Selaksa Lukisan yang Jejal di Kepalamu [4]

Karya . Dikliping tanggal 15 Februari 2015 dalam kategori Cerita Bersambung, Majalah Femina

Kisah sebelumnya:
Hamil sebelum menikah dengan Irsan membuat hidup Meilati jungkir balik. Apalagi, Irsan kemudian pergi meninggalkan Mei yang membuatnya menjadi orang tua tunggal bagi Saldi. Mei lalu memilih tinggal dengan mertuanya, membesarkan Saldi yang mulai merindukan ayahnya. Ketika ayahnya sakit, Irsan pulang kampung setelah 8 tahun melarikan diri. Ia ingin membuat lukisan untuk menebus dosa masa lalunya.
Tiap pagi di bola-bola, Irsan seakan disurup khodam pelukis. Setelah bersama istrinya merawat Bapak, pelukis itu bergumul dengan kanvas dan kuas. Kegiatan melukisnya dengan cepat tersebar ke  antero kampung. Sejak teman-teman Saldi pulang dari bola-bola,  tiap hari ada saja warga yang datang ke teratak itu untuk melihatnya melukis. 
Perlahan Irsan menyadari kini ia sanggup melukis di hadapan beberapa warga yang mengerubutinya.  Di Yogyakarta dan di London, ia tak pernah melukis dengan seseorang yang menyaksikannya. Ia takjub mendapati dirinya begitu bersemangat. Dalam sebulan ia sanggup menyelesaikan 4 lukisan dengan hasil lumayan. Ia sangat puas.
Padahal,  dalam jejak rekam melukisnya, untuk sebuah lukisan, dia biasa membutuhkan waktu sekitar 2 pekan hingga 2 bulan. Ia tahu alam dan Tuhan telah menolongnya untuk melempangkan murad.
 “Saldi coba kau hitung, rumah di kampung kita ada berapa? Dari setelah kebun kakekmu di utara, dan setelah rumah mandor pasar di selatan.”
Saldi lantas mulai menyebut nama pemilik rumah satu per satu. Neneknya yang kebetulan lewat menjemur dampo di atas bonsai menimbrung, membetulkan sebutan Saldi. Hasil akhirnya ada 39 rumah.
“Nah, Saldi, kau akan bertugas membawakan 39 lukisan ke rumah-rumah tadi.”
“Wow, jadi mereka semua membeli lukisan?” Saldi berseru takjub.
“Tidak, Sayang, kita memberinya gratis.”
“Hahh?” anak itu memekik seakan dikejar anjing paling galak di kampung itu.
###
    “Bagaimana kabar pasien lock in sindrom tempo hari, Kak? Semoga ada kabar baik, ya.”
Di kamar belakang, tempat Kakek Dulla dirawat, Irsan baru saja memberi makan dan minum Kakek. Meilati bertanya, sembari bersiap menyalin baju Kakek.
Suaminya menggeleng, “Apakah kita perlu tahu?” Irsan balik bertanya dengan dahi berarsir. “Tidak perlu. Tidak berkaitan. Sebab bisa saja kasusnya sangat berbeda. Ini baru lebih dari setahun, pasien di Inggris itu telah 7 tahun,” Irsan menambahkan.
 “Maksudku begini, Kak. Kalau pasien itu memang sudah sembuh, artinya Bapak punya kesempatan yang sama. Kita bisa berobat ke Singapura. Kurasa Singapura sangat maju dalam dunia kedokteran.”
“Jika ramuan Puang Maddu dan Daeng Puji belum bisa menyembuhkan, kita akan cari lagi sandro lain.” Irsan buru-buru keluar membawa kain lap dan tempayan.
Meilati memejamkam mata dan menghela napas. Ia tahu kesulitan kian nyata mengadang. Saat membuka mata, sekonyong-konyong tatapannya merobok pada wajah pias itu.
Hingga suatu waktu, untuk pertama kali, Irsan merasa kakaknya baru menyambangi bola-bola.
    Bakda Jumat, masih berpeci, dan membawa sajadah, Ihsan mengaso di situ. Ia mengedar antero pekarangan rumah beberapa jenak. Ia lantas berbaring, menatap langit-langit bola-bola. Pikirannya bergentayang entah ke mana.
