintas provinsi. Bos Heru datang bermobil mewah seharga 2 miliar rupiah. Tanpa basa-basi Bos Heru langsung memberikan dana kepada Wanjidul untuk dibagikan kepada rakyat menjelang hari pemungutan suara, dengan perjanjian kalau Wanjidul menang maka proyek daerah harus digarap Bos Heru. Jumlahnya 20 miliar rupiah.

Setelah Bos Heru keluar dari rumah Wanjidul, muncul Bos Edi yang dikenal sebagai cukong balok kayu. Konon Bos Edi bisa memindahkan kayu dari hutan-hutan di Kalimantan ke Jawa karena dibeking orang-orang kuat. Bos Edi menawarkan dana puluhan miliar kepada Wanjidul dengan perjanjian kalau Wanjidul menang pilkada maka semua kantor daerah akan direnovasi dengan memakai kayu darinya.

Wanjidul gembira ketika memasuki masa kampanye. Sebagai calon independen, Wanjidul didukung tim relawan yang terdiri dari kerabat dan bekas teman-teman sekolah maupun teman lama yang pernah bergabung dalam sejumlah ormas dan parpol.

Sebagai aktivis di sejumlah ormas dan parpol, Wanjidul memang punya banyak teman yang rela menjadi tim relawan maupun tim suksesnya. Mereka tak dibayar tapi sangat gigih berjuang untuk memenangkannya di pilkada. Rupanya fenomena bangga punya teman calon kepala daerah betul-betul mengemuka, bukan hanya isapan jempol belaka.

Tim relawan dan tim suksesnya begitu cerdik merayu rakyat dengan janji-janji politik yang sangat menarik. Bahkan, mereka berjanji akan membagikan amplop berisi uang 100 ribu rupiah untuk tiap rakyat menjelang hari pemungutan suara.

Janji mereka membuat keder kandidat-kandidat lain. Banyak pula rakyat sangat mempercayai janji itu. Namun, banyak juga rakyat yang mengancam tidak akan sudi memilih Wanjidul jika tidak menerima amplop berisi 100 ribu rupiah.

Wanjidul tersenyum-senyum ceria mendengar dinamika politik terkait dirinya. Dibayangkannya dirinya hanya memperoleh suara kecil di pilkada karena rakyat tak sudi memilihnya gara-gara tidak menerima amplop berisi uang 100 ribu sebagaimana yang dijanjikan tim sukses.

Begitulah, setelah pilkada berlangsung dan suara pun dihitung, Wanjidul ternyata kalah telak, hanya memperoleh suara sedikit. Namun, wajah Wanjidul tetap selalu ceria, karena dana besar dari cukong telah memperkaya dirinya. Sementara itu, cukong-cukong yang telah memberinya dana besar juga sangat gembira karena calon lain yang menang. Sebab, cukong-cukong itu mendukung semua calon agar siapa pun yang menang mereka bisa menggarap proyek-proyek korup di daerah.

Ditemani istri di kamar, Wanjidul menghitung dana dari cukong-cukong. Jumlahnya puluhan miliar rupiah. Wanjidul terkekeh-kekeh dan berujar: “Semua ini bukan uang hasil korupsi. Kita tak perlu khawatir dijerat hukum.”

“Aku harus punya mobil baru, Mas. Istri calon bupati yang kalah harus makin wah, jangan sampai memalukan!” Istrinya merajuk.

Mata Wanjidul terbelalak menatap wajah manis istrinya. “Kamu minta mobil baru seharga satu M?”

Istrinya langsung menukas. “Seharga 2 M dong!”

Wanjidul langsung memeluk istrinya dan mengecupnya dengan mesra.

Sementara itu, di banyak desa, tim relawan dan tim suksesnya sangat malu keluar rumah karena muncul fitnah bahwa mereka menilep banyak amplop berisi uang yang telah disediakan Wanjidul. Sedangkan Bos Heru dan Bos Edi pun telah menyusun rencana akan menyuruh preman-preman untuk membakar rumah Wanjidul pada tengah malam.

Mereka menggerutu: “Politisi culas macam Wanjidul harus dibakar hidup-hidup.” Malam itu, sehabis bermesraan, Wanjidul dan istrinya tertidur sangat pulas dan terlambat bangun untuk menyelamatkan diri ketika tiba-tiba rumahnya terbakar hebat. ❑-e

Kota Wali, 2018

[1] Disalin dari karya Asmadji As Muchtar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” 8 Juli 2018