Semangkuk Perpisahan di Meja Makan

Karya . Dikliping tanggal 19 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Ibu saya bilang perempuan harus bisa memasak. Setidaknya satu menu sepanjang hidupnya. Saya merasa tidak setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar dan makan.

Betul. Semasa kecil, saya sering didongengi ibu. Katanya hidup di surga itu nyaman sekali, tinggal tunjuk langsung jadi. Mau anggur akan diantar ke hadapan. Mau minum dan makan juga demikian. Bukankah sekarang zaman juga sudah begini? Haus dan lapar tinggal buka ponsel. Hanya perlu satu jari untuk membuatnya ada di depan mata. Lalu, mengapa harus susah payah memasak segala?

Bukan. Bukan saya tidak pernah memasak sama sekali. Saya pernah merebus mi instan, menggoreng telur, atau beberapa hal lain untuk bertahan hidup. Lebih-lebih ketika masih mahasiswa dulu. Tapi ini berbeda. Memasak yang dimaksud ibu saya bukan sekadar bisa, melainkan memang lihai sebab akan memengaruhi rasa.

Sekali lidah harus langsung enak terasa sehingga sampai sajian tandas di piring kenangan baiklah yang terbawa. Maka, demi memenuhi angan-angan punya anak perempuan yang bisa menyajikan penganan enak itu, ibu kemudian mendesak saya datang ke rumahnya.

“Ambil libur dua hari apa tidak bisa sama sekali?” desaknya di ujung telepon.

Saya menjepit ponsel di antara kepala dan bahu sementara sepasang tangan masih berusaha melepaskan sarung karet berwarna pucat. Saya memang baru keluar dari ruang operasi ketika ibu menelepon lagi untuk kesekian kali.

“Susah, Ibu. Saya punya jadwal bedah sesar setidaknya sampai akhir tahun ini. Apalagi menjelang hari raya, selain musim hujan, juga musim orang melahirkan.”

Saya dapat mendengar embusan napas ibu di sana. Suaranya terlalu kentara untuk ruang operasi yang hening dan sepi.

“Apa yang bisa memastikan nyawa anak manusia sampai dengan baik ke dunia hanya kamu?” sindir Ibu terkesan tajam.

“Ya tidak,” jawab saya sembari membuka penutup sampah dan melempar sarung tangan karet itu ke dalamnya.

“Berapa dokter kandungan di rumah sakitmu?”

“Tiga.”

“Kalau begitu tukar jaga kan bisa, kecuali memang kamu tidak menginginkannya!” sentak Ibu sebelum mengakhiri panggilan.

Saya mengusap wajah dengan sebelah tangan. Tidak mengerti dengan sikap ibu barusan. Seolah-olah jika saya tidak bisa memasak, maka akan berbuah kiamat. Padahal, suami saya saja mengerti. Kami sudah sering memesan makanan yang diinginkan dari berbagai penyedia layanan katering rumahan.

Dari yang enak sampai yang sehat. Dari yang dikelola ibu rumah tangga sampai ahli gizi juga ada. Anak-anak juga tidak jauh berbeda. Pagi terbiasa sarapan roti atau sereal dengan susu. Siang makan katering sekolah, malam bisa pesan dari aplikasi ponsel. Begitu mudah hidup sekarang, mengapa harus kembali mengakrabi wajan dan api?

***

Setelah berdiskusi dengan suami dan membujuk rekan bertukar jaga, di sinilah saya sekarang, rumah ibu yang rindang. Halaman rumahnya dihiasi hamparan rumput dengan dinding dirambati bunga putih berdaun lebar. Ibu masih senang selera lama. Tanamannya adalah bugenvil aneka warna, telinga gajah, dan lidah mertua.

Begitu membuka pintu, ia segera memeluk dengan erat.

“Saya hanya bisa sampai besok di sini.”

“Tidak bisa diperpanjang?”

Saya menggeleng. Ibu mendesah. Andai ibu tahu untuk dua hari ini saja saya harus dinas dari pagi bertemu pagi. Merapel jadwal hingga membuat lutut rasanya sulit berdiri.

“Ya sudah, kau istirahat dulu. Esok subuh kita belanja bahan membuat gangan ke pasar.”