    “Kau tampak menikmati berada di sini. Suntuk dengan lukisan-lukisanmu. Sayang sekali Bapak di dalam begitu menderita. Itu luka yang paling sakit.”
 “Aku akan melukismu.” Kilah Irsan, terkesan tak memedulikan ucapan kakaknya. Sang adik bukannya tak mendengar, ia kadung tahu memiliki kesempatan untuk melukis kakaknya. Sebab Ihsan jarang menongol di rumah. 
    Sepulang dari rumah sakit, Ihsan memilih lebih banyak berdiam di los pasar. Ketika melihat adiknya bersemangat dan terkesan aneh, ia ingin sekali mengungkapkan tentang kisah-kisah yang kuak dari kios-kios di pasar bersekat papan kayu rapuh, yang bolong di sana-sini. Juga sebab tukang bangunan yang gabas bekerja, menyusun papan-papan tak rapat dan padu, hingga suara tetangga kadang kadung terdengar nyaring hingga ke sebelah.
Kios Ihsan yang diancang sebagai toko furnitur berada di tengah-tengah di antara 5 petak. Saban malam, dari petak nomor 2 dan 4, ia mendengar cerita yang silih berembus. Termasuk tentang adiknya.
Perempuan setengah abad bersongkok haji warna-warni, dan baru merencanakan berhaji tahun depan di petak nomor 2, beberapa malam mengulang-ulang cerita, bahwa suatu ketika orang dari kampung sebelah yang anak perempuannya pernah dihamili oleh pemuda dari London itu, akan dicegat di jalan, diculik lalu mayatnya bakal ditemukan pada pagi dingin di sungai belakang rumah.
Astaghfirullah, batin Ihsan, apakah perempuan penjual rempah di sebelah itu, seorang calon haji atau pembual? Hati Irsan terasa disiram air bumbu paling rangsang dari rempah jualannya.
Dari bilik nomor 4, menjelang tidur suatu malam, fitnah merambat. Penjual pecah belah itu bergosip. Sang suami berkata pongah, “Sakit bapaknya itu sakit kutukan atas perbuatan anaknya. Sudah berapa kali periksa ke dokter, berobat ke sandro tidak sembuh-sembuh to? Hanya akan tersiksa sampai mati. Kasi’na Haji Dulla, anaknya yang melakukan, dia yang menanggung.”
Rasanya dia ingin menendang papan itu dan langsung membogem tetangganya itu. Betapa goblok dan liciknya mereka bercerita dan seolah sengaja memperdengarkan. Ia menyadari hal itu tanpa bisa dihindari akan jadi umpatan warga. Tetapi, apakah perlu ia sampai mendengarkan dari kanan-kiri, tentang masa lalu adiknya lantas kutukan pada keluarganya.
Ihsan menghela napas, namun ia berdeging mendengarkan asumsi-asumsi bernafsu itu daripada harus melihat bapaknya dalam kesakitan yang bisu. 
 Kemudian Ihsan berkata, “Kau harusnya melukis Bapak.”
 “Ya, akan kulukis. Pasti,” sahut adiknya dengan agak bingung. Seolah tugas mahapenting itu menyembul ke permukaan dengan cepat dan merisaukannya.
    “Apakah ada harapan? Sampai kapan Bapak seperti ini?”
    “Insya Allah, jika….”
“Saya minta kamu cerita apa adanya…,” Ihsan menodong.
    Irsan meletakkan paletnya, “Aku harus bilang apa? Kita harus berusaha, ‘kan?”
“Sampai kapan? Kau terus berusaha dan Bapak terus tersiksa, kau tega melakukannya?” Ihsan menghardik. Saat menjaga Bapak dulu di rumah sakit, suster yang datang dan pergi dengan ekspresi kosong mengatakan dengan enteng seperti pembunuh berdarah dingin, ‘Kebanyakan pasien seperti ini tidak bisa berbuat apa-apa lagi sampai meninggal. Tidak ada obatnya.”
“Jadi kau pikir apa yang harus kita lakukan?” tanya Irsan.
