Sendiri di Jalan Braga

Karya . Dikliping tanggal 13 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

AKU ingat kentang crispy panas-panas. Juga segelas teh dengan uap melayang-layang di udara. Aku ingat meja bulat yang terbuat dari potongan drum di taman sudut—terdapat dua kursi tanpa sandaran di sisi kiri dan kanannya. Aku hanya akan duduk di sana bila hujan turun. Terlebih jika hujannya cukup deras.  Aku suka percikan hujan mengenai kulitku. Rasa lembutnya, rasa tenangnya. Dari kecil aku tidak pernah boleh mandi hujan. Dari kecil tubuhku lemah sekali dan semua orang terlampau mengkhawatirkanku.

DAN di jalan ini, hujan baru saja turun—tentunya aku berada begitu jauh dari taman sudut yang kusukai itu, taman dengan tumbuhan rambat yang menjuntai dari kanopi bening tembus cahaya. Di sini, aku terpaksa berjalan tergesa, memasuki Jalan Braga. Sebulan lalu, aku baru saja merasa sembuh dari pilek berkepanjangan. Jangan sakit lagi, katamu tiap aku mengaku sudah sembuh. Seingatku, aku selalu kena pilek kalau terkena air hujan, maka aku dengan mudah akan sakit lagi. Kau bilang, hentikan kesukaanmu keluyuran menyusuri ruas-ruas jalan, terlebih di musim hujan.
Padahal aku suka hujan.
Kau bukan suka hujan, kau hanya senang membuat dirimu jatuh sakit.
Aku menatapmu keras, setengah tersinggung, seolah kau menuduhku sengaja melakukannya untuk membuatmu mengkhawatirkan aku. Seolah dengan cara itu kau terpaksa  mengunjungiku dan aku bisa melihat sepasang mata hitammu yang tak pernah benar-benar bisa kutebak apa isinya.
Baiklah, kau suka hujan, katamu cepat, lalu mengacak rambutku dengan jemari tangan kananmu. Rasanya hangat dan tetap hangat sampai beberapa detik setelahnya. Dan aku memintamu mengacak rambutku sekali lagi, tapi rasanya sudah berbeda. Barangkali karena aku memintanya. Ada hal-hal yang tidak boleh kau minta di dunia ini, kata ibuku saat aku baru tumbuh remaja. Kenapa? tanyaku. Kalau diminta justru kau tidak akan merasakan meskipun kau mendapatkannya. Apa yang tidak boleh diminta itu? Cinta. Apa cinta? Ibu mengambil tanganku dan meletakkannya di dadanya.
Seketika kakiku tidak bisa melangkah dan bahu kurusku terguncang-guncang. Seseorang menghampiriku—kemungkinan besar tukang parkir—dan bertanya, Anda baik-baik saja? Aku mengangguk, berharap ia segera meninggalkanku. Aku sedang tidak ingin menjelaskan keadaanku kepada orang lain. Terlebih kepada orang asing. Orang itu pergi. Aku mencoba berjalan lagi sambil menyesali kenapa aku harus sedemikian sentimentil. Sungguh memalukan. Sungguh tidak tepat waktu.
Semakin masuk ke  Jalan Braga, aku merasakan suasana yang temaram, kontras dengan suara musik dari beberapa kafe yang mulai ramai pengunjung. Aku terus berjalan di bawah atap-atap bangunan yang meneduhi trotoar. Percikan hujan mengenai badanku dan aku pasti saja akan terserang pilek lagi dalam waktu cepat—atau bahkan lebih buruk dari itu.  Aku berpikir untuk masuk ke dalam salah satu kafe, duduk di bawah lampu warna oranye, memesan sebotol bir dingin. Aku belum pernah melakukannya seorang diri. Apa rasanya? Hanya orang yang sedang patah hati yang menganggap minum bir sendirian itu menyenangkan, katamu dalam salah satu pesan pendek yang kaukirim, sudah lama sekali. Semua pesan pendekmu sudah kumasukkan dalam folder khusus dan kulupakan tak lama setelah kau mengaku telah menemukan seseorang yang kausukai.
Jangan menyukai orang lain, ujarku susah payah waktu itu.
Kau malah tertawa dan menepuk-nepuk lembut bahuku.
Malam harinya Ibu mendapatiku tenggelam dalam selimut tebal yang membuatku sesak napas, badanku membiru, dan aku segera dilarikan ke rumah sakit. Kau menjenguk keesokan harinya dan menyebut kata ‘bodoh’ sampai beberapa kali.
Kau berhenti menyukai perempuan itu—siapa namanya? tanyaku dan kau menghindar dengan membicarakan hal lain. Aku tahu, kau sangat suka perempuan itu dan memaksakan diri melupakannya. Semua kau lakukan karena aku. Kau tidak mau aku benar-benar sakit dan mati. Namun, kau juga tidak dapat meyembunyikan rasa kesalmu. Kau putuskan tidak menemuiku sekian lama. Kau menjauh. Sampai kau memberikan kejutan di hari ulang tahunku. Kau datang setelah teman-temanku bubar dan meninggalkan kekacauan di rumah. Kau berdiri di pintu dan baru masuk setelah aku menarik tanganmu. Seperti biasa, kau tak memberiku hadiah apa-apa—dan kelak aku tahu kalau itu sengaja kau lakukan agar aku tak memenuhi kepalaku dengan bayangan-bayangan palsu tentangmu.
**

