Semut-Semut di Kepala Aluna

Karya . Dikliping tanggal 15 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Suara NTB

Aluna menyapu-nyapu semut di atas meja dengan tisu. Ia tak habis pikir. Pelayan mengantar segelas besar jus alpukat lima menit yang lalu dan semut-semut itu sudah trengginas berkeliaran di atas mejanya.

PAGI itu ia memutuskan untuk bersantai di sebuah kafe. Kafe yang terletak di lantai paling atas sebuah mall. Ia duduk di pojok ruangan, di dekat jendela besar yang menghadap ke arah perumahan yang padat. Dari jendela besar itu ia bisa menikmati hamparan langit yang membentang seperti lukisan. Dari tempat duduknya, perumahan yang berdesakan di bawah seolah mengajaknya untuk meninggalkan segala rupa kesedihan, kepadatan, dan juga kesepian. Dinding dan genting-genting terlihat lusuh kaku. Mobil-mobil yang melintas di jalanan nun jauh di bawah sana pun tak terdengar kebisingannya. Dengan alunan musik kafe yang halus dan lirih, sempurnalah tempat itu sebagai pelarian. Ia ingin bersantai dan meletakkan semua kesedihan. Namun semut-semut itu menyita perhatiannya. Ia baru duduk beberapa saat ketika semut-semut itu menjelajah ke mejanya. Ia tak tahu dari mana semut itu datang. Jumlahnya tak banyak, barangkali tak lebih dari dua puluh, namun makhluk itu kelayapan ke sana ke mari di atas meja.

Ia yakin semut-semut itu tidak datang untuk mengerubuti jus alpukat yang ia pesan. Mereka jenis semut lembut dengan kaki panjang, semut-semut pemakan kue, jelas mereka tak menginginkan jus alpukat dingin di gelasnya. Mereka, semut-semut itu, berjalan mengelilingi meja. Lalu apa yang mereka cari?

Semut-semut itu berkeliaran menuju arah sembarang seolah kehilangan radar. Ia tahu, makhluk kecil itu memiliki sensor terhadap gula dan makanan, sedang di mejanya, tak secuil makananpun bakal mereka temukan. Ia memang hanya memesan jus alpukat dan tidak tertarik untuk memesan makanan. Ia menerapkan prinsip memakan sayur dan buah. Ia harus mematuhinya karena pola makan sembarangan membuatnya ngeri ketika melihat wajah dan tubuhnya sendiri saat bercermin. Ia tidak akan memesan makanan apapun karena kafe itu -sebagaimana kafe-kafe yang lain- hanya menyediakan makanan dengan kolesterol dan lemak jenuh tinggi. Ia tak akan memesan makanan. Jadi, untuk apa semut-semut itu mendatangi mejanya? Sensor apa yang membuatnya berjalan di atas mejanya?

Ia hampir menyerah ketika melihat semut-semut itu tak berkurang meski berkali-kali ia mengibaskannya. Mereka berjalan-jalan ke segala penjuru, dan ia terus menyapu-nyapunya dengan tisu.

Ia tak ingin membunuh semut-semut itu. Ia ingat cerita ayah tentang seorang panglima perang yang dibantu oleh kawanan semut sebelum mereka maju berperang. Semut-semut itu membantu mengumpulkan biji-biji jewawut yang tersebar di padang rumput, Aluna. Bayangkan, kalau saja tak ada kawanan semut itu, maka prajurit-prajurit itu akan kelaparan. Tak ada manusia yang memenangkan perang dalam keadaan lapar. Kisah itu selalu diceritakan ayahnya sebelum tidur, membuatnya bergidik ngeri membayangkan jumlah semut yang membantu mengumpulkan tujuh karung jewawut yang tersebar di padang rumput yang luas sebelum matahari tenggelam.

Baca juga:  Pendaki Bukit Nyanyian

Aluna memang harus berterima kasih pada semut. Ayahnya pernah diselamatkan oleh semut-semut hutan. Paman Deni, adik ayah yang seorang pelaut, memberikan semut-semut jepang pada ibu untuk pengobatan ayah. Itu langsung kubawakan dari hutan, kata Paman Beni, sangat ampuh untuk mengobati penyakit gula.