“Jika memang tak ada jalan lain, biarkan Bapak pergi dengan tenang. Tanpa harus tersiksa sedemikian rupa. Itu yang terbaik.” 
Ihsan mendadak beranjak. “Saya mau makan siang.”
Ia berlalu meninggalkan peci dan sajadahnya. Irsan terpana dengan kepergian kakaknya. Saat melirik sketsa yang belum rampung di hadapannya, ia merasa sketsa itu bukan wajah Ihsan, tapi wajah Bapak!
###
    Suatu siang yang sepoi, saat Irsan menuju bola-bola, ia mendapati Meilati duduk bersila memangku laptop.
Irsan menghampiri dan tahulah dia apa yang tengah dilakukan istrinya. Irsan sudah membaca berbagai ihwal tentang sakit stroke ekstrem itu. Lakin ia paham, dirinya akan segera tampak majal di hadapan istrinya. Ia yakin. Meilati tak hanya mencari ihwal sakit itu, tapi juga mencari tahu upaya penyembuhannya.
“Sakit ini dapat pulih asal keluarga sabar memberi semangat dan bimbingan. Saya yakin, Kak. Kita bisa.”
Meilati dengan antusias membacakan perjuangan seorang ibu rumah tangga di Amerika yang harus merawat suaminya yang sakit selama 9 tahun.
“Wanita ini merawat suaminya dengan asih. Tiap saat ia berada di sisi suaminya dengan papan tulis mini dan spidol untuk menerjemahkan instruksi suaminya. Istrinya akan menunjuk seluruh abjad yang ada. Si suami akan mengedipkan mata untuk huruf yang tepat. Demikian seterusnya hingga terbentuk satu hingga dua kata.”
Meilati tersedu, “Bukan istrinya yang tak sanggup meladeni kerumitan pekerjaan menerjemahkan, tetapi suaminya yang tak rela melihat istrinya terimbas menderita karena dirinya.”
Irsan mendekap istrinya. Di bahunya, kepala Meilati tremor.
###
    Nenek Risa membeli papan tulis portabel kecil yang ringan dan sebuah poster abjad. Satu keluarga berkumpul sore itu untuk melihat apa yang dikatakan Kakek Dulla kali pertama sejak dilarikan ke rumah sakit.
    Di sisi Kakek Dulla, Meilati mengangkat papan tulis ringan itu laiknya buku. Sementara Irsan di sisi ranjang yang lain memegang abjad. Keduanya kini selaik pasangan guru taman kanak-kanak. Dengan perlahan Meilati memberi petunjuk. Di belakang mereka, Nenek Risa, Ihsan, dan Saldi menanti dengan ekspresi menahan sesuatu di wajah mereka, seperti antrean tertib pasien di rumah praktik dokter gigi.
    “Sekarang Kakek bisa menyampaikan apa yang Kakek mau dengan kedipan mata. Satu kali kedip perlahan dan jelas itu artinya iya, mengerti, setuju, atau boleh atau positif. Dua kali kedipan mata artinya tidak, tidak mau, bukan, melarang dan tanda negatif. Mengerti, Kek? Kalau mengerti beri satu kedipan.”
    Kelimanya menyaksikan Kakek mengedipkan mata sekali. Guruh suara kelegaan menyembul samar. Seluruhnya penasaran dengan apa yang akan dikatakan Kakek Dulla selanjutnya. Irsan menunjuk seraya menyebut huruf alfabet satu-satu, sementara  Meilati menunggu dengan debar 2 kedipan mata yang menentukan. 
“K? K!”
“Ya, K.” Meilati menyahut sambil menulis huruf itu.
    “T?” Irsan bertanya ragu.
    “U!” Nenek menyahut di belakang.
    Namun, Kakek Dulla tampaknya kesulitan mengikuti instruksi. Ritme kedipan itu tak beraturan. Irsan sampai perlu mengulang huruf. Ihsan dan Nenek Risa mulai khawatir.
“Apa kalian tidak merasa tambah menyusahkan Bapak dengan cara seperti itu?” Ihsan berbicara sambil berjalan keluar. Menghilang di balik gorden pintu. Ruangan mendadak kaku. 
