Semak Belukar

Karya . Dikliping tanggal 26 Maret 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Matra
SEMAK belukar di belakang rumah saya hidup subur. Ilalang, rumput, tanaman berduri, kembang liar, satu dua batang tebu yang tumbuh dengan sendirinya, batang singkong, ubi, maupun batang-batang yang merambat, semuanya membangun kawasan dengan kuatnya, yang selalu tumbuh baru jika habis dibabat. Saya tidak tahu siapa yang membabatnya. Barangkali hansip, atau pak Rt sendiri, atau anak-anak muda yang suka menggerombol di jembatan itu. 
Setiap kali saya menengok ke semak belukar itu sepertinya ada saja yang memperhatikan saya dari sana. Entah apa itu. Tapi memang banyak semut berkeliaran di sana. Serangga-serangga itu sering melintasi pekarangan rumah saya. Tidak hanya semut hitam, merah, coklat, tapi juga semut hijau, kuning, biru, violet, dan semut loreng. Dengan hadirnya berbagai jenis semut di situ, semak belukar itu seperti memiliki mata yang selalu nanap memandang ke sekitarnya. Ia paling sering menatap saya, rasanya seperti itu.
Hampir-hampir saya tak pernah menginjak semak belukar itu. Barangkali karena takut pada semut yang berbagai ukuran tubuhnya itu. Misalnya semut hitam, yang paling besar taringnya, yang kelihatannya tak puas-puasnya memangsa apa saja, dari daun-daunan sampai roti maupun daging. Ular, kadal, burung, tak terlihat berkeliaran di situ, boleh jadi miris kepada semut-semut yang ganas itu.
Agaknya mereka tak pernah kehabisan bahan makanan, entah dari mana saja mendapatkannya. Daun-daun yang menaungi kawasan itu tetap utuh, barangkali mereka berpikir juga bagaimana dapat tetap terlindung dari panas matahari. Semut-semut yang menggigit ganas, berhitung juga rupanya terhadap kekerasan alam. Yang ganas tetap lembut terhadap dirinya sendiri untuk melindungi keganasan yang datang dari pihak lain. 
Saya memergoki semut-semut hitam itu setiap waktu di pekarangan belakang. Kadang sendirian, seekor semut mondar-mandir di antara gundukan tanah, mencungkil-cungkilnya seolah mau menyelidikinya. Kadang beberapa ekor yang mengintip-intip isi dapur dari kawat nyamuk yang dicengkeramnya erat-erat. Mereka tidak dapat masuk karena tubuhnya terlalu besar untuk dapat menerobos lubang kawat itu. 
Mereka mengerat jaringan kawat nyamuk itu dengan tekun dan berbondong-bondong gerombolan itu menyerbu dapur. Itu biasa terjadi jika pembantu lengah. Dengan ganasnya mereka menyikat semuanya yang ada di dapur: makanan, buah-buahan, sampai peralatan dapur, dari panci, piring hingga kran maupun wastapel. Kejadian ini sering kami alami, alhamdulillah, tidak menimbulkan kejengkelan yang panjang-panjang. Ibu tentu saja marah marah dan mengancam ingin membasmi kawasan semak belukar itu, tapi kakek turun tangan sambil memberi wejangan. Makanan yang boleh dikata berlebih di rumah kami, itulah yang menarik serangga ini untuk berbondong-bondong mendatanginya. Lagian memberi makan serangga—tidak cuma binatang-binatang besar—perlu pula digalakkan. Mereka juga bagian dari kita, punya hak atas apa yang kita miliki. Panjang lebar Kakek “berpidato”, begitu fasih dan jernih hingga kami tak bisa memberi tanggapan apa-apa. 
Sejak itulah Kakek lalu banyak main ke semak belukar itu, memberi makan seluruh serangga. Ribuan serangga berhimpun mengitari Kakek yang menebar-nebarkan beras atau jagung yang lantas mereka sergap. 
“Kalian ini memang anak-anak manja yang maunya dilayani,” suara beliau nyaring kedengaran sampai dapur. Pembantu kami tertawa, saya pun mesem sambil melongok-longok ke arah semak belukar itu. Sejak itu pula saya berani menginjakkan kaki ke kawasan itu untuk membantu Kakek memberi makan binatang-binatang yang kelihatannya mulai bersahabat dengan Kakek. Lama kelamaan dapur kami tak kedatangan mereka lagi. 
Semak belukar itu akhirnya menjadi bagian hidup Kakek, yang memberikan semangat dan kesegaran baru. Tiap paginya, dalam shalat Subuhnya, Kakek tak lupa menyelipkan doa—begitu katanya—bagi semut-semut itu. Dan setelah sarapan, punya kesibukan baru dengan menengok kawasan semak belukar itu sambil menebar-nebarkan beras atau jagung maupun roti tawar sisa. Acara ini menjadi istimewa karena tidak saja mampu menguras perhatian tetapi juga memberikan kesehatan yang jauh lebih memadai bagi Kakek. Encok beliau sedikit-sedikit dapat berkurang, seolah digerogoti oleh sahabat-sahabatnya itu, di samping juga Kakek menjadi lebih cekatan terhadap segala kegiatan. 