AKU batuk. Aku kepayahan bernapas.

“Kau perlu obat,” katamu.
Aku terkekeh singkat, “Ya, aku akan beli obat jenis baru. Obat yang lebih ampuh.”
Kau bercerita kalau adikmu yang bekerja di apotek memberi tahu tentang obat yang bisa menyembuhkan pilek menahun. Kau memintaku mencari obat itu sambil membesarkan harapanku kalau aku bisa segera sembuh untuk selamanya.
“Tapi sekarang kau juga batuk,” katamu.
“Ya,” kataku. Aku sibuk dengan bersin-bersinku.
Aku memandangi hujan, lalu beralih ke ujung rok-ku yang sudah basah.
“Sebaiknya kau pulang. Kau butuh tempat yang hangat”
Aku berdeham sambil memandangi rok tiga perempat yang kupakai. Rok itu kubeli untuk menghadiahi diriku sendiri di ulang tahunku ke-27. Pola polkadot—perpaduan warna dasar hijau dan bulatan-bulatan putih sebesar kelereng. Kau  manis dengan rok itu, katamu saat aku menelepon sepulang dari toko. Aku tertawa. Bagaimana kautahu? pikirku. Aku bisa melihatmu, katamu lagi seolah-olah kau benar-benar begitu dekat denganku dan bahkan bisa membaca apa-apa yang ada dalam kepalaku. Kita berdua tertawa bersama. Lalu aku mulai disibukkan dengan hidungku yang tersumbat, membuatku sulit bernapas. Kau perlu pergi ke dokter sekarang juga, suaramu mirip anak kecil yang cemas ditinggal mati ibunya. Kembali aku tertawa untuk menunjukkan kalau semua baik-baik saja. Aku tidak mungkin mati dengan mudah, ujarku.
Dan aku percaya tentang itu. Aku sudah beberapa kali berada amat dekat dengan kematian. Aku pernah terjebak kerusuhan sembilan delapan di ibu kota—saat itu aku berumur tiga belas tahun dan disuruh belanja oleh ibuku ke toko milik orang Tionghoa, tidak jauh dari rumah. Aku pernah hampir naik pesawat yang hilang dan tidak pernah ditemukan, beberapa tahun lalu. Aku juga pernah naik bus yang masuk ke dalam jurang dan aku salah satu dari lima orang yang selamat. Maka tak ada alasan bagiku untuk cemas hanya karena aku tidak pernah sembuh lagi dari sakit pilek.
“Masih hujan?” tanyamu.
“Masih.”
“Kau pasti kedinginan. Jangan sampai kau benar-benar sakit.”
“Aku bisa jaga diri.”
Aku mendongak ke langit. Warnanya abu-abu. Dari langit itu air hujan berasal. Dari warna yang abu-abu itu. Warna murung yang cenderung menyeret perasaan jadi buruk. Namun, saat jatuh sebagai hujan, segalanya menjadi berubah. Hujan menjadi teman paling hangat. Paling membuat tenang. Titik-titiknya di atas atap juga menghibur.
“Aku tidak suka warna langit yang abu-abu,” kataku sambil menahan batuk. Sialnya, batukku agak panjang.
“Kau benar-benar harus ke dokter,” katamu.
“Langit abu-abu…”
“Aku sedang membicarakan kalau kau harus ke dokter.”
“Aku ingin bicara tentang langit abu-abu.”
