Senja di Pesisir Pantai – Bicabbi Pulau Madura – Lelaki Yang Memancing Tangisan

Karya . Dikliping tanggal 7 Juni 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Senja di Pesisir Pantai

Aku berteduh di bawah senyuman para nelayan yang tersimpan rapi di
dalam geladak sampan. Semua yang murung lekas emlipat kepenatan,
memesan keriangan yang dititipkan Tuhan kepada ikan-ikan.
Dan aku tahu siapa gerangan yang memandikan senja dengan air laut
itu, mengguyurkan di sela-sela tubuh dengan keringat beraroma kecut.
Senja kali ini mulai bersiap bersenggama dengan petang yang telah
berdandan. Senja menjadi pejantan, petang menjadi betina yang lekas
menggangi keperawanan
Di pesisir pantai, senja mulai merebahkan dirinya, melepas segala apa
saja yang dikenakan seperti layaknya nelayan yang melepas santapan
malam dan menyetubuhi nanti malam.
Senja mulai terkunci rapat, marilah lekas pulang, sayang Dan amri kita
menggenapkan kerinduan untuk esok hari lagi.
Blitar, 2015

Bicabbi Pulau Madura

kampung ini tumbuh dalam keramahan
yang selalu bermain-main di tepi lautan
rumah-rumah diciptakan dari ketulusan dan kesunyian
yang diciptakan oleh ikan-ikan kiriman dari Tuhan di tengah lautan
sedangkan perahu-perahu yang merapat di tepian
adalah hasil percakapan para pelaut dengan gelombang
untuk lekas ditaklukkan setiap malam
Blitar, 2015

Lelaki YangMemancing Tangisan

/1/
Di pantai yang menyimpan dongeng para pelaut, entah kau yang
keseringan berdialog dengan arus laut.
Kau bercakap ingin  melepas kepenata, membuang kenangan, serta
memancing tangisan yang masih tersisa di dalam kepalamu.
Lalu kau menyiapkan dayung dan sampan, melepas jangkar serta tak
lupa membawa umpan yang kauciptakan dari kerinduanmu yang masih 
kelayapan.
/2/
Sementara matahari telah lelah untuk berjalan di atas kepala, bersiap
untuk merebahkan dirinya di ranjang milik Sang Pengausa Alam
Semesta.
Lewat matahari yang telah bersembunyi, kau memulai perburuan air
mata di tengah lautan.
Sebentar lagi umpan-umpan akan mencipta kekosongan, dan akan
berpulang pada pemilik petang. Sedang kau masih sibuk dengan buih-
buih ombak yang sedang rewel meminta kecupan.
/3/
kepada lelaki yang emmancing tangisan dalam gelombang ombak yang 
sering kau jadikan kawan.
Lekaslah melepas segala yang pantas dilupakan, dan para ikan akan
berduyun-duyun memperkenalkan diri sebagai kesetiaan.
Yang akan selalu menemanimu di kala kesepian.
Blitar, 2015

Alfa Anisa, mahasiswa program Ilmu Komunikasi Universitas Islam Blitar, Blitar – Jawa Timur

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Alfa Anisa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” pada 7 Juni 2015
Beri Nilai-Bintang!