Semut yang baik, agaknya juga seperti manusia, dikarunia rejeki yang baik. Sedangkan semut yang jahat, seperti juga manusia, dikaruniai rejeki yang jelek. Itu wejangan Kakek. Apakah Kakek sudah bisa berbincang dengan mereka, tentu hanya Tuhan yang tahu. Tapi memang selalu kedengaran suara Kakek ngedumel di sela semak belukar seperti sedang ngobrol dengan teman-temannya yang jumlahnya ribuan (atau jutaan?) itu. Apapun yang dikatakan Kakek tentang semut-semut itu, selalu menarik. Di dapur, di ruang duduk, di kebun, tiap harinya Kakek punya cerita-cerita baru tentang teman-temannya itu. Misalnya, bagaimana semut-semut itu merambati lengannya untuk menyerbu makanan yang digenggamnya. Atau merubung mulutnya untuk menghisap sisa-sisa manis yang masih melekat di bibirnya. Sementara dirubung itu, Kakek berteriak-teriak tertawa sambil mengusir mereka dari mulutnya. 
Bagaimana saya harus membayangkan perasaan semut-semut itu ketika diusir. Apakah mereka cukup bisa bercanda seperti Kakek, atau mereka jadi penasaran. Apakah tangan Kakek yang serabutan menepisi mereka, tidak menimbulkan luka pada tubuh semut-semut itu. Apakah kaki-kaki mereka tidak ada yang keseleo. Apakah di antaranya tidak ada yang mati. Apakah tidak ada yang berteriak kesakitan. 
Tapi kakek sendiri merasa seperti sedang bercanda dengan mereka, itu bisa nampak dari gelak-gelak Kakek yang begitu gembira. Atau barangkali malah sudah mencapai kebahagiaan. Hingga apa pun yang diperbuat Kakek dengan sahabat-sahabatnya itu bagi kami sekeluarga menumbuhkan kesenangan. Hari-hari lewat, bulan-bulan lewat, semua menghadirkan warna-warni yang membentang yang tak sesuatu pun menghalanginya dari pandangan kami.
Waktu hari raya—Lebaran maupun Tahun Baru—Kakek mengirim makanan yang cukup istimewa bagi sahabat-sahabatnya itu. Rasanya semut-semut itu bertambah besar badannya. Atau ini cuma perasaan saya saja. Entahlah. Saya melihat mereka tetap seram, meski sebenarnya mereka sungguh-sungguh telah menjadi jinak. Bagaimana pun, pekerjaan yang bertambah. Mengawasi Kakek setiap harinya—seperti yang diminta oleh ayah—merupakan keasyikan tersendiri, meskipun sering melelahkan. Lucunya, hubungan saya dengan Kakek menjadi berubah. Tak tahulah saya, apa sebabnya. Lama-kelamaan Kakek seperti menjadi seperti ayah saya. Sedangkan ayah saya seperti Kakek saya. Tetapi perubahan perasaan ini tidak saya ceritakan kepada siapa pun. Saya ingin perasaan itu tetap menjadi rahasia perasaan saya. Ada kenikmatan tersendiri untuk tetap merahasiakannya. Saya suka terbengong-bengong sendirian memikirkan perubahan perasaan itu. Sering saya coba untuk melawannya, tetapi saya tak cukup kekuatan. 
Setiap kali saya memandangi Kakek yang sedang sibuk memberi makan semut-semutnya, saya merasakannya itu adalah ayah saya yang dari kekuatannya, lahirlah saya, sering saya menyapanya: 
“Ayah tidak lelah-lelahnya ….”
“Kamu bilang apa?” sahut Kakek. 
Sadarlah saya bahwa dia bukan Ayah saya, melainkan Kakek saya. Begitu pula sebaliknya. Setiap kali saya mengantar Ayah ke kantor atau ke toko, sepertinya saya sedang mengantar Kakek. Selalu saya saya berkata kepadanya:
“Banyak juga pekerjaan kakek ….”
“Apa kamu bilang? Kakek?” sahut Ayah.
Barangkali saja saya telah melihat tubuh Ayah manjing di tubuh Kakek, dan tubuh Kakek manjing di tubuh Ayah. Entahlah. 
Malam hari ketika kami habis melihat dunia Dalam Berita di layar TV, ayah menanyakan apakah Kakek sudah berada di kamarnya. Adik saya menjenguknya dan bilang bahwa Kakek belum ada di kamar. 
Saya pun menyat dari kursi dan melongok-longok keluar dari jendela. Tak ada sesuatu pun yang kelihatan bergerak, meski halaman kami terangi dengan lampu 75 watt. Saya keluar. Saya berkeliling halaman. Tak juga bertemu siapa-siapa. Tapi di semak belukar tempat tinggal kakek yang kedua, kelihatan bayangan melintas.
“Ayah! Ayah di situ ya?!” teriak saya. Ah, konyol juga, saya. 
“Ayahmu tentu sedang nonton TV,” sahut Kakek, kedengaran suaranya terengah-engah.