###
    “Sulit mencarinya. Jangankan harganya, bentuk interface computer saja bagaimana, sulit kupastikan, mesin Google menampilkan terlalu banyak gambar.”
    Saat datang ke bola-bola selepas lohor, Irsan mendapati istrinya berkutat dengan laptop yang sedang daring.
“Mei, alat seperti itu mungkin belum dijual komersial. Hanya tersedia di rumah sakit tertentu saja. Saya tidak yakin di Indonesia sudah ada. Di Singapura atau Malaysia mungkin ada.”
“Apa Kakak tidak pernah berpikir membawa Bapak berobat ke Singapura?”
“Aku bahkan ingin sekali membawa Bapak ke rumah sakit terbaik dan paling tepat untuk penyakit yang berkaitan dengan otak. Di Putney, London, ada Rumah Sakit Royal Hospital for Neurodisability (RHN) yang merawat pasien yang menderita gangguan otak.”
“Kenapa tidak? Keluargamu punya tanah puluhan hektare. Itu bisa Kakak jual sebagian untuk biaya ke sana.” Meilati memadamkan laptop.
    “Kita akan menempuh puluhan jam untuk tiba, dan tak ada jaminan pasti Bapak akan segera sembuh. Kita mungkin akan butuh waktu berbulan-bulan bahkan tahunan.”
    Meilati gemas mendengarnya. “Segala sesuatu diawali dari niat, usaha lalu doa. Kalau Kakak saja sudah pesimistis dengan kesembuhan Bapak, bagaimana mungkin Bapak tersugesti sembuh. Tak ada yang mustahil, Kak, asal kita berdoa dan berusaha.”
Irsan menghela napas. “Dengarkan Mei, dengarkan.” Suara itu menekan. “Tempo hari saat kita mengantar Bapak berobat ke Makassar, aku beberapa kali berkonsultasi dengan dokter di sana. Dokter Amanda. Aku bertanya tentang prospek kesembuhan penderita locked in sindrom. Dokter bilang, memang selalu ada prospek bagi pasien untuk lebih baik. Tapi belum ada kasus pasien pulih total. Dan sama sekali tak dapat dipastikan berapa lama akan pulih. Bisa saja 2 bulan, 2 tahun. Atau bahkan 20 tahun lebih. Itu tantangannya. Apa Mei mau mengambil risiko itu?” 
Irsan menjeda melihat Meilati menatapnya getir. Lagi ia berujar, “Mei, tak ada tempat terbaik di dunia ini untuk mengadu, pulang, juga mati, selain rumah.”
Mulut Meilati bergeletar. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun kadung kelu.
“Sayang, kita harus realistis. Bukannya kita tak ingin berusaha. Di mana pun Bapak berada, itu tak punya pengaruh. Bisa saja nanti sore Bapak sudah tiada. Mungkin besok, atau lusa, bulan depan, tahun depan, atau bertahun-tahun kemudian. Kita harus belajar menghadapi kemungkinan terburuk.” Irsan menghela napas. Tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.
“Lebih cepat atau lebih lambat, tak ada pilihan yang lebih baik. Begitu maksudnya?” Mei senewen.
“Kau ingat Tony Nicklison? Pasien yang minta dimatikan tempo hari?”
    Mei menatap lekat suaminya.
“Dia meninggal.”
“Innalillah….” Kalimat berikutnya pupus begitu saja. Meilati melirik lukisan separuh jadi.
    “Dia mogok makan,” sahut Irsan.
“Dan keluarganya tega membiarkannya. Atau malah melakukan itu?”
    “Setahuku, istri dan anaknya amat menyayanginya.”
    Meilati tersengap. Mukanya bergidik. Ia bangkit dan masuk ke dalam rumah. Suaminya menghela napas. Sesuatu di dadanya barusan mencelat keluar, seperti api yang lesak dari mercon.
