Selaksa Lukisan yang Jejal di Kepalamu [3]

Karya . Dikliping tanggal 15 Februari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah, Majalah Femina

Kisah sebelumnya
Hamil sebelum menikah dengan Irsan, membuat hidup Meilati jungkir balik. Apalagi, Irsan kemudian pergi meninggalkan Mei yang membuatnya menjadi orang tua tunggal bagi Saldi. Mei lalu memilih tinggal dengan mertuanya, membesarkan Saldi yang mulai merindukan ayahnya. ‘Tugas’ Mei bertambah ketika ayah mertuanya terkena stroke. Tahu ayahnya sakit, Irsan pulang kampung setelah 8 tahun melarikan diri.
Bocah itu kembali selalu terjaga. Terutama menjelang kantuk. Bocah itu pada suatu senyap malam dan berlanjut pada malam-malam berikutnya, mendengar nenek dan ibunya, bertadarus hingga kampung rebah dan bintang-bintang tertidur pulas. Saldi terjaga mengetahui penghuni rumah selain dirinya berhirukan di kamar mandi dan selang setelahnya terdengar lantunan ayat di kamar Kakek dan bacaan salat yang memilukan.
Pada siang hari, sekeluarga itu menuju ke arah utara Masamba. Ke kecamatan Wotu. Di sana ada sandro mahsyur. Konon dapat menyembuhkan sakit metafisik, sakit yang tak pulih di tangan dokter. Puang Maddu bersongkok peci hitam kecokelatan karena terpaan hari. Raut Puang bergurat dengan garis tegas namun rumit, solah pada lipatan-lipatan itu, ia memampatkan segala bala dari tubuh pasiennya.
     Pesakitan yang geming dengan mata mengawas, dibungkang di tengah ruangan pada sebuah tilam. Ruangan bergegas hangat dan remang. Cahaya hanya kuasa menyelinap masuk dari tirai kelabu yang menggantung di 3 jendela.
Pengobatan Puang Maddu dengan teknik urut. Sandro 80 tahunan itu membalur minyak sereh yang sengat di sekujur badan kakek. Tangannya liat dan tapis memijat. Urat-urat di tangannya bertonjolan, timbul tenggelam, seakan ada makhluk yang bergelinjang dan berontak di balik kulitnya. Pijatan bermula di kaki, lalu seperti keong, merayap pelan ke atas sampai ke tengkuk dan kepala. Puang Maddu memijat lekap di bagian kepala dan leher. Tangannya menari pelan dan lembut. Sembari mengurut dia meratib ayat Alquran. Mulutnya mendesis.
Berikutnya dia membalur bubuk kayu manis. Dan seumpama melulur, ia mengosokkan bubuk kayu itu dengan gerakan memutar ke sekujur tubuh si sakit. Saat pamit rombongan itu dibekali sejeriken air yang telah dijampi. Selain diminum, air itu disarankan diusapkan ke kepala si sakit 5 kali bakda salat.
Sepekan tak ada perubahan, Meilati gemas ingin mencari sandro lain. Namun Irsan memintanya menahan diri, bersabar, dan berikhtiar.
###
     Sesaat setelah Saldi berangkat ke sekolah bersama ayahnya, Meilati mendorong Kakek dengan kursi rodanya dan mengajak berkeliling di sekitar rumah hingga ke tetangga terdekat. Setelahnya singgah beberapa tempo di pekarangan. Di situlah kerap Meilati mencakapkan banyak hal.
“Sejak kedatangan ayahnya, berat Saldi naik sekilo lebih, Pak. Dia senang dan semangat sekali belajar. Tampaknya Saldi suka matematika, hitungannya lancar. Semoga dari ranking 3 bisa naik jadi ranking 1 saat terima rapor nanti.” 
Meilati juga menerangkan tentang suaminya yang membawa oleh-oleh lukisan karyanya sewaktu di London. Lukisan itu dipajang di antero dinding rumah yang menggoda kreativitasnya mengatur kembali ruangan, bahkan sampai perlu mengubah cat agar sesuai dengan pajangan lukisan. 
