Sendiri

Karya , . Dikliping tanggal 17 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Cerpen Terjemahan, Koran Kompas
SUARA aneh menggetar dari jauh. Mempertegas dirinya. Bukan kebahagiaan. Suara-suara yang datang dalam gelombang tertanam pada beton-beton kota. Sebuah suara di ujung benang. Tergantung. Misterius, ucapnya. Kau bisa menjaga rahasia itu tanpa kata-kata. Dia menunggu kau. Aku tak bisa bicara padamu. Aku lebih suka kau ingat saja. Misteri, hidupmu. Misteri, itulah hidupmu. Suara yang mengucapkan semua. Suara yang tak mengatakan apa-apa. Antara kesunyian datang pergi. Suara mengabarkan salah satu kebahagiaan. Coba reka. Suara yang mengungkapkan pagi dipenggal cahaya. Menggemakan ketakpastian masa depan. Kau, berkata pada diri sendiri buat apa penantin itu? Buat apa jarak itu? Suara itu menggema dari jauh, datang mengada tanpa syarat apa-apa. Datang menyingkap rahasia. Untuk mengikat. Seperti setangkai bunga yang dicuri tengah hari dari percakapan di atas meja. Namun tak seorang pun bicara dan segalanya dibicarakan. Jangan baca di sana  gagasan-gagasan aneh atau sesuatu yang menyalahi kebiasaan. Itu juga tanda kehidupan, misteri, ada sesuatu untuk disingkap.
Sebuah suara bebas untuk mengikat makhluk hidup dan benda-benda. Istirah sekonyong-konyong membiarkan langkahnya pada saat paling pribadi, yang tertandai dalam ketetapan-ketetapan. Barangkali tak bisa disangkal dengan bernyanyi. Kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan jadi kemarahan tanpa buih-buih ombak. Muncul tanpa isyarat memutar di sudut senyum, di mulut pandang. Tapi di sana juga hanya sepotong kesedihan yang canggung tentang jalinan pikiran yang membentang. Jika orang menyintai perlu meninggalkan cinta. tak perlu memikirkan kendaraan yang mengantar seperti harum mawar dan merah hijau perasaan. Apakah ada getaran birahi membisikiku lewat suara lain. Aku akan menjawabnya untuk tak mengucapkan kata-kata buat melukiskan Kehidupan transenden karena kata-kata membentuk kran, menelungkupkan pandangan, pintu air pintu airnya. Tak ada yang menjelaskan.
Tak mungkin menyingkap perasaan tentang penyerbuan tentang kesempurnaan yang menetap yang tak terbit dari pakaian, tapi siapa yang mengerti makhluk hidup dalam keutuhannya. Pengertian yang terbit dari keterkejutan melambungkan kita, suara dan aku, aku dan suara melalui penguasaan. Penyingkapan dalam harapan, pada satu-satunya cara untuk menggarap dunia saat ini sekali lagi. Semua mungkin. Kesunyian menelannya jadi ketakwajaran menyeluruh, satu-satunya kesedihan dan keputusasaan terhadap kehidupan. 
Kuikuti langkahku di tengah malam, beku. Kucoba melarikan diri pada rumah tua dan taman Ratu. Pertama-tama kesunyian timah hitam dan panas mencair di udara. Lalu, orang yang masuk mulai memukul-mukul piano memainkan nada kacau. Aku tak behasil mengenali lagi musik, suara. Suara yang mendentingkan tuts tanpa irama seperti ketika dia menawarkan barang-barang. Suara itu datang lagi dalam kehampaan harmoni seperti ombak yang akhirnya hancur di atas karang pengertian dan ketenangan. Suara, tak mengucapkan bahwa akulah mataharinya dan kesempurnaannya. Aku berdamai denganmu suaraku dan aku tak lagi mempercayaimu. Aku tak percaya mataku besama kamu, pada kaki-kakimu dekat batu karangmu. Batu karang yang telah kau dorong itu adalah kehidupanmu yang menyebabkan kau senantiasa berduka dan senantiasa berbahagia. 