Bertahun-tahun gula darah ayah tinggi. Dua tahun terakhir ayah hanya bisa duduk di kursi roda dan tak melakukan apapun selain mengomel dan meracau sepanjang hari. Mengapa kau biarkan sampah dan kotoran menggunung di dekatku, Layla? teriaknya pada ibu. Mengapa meja makan selalu berantakan? Mengapa kau tak juga mengerti, Aluna? Bergeraklah lebih cepat, Aluna! Semua itu membuat Aluna dan ibunya lelah. Lelaki itu tiba-tiba menjadi diktator ulung yang kemauannya harus dipenuhi dengan cepat. Padahal sebelumnya ayah adalah seorang yang ramah dan ceria. Ayah pula yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bercerita bersamanya, sementara ibu akan lebih banyak sibuk dengan pekerjaan rumah.

Mereka berdua, ia dan ibu, harus berterima kasih pada semut-semut itu. Semut-semut itu mengurangi penderitaan ayah di kursi roda selama beberapa bulan. Sebelumnya kaki ayah tak mampu menopang berat badannya yang terlalu besar. Ayah harus menggunakan kursi roda. Dua bulan menelan semut-semut itu, ayah kembali bisa berjalan meski hanya di sekitar rumah dan sesekali mengelilingi perumahan. Aluna selalu menemaninya setiap pagi. Semut-semut itu telah mengembalikan kaki ayah.

Ibu menyimpan semut-semut itu di toples kaca. Semut-semut hitam pekat itu terus bergerak dan saling berhimpitan. Ibu memberinya garam batu. Semut-semut itu berebut memakannya. Garam batu itu pelan-pelan terkikis dan benar-benar habis sekitar tiga bulan. Ibu mengambilnya, dua-tiga ekor semut setiap hari, memasukkannya ke dalam kapsul dan memberikannya pada ayah. Semut-semut itu tak boleh mati, kata Paman Deni, Semut-semut itu harus hidup dan memakan gula dalam tubuh. Ayah menelan kapsul-kapsul itu sebelum tidur dan sebelum makan. Dan benar saja, semut-semut hitam pekat itulah yang membuat ayah kembali sehat.

Ayah kembali ceria. Ayah kembali bercerita tentang panglima perang yang memenangkan perang karena pertolongan sekawanan semut yang mengumpulkan tujuh karung jewawut sebelum matahari tenggelam. Mereka bisa mengalahkan raja yang bengis dengan bantuan semut, Aluna. Sikap ayah kembali manis. Ayah tak lagi membentak-bentak ibu, tak lagi memakinya dengan kasar. Dan Aluna membalas cerita ayah dengan cerita tentang semut yang memasuki dirinya dan membuat sarang di tubuhnya, layaknya semut-semut yang telah menyembuhkan kaki ayah.

Baca juga:  Serimpi Sangopati

Aluna bercerita tentang Paman Deni yang juga telah memasukkan semut-semut ke dalam dirinya, dalam perutnya yang lama kelamaan membuncit. Ia membayangkan perutnya kini dipenuhi semut. Ia ingin semut-semut itu terus tumbuh seperti halnya semut-semut di dalam toples. Mendengar cerita itu, ibunya menangis. Ayahnya berang. Ayah membuang toples semut ke sungai seberang rumah yang airnya kecoklatan. Toples semut itu berlayar di atas sungai seperti halnya Paman Deni. Lelaki pembawa semut itu sedang berlayar ke Eropa dan tak tahu menahu tentang semut-semut yang tumbuh cepat di dalam tubuh Aluna.

Kesehatan ayah kembali memburuk sementara semut yang ada dalam tubuh Aluna semakin membesar. Ayah membiarkan dirinya kembali ke kursi roda dan menjatuhkan dirinya dengan keras hingga mengenai pinggiran kamar mandi dan tak bisa bangun lagi. Dokter menyalahkan semut-semut itu. Semut-semut hutan itu hidup di dalam tubuh ayah. Semut itu tak hanya memakan gula dalam darah ayah, tetapi juga memakan dan menggerogoti ginjalnya, membuatnya kesakitan sepanjang hari-hari terakhirnya. Ayah meninggal di hari kelima perawatan di ICU.