###
    Irsan telah merampungkan 17 lukisan. Termasuk 5 lukisan diri keluarganya. Itu butuh waktu hanya sekitar 10 bulan. Ia yakin tangannya telah menjelma ajaib di kampung ini. Bingkai-bingkai berbahan kayu kelapa telah tiba di rumah pagi tadi diantar oleh pegawai Ihsan dari toko furnitur di pasar. Sepuluh lukisan untuk warga telah dibingkai dan segera diantar. Selebihnya akan diberikan pada warga  tiap sebuah lukisan kelar.
    “Kakak siap?” Meilati membantu mengelap pinggiran bingkai sebelum Irsan memasang lukisannya, “beberapa warga mungkin akan menyinggung masa lalumu.”
    “Ketika aku memutuskan pulang kemari, aku tahu orang-orang tidak akan membiarkanku melakukan kesalahan itu lagi. Apa pun yang mereka lakukan nanti, aku yakin itu adalah cara warga membolehkanku kembali.”
    Hingga empat rumah di kiri kanan anak-bapak itu berjalan kaki mengantarkan. Untuk antaran yang lebih jauh, ia meminjam mobil bak terbuka kakaknya. Indah, tetangga samping rumah mendapat lukisan pertama. Lukisan itu bertema kucing Indah yang berbaring malas di depan pintu rumahnya. 
Hampir seluruh warga yang menerima lukisan itu amat berterima kasih. Tapi ada beberapa pengecualian.
Warga yang masih memiliki hubungan keluarga dengan gadis yang dihamilinya dulu, menolak membukakan pintu. Seorang anak kecil sebaya Saldi melongok ke luar dari jendela dan berkata dengan kaku, seakan seseorang mengajari dari dalam sana. “Tidak ada orang. Tidak ada nenekku.”    
    Kakek dan nenek itu juga menampik.
     Mereka sepasang tetua yang tinggal di dekat sungai dengan gubuk reot yang malang. Namun dalam lukisan, gubuk itu begitu indah dan syahdu.
    “Bawa saja kembali, Nak. Saya takut lukisan ini justru membawa malapetaka.”
    “Kok, begitu, Nek?” Irsan tersinggung.
    “Lukisan ini terlalu indah. Lebih mahal dari gubuk reot saya ini. Bisa mengundang perampok naik kemari dan merampas lukisan ini sebelum merampok harta kami yang tak seberapa lainnya. Atau juga mungkin nyawa kami.”
    Irsan tercenung.    
Selang beberapa hari, Irsan dan beberapa warga bergotong royong merehabilitasi gubuk itu. Mengganti beberapa elemen rumah itu serupa tayangan bedah rumah di TV. Barulah ketika gubuk itu  berdiri mungil dan kokoh serupa dalam lukisan, sepasang tua itu bersedia memajang lukisan itu di ruang utama.
###
    Setelah selesai memeriksa tekanan darah dan gula darah pasien, Bidan Sari menoleh pada Nenek Risa, “Gula darahnya jauh lebih stabil dari 2 pekan kemarin. Tekanan darah dan kolesterolnya juga.”
“Alhamdulillah,” Meilati mensijabatkan tangan dan merapatkannya ke mulut dengan ekspresi wajah serupa pemenang lotre.
“Ya, Allah… semoga itu tanda menuju kesembuhan…,” Nenek Risa berucap setengah terisak. Suaranya bergetar. Tasbih di tangannya berputar cepat.
 “Semoga ada keajaiban ya, Dek,” sahut Meilati saat mengantar Sari keluar.
“Keadaannya stabil, Kak. Itu mungkin karena perhatian keluarganya yang sangat telaten dan sabar. Terutama Kak Mei.” Sari menstater motornya. Mei memeluknya lekat. Ia terharu. 
“Terima kasih, Dek.”
####
“Kapan Ayah akan menggambar kakekku?” Saldi bertanya hari itu.
“Secepatnya, Sayang,” bisik Irsan. Belakangan ia ragu dengan kata-katanya. Ia masygul. Mengapa ia lupa bahwa harusnya telah melukis Bapak begitu potret diri Ihsan kelar. Padahal,  tiap pagi saat mengawali berkutat dengan perkakas melukisnya, ia berluang melukis Bapak yang menghangatkan diri di sisi bola-bola.
