Sensei dan Aku

Karya . Dikliping tanggal 9 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

SENSEI[1] datang ke rumah kami di akhir musim semi. Dia mengaku sebagai ahli kaligrafi dan ayah menerima kedatangannya dengan ramah. Ayah mempersilakan Sensei menempati rumah bagian belakang, melewati lorong beberapa meter. Setelah itu sering kali aku menjenguknya untuk mengganti bunga di vas dan berbincang sebentar tentang apa saja.

Sensei berasal dari Ogigayatsu, Kamakura, dan dia ke Fukuoka untuk menenangkan diri. Dari yang kudengar, Sensei adalah penulis kaligrafi terkenal, tetapi karena kalah dengan seorang pemuda seumuranku pada satu perhelatan, dia memutuskan tetirah ke Fukuoka atas saran sahabatnya yang jadi agennya selama ini.

Obachan[2] bilang tak seharusnya anak gadis sepertiku terlalu akrab dengan bujang macam Sensei, tetapi aku tak mengindahkan perkataannya. Aku sudah tertarik pada Sensei waktu kali pertama kami jumpa; dia mengetuk pintu rumah dan kebetulan aku sedang ada di genkan [3]. Jadi yang pertama menjumpainya adalah diriku.

Roman Sensei halus dan tirus, pembawaannya tenang dan dia selalu berkata lembut. Kesan pertamaku bahwa dia orang baik langsung kentara. Aku tak habis pikir obachan melarangku terlalu dekat dengan Sensei. Bagiku tak masalah. Kami hanya bicara dan aku senang sekali punya kawan sebaik Sensei.

Sensei selalu bangun pagi, saat aku mengganti bunga di vas ruangannya, dia sudah bersiap menulis.

“Terima kasih, Ojosan [4]. Kau sempatkan datang hanya untuk mengganti bunga.”

“Sebenarnya aku juga ingin terus mengobrol denganmu, Sensei.”

“Kemarin aku menulis ini. Coba kau lihat.”

Sensei menulis tsubaki[5] pada kertas di depanku. Aku sangat senang. Kami seperti sepikiran. Bunga tsubaki adalah kesukaanku.

“Menurutku bagus, bagian huruf ini terkesan tegas dan Sensei sangat yakin menulisnya.”

“Begitu menurutmu?”

“Hm. Apa boleh untukku?”

“Kalau Ojosan suka, simpan saja.”

“Wah, terima kasih!”

Sensei dan AkuSensei senang duduk di depan jendela tepat matahari terbit sampai nanti siang hari. Kali pertama dia mengubah posisi meja kerjanya setelah lama berpikir di depan ruangan yang ditempatinya ini. Aku masih mengingatnya, dari belakang punggungnya aku amati sikapnya itu. Aku tak hendak bertanya, barangkali begitulah lelaku seniman.

Di awal dia datang, Sensei tak makan teratur karena kebiasaan berlama duduk ini. Jadi makan pagi pun aku mengantarkannya. Pun tatkala beranjak siang, Sensei enggan bergabung dengan anggota keluarga lain, akan tetapi setelah kupaksa, dia akhirnya mau. Jadi siang dan malam dia akan bergabung bersama aku, obachan, dan ayah.

Kalau ayah dan Sensei sedang mengobrol, aku ingin ikut tetapi ayah selalu melarang. Aku penasaran apa yang tengah mereka perbincangkan. Kali kedua pun ada tangan yang menggeretku masuk ke ruangan dalam. Obachan ternyata.

“Perempuan kecil sepertimu tak perlu ikut apa yang orang dewasa omongkan,” katanya.

Seharian aku cemberut karena perkataan obachan. Masih saja dia berpikir aku anak kecil padahal usiaku sudah delapan belas tahun.

Tapi kedongkolanku terbayar. Sesore itu aku memasang wajah ketus di sekitar ruangan Sensei, sampai dia sadar saat meletakkan kuas dan mengamatiku membersihkan barang-barangnya. Lalu kuutarakan segalanya. Sebab kenapa aku begini.

“Kita bisa mengobrol saat ayahmu sudah selesai berbincang denganku. Selalu begitu kan?”

“Tapi aku bukan anak kecil!”

“Ojosan, aku tak pernah menganggapmu anak kecil. Nenekmu terlalu sayang padamu sehingga omong seperti itu.”

“Ya, kalau dipikir sih begitu. Namun usiaku sudah delapan belas tahun.”

“Kau temanku, aku senang bisa datang ke sini dan bertemu denganmu, Ojosan. Kita bisa berbincang kapan pun seusai ayahmu dan aku. Selalu begitu kan?”

Mendengar jawaban yang diulangnya ini, aku jadi malu sendiri. Aku cuma mengangguk. Membuang air di vas shigaraki di atas meja kerjanya dan menggantinya dengan yang baru. Kuletakkan beberapa bunga seperti lavender dan sumire.

“Ojosan suka merangkai bunga?”

“Tapi tidak sehebat almarhumah ibuku.”

“Oh, aku tak begitu tahu seni macam itu.”