Saya pun bergegas melintas kebun belakang itu dan menerobos memasuki kawasan semak belukar sekenanya dalam kegelapan itu. Aduh, kaki saya dan tangan saya menginjak dan menabrak tanaman berduri itu. Dalam hati saya jengkel sekali terhadap Kakek, apa saja yang dikerjakannya di malam buta begini. Ah, jangan-jangan Kakek ada apa-apa. Tiba-tiba saya jatuh tersandung. 
“Waduh, anak manis jatuh, ya,” teriak Kakek.
“Ngapain saja Kakek di kegelapan begini!” teriak saya. 
“Saya sedang bekerja,” kata Kakek. “Cobalah lihat sendiri sedang mengapa saya ini.”
“Saya tidak melihat apa-apa. Juga saya tidak melihat Kakek.”
“O, dasar kamu anak bapakmu. Sudahlah, sudahlah. Kita masuk rumah, sekarang. Kalau mau lihat besok saja.”
Pagi hari sehabis sarapan, saya sudah tidak sabar lagi mau melihat apa saja yang telah diperbuat Kakek di kawasan tetirahnya itu. Saya merabas dan jatuh tersandung lagi. Masya Allah, saya tersandung tubuh yang membujur dan jatuh di atas tubuh yang membujur pula. Saya bangun cepat dan saya lihat seluruh kawasan itu penuh dengan tubuh-tubuh yang berkaparan puluhan jumlahnya. Mereka seperti tidur nyenyak. Seragam mereka, seragam tentara yang berbeda-beda, penuh berlumuran darah dan banyak pasir yang menempel. Jadi? Ini semua yang telah dikerjakan Kakek sepanjang hari. Tapi, dari mana Kakek mendapatkan jenazah-jenazah ini? Dari mana Kakek menggaet mereka, dan menyeretnya satu-persatu?
“Sudah! Jangan bengong, kamu. Bantu aku, cepat!” teriak Kakek yang muncul dari balik semak belukar sambil menyeret sebatang tubuh yang sudah tak bernyawa. 
“Dari mana semuanya ini, Kek?” teriak saya terkesiap.
“Dari mana, aku juga tidak tahu. Bahkan aku juga tidak mengerti.”
Mendadak saya pusing, lalu jatuh terduduk.
“Kamu ini betul-betul tidak berbakat menolong orang.”
Saya tak perduli omongannya. Saya telungkup sambil memegangi kepala. Saya pejamkan mata dan berusaha untuk dapat tidur. Di belakang saya, suara nafas Kakek terengah-engah di samping suara tubuh yang diseretnya menerabas semak berkeresak di antara tubuh-tubuh yang lain. 
Tetapi saya tidak dapat tidur. Lalu saya bangun dan kembali ke rumah. Saya masuk kamar mandi dan cuci muka. Tapi saya muntah, akhirnya saya terguling tak sadarkan diri. Tidak berapa lama saya dengar Ayah masuk ke kamar mandi dan menyeret saya yang dalam keadaan basah kuyup. Lalu terjadi kegaduhan. Adik dan kakak saya menjerit. Ibu berteriak. Ayah membentak. Lamat-lamat saya dengar suatu kesibukan di semak belukar, suara orang ramai, berteriak-teriak. Saya dengar suara Pak Rt, pak Rw, suara dokter puskesmas, Bu Ambar Pagaruli Butar Butar, dan suara Mas Surip, kepala siskamling. 
Setelah muntah dan tidur sejenak, badan terasa lebih enak. Saya bangun dan menuju semak belukar, yang sekarang menjadi pusat kesibukan itu. Raungan sirine ambulans datang, suara peluit polantas yang mengatur lalu-lintas yang mendadak menjadi ramai. Dan tak ketinggalan suara jepret-jepret tustel para wartawan yang tak terhingga banyaknya, termasuk wartawan luar negeri. Terlihat kerumunan orang di suatu pojok di semak belukar itu, yang setiap saat bertambah ramai. Orang yang baru datang menuju ke arah situ, yang membuat lingkaran bertambah tebal, persis orang nonton penjual obat di trotoar. Saya pun merengsek ke dalam. 
Saya lihat dari dalam lubang yang menganga, beribu-ribu semut sahabat Kakek itu menggaet jenazah-jenazah tentara itu keluar dan menyeretnya pelan-pelan hingga tubuh-tubuh itu seolah melayang-layang. Semut-semut itu rupanya tidak peduli bahwa sepak kerjanya itu disimak oleh mata-mata manusia yang terkagum-kagum sambil berdiri mematung. Tustel dan kamera video tak kelihatan berhenti bekerja, mengincar terus kesibukan gerombolan semut itu. 
Begitu satu tubuh dapat diseret keluar, lalu menyusul tubuh yang lain. Begitu susul-menyusul tak habis-habisnya. Semut-semut itu—barangkali saja jutaan jumlahnya—seperti tak lelah-lelahnya sejak kemarin siang bekerja. Di mana Kakek? Kakek ternyata sekarang jadi mandor, mengatur para pemuda kampung kami yang menggotong tubuh-tubuh itu dan harus meletakkannya dengan pantas. Sementara itu para perawat mengangkat tubuh-tubuh itu ke ambulans dan membawanya ke rumah sakit. Bu dokter memeriksa satu-persatu tubuh itu, barangkali saja masih ada yang bernafas. Tetapi ternyata tak seorang pun yang masih hidup. Melihat tampangnya, jenazah-jenazah itu adalah tentara dari Timur Tengah dan Tentara Kulit Putih. 
