Semangkuk Kenangan

Karya . Dikliping tanggal 1 Februari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina

Dan sebentar lagi malam menjelang. Lalu  malam yang datang nanti akan kembali dihamparkan  selembar tikar, yang di atasnya nanti akan tertata dua mangkuk yang sama warna, sama besar.
    Di sebelah mangkuk itu akan ada satu piring nasi, lalu piring lainnya berisi tahu juga tempe.
    Lies tidak pernah tahu kapan tradisi seperti ini dimulai. Tradisi yang baru ia ketahui ketika datang lagi, setelah sekitar lima tahun ia tinggalkan desa kecil yang membuatnya sempat merasa tidak akan bisa meninggalkannya.
    Jendela kayu itu terbuka lebar. Bintang malam terlihat di kejauhan. Hawa dingin menyergap lagi dan membuat kepulan asap di dalam panci seperti sedang menari-nari.
    “Mbakmu suka….”
    Lies menganggukkan kepalanya. Mbak Aini memang  suka sesuatu yang praktis dan sederhana. Daster-daster lusuh yang sering dipakai dengan nyaman sambil matanya menatap kabut. Lalu menjerit dan berbisik pada Lies bahwa pangerannya sudah datang menjemputnya.
     Praktis dan sederhana itu terkadang menurut Lies justru terlalu sederhana. Tidak ada mimpi lain selain tinggal di desa menunggu seorang lelaki melamarnya.
    “Mi itu nanti biarkan saja….”
    Ada dua buah mangkuk yang sekarang berisi mi. Mi instan sebenarnya bukan makanan kesukaan Lies. Itu makanan kesukaan Aini sejak dulu. Bertambah suka ketika pangeran yang ia suka mengajaknya makan berdua di warung mi pinggir jalan. Sejak saat itu, di rumah harus selalu ada mi instan yang akan dibuat oleh Ibu sambil mendengarkan cerita Aini tentang pangerannya itu
    “Ibu tidak masak sayur?” tanya Lies pelan.
    Ibu sepertinya tidak suka dengan apa yang Lies katakan. Mata Ibu memandang Lies, lalu diikuti dengan suasana hening.
    “Kamu makan makananmu saja.”
    Ada dua buah mangkuk berisi mi instan rasa soto. Bungkusnya, seperti biasa, akan disimpan oleh Ibu.  Bungkus itu akan menambah jumlah karung di dapur yang isinya sama. Bungkus mi instan.
    Tidak ada yang berani membuangnya. Lies juga tidak. Almarhum Bapak juga tidak. Kenangan itu mengikat Ibu sedemikian kuat.
    “Makanlah….”
    Mereka duduk berdua. Dengan dua mangkuk mi  instan  yang masih mengepul asapnya. Ibu sendiri mengambil piring lalu mengambil tahu juga tempe. Tangan Ibu mulai memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
    “Makanlah…,” Ibu mengulang.
    Lies menarik napas panjang. Mereka duduk berdua, tapi seperti sedang duduk bertiga.  Ibu tersenyum pada mangkuk lain di hadapan Lies. Menyilakan makan sebelum akhirnya seperti tersadar dan kembali diam.  Setelah itu tidak ada suara lain kecuali suara sendok dari Lies dan decap dari mulut Ibu.
    Di luar bintang-bintang masih bersinar.
    “Habiskan….”
    Mi  instan di mangkuk depan Lies masih tak tersentuh. Tidak akan ada yang menyentuhnya karena setelah itu Ibu pasti akan berdiri. Lalu menghadap ke luar dengan air mata berurai dan bahu berguncang.
    Pada titik ini, biasanya Lies memutuskan untuk meninggalkan ruang makan dan  masuk ke dalam kamarnya.
***
Sebenarnya  tiap upacara Kasada, Lies selalu menyediakan waktu untuk pulang. Ia rindu malam yang mendadak menjadi riuh di lautan pasir Bromo pada  tiap bulan kesepuluh pada saat purnama hadir sempurna di langit.
    Tapi, lima tahun belakangan ia memutuskan tidak pulang. Semenjak Ibu selalu menyalahkannya atas kehilangan Aini. Bahkan Ibu pernah mengusirnya dan memintanya untuk tak perlu lagi mendatanginya.
    Setahun yang lalu Lies akhirnya memutuskan untuk kembali pulang. Pulang sebagai anak yang berbakti dan akan mempersiapkan segalanya untuk membahagiakan Ibu.
