Sehelai Kerudung

Karya . Dikliping tanggal 12 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

BEBERAPA hari sejak kabar itu kudengar, keadaan kampung jadi runyam. Ada warga merasa tak terima karena kerudung yang dipajang di depan rumahnya dibakar oleh anak lelaki yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Adnan memasang kerudung itu sebagai jimat agar rumahnya tak diganggu jin atau setan.

Keadaan kampungku semakin kisruh ketika Adnan mengajak teman-temannya untuk memberi pelajaran pada Arif. Arif menghilang. Hanya teman-temannya yang dijumpai oleh Adnan.

‘Saya tak tahu Pak. Kata Arif, berdoa minta pertolongan agar tak diganggu jin atau setan itu hanya kepada Tuhan. Kata Kiai Saman juga begitu.’

Sebagian warga memang tahu tentang kerudung yang dipakai oleh Adnan agar terhindar dari gangguan setan dan jin. Dalam kerudung hitam itu, ada tulisan kaligrafi dari ayat-ayat al-Quran lalu dilingkari dengan kalimat syahadat.

Orangtua Arif pun bungkam yang semakin membuat Adnan marah bukan kepalang. Guru ngaji Arif yang mendengar kabar itu segera bertamu pada Adnan.

‘Pak Adnan, maafkan Arif yang tak tahu apa-apa itu,’ kata guru Kiai Saman.

‘Tak bisa Kiai. Kerudung berkaligrafi itu saya beli dengan harga mahal. Lagi pula itu sama saja dengan membakar kalimat syahadat yang menjadi pengakuan kalau kami beragama dan beriman.’

‘Tak harus begitu cara menyelesaikan masalah pembakaran kerudungmu itu, Pak Adnan. Kalimat itu kan tak seharusnya dikibarkan, cukup diamalkan lalu diajarkan pada orang-orang. Tak usah dibawa ribut.’

‘Itu harganya mahal,’ tukasnya lagi.

‘Pak Adnan kan cukup minta ganti rugi pada keluarga Arif kalau merasa dirugikan. Pak Adnan tak harus seperti orangorang yang tak terima kain bertuliskan syahadat itu ketika dibakar.’

Adnan terdiam. Perkataan Kiai Saman bisa dipahami. Kerudung jimat bertuliskan kaligrafi dan dilingkari syahadat itu tak harus mengundang resah karena kebencian Adnan pada Arif. Persoalan syahadat atau keyakinan cukup diamalkan lalu diajarkan, tak perlu dikibarkan. Ada orang yang mengaku beragama tapi hanya omongannya saja. Seperti agama katepe.

Sehelai Kerudung‘Pak Adnan kan sudah lihat dan dengar soal bendera yang dibakar itu kan?’

‘Iya Kiai.’

‘Nah, Pak Adnan tak harus seperti mereka. Demi menghajar Arif, sampai beralibi kerudung yang dipajang itu bertuliskan kaligrafi syahadat.’

Sejak peristiwa yang dilihat di televisi dan internet soal pembakaran bendera itu memang membuat masyarakat resah. Ada sebagian orang yang beragama hanya mengandalkan otak, bukan hati yang menjadi substansi keimanan. Padahal seharusnya dalam beragama tak perlu mulukmuluk, cukup hati ke hati, cukup diamalkan lalu diajarkan. Persoalan merasa dilecehkan, itu yang harus kita hadapi dengan lapang. Begitu ajaran agama: tabah dan sabar.

Penjelasan Kiai Saman cukup masuk akal. Sebagian orang bilang membela tauhid. Tapi meresahkan masyarakat dan menjadi kontroversi. Kata Kiai Saman, tauhid cukup diamalkan lalu diajarkan, jangan hanya dikibarkan dibawa ke mana-mana. Apalagi sebagai jimat penolak jin dan setan. Sekarang banyak masyarakat belajar agama dari internet, sehingga cara beragamanya kaku dan tak ramah. Adnan mengangguk. ❑-e

Junaidi Khab, cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya.


[1] Disalin dari karya Junaidi Khab
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 11 November 2018