Selok Awar-Awar – Rohingya

Karya . Dikliping tanggal 24 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Selok Awar-Awar

           -Salim Kancil

Maut itu hanya akan ditebus dengan 
sebuah percakapan hangat di penjara
sebuah menu makan malam yang tak lengkap
tapi neggairahkan–
lalu kau akan menjelma lelaki pembawa pasir
yang mampu mengubah seluruh mimpi buruk 
menjadi ribuan kebahagiaan
dan sekali menuju mata para pemborgol
sebuah jabat tangan mesra dan tepukan isyarat
akan membengkokkan seluruh besi jeruji
lalu sebuah kamar akan segera menjelma kotak sulapan
dan sungai di Selok Awar-Awar  akan mengalir kembali
truk-truk pengangkut pasir tentu tak akan lewat lagi
dan orang-orang akan sediam kuntul di sawah
tapi anak-anak di sekolah TK itu
akan terus menggambar
sebuah bayangan yang menakutkan
seorang lelaki dengan kepala berdarah
seorang lelaki dengan tangan yang patah
seorang lelaki dengan lambung yang bocor
mereka akan menggambar
dengan banyak warna merah
lalu suara-suara di rumahmu
akan ngungun kembali
selepas tahlil
tujuh hari menuju puncak sepi
istri dan anakmu sibuk mematri hati yang rombeng
dan seseorang dari arah penjara
berteriak persis iklan televisi
“Membosankan!”
dengan tangan bagai menarik pelatuk
ke arah kuburmmu
ke arah ngungun istri dan anakmu
2015

Rohingya

Sebuah perahu terbalik
di lepas pantai Turki
gelombang lebih dingin
dari hati sang penembak
seseorang berkata
dengan mulut mengunyah tanah
“Seorang tirani telah menyatakan perang dengan rakyatnya!”
ada pula yang berteriak di Rakhine
“Dulu pengikut Buddha tidak liar seperti ini!”
dari jauh, dari sebuah jalur yang panas
semak dan batu menggores telapak
sebuah iring-iringan perjalanan
dalam batuk dan kembung
lebih menyakitkan dari sebuah kematian
dua belas ribu badan
bagai geliat cacing panjang
di tanah yang tak memenuhi janji
di tanah yang memulangkan kembali
2015


Herwan FR, lahir di Cirebon, 14 Juni 1973. Bekerja sebagai pengajar mata kuliah Apresiasi Puisi dan Sastra Anak, di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Herwan FR
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 24 April 2016