Hasil kakao juga dilaporkannya. Kendati makin berkurang, Meilati mengatakan hasilnya patut disyukuri. Meilati menjangkau semua ingatan semampunya, kemudian menyampaikan hal-hal tersebut. Ia tak sekadar memberitahu cerita yang ada, juga belajar peka memberitahu apa yang diperlukan Kakek. Laiknya sekretaris yang memberi laporan akhir bulan. Bahkan dengan menebak gerak dan sorot mata si tua, ia percaya apa yang dikisahkannya adalah sebab dari isyarat mata Kakek. Meilati berkeyakinan, dalam beberapa kasus nalurinya benar.
    “Sekarang, kalau Saldi bangun, dia hanya ingin Kakak yang dilihatnya kali pertama. Terus minta digendong ke kamar mandi. Saat Kakak tak ada, dia bahkan mandi sendiri.”
Pagi itu, di meja kecil di dapur, Meilati memberitahu suaminya agar tidak mengolok Saldi sedemikian rupa. Termasuk tak sering mengantar jemput ke dan dari sekolah.  
“Saya khawatir Kakak keluar kesana kemari, nanti kalau ada apa-apa, bagaimana? Tanpa diminta, di jalan Kakak bertemu dengan keluarga perempuan dari sebelah. Sangat mungkin hal terburuk menimpa Kakak.”
Sembari menyarap nasi goreng, Irsan menyimak perkataan istrinya yang tengah mempersiapkan hidangan makan siang.
“Tapi tak ada yang bisa kukerjakan selain itu sekarang. Aku juga begitu kangen.”
“Besok-besok akan banyak yang Kakak dapat kerjakan.” Sembari menunggu nasi tanak dan ikan parede karappe  mendidih, Meilati duduk di hadapan suaminya.
Ibunya muncul dari pintu belakang. 
“Apa setelah Bapak sembuh kau akan pergi lagi?”
Irsan menggeleng. Dia bersegera minum dan berujar, “Aku akan tinggal.”
Ibunya menghela menatap ke relung mata anaknya. “Jika kau tak cocok berkebun, kau bisa buka usaha. Ihsan sudah membeli satu petak kios di pasar, kudengar dia bersama temannya mau berkongsi membuka toko furniture. Mungkin kau bisa buka usaha warnet.”
Irsan menyimak sambil memikirkan hal lain. Tentang sebuah bangunan kecil tempat ia bekerja. Ide itu berpijar-pijar terang di kepalanya. 
 “Kau tidak usah khawatirkan modal, Nak. Sehektar tanah memang telah terjual demi mengongkosi Bapak, tapi kita masih punya sejumlah tanah, lebih dari cukup untuk mendirikan warnet. Sebenarnya kami sudah merencanakan dulu. Tapi karena bapakmu jatuh sakit jadi sementara tertunda. Nah, sekarang bisa kau lanjutkan.”
Pada Ahad pagi, 3 hari setelah percakapan di dapur, Irsan datang bersama 2 remaja. Mereka kuli bangunan yang sedang memugar masjid. Duet itu berbadan sekal dan berkulit matang, Zul dan Hamid. Mereka membahu potongan-potongan kayu yang kemudian diletakkan di tengah-tengah pekarangan yang lowong. Ketiganya membahu menata potongan-potogan kayu itu.
###
Dari ruang tamu, Meilati menyimak dengan syahdu percakapan antara anak dan ayahnya. Ia merasa ini salah satu jenis kebahagian yang belum pernah dirasakannya, mendengar dua orang tersayang berbicara hangat. Seperti bangun pada suatu pagi dan disuguhi cokelat panas hasil racikan dari kebun sendiri. Sebab kenyataannya orang-orang sini mungkin sekali tak pernah berpikir dapat meracik biji kakao dari belakang rumahnya menjadi minuman hangat. Padahal jika mereka usahakan itu dapat terjadi.
“Jadi selama ini Ayah pergi melukis di luar negeri?”
     Ayahnya menggangguk.
Saldi mendongak ke atas, menyenteri ayahnya yang mencucukkan bohlam lampu ke rongganya. Lantas terang meliputi. Seisi bola-bola benderang. 
