Senyum Buat Sri

Karya . Dikliping tanggal 28 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
SRI menghela napas, menatap nanar para staf yang bekerja di rumah sakit. Sejak dulu Sri selalu berharap mendapat perlakuan sama. Mendapat sapaan ramah resepsionis ketika berobat atau di loket pembayaran. Namun, sulit baginya mendapat sambutan ramah itu. Mereka lebih sering menatapnya dengan tatapan tidak terlalu suka dan tidak peduli. Entah salah apa ia dulu pada mereka, hingga diperlakukan seperti itu.
Sri berusaha sabar dan tetap mencoba bertahan. Mau bagaimana lagi, hanya di sini rumah sakit terdekat di desanya. Di sini ia bisa sering merawat ibu di sela kerja paruh waktu yang ditekuni. Meski harus makan hati, ia rela asal ibu bisa di rawat di sini.
Ibu Sri memang sudah sering ke rumah sakit karena gagal ginjal. Dulu, mereka hanya berobat jalan. Tapi bertambahnya usia membuat ibu Sri harus dirawat inap. Semua cara sudah Sri tempuh untuk kesembuhan ibunya. Tapi apa daya kuasa Tuhan tidak dapat ditentang. “Ibuku malang, jangan khawatir aku akan selalu ada menemani,” ucap Sri dalam hati.
Rumah sakit masih lenggang. Sri menuju tempat pembayaran, mengurus administrasi pengobatan ibunya.
“Maaf Mbak, biaya cuci darah dan obat Bu Indah kamar nomor tiga ruang Bougenville berapa?” Sri bertanya dengan ramah.
“Mau dilunasi ya, Mbak?”
“Maaf….” Sri menggantung ucapannya. “Saya hanya ingin membayar sedikit dulu, nanti sisa kekurangannya akan segera saya lunasi,” jawab Sri agak malu.
“Ini sudah seminggu sejak Ibu Indah di rawat di sini, kenapa tidak segera dilunasi, Mbak? Kami sudah memberi dispensasi lho, ini bukan tempat utang, Mbak.” Ucapannya menohok hati Sri.

Sri mencoba menata hati yang selalu dicaci. Sungguh menjadi orang yang tidak berada itu menyakitakan jika dihina seperti ini. Sri berjalan gontai, mengetahui total keurangan yang masih harus ditanggung. Tapi tidak ada waktu meratapi diri, ia harus segera pergi. Harus kembali bekerja untuk mendapatkan uang, menutup biaya itu.
***
DI toko kecil Sri bekerja. Sejak ayahnya meninggal dan ibunya sering sakit, Sri mulai bekerja. Uang pensiun ayahnya sudah dipergunakan untuk pengobatan ibunya. 
“Si, kenapa wajahmu murung begitu?” Siska menggoda Sri dengan menjawil hidungnya. Sri hanya diam dan menggeleng.
“Memikirkan perawatan Ibumu?” Siska bertanya lagi.
“Iya Sis, banyak yang harus aku lakukan untuk perawatan Ibu.” Sri akhirnya membuka suara. 
“Semangat kamu pasti bisa, kamu seorang anak yang berbakti aku salut padamu.” Siska mengacungkan ibu jarinya. Sri hanya tersenyum.
Setelah kembali bekerja, segera Sri kembali ke rumah sakit, menemani ibunya. Sebelum ke kamar, Sri kembali ke loket pembayaran, mengurus biaya perawatan sang ibu dan pergi ke apotek. Alhamdulilah, tadi Siska dan bosnya memberi sedikit bantuan. Sehingga ia bisa melunasi kekurangan biaya yang mesti ditanggung.
Sebenarnya dua hari lalu, ia mencoba menghubungi pamannya yang tinggal di luar kota. Satu-satunya saudara ibu. Sri ini minta tolong mengatasi masalah biaya perawatan. tapi karena tidak bisa dihubungi, Sri akhirnya hanya bisa mengirim pesan yang belum ada kabar hingga sekarang.
“Ada apa lagi, Mbak?” 
Pertanyaan yang sungguh menusuk hati. Sri mencoba bersabar. 