Suara itu tidak setia, terpecah dalam pantulan cahayanya. Setiap bekas memancar seperti ketajaman yang merayumu untuk pulang, agar berhati-hati. Setiap ujung menjadi salib yang tertanam dalam jiwa yang membangun kehidupan di antara suara-suara. Dia menguntitku ke mana-mana. Aku tak bisa mengenyahkannya. Setiap geraknya mengandung isyarat yang ramah karena aku ingin menerima, memahami bagaimana mencipta kembali dunia itu, dunia kita. Bukannya sama sekali sebuah langkah atau permainan perasaan tentang sebuah gagasan dan sebongkah sikap. Itulah keadaan tentang pengampunan yang tak pernah bisa ditemukan kembali pada usaha-usaha kesadaran. Diri tak menyala lagi, diletakkan dari sisi yang mudah terluka tanpa dipersiapkan baik-bik. Transenden? Ya, barangkali, jika perlu meletakkan pada sisi yang tepat untuk menggambarkan sebuah keadaan yang tak bisa digambarkan. Berhenti untuk bertindak lebih sederhana, lebih lengkap, lebih sempurna.
Hidup, perlu dinikmati dan jangan disia-siakan. Bertindak dengan cara penuh perasaan. Terutama jangan bertanggung jawab terhadap kelicikan. Suara tak lagi suara. Aku bersandar pada beberapa bantal, sendiri, untuk mencicipi bau lain dari suara yang tak pernah muncul… sarat rahasia. Tapi aku kenyang: sup keju, salad dan sayur mayur tercampur udara dan darah serta busa cokelat. Aku berjalan-jalan di bawah terang bulan. Udara jekut. Salju merengek-rengek di bawah kakiku. Gemerincing yang sukar ditangkap. Banyak sekali sindiran tanpa percikan kata-kata. Kuikuti langkahku. Wajah membeku mempertegas kehadiranku.
Suara, atau lebih tepat pantulan cahayanya mengikuti kesendirianku. Apakah ia mencoba berbicara? Peduli amat. Aku mendengar apakah isyarat itu sudah tersingkap: teman setiamu. Dia senantiasa punya kesempatan untuk dilindungi dari aura gaib yang tak terpahami. Ia berhasil berkelit dari bencana. Barangkali berkat pertolongan Tuhan dan orangtua. Malaikat yang mengikuti ke mana-mana mengawasi gerak-geriknya. Jika besok aku tak mengingatkanmu katakan padaku, o suara, kau akan mengingatkan aku ketika malam tiba. Malam itu kau pasti yakin bakal menemukan diriku. Aku tahu bahwa kau akan bahagia tapi jagalah rahasia ini. Ikutilah rahasia itu sampai di pembaringan. Ia akan membuatmu hangat kembali tapi juga akan melindungimu dari keterjagaan. Jiwa yang tegar mendobrak labirin yang semakin lama semakin menyesakkan. Pada ujung kenikmatan.
Kau bangun pagi-pagi, sebagai orang ketiga karena seseorang baru saja membuat aku teringat padamu. Kau singkap rahasia dan kau tak pernah menunggu. Barangkali terlupakan oleh nasib buruk. Tapi seseorang baru saja membuat aku teringat padamu. Kau singkap rahasia yang baru saja memahkotai hidup kita. Kita tak pernah tahu. Aku menanti akhir pekan untuk menemukan sebersit rahasia. Sepercik suara bisa menggema dan jauh bila aku sabar menunggu. Tapi perlu bersabar… Sepotong suara datang menebar hari-hari yang kelewat keruh. Aku menjaga dan barangkali dia bisa mengingat. Tapi dia telah mempertegas kelembutannya. Aku dengar suara yang membuat jantung berdegup tanpa bisa kusingkirkan. Aku menarik suara itu meski sudah menyatu dengan tubuhku. 
Dia sungguh sebuah rahasia yang sangat lembut, lunak, ramah. Tapi aku tak tahu dari mana dia datang dan bagaimana dia datang. Tiba-tiba dia mulai bicara tentang pelancongan yang dilakukan di rumah rahasia yang merentangkan layar di atas telapak tangan. Dia tak ingin melihat, juga memberi perincian masa datang tapi menceritakan pandangan kebersamaan intuisi, perasaan. Barangkali ia butuh berbicara atau merasa punya kepentingan untuk merangkai keheningan seperti diliputi tangkai-tangkai jagung! Bagaimanapun juga suara itu telah mengatakan padanya bahwa dia tak lagi gemetar terhadap kekasaran suaminya (yang lebih 10 tahun menceraikan dirinya), juga terhadap kekasih gelapnya yang setiap sat bikin kacau, juga sahabat baik yang baru dia kenal. ***
Nasrullah Ompu Baana, penerjemah. Judul asli: Seul. Diterjemahkan dari majalah Contreciel, Le Magazine de Lecture 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hedi Bouraoui yang diterjemahkan oleh Nasrullah Ompu Bana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 24 Oktober 1993