“Hore rumahku sudah jadi! Mama’, lihatlah!”
Meilati menghitung, butuh 5 hari membangun bola-bola ukuran 3 kali 3 itu hingga kelar. Bola-bola itu dibuat dari kayu damar, beratap rumbia, tanpa dinding, dengan lantai yang berjarak sekira 20 sentimeter dari permukaan tanah. 
 “Memang Mama’ bilang, Ayah pandai menggambar. Melukis orang, binatang, gedung-gedung gunung, perempuan, laki-laki, jalanan. Apakah benar begitu, Ayah? Nanti ajari Saldi melukis, ya?”
Irsan menatap ke dalam mata Saldi dan mengangguk. Sejamak dengan pelukis lain, ia bukan tipe pelukis cat minyak yang bisa melukis segala jenis objek lukisan. Selama dirantau ia paling sering melukis kerumunan orang: antrean pembeli di Harrods saat musim Natal tiba, kesibukan di Bandara Heatrow, juga lalu lalang warga Inggris di stasiun kereta api St. Pancras.
Irsan merasa lega berada di antara mereka, seakan ia melihat dirinya menyebuk di dalam keramaian itu dan orang-orang luar, bahkan pengamat lukisan tak mampu melihat dirinya. Dengan begitu ia aman di tengah-tengah pelariannya. 
Namun tanpa bisa ia bendung, bayangan lukisan perempuan-perempuan di bawah lapiknya dulu juga merembeti dan memberati kepalanya. Ia tak mengingat riwayat lukisan itu, ia buangkah? Dibakarnya? Atau ditemukan bapaknya?
Mata belia itu berbinar, pantulan bohlam di dalam pupilnya tampak cerlang. “Ayah nanti akan melukis orang-orang di sini, jalanan, rumah-rumah sungai, dan teman-teman kelasku, jangan lupa ibu guruku, Ayah,” anak itu merajuk.
     Ayahnya mengangguk seraya membelai rambut Saldi. Hatinya berkeras, ia takkan melukis perempuan mana pun, bocah manapun, lelaki mana pun di kampung itu. Ia harus melukis anaknya, istrinya, ibunya, saudaranya dan juga bapaknya. Pertama sekali itulah yang akan diguratnya.
        
*******
“Apakah boleh bicara, Ayah?” 
Irsan mengangguk.
Saldi duduk di kursi mungil yang dibuat dari sisa papan bola-bola tempo hari. Anak itu rapi dan wangi, melumuri gel minyak rambut yang limpah dan melikat rambutnya. Wajahnya cemong dipenuhi pupur bedak. Walau tampak tegang ia  toh berceloteh.
Bola-bola itu dijejali teman-temannya yang masih berpakaian sekolah. Mereka merubung penuh iri seperti tawon yang suaranya memekik-mekik sepanjang waktu. Serupa wartawan mengerumuni narasumber.  Anak itu rupanya pewarta ulung. Satu sekolah hari itu tahu kalau dirinya akan menjadi objek lukisan.
 “Selain temanku, guru-guru juga tahu. Jadi berapa yang mereka mesti bayar kalau dilukis? Semuanya bersedia membayar kan?” Saldi menjeling kepada temannya dengan kaku seperti penderita patah tulang leher.
“Ayah tidak bisa melukis setiap hari, Sayang. Itu meletihkan tangan dan hasilnya bisa jelek. Apalagi kalau seluruh temanmu dilukis.”
“Huuuuh…” serempak anak-anak itu mencebik.
“Tapi ini kan pekerjaan Ayah. Guruku bekerja setiap hari mengajar kami. Bapaknya Rasmi yang tukang ojek juga tiap hari pergi ke pasar. Mereka tidak pernah alpa dan letih. Artinya Ayah suka bolos kalau tidak setiap hari bekerja. Pak Thalib, kepala sekolahku bilang, setiap orang harus disiplin.” Ia merepet dengan bibir merapat. Anak-anak di situ menceletuk menyebut kesibukan bapaknya sehari-hari.