Tetapi, kenapa semut-semut itu mendapatkannya dan mengeluarkannya dari lubang yang menganga itu? Saya lihat serombongan Cavers, pecinta olah raga guha, sibuk mengatur segala sesuatunya, untuk meneliti lubang yang menganga itu. Ada yang menyarankan untuk langsung menggali dan memperbesar lubang tempat tinggal semut itu beroperasi. Serta merta usulan ini ditolak dan dianggap tidak masuk akal. Tidak saja usulan itu dilaksanakan akan membunuh jutaan semut, tetapi juga belum tentu ada hasilnya. Belum tentu di bawah lubang itu menganga lubang yang amat besar seperti terowongan, misalnya. Siapa bisa memastikannya?
Lalu mereka memutuskan untuk menggali lubang sebelahnya, kira-kira berjarak sepuluh meter. Saya tengok di sebelah sana ada kegiatan yang lebih menarik orang. Rupanya Kakek sedang diwawancara TV. Sementara itu dua stasiun TV luar negeri juga mau mengadakan wawancara dengan beliau. 
“Semut-semut itu adalah sahabat-sahabat saya,” kata Kakek di depan lensa kamerawan. 
“Apa bapak tahu, dari mana semua jenazah itu?” tanya pewawancara.
“Dari mana? Hanya Tuhan yang tahu.”
“Apakah bapak bisa berbicara dengan semut-semut itu?”
“Berbicara dengan semut-semut itu? Ah, yang benar saja.”
“Maksud bapak?”
“Maksud saya? Saya tidak bisa berbicara dengan semut-semut itu.”
“Lalu selama ini bagaimana bapak bisa berkomunikasi dengan mereka?”
“Berkomunikasi dengan mereka?”
“Ya, maksudnya berhubungan dengan mereka.”
“Aku … aku … ya, entahlah. Tidak. Tidak. Tapi mungkin, ya?”
“Maksud bapak … ?”
“Aku tidak bermaksud apa-apa.”
“Maksud bapak, bapak bisa mengerti kemauan semut-semut itu.”
“Mengerti kemauan semut-semut itu? Barangkali saja ….”
“Bagaimana cara mengertinya, Pak?”
“Tidak. Aku tidak mengerti kemauan semut-semut itu.”
“Bapak tadi bilang bahwa semut-semut itu adalah sahabat bapak.”
“Ya, sahabat. Sahabat kan belum tentu mengerti kemauan temannya.”
Orang-orang tertawa.
“Tetapi sekali-sekali kan kemungkinan bisa mengerti, kan, Pak?”
“Sekali-sekali? Ya, mungkin saja. Tetapi mengerti seperti apa, saya sungguh tidak tahu.”
“Misalnya, bapak membawa makanan. Lalu semut-semut itu pada berdatangan kepada bapak. Berarti mereka tahu kemauan bapak.”
“Ya, mereka tahu kemauanku. Tetapi aku tidak tahu kemauan mereka.”
Orang-orang tertawa.
Meski Kakek kelihatan kumuh karena keringat berlelehan dan baju penuh debu, tapi Kakek nampak cukup photogenic. Terjadi keributan pada usaha penggalian oleh para cavers itu. Saya ke sana. Rupanya seorang penggali terperosok ke satu lubang besar yang menganga, dan melorot ke dalamnya. Tetapi ia masih dapat memegang erat tali yang menghubungkannya ke atas, tempat teman-temannya beramai-ramai mempertahankannya. Kaki-kaki mereka mencengkeram tanah dengan kuat. Seorang di antaranya berteriak ke lubang itu, memanggilnya. Yang di dalam lubang menyahut dan minta tali diulur terus. Yang di atas mengerahkan seluruh kekuatannya sambil mengulur tali perlahan. Wajah-wajah mereka merah memeras keringat yang mengucur seperti sungai kecil yang menuruni bukit. Tali diulur terus, sepuluh meter, tiga puluh meter, sampai sekian ratus meter dan orang makin lupa menghitungnya hingga yang di dalam menyentuh tebing guha atau tanah dengan selamat. Dua orang anggota lainnya ikut turun sambil membawa lampu senter besar. 
Sejumlah ambulans ditambah untuk mempercepat pengangkutan jenazah-jenazah yang sepertinya tidak habis-habisnya itu. Sebuah helikopter ikut membantu memindahkan jenazah-jenazah itu ke tempat yang agak lebaran, yang mudah terjangkau oleh mobil-mobil ambulans itu. Para penonton makin banyak bermunculan, dengan mobil, motor, atau pun kendaraan umum yang membuat lalu-lintas semakin macet. Ayah membolos kerja, bahkan menelpon bosnya supaya datang, untuk menyaksikan peristiwa yang tak ada bandingnya ini. 
