Sempurna

Karya . Dikliping tanggal 7 Maret 2011 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

APAKAH mungkin ia ke Leoni Hill, menemui perempuan mandul itu? Bukankah ia sudah berjanji, malam ini akan pulang ke Valley Road, menghabiskan malam berdua saja setelah masa haidku habis? Tidakkah ia lupa kalau aku dan dia masih pengantin baru?
Lalu kau mencangking ponsel yang tergeletak di meja rias di sudut kamar. Tak memerlukan waktu lama kau menemukan sebuah nama. Kautekan tombol OK. Kaudekatkan ponsel ke sebelah kanan pipimu, menempelkannya di daun telinga. Kau benar-benar ingin memastikan bahwa panggilanmu tersambung, bahwa ponselnya benar-benar aktif. Nada sambung terdengar. Kau sedikit lega. Kau tak sabar menunggu jawaban di seberang. O tidak, seharusnya kau sudah cukup bersyukur bahwa ponselnya masih aktif (tidakkah itu artinya ia baik-baik saja?). Mungkin ia sedang menyetir, mungkin ia sedang mengobrol dengan kawan lama, mungkin ponselnya sedang dalam silent mode. Hmm, tapi bisa saja ia sengaja tak menjawab panggilan. Siapa tahu ia sedang bersama mantan pacar (yang katanya sering duduk-duduk di Marina Bay), siapa tahu ia sedang asyik berbincang dengan seseorang yang baru dikenalnya di alun-alun air mancur Merlion. Tidak, lebih tepatnya, pastilah orang lain yang merasa pujaan hatinya itu mengasyikkan, mengagumkan. Ya, perempuan mana yang tak terpesona dengan laki-laki tampan seperti dia. Tiba-tiba prasangka dan rasa khawatir mengerubungimu. Jarak antardegup jantungmu makin rapat. Napasmu berkejar-kejaran. Lingerie yang kaukenakan mulai membuatmu gerah oleh keringat. Ponselmu pun terasa lengket karena telapak tangan yang mulai basah. Kau melemparkan ponsel ke spring bed yang baru satu minggu menghuni kamar. Kau membuka pintu kamar. Kau mendongak ke dinding ruang tengah. Beberapa menit lagi, jam tua yang bersandar di sana akan berdentang 12 kali. Kau menuju dapur. Kulkas. Mengambil sebotol air mineral. Langsung menenggaknya seolah rasa dingin yang berselancar di tenggorokan dapat serta merta menghilangkan kecemasanmu. Leher dan lingerie-mu ikut basah oleh air es yang meluap di bibir botol. Kau bermaksud mengirimkan pesan singkat sebelum kau merasa jemarimu tak cukup bertenaga untuk memencet tombol-tombol di ponsel.
O, benarkah kau di rumah mungil di kompleks itu, suamiku? Benarkah kau bersama dengannya? Sedang apa kalian? Apakah kau juga memikirkanku sebagaimana aku merindukan sekaligus mencemaskanmu?
AKU di Mount Sophia, Sayang. Sendirian. Sedang merampungkan beberapa deadline. Oh, kau tak perlu cemas. Aku baik-baik saja. Aku akan pulang segera setelah semuanya beres. Miss u!