Malam harinya, lelaki itu mendapati diri gelisah di tempat tidur. Dalam temaram cahaya kamar, ia memandang punggung istrinya dengam mata berkejap-kejap.
“Aku tak yakin bisa melukis wajah Bapak. Bahkan ketika kau bersamanya besok pagi di depan bola-bola.” Ia berkata begitu saja. 
Istrinya refleks berbalik. Mata mereka bertaut begitu dekat. Meilati melabuhkan telapak tangannya pada pipi suaminya. Merasakan napas yang berembus cepat dan lebih hangat dari biasanya.
Meilati menghela dan mengangguk. “Jangan dipaksa, Kak. Sesuatu yang dipaksakan itu tak baik. Kemarin saya telah memaksa diri dan seluruh orang rumah mengusahakan dengan segala cara agar Bapak sembuh, dapat menggerakkan tubuhnya, berjalan, tersenyum lebar, bersenda gurau dan berbicara. Saya ingin sekali  akhirnya dia berbicara padamu bahwa betapa istrimu begitu mencintaimu. Betapa kau kejam jika meninggalkannya bersama Saldi. Karena Bapak yang paling tahu diriku. Karena ia yang paling bisa kau dengarkan. Tapi lihatlah, keadaan tampaknya tidak seperti itu.” 
Isak Mei tumpah. Irsan beranjak dan menenangkan. Memeluknya hangat.
###
Bapak belum mengalami kemajuan setelah beberapa kali terapi ke dokter dan berobat ke sandro. Namun, seperti kata bidan, keadaan Kakek Dulla baik-baik saja. Hanya perlu lebih sering diajak berkomunikasi dan bergerak.
Lain halnya dengan sang menantu, entah sejak kapan bermula, belakangan Meilati menyadari ada sesuatu yang menyentuh dirinya tiap menatap mata itu. Sekonyong-konyong Meilati malah mengasihani dirinya. Mengapa ia begitu khawatir dan cenderung mendramatisasi keadaan, jika ternyata Bapak saja—setidaknya begitulah ia menangkap sorot mata sang mertua, terlihat dapat menerima dirinya.
Ia menghela napas, menyesapi kalimat yang likat di kepalanya, “Ini adalah jalan hidupnya.” Ia mendadak menemukan dirinya begitu bodoh sekaligus merasa terselamatkan. Seperti awam menguji diri berenang, lalu kelelap, dan seseorang berenang menghampiri dan menjadi penyelamat. Dan sang mukhalis itu adalah Kakek yang tak berdaya ini. 
Mengapa ia tidak melanjutkan hidupnya dan menerima keadaannya dengan secukup-cukupnya di situ. Kini ia tahu mengapa dulu mesti bertahan di rumah ini. Meilati tak dapat membayangkan, apakah dia akan lebih baik dari hari ini, jika saat lampau dia memutuskan pulang; bisa saja lebih baik. Namun yang menyusup ke kepalanya berkali-kali seperti jarum pentul yang bersemayan di sana karena tulah; keadaannya akan menjadi lebih buruk. 
    Jika saja dulu tak berdeging, ia mungkin telah pulang ke rumah menggendong Saldi, lantas kesehariannya akan berlalu dengan menjejali diri pada rasa putus asa dan malu. Juga kemungkinan dendam dan sesekali pengharapan dan permaafan. Sebab betapa orang yang meninggalkannya adalah ayah dari anaknya, lelaki yang masih dicintainya. Itu menyesakkan.
Jika Kakek Dulla dapat menerima dirinya, mengapa dirinya tidak? Ia merasa orang-orang di rumah telah membiarkan segalanya berangsur-angsur berlaku sewajarnya. Keadaan berlalu dalam kadaan normal dan antusias. Saldi yang kini duduk di kelas 5 memiliki hobi bermain bola dan senang membicarakan mata pelajaran dan teman-temannya di sekolah. Kecerdasannya makin terlihat. Semester lalu ia berhasil meraih peringkat 2, dan nilai matematikanya tertinggi di kelas. 