Karena keadaan tak menentu, mengingat jenazah-jenazah yang diseret semut-semut itu terus bermunculan, maka daerah itu dinyatakan ditutup. Tak seorang pun boleh masuk, kecuali penghuni setempat. Kawasan itu dipagari rapat, untuk diintip pun sudah sukar: Sedang di luarnya satuan tentara menjaganya, bergiliran sepanjang hari sepanjang malam, seperti juga para petugas kesehatan. Hanya Pak Rt dan Pak Rw yang tak punya tenaga cadangan, karena tak punya wakil-wakilnya, hingga ketika beliau-beliau itu jatuh sakit, tak ada yang bisa menggantikannya. Barangkali saja Kakek satu-satunya yang bersemangat baja, hingga ketika ketenangan kampung kami sudah runtuh—banyak tetangga pada jatuh sakit, karena untuk tidur dengan tenang sudah sulit, sebab hiruk pikuk kawasan oleh datang dan perginya kendaraan-kendaraan serta teriakan-teriakan orang—Kakek tetap bekerja dengan bala tentara semut-semut itu, tak lelah-lelahnya. 
Saya sendiri sudah mulai bosan, Ayah Ibu, Kakak dan Adik nampak sudah mulai uring-uringan. Persoalannya sedikit saja sudah jadi pertengkaran. Lebih baik saya menghindar. Sekolah saya, seperti juga sekolah Adik dan Kuliah Kakak, sudah terganggu. Saya putuskan untuk tidur di rumah teman. Kebetulan ada seorang teman yang mau menampung saya di kamarnya yang sempit itu. Ketika saya berangkat ke sana itulah—dalam jarak ke rumah teman itu yang tinggal beberapa meter—saya kejeblos lubang di sebuah jalan setapak, dan disedot masuk ke dalam tanah yang kedalamannya tak terhingga, yang membuat saya melayang-layang di dalam kegelapan pekat sehitam-hitamnya. Saya berteriak minta tolong dalam kejatuhan saya yang melayang deras itu—begini barangkali jatuh dari pesawat udara itu—diterkam ketakutan yang amat sangat, antara sadar dan pingsan sampai sedalam apa saya menyelam dalam lautan ruang gelap ini, yang senyap, hanya deras udara yang disedot telinga yang dapat saya tangkap. 
Ketika saya siuman, merasa tidur di atas pasir, saya meraba ke sana kemari, hanya pasir yang dapat saya gaet. Saya teringat ketika bertiduran di atas pasir Parangtritis, pantai selatan Yogyakarta, dengan pemandanganya yang menghadirkan keluasan, debur ombak yang digabung bukit hijau dengan bentangan pasir yang lembut seperti ranjang. Tetapi ranjang pasir yang sekarang saya terkapar di atasnya ini hanya diselimuti kegelapan yang sepekat-pekatnya. Ketika saya teringat teori yang mengatakan bahwa kegelapan bisa membutakan, lalu saya menutup mata serapat-rapatnya. 
Sekarang saya mengandalkan ketajaman daya tangkap telinga. Saya meraba dan meraba sambil mulai merangkak, entah bergerak ke mana. Terdengar bunyi gemerisik di depan saya yang membuat saya tertegun. Jangan-jangan seekor ular, binatang yang saya takuti karena menimbulkan rasa ‘gilo’—apa bisa diterjemahkan dengan: jijik?—apalagi ular yang hidup di padang pasir, yang ampuh racunnya. Ketika tangan saya tak sengaja menjamah bongkahan, yang setelah saya raba-raba ternyata buku, dan itu pasti buku saya yang ikut terjun bersama, sadarlah saya bahwa bunyi gemerisik itu pastilah sehelai kertas yang tercecer, yang ditiup-tiup angin. 
Saya merangkak terus. Sementara itu bunyi gemerisik tak juga hilang dari pendengaran saya. Justru makin mendekat. Saya tak tahan untuk tidak membuka mata. Saya buka mata saya dan sepasang sinar yang entah biru entah kuning entah putih, atau campuran dari ketiganya, dapat ditangkap mata saya. Mata apakah itu. Ini pasti mata ular. Apalagi kalau terdengar suara mendesis, Astagfirullah. Secepatnya letupan naluri saya memerintah tangan saya untuk mencengkeram pasir dan melemparkannya ke arah sepasang sinar kecil itu serta-merta lenyapnya sinar itu. Ular itu pasti lari sudah. Insya Allah. 
Sekarang saya merangkak sambil melempar-lemparkan pasir dan menggeram-geram, supaya jika ada ular, ia mau menghindar. Dengan mata yang terus tertutup, tak mungkin bisa merangkak dengan cepat, apalagi selalu dalam keadaan was-was. Allah, hamba sudah sampai batas kemampuan! Dulu, biasanya saya ke mana saja sering membawa korek api, atau senter kecil yang bisa diselipkan di saku. Tidak untuk apa-apa, sekadar dibawa-bawa saja, sebab saya tidak merokok dan boleh dikata tidak pernah menggunakan senter. Sekarang saya menyesal, kenapa kebiasaan yang ternyata baik itu tidak saya lanjutkan, sambil akhirnya terjebak di sini, di suatu tempat yang sungguh muskil untuk dapat mengerti. “Tuhan,” desah saya mengiba-iba.