***

Lantai dapur mendadak penuh oleh jagung, ubi kayu, kacang panjang, waluh, aneka bumbu, dan umbut kelapa. Bahan terakhir ini yang paling mahal di antara lainnya. Mungkin karena demi mendapatkannya harus menumbangkan sebatang kepala. Merelakan mayang tak berkembang menjadi puluhan buah.

Sementara ibu mempersiapkan sayuran, saya dimintanya mengolah bumbu. Namun, belum apa-apa sudah terdengar suaranya menyela.

“Bukan begitu cara memecah kemiri, nanti hancur!”

“Memang apa bedanya, Bu? Toh, sama-sama akan dihaluskan juga.” Saya menyanggah. Ibu menggeleng.

“Kau tahu setiap manusia ini akhirnya akan mati dan hancur dalam tanah kan?”

Saya mengangguk lantas berucap, “Lalu, apa hubungannya dengan cara memecah kemiri?”

“Kalau sudah tahu akan mati dan hancur, apa sembarangan juga perlakuanmu saat mengeluarkan bayi dari perut ibunya?”

Saya diam. Tanpa menyanggah saya saksikan ibu memecah kemiri. Gerakannya hati-hati sekali. Persis seperti menolong bayi memecah gelap rahim menuju bumi. Mula-mula ibu menjepit kemiri dengan telunjuk dan jempol, lalu ulekan ia ketukkan sehingga terdengar suara kulit keras yang rekah. Ibu kemudian melebarkan rekahan dengan ujung pisau hingga terpisah.

Hasilnya sebiji kemiri yang utuh dan bersih. Saya menerimanya dari tangan ibu dengan takjub. Bagai sekolah lagi, saya dituntun melalui satu per satu proses memasak sayur ini. Proses mengolah bumbu menjadi terpenting menurut ibu, terlihat dari caranya menerangkan satu demi satu.

“Kalau membuat gangan bersantan, bawang merahnya mesti lebih banyak,” beri tahu Ibu seusai merajang bawang di atas cobek langsung.

“Kenapa begitu?”

“Entahlah. Nenekmu yang mengajari Ibu. Mungkin supaya lebih gurih.”

Saya tersenyum kecil. Sebuah penjelasan asal ada. Berbeda semasa kuliah dulu. Segalanya dituntut sumber, dikutip dari penelitian mana, juga tahunnya berapa. Tidak terkecuali urusan bawang-bawangan. Seperti yang pernah tidak sengaja saya baca saat mencari sumber referensi tentang antibiotik alami. Konon bawang merah dan bawang putih bisa digunakan sebagai antibiotik, antiperadangan, bahkan melawan kanker.

Itu sebabnya dulu saya sempat mengira urusan domestik rumah tangga tidak lebih sulit daripada mengeluarkan diri dengan kepala tegak dari fakultas kedokteran. Tidak lebih sulit dari berjuang lulus dari semua ujian dengan nilai memuaskan. Karena dulu teman-teman saya sering berkata ingin nikah saja jika diterpa ujian macam-macam ditambah tugas beragam. Nyatanya tidak sepenuhnya betul juga. Banyak hal yang saya tak tahu, termasuk urusan bumbu.

“Haluskanlah,” ujar Ibu setelah selesai menaruh dan merajang bawang, kunyit, jahe, kencur. lengkuas, juga lainnya di cobek. “Setelah itu kau tumis bumbunya dengan sedikit minyak dan api kecil.”

Ibu kemudian beranjak menuju panci. Ia tampak mengaduk sebentar, mengangkat bergantian potongan ubi kayu, waluh, jagung. Setelah dipastikan agak lunak, ibu kemudian memasukkan potongan kacang panjang. Saya sendiri baru saja selesai mengulek bumbu dan bersiap menumisnya di tungku sebelah kiri ibu.

“Kalau sayurnya sudah lunak. kau masukkan dulu santan encer.”

Saya memperhatikan instruksi ibu dengan saksama. Memberi catatan kecil di buku yang saya bawa. Sekarang tulisan saya lebih parah dari cakar ayam. Ibu banyak memberi instruksi dan cepat sekali. Tidak akan ada salinan materi dari file presentasi. Semua mesti disimak dan dicatat bersamaan.

Setelah letupan pertama, ibu kemudian memasukkan potongan garih, ikan gabus asin yang biasa dijadikan lauk makan. Disusul bumbu yang telah saya tumis tadi.