“Ini Mbak, mau melunasi kekurangan administrasi.” Sri mengeuarkan uang. Ia berharap dengan dilunasi ibunya akan segera mendapat perawatan.
Petugas itu terdiam. Langsung mengambil uang yang baru saja Sri sodorkan. 
Sri lalu ke apotek, menebus obat. Sri berjalan ringan, sudah melupakan kekesalan karena selalu diremehkan. Setelah obat didapat, Sri kembali ke kamar.
“Bagaimana keadaan Ibu?” Sri sudah duduk di samping ranjang ibunya.
“Sri, Ibu baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana? Jaga kesehatan kamu, Nduk.” Ibu menatap Sri penuh perhatian.
***
PAGI menjelang siang. Sri memutuskan jalan-jalan sebelum menemani ibunya cuci darah. Sri pamit kerja hari ini. Karena rutinitas cuci darah yang harus dilakukan ibunya sebulan sekali, Sri berusaha keras melunasi tunggakan agar ibunya segera cuci darah. Ia terus menabung memersiapkan semua biaya yang dibutuhkan. Penyakit ibu sudah kronis dan belum ada jalan keluar. Satu-satunya transplantasi ginjal, dan itu makan banyak biaya.
Sri duduk santai di kursi depan dekat tempat resepsionis. Mencoba berpikir solusi apa yang harus dilakukan. Tapi di situ Sri malah melihat dengan jelas, sikap para staf rumah sakit yang selalu membeda-bedakan calon pasien. Seperti yang mereka lakukan padanya. Sri menatap miris.
Pun pemandangan yang ia lihat pagi ini. Wanita setengah baya diperlakukan sama dengan dirinya. Dipandang sebelah mata, karena keluarga kurang mampu, hanya menggunakan kartu bantuan. Duh Gusti, inikah tempat yang katanya untuk kesejahteraan kesehatan rakyat? Kenapa harus ada banyak ketimpangan yang dirasakan warga? Apakah kesehatan hanya bagi orang berada? Dan kami hanya duduk diam menunggu ajal datang? Berbagai pertanyaan itu berkecamuk di hati Sri.
Sri sungguh tidak habis pikir. Padahal mereka hanya perlu tersenyum ramah, tanpa harus menyakiti dengan ucapannya yang menusuk hati. Apakah empati mereka telah mati? Hingga dengan sewenang hati menghakimi kami? Semoga tidak semua rumah sakit seperti ini. Dan kuharap suatu saat pegawai itu sadar dan menjadi lebih baik hati. Doa Sri masih dalam hati.
Sri menghela napas dan bangkit dari duduknya. Mungkin satu bulan lagi dia akan bertemu dengan mbak-mbak yang akan bersikap sinis, memasang wajah tidak suka padanya.
Sri meninggalkan ruang itu dan menelusuri koridor rumah sakit. 
“Sri!” Sebuah panggilan membuatnya menghentikan langkah. Ia menoleh menatap pamannya yang tengah bebicara dengan beberapa staf rumah sakit. Pamannya melambai menyuruh Sri mendekat.
“Kenapa kamu tidak segera menelepon Paman kalau keadaan Ibumu seperti ini? Kamu mau membuat adiknya ini menjadi durhaka dengan tidak memberikan pertologan pada kakaknya? Padahal karena Ibumu, paman ini bisa menjadi dokter, Sri.” Paman Sri geleng-geleng kepala.
Sri hanya menunduk. Ia tak ingin merepotkan pamannya yang sibuk dengan persiapan menyambut bayi pertamanya.
Hari itu Sri mendapat senyuman dari staf resepsionis, yang tak sengaja berada di situ dan mendengar percakapan mereka. 
Sebuah senyuman yang Sri tahu pasti maknanya.Mereka baru tahui, Dokter Ahmad pamannya Sri. Dokter yang pernah bekerja di tempat itu sebelum pindah ke kota. [] 
Srobyong, 16 September 2015
Ratnani Latifah, jalan Pasar Mlonggo Kompleks Musala Al-Falah Srobyong RT 04 RW 02 Mlonggo Jepara 59452
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ratnani Latifah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 27 September 2015