Aluna menangis, baginya itu kepergian yang mendadak. Ibu menangis lebih keras lagi. Berkali-kali ibu pingsan, menyalahkan Paman Deni yang membawakan semut itu untuk ayah, dan juga semut yang telah bersarang di tubuh Aluna. Sejak itu ibu dan Aluna lebih banyak diam. Ibu menyalahkan dirinya sendiri yang meracik dan memasukkan semut-semut itu ke dalam kapsul, dan memberikannya pada ayah setiap malam, sementara Aluna menyesal telah membiarkan Paman Deni memasukkan sarang-sarang semut ke dalam tubuhnya dan membuat ayahnya sedih. Ibu menyusul ayah sebulan setelah hari itu. Kini Aluna tinggal seorang diri.

Di bulan keenam kematian ayahnya, Aluna mengunjungi makam. Ibu dan ayahnya dimakamkan berdampingan. Ia membawa serta toples besar berisi semut ke makam ayahnya. Suatu malam yang tenang, ia melahirkan bayi merah dengan bantuan seorang bidan. Ia kecewa, karena bayi itu bukan semut sebagaimana yang ia bayangkan, sebagaimana yang telah dikatakan Paman Deni kepadanya. Ia kecewa. Ia membawa pulang bayinya dengan gontai.

Di rumah, ia memasukkan bayi itu ke dalam toples besar, dan berharap bayi itu berubah menjadi semut. Benar saja, semut-semut kecil berbondong-bondong begitu saja ke arah toples mengerubuti si bayi. Ia gembira. Pagi-pagi, ia segera membawa toples besar berisi bayi  dan semut-semut itu ke pemakaman untuk berbicara dengan ayahnya. Aluna masih berharap ayah kembali menceritakan pasukan semut pengumpul biji-biji jewawut yang telah menyelamatkan sekelompok prajurit dari kelaparan sebelum berperang.

Baca juga:  Ceruk Kesedihan ( Siti Zubaidah ) - Hampa - Ratap ibu yang terlampau dirahasiakan - Kesedihan Purba—

Sejak ayah meninggal, setiap hari Aluna berdiri di tepi sungai di seberang rumahnya, melihat ke arah sungai kecoklatan yang arusnya tak juga lancar. Sungai yang lebih banyak membuat banjir daripada mengalirkan air. Berkali-kali ia mencari ke mana kiranya toples semut itu berlayar. Ia ingin kembali menimang toples berisi semut dan mendengar kembali cerita tentang tentara semut yang mengumpulkan tujuh karung jewawut.

Hari itu, toplesnya kembali dipenuhi semut-semut. Ia meletakkan begitu saja toples besarnya di makam ayah dan ibu. Tapi tak ada ayah, tak ada ibu, tak ada lagi kisah-kisah tentang semut. Kini Aluna yakin ayah telah benar-benar marah dan tak ingin kembali. Ia pulang sambil bersenandung lagu Semut-semut Kecil yang diajarkan ayah padanya. Sebuah lagu di masa kanak-kanaknya yang ceria, sebelum ayah sakit dan menjadi pemarah. Ia ingin melupakan kemarahan ayahnya. Melupakan semut-semut itu. Ditinggalkannya toples semut itu di dekat makam ayah ibunya.

Ia berjalan ke kafe dan duduk di sudut ruangan, di dekat sebuah jendela besar yang menghadap ke jalan. Dulu ayah sering mengajaknya ke tempat itu. Ia memesan segelas jus alpukat dingin sambil melihat ke arah jendela besar di sebelahnya. Di luar sana, atap-atap rumah mengecil seperti semut. Mobil-mobil berlalu lalang sepi seperti barisan semut. Manusia yang berjubel di jalanan seperti rentetan semut.

Semut datang dan pergi dari hidupnya. Dan semut-semut di atas mejanya masih juga bergerak ke sana ke mari, membuatnya tak bisa duduk tenang. Ia mengibaskan tisu, mengusir semut-semut dari mejanya. Dari mana datangnya semut? Ia terus menerus bertanya pada dirinya sendiri. Rupanya semut itu sudah memenuhi kepalanya. (*)

Karisma Fahmi Y lahir di Kota Pare, Kediri. Buku cerpennya berjudul Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian.


[1] Disalin dari karya Karisma Fahmi Y
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara NTB” edisi Sabtu, 13 Oktober 2018