“Kau mesti tahu, Hen, perempuan itu seperti sekotak bumbu dapur. Dia yang menentukan seperti apa rasa sajian, rasa kehidupan. Manis, asin, asam, pedas. Kalau dia pandai menakar, setiap rasa akan seimbang, hasilnya gurih dan terkenang,” ujar Ibu sembari menambahkan gula dan garam.

Aku kemudian dimintanya mengaduk dan menambahkan santan kental. Perlahan- lahan gangan berubah warna dari yang kuning pekat menjadi sedikit lebih terang. Menjelang api dimatikan, ibu menabur rajangan cabai merah besar.

“Ambil mangkuk di rak. Hen.”

***

“Ibu menanak beras usang ya?” Saya mengernyitkan dahi begitu menyendok nasi. Beras usang itu beras lama. Nasinya lebih pera.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Kok yang usang, Bu? Kita kan tidak sedang hajatan.”

“Kau tahu mengapa orang hajatan pantang memakai beras baru?”

“Karena cenderung lebih lembek. Kalau dimasak jadinya sedikit, bisa-bisa tidak mencukupi jamuan tamu yang datang.”

“Begitulah hakikat orang yang lebih tua. Dia mesti seperti beras usang, mencukupi banyak orang. Ibu berharap kau juga bisa begitu. Kalau Ibu sudah tidak ada, kaulah yang tertua di keluarga kita, cukupilah siapa-siapa yang perlu dibantu.”

“Bu,” rajuk saya lirih. Sejak Bapak wafat, percakapan tentang kematian memang membuat saya tak nyaman. “Bicara apa Ibu ini. Ibu masih sehat, pasti panjang umur.”

Ibu mengulas senyum tipis. “Nak, manusia itu seperti sayur dalam semangkuk gangan umbut. Usia yang paling tua serupa ubi kayu, keras, hambar. Usia sepertimu mirip dengan potongan waluh. Tidak terlalu keras dengan sedikit rasa manis. Paling muda ya tidak ubahnya umbut. Lembut dan manis. Semua sama akan lunak juga setelah dimasak. tidak peduli ia yang paling keras atau lembut. Kita pun sama, akan wafat juga. Tidak peduli sudah baya atau masih muda.”

Melihat raut wajah putrinya yang berubah muram, lekas-lekas ibu menyendokkan gangan ke piring saya seraya berujar, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mari kita makan.”

***

Selepas Subuh saya berniat pamit pulang pada Ibu. Libur telah usai dan saya harus kembali ke rumah sakit segera. Satu kali ketuk, ibu tidak menyahut. Juga ketukan-ketukan berikutnya. Mungkin ibu tertidur selepas berzikir pikir saya.

Namun, perkiraan saya meleset saat mendapati ibu lunglai menyandar di pintu lemari. Tubuhnya masih terbalut mukena dengan tasbih di tangan. Lekas-lekas saya raba pergelangan tangan dan lehernya. Nihil, ibu telah tiada sebelum saya sempat berpamitan padanya.

Suami dan anak-anak saya menyusul pagi harinya. Pengeras suara di masjid lantang mengabarkan kepergian ibu pada orang-orang. Sanak saudara dan handai taulan kami berdatangan. Proses pemakaman dipersiapkan. Tidak terkecuali sajian pada prosesi turun tanah; hari pertama kematian dimulai sejak jenazah turun dari rumah dan dibawa menuju liang lahat.

“Kau yakin tidak mau pesan jamuan dari katering saja?” Suami saya memandang ragu.

Saya melepas napas. “Saya hanya mau Ibu bahagia karena putrinya bisa memasak. Walaupun cuma satu, itu juga sajian untuk kematiannya.”

Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai Selatan, 16 September 1996. Menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran ULM. Buku terbarunya Stadium Rindu (2018) dan Jendela Seribu Sungai (2018) yang ditulis bersama Avesina Soebli. Cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015 dan 2017.

Yuswantoro Adi, perupa tinggal di Yogyakarta, lahir 11 November 1966. Selain melukis juga mengajar dan memberi pelatihan seni rupa, terutama untuk anak-anak. Meraih penghargaan Grand Prize Winner Philip Morris Asean Art Award 1997 di Manila, Filipina.


[1] Disalin dari karya Miranda Seftiana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 17 Maret 2019