“Allah, Allah, Allah,” dzikir saya berkepanjangan sambil merangkak terus menyebar-nyebarkan pasir ke depan, ke kiri dan ke kanan, untuk menggertak apa saja yang mungkin menghadang. Dengan tetap menutup mata, rasanya kekuatan terkuras cepat, saya pun terkapar. Saya tak berani membuka mata, meski saya tenggelam dalam ketakutan. Tapi, tanpa membuka mata, rasanya mustahil untuk dapat berbuat sesuatu. Saya coba terlentang. Ah, dengan terlentang begini rasa lelah sedikit-sedikit dapat disuruh pergi. Barangkali saja saya perlu tidur. Saya coba tidur. Saya menarik nafas secara teratur, saya sedot udara dalam-dalam lewat lubang hidung pula. Rasanya zat asam yang saya isap dengan kuatnya mendorong-dorong darah menjalar dengan teratur ke seluruh pelosok tubuh. Pemerataan darah agaknya tercapai dengan bagusnya, hingga tak menimbulkan gejolak pemberontakan. Jajaran daging tubuh saya menjadi demikian stabilnya, hingga apa yang menjadi prioritas pertama dilaksanakan dengan baiknya. Kesadaran saya berangsur-angsur mulai berkurang, digantikan dengan kemauan beristirahat secara mutlak. 
Sekujur tubuh rasanya dipompa dengan darah sepenuh-penuhnya, kulit mengokohkannya, dan menggelembunglah badan ini menjadi ringan sebagai plembungan, pelan-pelan terangkat dari tanah berpasir yang empuk itu, lama-lama meninggi sampai suatu batas yang entah, sementara mata tetap saya katupkan serapat mungkin. Mendadak ini tubuh terantuk dinding guha, sebagai terantuknya plembungan pada dinding atau pepohonan, ia menghindar pelan, lalu menyusuri dinding yang ternyata tanah bebatuan yang sangat keras. Saya coba untuk menghentikan gerakan tubuh ini dengan menggaet dinding yang menonjol dan memeganginya erat-erat. Saya berhasil berhenti tetapi kemudian pertanyaan timbul, untuk apa berhenti? Bukankah jika saya terus membubung, barangkali saja bisa mencapai ke permukaan tempat saya terjatuh lewat lubang di atas sana. Benar juga. Lalu saya lepaskan lagi pegangan saya dan kembali tubuh ini ke atas dengan enak. 
Mata saya yang tetap tertutup merasakan sesuatu yang sepertinya sedang mengetuk-etuk yang membuat saya sedikit-sedikit membukakan pelupuk, terlihat semburat sinar menerobos masuk. Hati saya seketika menjadi cerah. Gembira bukan main. Rasa penuh harapan kembali mekar yang menyegarkan tubuh saya yang terus dalam keadaan melayang. Saya coba berenang menuju semburat sinar di sana itu, dengan mengayun-ayunkan tangan dan kaki, persis ayunan di kolam renang. Hasilnya ada juga. Tubuh saya meluncur dan siap distir ke mana pun. Saya menuju semburat sinar yang terpancar di balik dinding di sana itu. Makin dekat makin jelas semburat sinar itu. Saya kayuh tubuh saya secepat mungkin. 
Suara yang kadang-kadang mengguruh lamat-lamat kedengaran yang mendorong saya makin memacu laju tubuh ke sana. Saya menyesal kenapa tidak sedari awal saya menyedot zat asam secara teratur untuk memompa tubuh hingga dapat melayang seperti pelembungan begini. Tubuh, rupanya juga sangat memperhitungkan kondisi setempat. Saya berkayuh dan berenang dengan sangat ringan dan semburat sinar itu makin dekat makin terang dan bunyi-bunyi gelegar juga makin jelas kedengaran. Alangkah nikmatnya bisa membuka mata dan melihat segala yang berada di hadapan: tikungan dinding itu terang benderang dan dentuman ledakan yang silih berganti makin membuat keadaan sekeliling terang berpijar-pijar. Tetapi apakah semuanya itu.
Saya membelokkan tubuh di suatu tikungan dan sorot sinar menghambur garang membuat silau. Dentuman dan ledakan menggelegar. Rentetan tembakan. Desingan gencar di kanan, di kiri, di atas. Dinding-dinding berantakan menghantam tubuh saya. Wajah saya tertutup siraman pasir. Rentetan tembakan. Masya Allah. Di hadapan saya tergelar perang padang pasir yang dahsyat. Tentara-tentara yang saling berhadapan itu sama sekali serupa—kecuali yang kulit putih—adalah bala tentara Timur Tengah. Sulit dibedakan mana kawan, mana lawan, tinggi badan –tampang wajah- warna kulit- bahasa yang digunakan—tak ada bedanya, bahkan mereka bisa saling tembak di antara sesama teman. Tubuh saya terhempas ke dinding ketika ledakan menggelegar di depan saya dan terkaparlah saya di tanah. Pasir-pasir beterbangan. Saya coba untuk mengangkat tubuh untuk terbang kembali tetapi sia-sia. Saya coba untuk bernafas secara teratur lagi sambil mengenyahkan pertempuran yang sedang berlangsung. Tapi tak berhasil juga. Ini tubuh memang jeli membaca kondisi setempat. Saya harus menerima keadaan ini dengan lapang. Sebagaimana orang-orang lain itu—para tentara—yang juga berjalan, merunduk, merangkak, tak seorang pun yang lihat bisa melayang-layang di atas tanah. 