Laki-laki itu membalas pesan singkat istrinya. Ia memang sudah satu bulan tak pulang ke Leoni Hill. Sebenarnya ia sadar, apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Tak ada pembenaran untuk sebuah perselingkuhan, bukan? Namun, entah, ia merasa tak sendiri, dan ia merasa jauh lebih baik dari sejumlah laki-laki yang bertabiat sama. Menurutnya, banyak laki-laki yang melakukannya demi seks semata. Termasuk kawan-kawannya yang kerap bersantai di Bugis Street dan Orchard Road. Chris dengan Jane, Lupia dengan Bela, Sutan dengan Grenee…. Tidak dengannya. Ia memiliki tujuan yang menurutnya mulia—memiliki keturunan. Namun, sungguh, ini bukan seabad tahun yang lalu (ketika Suntec City dan Clarke Quay masih berupa padang ilalang, dan saudara tua Neneknya yang seorang kiai termasyhur, dapat beristri “dengan mudah” karena pelbagai alasan––kondisi ekonomi keluarga perempuan yang ambruk, banyaknya janda, menyelamatkan akidah, dll). Hhh…. Ia ke dapur. Menyeduh kopi Klassno dengan air tak terlalu panas. Menyeruputnya seolah-olah kafein yang diselipi rasa manis itu dapat menguapkan semua kegundahan. Tiba-tiba ia ingat ada beberapa panggilan tak terjawab. Ia ingin memeriksanya. Ia merogoh saku celana. Ia menekan tombol OK. Enam belas panggilan. Nama yang sama. Nama yang tiba-tiba membuat kegundahannya makin membuncah. Ia meneguk liur yang terasa sepat di kerongkongan. Ia berniat menelepon balik. Namun ia urungkan niatnya. Ia tersenyum sendiri. Senyum yang ia sendiri ragu menyatakannya sebagai tanda apa. Perasaannya memang sedang tak karuan, sedang cemas. Ia kini tahu, bahasa tubuh tak selamanya menunjukkan apa yang dipikirkan. Syaraf-syaraf kadang tak mampu menerjemahkan impuls yang dikirim ke otak; seperti seorang pelayan kopitiam yang harus selalu tersenyum kepada para pelanggan walau kaki sudah capai tak kepalang berdiri di depan kedai, seperti bunga mawar yang keharumannya tak dapat diukur dari jumlah kelopak, seperti air sumur yang tiba-tiba terasa hangat bila diguyur ke badan yang kuyup karena kehujanan… seperti lengkung senyum seorang lelaki yang sedang gundah.
Hmm, aku akan pulang, istriku. Bersabarlah.
SAMPAI kapan aku harus bersabar di sini? Jangan-jangan kabar yang membuat telingaku berdenyar-denyar, benar adanya!
Perempuan itu menggerutu. Ia kirimkan sebuah pesan singkat. Ia tak ingin tampak marah. Ia merangkai kalimat semesra mungkin. Ia bertanya dari hal-hal yang ringan. Di mana, sedang apa, sampai ke inti kegundahan: kapan pulang? Tiba-tiba ia merasa lelah sendiri. Ia berjalan menuju meja rias di sudut kamar. Ia raba wajahnya. Sungguh ia merasa masih cantik. Memang, banyak perempuan yang lebih cantik darinya, tapi ia pikir suaminya tak akan berselingkuh hanya untuk alasan yang terlalu ingusan: seks. Pandangannya beralih ke sebuah foto di sisi me ja. Foto pernikahan. Ia bagai tersadar. Sudah enam tahun berumah tangga. Hingga kini Tuhan belum mengaruniai mereka, oh tidak, lebih tepatnya, belum mengaruniainya keturunan. Ia meremas-remas rambut. Ia ingin menangis tapi tak bisa. Dadanya sesak. Ia beranjak ke spring bed dengan langkah gontai. Ia membenamkan wajahnya di antara bantal-bantal yang kini terasa sangat dingin. Jangan-jangan… jangan-jangan benar kabar itu? Suamiku ke Valley Road. Suamiku benar-benar berselingkuh. Benar-benar menikah lagi. Menikah lagi demi keturunan. Oh, mengapa ia tak bilang saja kalau sudah tak sabar punya momongan. Bukankah kita bisa mengadopsi anak, atau… oh, aku bukan tak mau dimadu, aku hanya tak rela bila perhatian dan kasih sayangnya tiba-tiba harus tercurah berat sebelah. Aku tak rela! Ia menuju dapur. Mengambil sesuatu. Lalu ke kamar mandi. Mengunci pintunya rapat-rapat. Terdengar kran dihidupkan. Desis air yang tiba-tiba deras. Debur air yang ribut seperti orang marah sedang mandi. Lalu hening. Sangat hening. Sampai terdengar pintu depan diketuk. Makin lama makin keras, makin serampangan, menyelingi teriakan seorang lelaki:
Honey, I’m coming! Sudah rindu sekali aku kepadamu!
SUDAH rindu sekali perempuan itu kepada suaminya. Ia pikir ia harus segera menuntaskan perasaan itu. (O o, rindu memang sinar kehidupan. Ketika muncul, hanya cahayanya yang tampak.). Pun saat ini, perasaan yang berkecipak dalam dadanya menegaskan bahwa rindu bisa membuatnya silau, gila, bahkan mati seketika. Ia membuka lemari. Mengambil kardigan dan rok sebatas lutut. Mengenakannya. Setelah berdandan sekenanya, ia mengambil kunci mobil di laci meja rias. Ia gegas keluar kamar. Membuka garasi. Mengeluarkan BMW metalik. Setelah memastikan apartemennya telah terkunci, ia lajukan mobil meninggalkan Valley Road dengan kecepatan tinggi. Ia tak sabar lagi menemui suaminya. Aku tahu kau pasti di sana, Sayang? Sebenarnya ia tak ingin menunjukkan: aku tahu bahwa aku dinikahi seorang lelaki beristri! Ya, ia tak bermaksud membuat laki-laki itu terpojok di hadapan perempuan itu. Ia hanya ingin perempuan itu tahu bahwa suaminya sudah memilih seorang gadis yang siap menghadiahinya seorang putra. Atau… bahkan nanti dapat saja ia menempatkan suaminya dalam keadaan terjepit yang sudah lama ditunggunya: Nah, sekarang, pilih aku atau istri tuamu!
