Selalu Ibu – Menunggu Ibu – Melulu Ibu

Karya . Dikliping tanggal 20 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Selalu Ibu

laut segala laut
kutemu
di ibu
dalam
menyimpan
luas
tak membatas
tugur
batu karang
palung bagi gelombang
landai
senyap pantai
langsai bagi sangsai
laut segala laut
kutemu
di ibu
di selalu ibu
2015.

Menunggu Ibu

menunggu
di pejam mripat ibu
aku tergugu
pada putih alisnya kutemu panorama
samodera
yang asin airnya telah menggarami
seluruh bilangan usiaku
yang deru anginnya selalu
menguatkan jiwaku
menghadapi rupa-rupa
ombak
menunggu
di pejam mripat ibu
aku tergugu
pada kelopaknya yang mulai melayu
kusua kehidupan
pohon
yang batangnya telah lapuk
merapuh
dan sebentar kapan bakal rubuh
lantak luluh
yang tetapi akarnya masih kuat
bahkan menjalar
dan bertumbuh
di kebun anak cucuku
bertumbuh
menjadi dongeng
mengekal
sampai pada suatu kelak
sampai pada sebuah nanti
2015.

Melulu Ibu

mencari ayah
di seluruh halaman bukuku
yang ketemu melulu ibu
menyisip di antara kalimat biasa
menyirat di balik paragraf sederhana
melulu ibu
kadang beupa seikat hikayat
sepatah kisah
indah
tak sudah-sudah
kadang berpa sajak gamang
tentang hidup rumpang
yang tak dibaca orang
apalagi dikenang-kenang
lalu di halaman berapa ayah berada
kucari-cari
dari sekapur sirih hingga daftar pustaka
tak ada
dari daftar isi hingga indeks kata
tak ada
ayah meniada
menjelma serupa jeda
lesap di antara klausa
sekalipun berasa
tak pernah terbaca
padahal ayahlah semata
yang menjadikan ibu sebagai wanita
sempurna
sebagai sebenar-benar perempuan
yang mengandung
yang melahirkan
yang menyusui
yang menimang
yang menyuapi
yang ngeloni
yang entah apalagi
tetapi mengapa di seluruh halaman bukuku
melulu ibu
2015.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mukti Sutarman Espe
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 20 Desember 2015
Beri Nilai-Bintang!