Saya merangkak untuk dapat menyaksikan pertempuran lebih jelas. Saya tidak yakin apakah pertempuran ini malam hari atau siang hari. Jika dikatakan siang, ternyata padang pasir ini cukup gelap. Sedang jika dianggap pertempuran ini berlangsung malam hari, saya dapat melihat dengan jelas ratusan tank dan kendaraan lain di medan laga, betapa pun jauh jaraknya. Tentara-tentara yang gugur itu serta merta diangkut oleh jutaan semut yang kemudian saya ketahui adalah sahabat-sahabat Kakek itu, ke sana, ke permukaan bumi, muncul di semak belukar belakang rumah kami itu. Allahu Akbar.
Saya merangkak mendekati jenazah-jenazah yang kelihatan tidur itu, yang mengambang di atas permukaan tanah, melaju merambati dinding yang terjal, ke atas, terus ke atas, antri dengan bagusnya, ratusan sampai ribuan jumlahnya. Sementara desingan peluru yang ditingkah ledakan-ledakan terus berlangsung, saya makin membenamkan kepala di antara kepala-kepala jenazah itu. Tentara-tentara berlari entah menyerbu, entah mundur, melompati jenazah-jenazah teman-temannya atau lawan-lawannya, sambil berteriak memberi aba-aba. Beberapa orang di antaranya roboh di sisi-sisi sekitar saya, satu di antaranya menjatuhi tubuh saya. Degup jantung saya makin cepat, dentuman-dentuman makin cepat, rentetan tembakan bertubi-tubi, saya makin membenamkan kepala di antara kepala-kepala jenazah yang terus bergerak tak bergeming. Pasir-pasir bertebangan. 
Ketika itulah saya menatap satu kepala dengan rambut putih yang bergerak terangguk-angguk di depan, di antara ribuan kepala yang berderet-deret itu. Sudah saya duga, tak salah lagi. Ya, Allah! Benar-benar Kakek! Saya peluk kepala itu di antara tangis yang sejadi-jadinya. Saya goyang-goyangkan kepala itu, barangkali saja masih dapat mendengar tangisan saya. Tetapi Kakek diam saja. Beliau seperti tidur tak ubahnya sehari-harinya di rumah. 
“Kakek! Kakek!” teriak saya sambil menggoyang-goyangkan lagi. Kakek sudah meninggal. Kakek sudah jadi jenazah seperti yang lainnya. Yang juga bergerak perlahan tapi pasti, ke atas, ke permukaan bumi, ditopang oleh semut-semut sahabatnya itu. Saya tertegun. Mata saya terus mengikuti gerak tubuhnya menyusuri dinding. Ya! Saya harus mengikutinya. Saya harus mengikutinya. Mendadak saya kaget kembali dengan apa yang saya lihat. Cavers! Ya, para cavers itu ternyata berderet-deret pula diangkut semut-semut, menyusul kakek, jadi mereka gugur juga, orang-orang perkasa, para pertapa di perut bumi, yang bersahabat dengan kesunyian. 
Saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan untuk mengikuti Kakek ke atas. Barangkali saja saya harus menggeletak seolah-olah mati, supaya semut-semut itu mau mengikuti saya. Begitu? Saya pun menggeletak. Saya diam sekuat mungkin. Saya bertahan lama menggeletak tanpa gerak secuil pun. Tapi kenapa, semut-semut itu tak seekor pun mau menyentuh tubuh saya. Saya tahu, saya tahu. Mereka tahu bahwa saya cuma pura-pura. Pasti mereka mendengar denyut nadi saya, detak jantung saya dan semburat pikiran-pikiran saya. Lalu saya bangkit tak sabar lagi. Tembakan-tembakan gencar seolah mengikuti langkah saya. Ledakan. Pasir-pasir beterbangan. Dentuman. Dinding-dinding rontok. Saya kembali menyurut ke tanah. Saya merangkak. Barangkali saya bisa menemukan tali para Cavers ketika mereka menuruni guha ini. Saya merangkak terus. Rentetan tembakan gencar. Saya merangkak terus. Ledakan. Pasir-pasir beterbangan. 
Akhirnya saya temukan juga tali para Cavers yang berjuntaian menempel dinding di ujung sana, disapu-sapu pasir yang berhamburan karena ledakan. Saya meloncat menggenggam erat tali itu dan merambat ke atas mengikuti dinding. Alangkah beratnya membawa tubuh yang daging ini meski saya tidak gemuk. Saya kecapaian, padahal baru beberapa meter saja. Tiba-tiba saya tersedot ke atas oleh kekuatan yang tak bisa saya bayangkan. Siapa yang menarik saya ke atas begitu mudahnya? Apakah teman-teman Cavers yang setia menunggui di sana?