“Begitu pun aku. Saat Sensei memperlihatkan tulisan-tulisan Sensei yang rumit, aku tak mengerti betul. Menurutku, semua bagus.”

“Kurasa tulisanku ada yang kurang. Aku terlalu kaku dan tetap berada dalam pakem selama ini. Aku harus menemukan gaya sendiri dan memulainya sungguh sulit.”

“Terdengar sukar, tapi aku akan menyemangati Sensei.”

Dari hari ke hari aku senang Sensei menerimaku dan tak pernah merasa terganggu meski aku muncul di waktu-waktu sembarang. Kadang mengganti bunga di pagi atau siang hari, lalu muncul di sore hari dan mengganggunya yang sibuk menulis, atau aku tiba-tiba mengetuk kaca jendelanya dan tersenyum. Semua itu merekatkan kami dan Sensei tak pernah sekali pun marah. Dia tenang dan selalu menerima diriku sebagai kawan mengobrol.

“Ibu Ojosan pasti sesemangat dirimu.”

“Ibu selalu memarahiku. Waktu kecil aku tak bisa diam di rumah.”

“Tapi sekarang sudah tak banyak tingkah?”

Pertanyaan Sensei membuat mukaku merah. Aku menyembunyikan wajahku di balik lengan.

“Aku sudah berubah. Aku sudah dewasa, Sensei!”

Sensei tertawa.

“Maafkan aku.”

Aku mengajak Sensei ikut mendoakan ibuku di butsuma [6].

“Eh, apa tidak masalah? Aku orang luar.”

“Sensei bicara apa, sudah beberapa minggu ada di sini kan. Ibu pasti senang Sensei ikut berdoa bersamaku.”

Aku tahu mata selidik obachan mengawasi kami berdua. Biar pun dimarahi nantinya, aku tetap menggeret Sensei dan kami khusyuk berdoa.

Di lorong tengah aku menyaksikan ayah yang sedang dinasihati obachan di taman. Setidaknya kata-kata yang kudengar adalah: kau tak seharusnya membiarkan putrimu. Yang lainnya tak begitu jelas, aku sembunyi di antara pilar kayu dan tak ingin mendekat. Kupikir obachan marahnya keterlaluan.

Malamnya saat sendirian bersama ayah di taman dekat lentera batu, aku menanyakan hal yang kudengar.

“Kau menguping pembicaraan orang tua ya?”

Aku gelagapan. “Tak sengaja kudengar.”

“Bagi ayah tak masalah kau bergaul dengan Sensei. Asal jangan sampai membuat obachan khawatir. Kau harus tahu waktu.”

“Aku mengerti, ayah. Maafkan aku.”

Setelah mandi dan salin, aku memikirkan ucapan ayahku sepanjang malam. Bulan terang benderang di atas jendela dan benakku mengambang jauh di hari-hari lalu.

Tapi aku melupakan segala yang diucapkan ayah keesokan harinya. Aku mengunjungi Sensei seperti sedia kala, menyiapkan makanan, dan bertanya ini-itu seperti sebelum-sebelumnya. Sensei pun tak keberatan. Aneh saja menghindari orang sebaik Sensei karena obachan tak begitu setuju anak gadis sepertiku dekat dengannya. Aku tak melihat alasan yang genting dari itu semua. Aku menyukai Sensei dan dia pun senang padaku, lantas apa yang perlu dikhawatirkan?

Kupikir hari ini memasang lonceng angin di luar ruangan Sensei akan membuatnya senang. Saat menemani obachan belanja, aku seketika membeli lonceng itu di toko kecil Migi bagian luar kuil yang nantinya digunakan untuk festival malam hari. Dia meledekku karena membeli dua lonceng. Untuk Sensei, tanyanya. Kujawab ya. Jadi sepanjang pulang mukaku berseri-seri sementara obachan cemberut. Aku tak mengindahkan hal ini. Tak sabar aku perlihatkan lonceng yang kubeli kepada Sensei.

Setelah menyiapkan makan siang, aku menuju ruangan Sensei.

“Sensei boleh aku masuk?”

“Ya, silakan.”

“Sensei, aku letakkan furin [7] di depan jendelamu ya?”

“Itu tinggi. Apa kamu bisa. Sini biar aku.”

“Ini.”

Sensei memasang furin pemberianku dengan tepat. Di atas jendela yang menghadap meja kerjanya.

Dan pada malam musim panas kali itu, aku mengajak Sensei ke festival. Sudah kusiapkan yukata sewarna merahnya tsubaki dan aku telah lama merencanakan ini: setelah aku bertemu dengannya di genkan sebulan lalu. Aku sudah membayangkan diriku dan Sensei berjalan di tengah kemeriahan festival.

Jika obachan tahu tentu dia marah, tapi aku merengek di depan ayah dan dia pun membolehkan aku mengajak Sensei. Dengan syarat kami sekeluarga ikut. Awalnya aku keberatan, tapi apa boleh buat.

“Apa obachan masih sanggup berjalan ke kuil di atas bukit?”

“Jangan remehkan nenekmu, kalau alasannya agar kau bisa berduaan dengan Sensei, nenekmu akan ikut bagaimanapun lelahnya.”

