Semesta Raku – Kenangan Porselen – Siklus Porselen – Cawan Lucie Rie

Karya . Dikliping tanggal 30 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Semesta Raku


Di cawan ini tidak asing lagi teh hijau terasa
pada lidah orang bisa belajar kebajikan asal
Bukan tentang satori, sekali bisa kita melihat

Lanskap bunga keshi terasa manis berabad
Disentuh angin lembah, hingga pikiran lelah
Dua-tiga langkah ditarik ke sisi tak terduga

Sekarang, orang bisa jalan dengan lidahnya.

1
Bisa pilih jalan lempang sudah satu karunia
Suka-suka orang berpikir tahu arah pulang
Tengok belakang tengok depan cuma jejak
Kelinci atau rakun, mata pas sedingin embun

2
Bila tidak suka tinggi-tinggi, bilang aku bisa
Terjun ke samudera dalam tulang mata kaki

3
Penyair ini tidak sadar riak ekor paus bikin
Ombak di piring orang lapar, matanya buta
Nekat saja ia tulis haiku sampai lupa pulang

4
Sok-sokan begini dibilang rahasia, tidak lihat
Hujan daun sakura gugur dekat bunga nazuna

Kenangan Porselen

1
Tidak bisa balas kalimatmu jadi sakit 12 jam
Semua orang punya cara buat sembunyi
Siput juga, mungkin, cuma cangkang  pagi musim semi

2
Di Hainan tak ada teh seenak ini, dua-tiga cangkir
Motif pioni, seteguk lagi matahari silam, embun gugur
Lebih kuning–sendiri, lepas air mata mengalir tiga ribu li

Baca juga:  Diskriminasi - Ojo Dumeh - Sangkan Paraning Dumadi - Hukum Alam - Ekspresi

3
Kita tidak tutup jendela, aku tidak lipat payung
Hujan absen, aku lipat hatiku di putih daun-daun prem
Tidak pergi, dua minggu lagi lihat senyummu jadi guguran salju

Siklus Porselen

1
Di langkan berdebu kau berdiri dengan panas gerimis
Selepas sedih selepas senyum selepas cahaya memasuki
Halaman kuil, selembar daun gugur tumbuh jadi puisimu

2
Kuharap ada segenggam bit buatku, plus bibit sorgum
Atau sebait san-qu, kulukis sayap bangau di cawan abu
Begini saja, sekuntum shi zhu telah mekar di luar jendela

3
Kundika tua ini masih deposit lempung danau, pasir hijau
Plus sebulir embun, ladang sedikit baru dipanen; sendiri lihat
Jalan menurun, sekarang, siklus debu akan genap seribu tahun

Simetri Porselen
Paling tenang lihat salju gugur di ujung sepatumu
Lewat siang terlintas semua akan pergi; di kaki gunung
Teringat selarik puisimu, satu cawan melepas jejak kelinci


Tidak paham sahabat lama bisa habis pelita, saat terjaga
Duka berganti rumpun pioni; tertegun menatap kilau genta
Baru dicuci, kembali kunikmati lagu puja kabut musim semi


Selepas musim panas, petang itu kau kembali berkemas
Lupa arah angin jadi pertanda musim gugur; kita tenggak arak
Paling keras, di sana, kita masih sepasang cawan di kuil Buddha


Baca juga:  Tentang Sancho Panza - Renjana Bejana

Cawan Lucie Rie

Keindahan tak pernah
Berfungsi di luar
Hatimu, sebelum kauletakkan
Semua bebanmu, dan warna
Coklat kayu dan pink dan biru
Di bawah cahaya matahari adalah
Inti segala haru, serupa lanskap
Dalam jiwamu, juga keheningan
Yang berputar antara dua tanda
Sunyata atau percaya, mungkin
Sudut ganda Cezank atau logika
Perikles tak mampu mengantar kira
Ke inti lingkaran warna, kecuali
Telah terbuka margin setiap indera
Musim dingin dalam musim panas
Musim panas dalam musim gugur
Musim gugur dalam musim semi
Selalu, gelombang hidup dan mati
Melingkar dalam datum pikiranku
Tentu, tiada lagi nujum persepsi
Dalam parodi kosmik itu, dan kini
Setiap cawanmu akan kembali hidup
Bebas dan lembut melantunkan puja
Bagi setiap hati yang menyentuhnya

Baca juga:  Zikir Renjana - Jalan Makrifat - Alamatulhayat

Mangkuk Biasa Mackenzie
Menatap Warren menekuk mangkuk
Basahnya, seakan menatap firman
Yang menjelma, tenang dan sempurna.

Lalu ia berkata, “Saya memang bukan
Orang biasa. Seperti juga yang lainnya.”
Dan ia tertawa. Saya kira ia memang pribadi

Bersahaja, mengungkap keindahan dengan
Cara sederhana, mengundang kita merasakan
Praba tiap benda, “Hidup pasti tak sempurna,

Itulah kenapa kita mesti bahagia,” begitu
Ia berkata, sebelum menyentuh lempung
Basahnya– seakan firman yang menjelma

Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandarlampung, 15 Juli 1972. Telah menerbitkan kumpulan puisi Perawi Tanpa Rumah (2013) dan Sabda Ruang (2015). Menetap di kota kelahirannya. 



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Yulden Erwin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” akhir pekan edisi 28-29 Mei 2016