Ia sangat masyuk membayangkan apa-apa yang mungkin ia lakukan di tempat tujuan, hingga ia menerobos saja lampu merah yang baru saja menyala di perempatan Orchard Road. Hampir saja sebuah truk kontainer menabrak mobilnya. Ia melepas lenguh, lega. Terbayang olehnya, bila ia telat memutar setir, orang-orang akan berkerumun mengangkat mayatnya di jalan raya Negeri Singa Putih itu.
ORANG-ORANG berkerumun di sebuah rumah mungil di Leoni Hill. Mereka mendapati seorang lelaki meraung di sebuah kamar mandi; bak air yang melimpah, sebilah pisau tergeletak di lantai. Laki-laki itu memangku perempuan yang bersimbah darah. Di antara kerumunan, menyeruak seorang perempuan muda. Cantik. Memakai kardigan dan rok sebatas lutut. Ia mendekati laki-laki itu. Dan laki-laki itu terkesiap. Perempuan itu menepuk lembut bahunya seolah memintanya tak usah menampakkan keterkejutan. Lalu perempuan itu meminta tolong kepada orang-orang yang berkerumun untuk membawa mayat di pangkuan suaminya ke ambal yang terbentang dekat ruang tengah. Orang-orang sedikit tergeragap. Mereka tak mengenal perempuan itu. Mungkinkah ia adik si mayat, atau adik suami si mayat, atau…. Mereka gegas menuju kamar mandi. Laki-laki di sana menatap lindap mayat istrinya yang baru digotong ke atas ambal, lalu beralih menatap perempuan yang tadi menghampirinya. Perempuan itu tersenyum sepat. Ia minta maaf atas semua yang telah terjadi. Ia katakan—bagai mengakui, bahwa ialah yang menyebabkan semua ini. Entah, bagaimana, seolah lupa pada semua rencana yang telah ia susun, perempuan itu mengatakan:
Sayang, ini memang bukan saat yang tepat untuk meluapkan rindu, namun aku tahu, dalam waktu singkat kehadiranku akan membuatmu membisu. Tapi jangan khawatir, aku sudah lama tahu perihal istrimu, istrimu yang mandul, istrimu yang baru saja membunuh kekurangannya dengan menyayat nadinya. Aku pulang dulu, ya. Aku tunggu kau di Fettion Hall. Ya, aku sudah tidak tinggal di Valley Road lagi terhitung lusa. Aku tak ingin merepotkanmu dengan tagihan dari apartment center saban tanggal 11 tiap bulan. O ya, di apartemen baruku, aku tinggal di lantai tiga. Segeralah kunjungi aku setelah urusanmu di sini beres. Mungkin kita bisa membicarakan banyak hal. Hmm, maksudmu membicarakan satu hal yang sangat penting. Tentang pernikahan kita yang masih hangat. Tentang hal yang harus disegerakan. Perceraian!
Laki-laki itu terkesiap; matanya membelalak, mulutnya menganga. Suara orang-orang di ruang tengah masih bergeremengan. Perempuan muda itu meninggalkan rumah duka. Orang-orang di beranda masih menyimpan tanya tentang si perempuan misterius. Perempuan itu menyalakan mobil. Tiba-tiba ia takut sendiri. Takut dirinya mandul. Takut diselingkuhi. Takut ditinggalkan. Takut bunuh diri. Airmatanya tumpah.
Ia menambah kecepatan bagai hendak meninggalkan Singapura.
Ia tak tahu hendak ke mana…. (*)
Benny Arnas lahir dan tinggal di Lubuklinggau. Bergiat di Forum Lingkar Pena di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Kumpulan cerpennya adalah Meminang Fatimah (2009), dan Bulan Celurit Api (2010).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Benny Arnas
[2] Pernah tersiar di suart kabar “Koran Tempo” pada 6 Maret 2011