“Tapi kau batuk parah. Kau sungguh perlu ke dokter.”
“Mungkin adikmu juga punya obat batuk yang ampuh dan aku tidak perlu ke dokter. Tentang langit itu….”
“Aku tak ingin lagi membahasnya.”
Aku memaksa tertawa. Dan batuk lagi. Dan hujan masih menderau. “Apa kau mencintaiku?” tanyaku begitu saja.
“Sudah berapa kali kau menanyakannya?”
“Sering, tentu.”
“Jawabanku tetap sama.”
“Ayolah, aku perlu mendengarnya.” Aku kembali batuk-batuk.
“Aku tidak bisa mencintaimu,” katamu.
“Karena aku pilek berkepanjangan, lalu sekarang batuk, kau tak bisa mencintaiku?”
“Jangan mengada-ada. Sama sekali tidak ada hubungannya. Kau tahu sekali itu.”
“Kau tidak pernah mau bilang kalau kau mencintaiku.”
“Aku mencintaimu karena kau temanku.”
“Bagaimana kalau aku tidak percaya? Aku sakit-sakitan dan kau mengaku mencintaiku setelah kupaksa.” Aku kembali batuk.
“Kau harus segera pulang dan pergi ke dokter.”
“Jadi bagaimana?”
“Apanya?”
“Kau benar-benar tak bisa?”
“Tidak.”
“Baik. Sekarang aku membebaskanmu. Kau boleh menyukai orang lain.”
Aku mendengar kau mendesah.
“Kau tak mau bicara lagi denganku?” tanyaku.
Telepon dimatikan. Aku termangu panjang setelahnya. Kemudian merasa sangat kosong.
**
JALAN Braga bertambah ramai, tapi aku makin merasa kesepian. Hujan hanya sebentar saja dan sekarang menyisakan rintik-rintik halus. Aku mau duduk, tapi semua bangku semen di pinggir trotoar lembap. Aku juga ingin sekali berbincang denganmu seperti bulan lalu itu. Kau jarang mau mengangkat teleponku. Namun, kali itu, aku hanya memanggilmu satu kali dan kau langsung mengangkatnya. Apa karena kau sebenarnya merindukanku? Apa kau berani mengaku?
“Aku tidak tahan dengan keras kepalamu ini,” katamu satu kali.
“Seandainya aku tidak keras kepala apa kau akan mencintaiku?” tanyaku.
Kau mengacak rambutku. Aku tahu kau memang tidak pernah jatuh cinta kepadaku sebagaimana kau menyerahkan seluruh hatimu kepada perempuan itu—ah, sungguh, siapakah namanya? Aku terluka ketika kau merahasiakan nama itu. Tapi, kau bilang, “Kau juga akan terluka seandainya aku menyebutkan namanya.”
Kau benar.
Sekarang aku betul-betul tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain menyusuri Jalan Braga yang basah sambil memandangi lampu-lampu yang kebanyakan berwarna oranye dan terus ingin mengingat sekian percakapan lagi. Aku mungkin akan merasa pedih tiap sampai pada ingatan itu, tapi aku pasti bisa mengatasinya. Jadi, jangan pernah cemaskan aku saat kau berada jauh dan sedang  bersamanya—hari ini dan nanti. (*)
GP, 2016
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A. Ka
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu, 4 September 2016