Saya pun nongol kembali di semak belukar belakang rumah. Alhamdulillah. Dalam keadaan lunglai saya disalami mereka yang nerocos ini itu, yang tak sanggup saya jawab. Saya memandang berkeliling. Orang-orang tetap sibuk mengangkut jenazah-jenazah dari perut bumi itu. Saya ngeloyor ke rumah untuk memberi tahu mereka bahwa kakek telah meninggal. Di dalam rumah saya memang bertemu orang-orang, tetapi semuanya tak saya kenal. Saya bertanya di mana Ibu, Ayah, Adik, yang dijawab oleh mereka dengan gelengan kepala. Ketika saya mengamati isi rumah, sadarlah saya bahwa segala yang ada di dalamnya telah berubah, kamar-kamar telah menjadi ultra modern. Bentuk kamar, bentuk perabotan, juga desain baju orang-orang ini sama sekali baru. Buru-buru saya keluar. Saya berlari ke arah kesibukan orang-orang yang mengangkuti jenazah-jenazah itu. Masya Allah! Ternyata mereka mengangkuti patung-patung yang kata mereka akan dipasang di taman-taman dan plaza-plaza. Saya berlari kembali ke lubang tempat saya diangkat dari perut bumi itu. Ternyata itulah lubang tempat pengecoran patung-patung tembaga itu. Saya berlari mencoba mencari orang-orang yang telah mengangkat saya. Di mana mereka? Saya memandang berkeliling. Saya berlari. Saya tetap harus menemukan Kakek. Saya tatap satu-persatu patung-patung tembaga itu. Benar saja. Di antara wajah-wajah patung itu, wajah Kakek terpahat di situ. Saya tubruk patung kakek itu. Saya goyang-goyangkan patung itu. Tapi patung perunggu itu tak bergeming. Ia adalah tubuh Kakek yang tidur. Saya berteriak-teriak memanggil namanya. Ia tetap diam. Saya lunglai dan ambruk di kakinya. Orang-orang sibuk mengangkuti patung-patung. Juga patung Kakek yang masih saya rangkul kakinya, diangkutnya. Mereka tak peduli saya yang masih terbaring di tanah. Seorang di antara pekerja itu menoleh kepada saya dan tersenyum. Dengan menggunakan derek, patung-patung itu dimasukkan ke sebuah mobil besar. Mau dibawa ke mana? Saya menyat mendekati mobil besar itu, menyurukkan tubuh di bak belakang sambil memeluk kaki patung Kakek. Mobil pun melaju di jalan yang begitu halus, sebatang avenue yang lebar yang lembutnya adalah lantai hotel berbintang lima, barangkali serasa itu. Saya masih ingat, ketika saya tinggalkan, jalan ini masih berlubang-lubang dan di kanan kiri tanpa trotoar secuil pun. 
Di sebuah plaza yang luas, patung itu diturunkan. Lalu para pekerja memasang patung-patung itu di tiap futstek yang berbentuk silinder seperti tiang. Kurang lebih setinggi dua meter, berjajar-jajar panjang sekali. Patung Kakek dipasang di dekat kolam. Di samping-sampingnya berdiri patung-patung para Cavers dengan peralatan olahraganya yang bertengger di punggung maupun di pinggangnya. Barangkali inilah plaza patung yang paling luas yang pernah saya saksikan. Saya memandang berkeliling dengan penuh keheranan dan kekaguman, menatap patung kakek yang tegap. Saya lalu mencari, barangkali saja bisa saya temukan di mana itu sahabat-sahabat Kakek yang berjumlah jutaan, turut menghiasi plaza? Di mana mereka? Saya memandang berkeliling dengan penuh keheranan dan kekaguman, sebuah kawasan yang saya kenal betul ketika bersama teman-teman mencari kembang kering yang kami jual ke toko-toko yang lumayan juga hasilnya untuk jajan dan membeli peralatan sekolah. Seluruh kawasan bukan lagi semak belukar, melainkan sudah menjadi plaza ultra modern yang amat luas, berbinar-binar dengan marmar, stainless steel dan neon. 
Kyoto-Jakarta, 2 Juli 1991
Selama satu tahun di Kyoto (Mei 90 – Mei 91), Danarto—yang mendapat professional fellowships dari The Japan Foundation untuk menulis novel—banyak belajar dari masyarakat Jepang. Masyarakat yang aman tenteram adil makmur, bermartabat dan berkualitas, yang selama ini selalu dibayangkannya, barang tentu itulah masyarakat Jepang dewasa ini. Suatu masyarakat yang menghindari pertikaian, hingga nampak mereka saling hormat-menghormati, dan mendudukkan rasa malu pada kedudukan segala-galanya. 
Seperti juga fellowships The Iowa International Writing Program di Amerika Serikat, penyandang fellowships The JF juga bebas menulis, dan bebas tinggal di mana pun di negeri Jepang. Danarto berharap para penulis lain akan tertarik untuk tinggal dan menulis sesukanya di Jepang selama satu tahun. 
Godlob, kumpulan 9 cerpennya (1975), yang merupakan bacaan wajib di fakultas sastra Indonesia, yang jumlah mahasiswanya ribuan, ternyata tidak mampu mengundang minat baca. Barangkali saja para mahasiswa hanya memfotokopi satu dua cerpennya dari buku tersebut. Sedang Berhala, kumpulan 13 cerpennya (1987), memasuki cetak ulang kedua. Jika hal ini bisa diambil kesimpulan, cerpen-cerpen protes sosial kelihatannya lebih menarik untuk dibaca. (Matra, September 1991)
***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danarto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” edisi September 1991