“Nah, Ayah menggambar orang saja. Satu orang setiap hari. Kukira tidak akan membuat Ayah capek. Teman-temanku dan orang-orang yang Ayah lukis akan membayar.  Ayah akan letih jika menggambar hal yang tak beguna. Gunung, jalan-jalan, pohon, itu tak akan berguna. Mereka tidak dapat membayar dirinya sendiri, bukan?”
Bocah-bocah tertawa dan mengamini ucapan Saldi.
Irsan meletakkan palet dan minum. Sketsa wajah anaknya telah selesai, kini ia tinggal menajamkan lukisannya dan melakukan pewarnaan. Teman-teman Saldi itu kian mendekat pada oasel dan menyentuhnya dengan kagum.
“Berapakah, Om? Satu juta?” Seorang anak perempuan yang paling dekat dengan kanvas menawar. 
“Mama’ juga setiap hari bekerja, memasak, mencuci piring, mencuci baju, jemur dampo, mengawasi kisaro, petik kakao, lalu Kakek memberinya uang. Itu karena Ayah tidak memberi uang pada Mama’. Untung sekarang saat Kakek sakit Ayah datang. Tapi bagaimana Ayah bisa memberi Mama’ uang kalau Ayah tidak bekerja setiap hari.”
Bibir Irsan kram dan matanya pesam. Anaknya menyebut dia pembolos, istrinya menyangka ia serigala berbulu domba yang kini kemungkinan adalah domba berhati serigala. Anak-anak di situ mendengar omongan anaknya sembari menceloteh rutinitas orangtua masing-masing. Para orangtua itu tentu telah banyak mengumpat di belakang sana. Ia pasrah, jika itu mampu menebus kesalahannya di masa lalu dan menjadi tiket baginya untuk tetap tinggal.
*******
 “Saya tidak nyaman dilukis.” Meilati berterusterang. Ia tampak impresif dengan jilbab ungu dengan keliman renda biru tua.  Bajunya terusan biru muda yang pada bagian ujung lengan dan bawahan, berbordir motif bunga mawar. Dia duduk di hadapan suaminya dengan kaku. 
    Suaminya menoleh tak mengerti.
“Saya pernah menonton acara plesiran di televisi, setelah selesai dilukis oleh juru lukis, pelancong akan pergi membawa lukisannya, meninggalkan pelukis. Saya memikirkan sebaliknya. Bagaimana kalau juru lukis itu pergi membawa segenap lukisan dan meninggalkan objek lukisannya begitu saja.”
 “Itu tidak akan terjadi,” ujar Irsan.
Meilati mengatup bibir memampat deru di dada. “Saya sudah cukup bisa belajar menahan kepergianmu. Pun jika itu terjadi lagi. Tapi saya tidak bisa menahan diri khawatir, kalau Kakak pergi meninggalkan Saldi atau sekalian membawanya.”
Irsan menggeleng sekali lagi. “Aku tidak ke mana-mana.” 
Perkataan itu begitu meyakinkan dan membuat istrinya kikuk. Maka Meilati menyilih topik pembicaraan. 
“Kalau kau melukis di sini, para tetangga dengan amat senang menukarnya dengan 2 hingga 3 tandan pisang. Tidak sebanding dengan usaha Kakak melukis.”
“Melukis bukan semata-mata tentang materi Mei.”
Ujaran itu di telinga Mei terdengar seperti sebuah pembelaan. Ia merasa suaminya tersinggung.
“Saya mengerti.” Meilati berkata lekas. “Tapi kukira jika Kakak sampai tua melukis di sini, kau akan segera memenuhi rumah dengan lukisan, lalu rumah tetangga, dan rumah seluruh kampung. Kakak akan menjadi tokoh paling terkenal di kampung ini. Setiap orang melihat lukisanmu dan membaca nama Kakak di sudutnya.”
Irsan tertegun. Mengapa istrinya berpikir demikian? Ucapan itu seperti mantra yang hingga di kepalanya. Maka ia lekas mengamini. Jika saja itu bisa membuatnya kembali sepenuhnya ke kampung itu, menawan hati penduduk desa dengan lukisan-lukisannya.
*******
    Ibunya menolak duduk di hadapannya untuk dilukis. 