    Sesungguhnya Kasada selalu membuat Lies terkenang pada almarhum Bapak dan benda milik Lies yang diberikan Bapak, yang selalu saja dijadikan persembahan oleh Ibu untuk dilemparkan ke kawah Bromo. Ibu selalu berkata bahwa benda itu dikorbankan untuk membuat rumah tangga Ibu dan Bapak selamat.
    Benda-benda itu biasanya akan bisa terambil lagi oleh Keling yang duduk di kawah Bromo dengan melebarkan sarungnya untuk menangkap benda itu bersaing dengan penduduk yang lain.
    Lies merapatkan jaketnya, hawa dingin mulai menusuk tulang.
    “Mbak Lies….” Seorang anak kecil berdiri di depannya. Bibirnya terbuka hingga barisan gigi hitamnya terlihat. “Ada Mas Keling itu.…”
    Lies melihat ke arah yang ditunjuk. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan kurus yang dengan percaya diri  tersenyum padanya.
    Senyumnya itu yang membuat Lies selalu ingin pulang  tiap saat. Tapi, senyum itu pula yang  harus Lies hapus, ketika Aini berbisik kepadanya mengatakan ia jatuh cinta pada Keling.
    Lies bisa merasakan degup di jantungnya berdentam keras sekali.
    Motor-motor sudah berdatangan. Desa Ngadisari  biasanya menjadi ramai oleh pengunjung beberapa hari sebelum upacara Kasada dimulai. Pengunjung  anak-anak muda juga orang-orang tua dari kota yang ingin menyaksikan upacara Kasada. Upacara itu yang dulu sering Lies sukai karena membuat desanya menjadi ramai seperti sebuah pasar malam. Hampir semua rumah disewakan. Mungkin hanya rumah Ibu yang tidak pernah disewakan untuk para pelancong itu.
    “Hai….”
    Degup itu masih tidak berhenti juga.
    “Mau ikut nanti?”
    Lies tahu, harusnya  ia menahan diri untuk tidak mudah tersipu. Lesung di pipi itu bukan miliknya. Ia tidak boleh bermimpi untuk itu.
    Itu milik Aini. Utuh. Semenjak Ibu mengatakan hal itu,  lalu menganggap keakraban mereka sejak kecil adalah sebuah kesalahan.
    “Apa yang mau ditangkap dengan sarung nanti?” tanya Lies, pelan.
    “Kamu mau apa?”
    Lies mengerutkan keningnya menahan senyum.
    Keling pernah mendapatkan sebuah jepitan juga boneka. Jepit rambut milik Lies dan boneka. Semuanya  hadiah dari Bapak. Lies langsung membawa benda itu kembali ke rumah dan setelah itu Lies mendengar Bapak memarahi Ibu dan Ibu menangis. Rumah sepi tiga hari sesudah itu karena Bapak dan Ibu saling mendiamkan.
    “Surat cinta atau….”
    Lies makin merapatkan jaketnya.
    “Cincin pertunangan….”
    Lies tahu mata itu mencari-cari pemandangan lain di jari Lies. Tidak ada cincin lain, selain cincin dari perak yang harus Lies pakai di kelingking karena sudah tidak cukup lagi di jarinya.
    Cincin dari Keling dulu yang selalu ia sembunyikan dari tatapan Aini.
    Secangkir kopi disodorkan kepada Lies. Di cangkir kaleng berwarna hijau dengan motif loreng.
    “Kamu kenapa kembali?”
    “Bukan buat kamu,” ujar Lies tegas.
    “Buat kenangan kita?”
    Lies meringis. Ada sakit mulai bermain di hatinya.
    Ia datang memang untuk Ibu dan akan membawanya ke Bekasi. Sebuah rumah sewaan dan kesibukan baru sudah Lies rancang. Ada sebuah konfeksi yang bisa membuat Ibu sibuk nanti. Tidak mengingat Aini lagi.
    “Dulu kita, ‘kan….”
    Lies meringis. Dulu ia dan Aini sama-sama diberi janji oleh Keling. Dan janji Keling itu diikat oleh Ibu hanya untuk Aini. Sebuah pesta pertunangan bahkan sudah Ibu persiapkan seminggu sebelum akhirnya Aini jatuh sakit terkena demam tinggi dan menjemput ajalnya.