Mukaku malu. Ayah tahu aku suka Sensei, dan dari ekspresinya, dia tak keberatan sepertinya.

“Sensei itu orangnya baik,” cetusku.

“Begitulah. Yang kudengar Sensei lahir di Tokyo, tapi sudah lama ikut ibunya di Kamakura karena ayahnya meninggal.”

“Kenapa mereka pindah ayah?”

“Aku tak tahu sebabnya.”

Aku merasa festival malam itu bagian terindah dalam hidupku. Obachan tertinggal jauh di belakang bersama ayah, dan aku bersama Sensei menikmati yakisoba [8] dan ikayaki [9] yang amat dia suka kalau festival musim panas. Di akhir festival kami menonton kembang api yang diluncurkan ke langit. Sedekat itu aku dan Sensei, rasanya tak ingin hari berubah dan selamanya begitu.

“Indah, aku selalu suka kembang api di malam musim panas,” ujarnya.

Aku hanya menatap ekor mata Sensei yang memperlihatkan ketakjubannya kala mendongak menonton kembang api di angkasa. Refleksi pendar kembang api tampak di mata Sensei. Meski sedikit kuketahui dari ujung matanya. Tak kuperhatikan cahaya terang di atas kami. Aku terus menatapnya tanpa dirinya sadar atau barangkali membiarkan diriku melakukan itu.

Aku ingin Sensei melihat tsubaki mekar di musim dingin kali ini bersama denganku, akan tetapi dia tiba-tiba pergi dengan meninggalkan kaligrafi dan sebuah surat pendek yang ditempelkan di balik tulisan itu.

“Tunggu aku, Ojosan.”

Ketika aku bertanya pada ayah, Sensei pulang ke Kamakura karena urusan keluarga. Kapan dia balik ayah tidak tahu.

“Sensei pasti kembali ke sini, kau tenang saja.”

Musim dingin terasa sepi, Sensei tak kunjung kembali ke Fukuoka. Aku merasa dia meninggalkanku terpuruk di sini. Seolah berita-berita di luar sana terlewat begitu saja, meski negeri ini dalam keadaan kritis. Diriku hanya terpacu untuk menunggu Sensei sampai-sampai segalanya tak kupedulikan.

Aku membayangkan diriku dan Sensei berdoa di malam tahun baru dan minum amazake [10]. Namun pergantian tahun dengan genta kuil berdentang sepanjang malam tak membuat Sensei kembali. Malam tahun baru yang kulewati di rumah sendirian menyusuri lorong dan tercampak di taman menunggu bulan atau suara genta berikutnya.

Setiap hari aku membersihkan ruangannya dan mencari jejak kehadiran dirinya, tapi tetap saja, segalanya sia-sia.

Harapanku, aku dan Sensei bisa menikah sebab telah jelas semua perasaan di antara kami. Namun itu semua buyar. Di awal musim semi ayah menerima negosiasi keluarga Toshihiro dan putra pertama keluarga itu, Teru, dijodohkan denganku. Saat aku menangis dan bertanya berkali-kali pada ayah, dia tak kuasa menjawab dan memelukku. Baru aku tahu alasan ayah menerima pinangan itu karena keluarga kami tengah bangkrut dan satu-satunya penolong adalah keluarga Toshihiro.

Aku menerima perjodohan ini setengah hati. Di satu sisi aku membenci Sensei yang tak kunjung balik untuk menikahiku; di sisi lain aku mesti menyelamatkan keluarga. Saat itu keuangan kami memang kacau balau. Itu pun bukan keluarga kami saja. Jepang berlayar dalam kapal tanpa nakhoda. Tak tentu arah demi kejayaan palsunya, itu yang selalu diucapkan ayah dan orang-orang tua sekitarku.

Aku menikah di pertengahan musim semi. Di tengah gugurnya sakura, aku memasuki gerbang hinoki rumah utama keluarga Toshihiro dengan kimono merah. Semerah tsubaki musim dingin. Hatiku telah kosong dan menangis pun tak ada gunanya. Sampai hari itu Sensei tidak datang menyelamatkanku.

Dua tahun berselang, menjelang keberangkatan suamiku bela negara untuk pertama kalinya, aku dapat kabar dari Kagawa-san, agen dan juga teman dekat Sensei, yang menyebut bahwa Sensei bunuh diri dengan merobek urat lehernya menggunakan pedang kabutowari yang pernah diperlihatkannya padaku. Pedang itu baginya merupakan harta berharga hadiah kakeknya saat mereka mengunjungi Daibutsu di Kamakura.

Aku tahu alasan Sensei mati. Aku tahu dia tak punya pilihan. Keluarga adalah segalanya. Alasan yang membuatku tak dapat melanjutkan hidup. Aku berjanji dalam hati, setelah suamiku berangkat perang, aku akan menyusul Sensei, ke sebuah tebing yang ada di Kamakura, tempat yang pernah diceritakannya.

Tunggu aku, Sensei. Kita pasti bisa berbincang seperti dulu lagi.

[1] Disalin dari karya Bagus Dwi Hananto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 08 – 09 September 2018