 Maka, tatkala ibunya tengah merawat tanaman, Irsan mencuri berkutat di balik kanvas. Ia bersempat menggurat sketsa ibunya.
“Istrimu itu sungguh tabah. Tidak pernah sekalipun mengeluh. Tak pernah dia berpikir pulang, atau mencari kesibukan di luar rumah selama kau pergi, padahal dia sarjana.” Usai menyiram ibunya meletakkan timbasiram dan mulai memotong tangkai-tangkai bunga yang layu dan kering.
 “Sekarang setelah Meilati melewati ujian karena kepergianmu. Gantian Mama’ lagi yang harus menghadapi ujian. Bapakmu sakit.” Ia meraih ranting yang telah terpotong dan memandangnya dengan picing.
Nenek Risa tercenung di antara bebunga. Ia tahu benar, betapa Tuhan Maha Adil menempatkan ujian dan nikmat yang beriringan. Ketika anaknya kabur, rumah itu kedatangan menantu welas asih lantas diriangkan dengan kehadiran cucu tersayang.
Pun demikian saat musibah bagi suaminya mendera, maka nikmat yang memapas adalah kepulangan anaknya. Ia mahfum, Tuhan Maha Pemurah dan sebaik-baiknya pengatur.
“Kau beruntung sebagai lelaki, keberuntungan kalian nyata. Sedang kami perempuan memilikinya hanya jika kami melalui beberapa tantangan. Tantangan yang bersumber dari lelaki.”
Irsan menyimak, mendadak tangannya tremor. Ibunya duduk di tepi bola-bola, menatap wajah anaknya di balik kanvas.
“Perempuan berubah layu setelah ia dijamah lelaki. Tetapi lelaki bahkan terlihat kian matang, seberapa kalipun telah melakukannya. Saat kami hamil  lelaki tetap seperti itu tampaknya dan tak menanggung apapun, bahkan setelah mereguk nikmat. Saat kau pergi dan meninggalkan Meilati, lelaki seperti kau tidak hanya meninggalkan beban malu pada Meilati,  Mama’, Bapak, keluarga, dan seluruh kampung, tapi juga kepada segenap wanita dan lelaki.”
Nenek Risa terisak dan memandang bunga matahari yang kuningnya menyilaukan.
     “Anak seorang imam desa melakukan kebiadaban pada gadis-gadis.” Ia berdiri. “Dulu itu kiamat kecil, Nak. Selama berhari-hari bahkan hingga kini, Mama’ selalu berdoa, agar kau dimaafkan, tak ditimpakan azab.” 
    Ia menatap anaknya lirih, “Di manapun kau berada saya selalu berdoa dengan cemas, jangan sampai orang-orang dari sebelah sungai itu, yang anak atau adik perempuannya yang telah kau nodai menemukanmu dan hanya menginginkan tubuhmu ditikam badik untuk menggantikan harga diri mereka yang tercabik. Siri’. Tapi kini kau pulang dalam keadaan sehat dan kau sungguh tampan. Betapa beruntungnya dirimu.”
Ibunya tersedan lantas masuk membiarkan Irsan tersuruk di situ. Kepalanya beku dan tulang-tulang di sekira mulutnya bergemeletuk. Menggeletar. Dadanya sesak.
Ia tahu dirinya begitu beruntung. Dalam pelarian, bukannya mendapat balasan padan, ia justru meraih kemujuran. Mendapat pekerjaan di salah satu negeri terindah dunia dan kelaikan hidup. Ia bertanya-tanya, jika karma itu ada, bilakah tiba padanya? Kini, ia malah disuguhkan kehangatan pulang. Sementara keluarganya mendapat luka beruntun, ia selalu dipayungi keberuntungan. Itu tak adil. Ia harusnya memetik buah syahwat yang ditanamnya dulu. Batinnya mengedau.
Dengan apa ia mesti membalasnya. Sebelum orang-orang di sekelilingnya menghitung-hitung lantas menyadari betapa kadar salahnya vital dan meradak. Sebelum orang-orang kampung melalui restu keluarganya merajamnya di tanah lapang. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamran Sunu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”