Belakangan Ihsan makin bergiat dengan usaha mebelnya dan mulai rutin mengawas kisaro yang sebelum ini ditinggalkannya dan membuat Meilati repot dan ripuh. Irsan kerap ingin membantu juga mengawas dan bekerja, namun dengan ngotot Meilati meminta suaminya untuk melukis saja seakan tak ada yang paling penting dilakukan suaminya di dunia ini selain duduk berkutat di bola-bola dan melukis. Nenek Risa kian getol merawat tanaman. “Bapak tentu akan lebih betah berada di sini jika taman ini kita tanami lebih banyak bunga.”
Pun suaminya makin ranjing berada di bola-bola. 
Ia terus saja melukis dan melukis. Menggambar seluruh penghuni rumah itu dan memajangnya di  antero rumah. Melukis  tiap sudut desa itu, juga orang-orangnya. Kadang pula ia menambahkan suatu ilusi dari tempat yang digambarnya. Misalnya tiba-tiba saja ia melukis jembatan megah yang rentang di atas sungai belakang rumahnya. Kenyataannya hanya ada jembatan kayu berdaun kelapa yang oleng  tiap 2 hingga 3 penyeberang berjalan di atasnya. Meilati merasa ngeri karena  tiap menyaksikan jembatan itu dari jauh, pada momen itu pula ia merasa akan menyaksikan jembatan itu roboh beberapa saat lagi.
    Melihat lukisan ‘jembatan megah’ membuat Meilati mafhum, itu tak hanya soal harapan-harapan agar jembatan yang lebih laik segera didirikan, tapi juga  agar kedua desa dapat segera mengakhiri kekakuan karena perihal suaminya yang membikin aib pada perempuan di sebelah jembatan itu.
Orang-orang makin hari makin banyak yang datang menyaksikan bagaimana suaminya melukis. Awalnya hanya orang-orang di kampung itu yang datang bergerombol di sekitar bola-bola. Lalu satu-dua orang dari desa sebelah ikut meninjau. Beberapa hanya sekadar melihat, beberapa yang lain berceloteh mengagumi, dan mencoba mengkritisi. Ada juga yang berniat belajar melukis padanya. Bahkan pada hari Minggu, rumah itu mendadak jadi pasar tumpah. Penjual jajanan singgah menonton sekalian menjajakan camilannya.
Makin banyak yang menontoni  makin piawai Irsan menekuninya. Seperti hujan yang curah, makin lebat, makin ruah pula air ide menggenang. Tiap satu lukisan selesai, maka menjadi tugas Meilati untuk memikirkan kepada siapa lagi lukisan itu akan diberikan. Nyaris seluruh rumah di kampung itu telah memajang lukisannya. Maka kini agak menggemaskan memilih seseorang di kampung itu atau di luar kampung, yang layak diberi, seperti kegregetan memberikan hadiah pakaian bagi seorang androgini.
Banyak yang berminat membeli. Namun,  tiap kali orang menawar. Irsan menggeleng dan melirik istrinya.
“Lukisan ini tak dijual,” sahut Meilati tegas.
Lukisan ini hanya untuk dibagikan, jelas Meilati lagi.  Sebab keduanya diam-diam telah mengamini tanpa perlu bersepakat. Bahwa  tiap kali lukisan-lukisan didermakan, itu adalah  tingkap harapan, semoga yang diberi memanjatkan doa bagi kebaikan keluarga itu, memberi maaf atas kekhilafan sang pelukis di masa lalu, terutama bagi kesembuhan bapaknya. Meilati tahu, mereka orang baik-baik yang memiliki harga diri dan tahu diri. Akan selalu membalas kebaikan orang, juga dengan kebaikan yang tak dapat dinilai dengan materi.
Meilati percaya, pemberian yang tulus akan menyentuh segenap alam. Dinding-dinding rumah, kursi-kursi di ruang tamu, bebunga di taman, juga terutama harapan bagi empunya rumah yang diberi lukisan. Ia begitu riang memikirkan, jika seluruhnya menyaksikan dan membantu mengirimkan syafaat ke langit bagi kebaikan keluarga itu, maka tinggal menunggu waktu saja segala pengharapan akan dituai. Keajaiban akan diturunkan dari langit. (Tamat)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hamran Sunu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Femina”