    Aini berlari menangis menembus hujan, setelah memergoki mereka duduk berdua di sebuah warung.  Padahal, pada saat itu Keling berjanji akan mengajak Aini keliling kota.
    “Masih tidak percayakah, Lies?”
    Lies meneguk kopi hitam dalam cangkir di tangannya.
    “Di sini sepi….”
    Itu mungkin rayuan maut yang dulu membuat Aini tidak bisa meninggalkan desa.  Di sini jelas tidak sepi. Keling punya banyak kegiatan termasuk mengajarkan anak-anak di desa bermain teater.
    “Tanpa kamu….”
    Lies berdehem. Ada Ibu di kejauhan.
    “Lies….”
    “Ada barang yang harus dikorbankan di upacara,” ujar Lies cepat.
    Keling menganggukkan kepalanya. “Bukan hatimu, ‘kan?”
    Tidak perlu menjawab. Lies memiliki rencana lain.
***
    Dulu, dulu sekali, Lies selalu rindu untuk berimpitan dengan teman-temannya, menyaksikan  para tetua membacakan barang-barang yang akan dipersembahkan sebagai bentuk pengorbanan  hamba kepada Yang Kuasa di depan pura.
    Lalu setelah segala barang itu dikumpulkan, Keling akan menarik bajunya kuat-kuat dan mengajaknya turun ke pinggir seputaran kawah Bromo, bersama penduduk dari luar desa.
    Mereka biasanya akan menampung barang untuk sedekah bumi yang dilemparkan dari atas gunung ke kawah Bromo. Barang itu akan mereka bawa pulang.
    Mungkin akan berat meninggalkan semua kenangan itu.
    “Jadi  aku mau dibawa ke mana?” tanya Ibu.
    Lies diam. Keling tidak perlu mengerti rencananya. Rencana yang ia tanamkan kuat-kuat di otaknya untuk menjaga Ibu seperti pesan almarhum Bapak.
Bukan ibu kandungnya. Tapi, Ibu mau merawat ia yang baru berusia 40 hari yang ditinggalkan oleh perempuan yang jadi kekasih rahasia Bapak.
    Ibu yang menangis dan menjadikan barang di kamar Lies persembahan di hari Kasada sebab barang-barang itu adalah barang dari perempuan yang masih selalu Bapak kenang.
    “Aku mau dibawa ke mana, Nduk?”
    “Ke tempat yang membuat Ibu punya mimpi baru,” ujar Lies, sambil tersenyum.
    Tadi, ia kembali bertemu Keling. Dan Lies harus menarik napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya ia harus berpura-pura tersenyum. Menjaga rahasia dari seorang yang masih belum pergi dari hatinya, sungguh sesuatu yang sangat menyakitkan.
   
    “Aku bawakan ini, ya…,” desis Keling pada Lies tadi.
    Lies mengangguk. Tiga  karung yang berisi bungkus mi instan. Sore tadi mereka berdua mengambilnya ketika Ibu tidak ada di rumah.
    “Jangan lupa nanti, secangkir kopi untuk kita berdua,” ujar Keling. “Di kawah Bromo.”
    Udara malam  makin menggigit. Jam sebelas malam nanti, Keling akan menunggunya di depan pura di hamparan lautan pasir Bromo.
    “Kita pergi sekarang, Bu,” ujar Lies, mengunci pintu dan menggandeng tangan Ibu.
    Sudah menunggu sebuah mobil yang sudah Lies sewa.
    “Kita mau ke mana?” tanya Ibu.
    Lies hanya tersenyum. Mengajak Ibu masuk ke dalam mobil. Matanya sempat memandangi punggung beberapa pengunjung yang bergegas menuju pelataran pura untuk mendengar doa-doa dilantunkan oleh para tetua desa.
    Ia sempat melihat sosok Keling dengan sarung berwarna merah.
    “Kita mau ke mana?” tanya Ibu lagi, ketika mobil sudah berjalan menembus kegelapan malam.
    “Ke negeri bahagia,” ujar Lies, sambil tersenyum pada Ibu.
    Purnama di langit menjadi saksi. Kenangan bersama Keling cukuplah seperti kenangan Ibu dengan bungkus mi instan. Tidak perlu diingat lagi.  (f)
Nurhayati Pujiastuti, Pemenang II Sayembara Cerpen Femina 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurhayati Pujiastuti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”