Sepasang Kekasih di Atas Loteng

Karya . Dikliping tanggal 21 November 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Lelaki itu mendapati tubuhnya seperti baru bangun tidur menjelang subuh. Namun dia terbaring di datar got berlumut, di tepi jalan raya yang dipenuhi lalu-lalang kendaraan, suara klakson beradu merebut cuping telinganya yang masih jadi sarang debu.

Silau lelampu kendaraan bagai kunang-kunang raksasa memburu angin, cepat, lesat, menuju arah yang jauh. Saat mendongak, bulan meringkuk di rimbun nyamplung.

Perlahan ia sadar, seruak bau tubuhnya amat menyengat, rambutnya panjang, awut, gimbal dimukim kutu-kutu. Kuku-kukunya panjang, hitam berdaki. Ia merasa jiwanya dipindah ke raga lain yang lama tak terurus, kadang ia juga merasa dilempar ke bumi baru. Namun kemudian ia hanya menduga, dia tidur berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Sedikit-sedikit ia ingat perihal kata hatinya bahwa hidup manusia adalah jagung pipilan dalam gilingan revolusi waktu, hingga semua pasti berubah, bagai biji jagung menghalus lalu menjadi nasi.

Setelah meyakinkan diri bahwa Awi namanya, ia lantas mengingat aktivitas terakhir sebelum hilang kesadaran; terakhir menemani Vita, kekasihnya, minum kopi robusta di loteng rumah kontrakan yang sepi.

Kala itu angin yang menyunggi harum tebu menatah silir lirih di wajah mereka dan bulan terapung mendamba sirip di lautan kabut-kabut tipis, cahayanya jatuh memaram rambut Vita. Sebagian berperak di kenyal pipinya yang kekuningan.

Ia bersenda tawa dengan Vita sembari kejar-mengejar. Melempar-lempar boneka, jatuh pelan berguling, berpelukan. Mereka terus cekikikan tak peduli pekat malam mengintai dari reranting daun cemara yang menyampir pagar loteng kala itu.

Terakhir ia hanya mengingat menit paling mencekam, saat terpeleset membentur pagar loteng hingga pagar itu patah, dan ia terjatuh ke paving, merasa tulang-tulangnya remuk, tubuhnya berantakan dan Vita terdengar berteriak memanggil dia. Lalu ia tak ingat apa-apa.

Ia tak tahu setelah itu nasibnya bagaimana. Ia tak tahu bagaimana tangis Vita saat melihat dia jatuh dari loteng hingga terpelanting ke paving. Perlahan ia menerka-nerka episode hidupnya; mungkin setelah jatuh, ia pingsan dan Vita menangis histeris.

Setelah pingsan, ia mengira ada dua kemungkinan terjadi pada Vita; mungkin Vita tetap di rumah itu atas nama cinta atau mungkin menikah dengan lelaki lain tanpa harus disiksa kenangan.

Lelaki itu tak menunggu waktu lama, tak peduli tubuhnya kumal dan bau, ia langsung melangkah ke arah Jalan Sidomukti, menuju rumah yang pernah ia sewa bersama Vita. Malam yang diarsir cahaya bulan temaram membantunya tertatih di sepanjang trotoar, menuju rumah kontrakan itu. Angin malam menjamah rambutnya dengan cucup yang lembap. Tak sampai lima belas menit, ia telah tiba di rumah. Sebuah rumah berlantai dua, menghadap ke utara, berornamen paduan Belanda kuno dan corak Jawa, warna tembok yang putih sedikit kusam bergaun lintang ujung sawang laba-laba dan rengkuhan debu. Kayu jendela dan pintu bercat cokelat tua. Ia melangkah menuju halaman, sembari mengamati keadaan sekitar.

Rumah kontrakan itu tak terlalu banyak berubah. Bunga-bunga tumbuh lebat di seluruh tepian halaman. Halaman yang seperti tak terurus, dipenuhi daunan kering dan patahan ranting. Di depan rumah, sebatang pohon cemara terdiam bagai penjaga tua kelelahan. Ia mendongak ke sisi kanan atas cemara yang menyampir loteng. Di sana masih ada pagar besi yang patah berantakan. Lelaki itu bergidik, mengingat kejadian buruk yang pernah menimpa.

Kaki lelaki itu mendekat ke pintu. Bunyi daunan kering terdengar dari bawah telapak kakinya. Sebelum mengucap salam, ia melihat seorang perempuan duduk bersandar di sebuah kursi di loteng rumah. Ia mengira perempuan itulah kini yang menyewa rumah kontrakan itu.

Perempuan itu sangat tua, kulit wajahnya dilukis garis-garis keriput, lehernya bergelambir, rambutnya yang memutih diurai ke sandaran kursi. Ia seperti memikirkan sesuatu yang sangat serius. Matanya jarang berkedip, lurus ke depan, pada seregu kelelawar yang mengitari pucuk cemara.

Tak peduli kenal atau tidak, lelaki itu memanggil dari bawah si perempuan dengan sebutan ibu dan minta izin agar sudi membukakan pintu. Perempuan itu pun bergegas turun dan membuka pintu dari dalam. Setelah sedikit bercakap, ia mempersilakan lelaki itu masuk. Keduanya duduk di ruang tamu yang kusam.

Lelaki itu mengedar pandangan. Ruang itu tak asing bagi penglihatannya, terutama saat sorot matanya menatap guci tua bergambar buaya di pojok tenggara. Lalu matanya tertuju ke wajah perempuan di depannya. Perempuan itu sangat pasif. Ia tak mau bicara jika tidak dilempar pertanyaan. Lebih sering menunduk. Membiarkan rambut awutnya yang bertabur telur kutu sedikit juntai ke depan.

Saat menatap wajah perempuan itu, si lelaki bisa menemukan peta masa lalunya. Perempuan tua di depannya hampir sama dengan Vita.

“Kau ibu Vita kan?” lelaki itu yakin perempuan di depannya itu ibu kekasihnya.

Perempuan itu tak menjawab. Keduanya bersitatap. Mencari sisa-sisa kenangan melalui wajah masing-masing.

“Ini aku, Awi,” lelaki itu memperkenalkan dia dengan tangan terbuka.

“Dulu, aku pacar Vita, anak Ibu. Ke mana dia sekarang?” tanya lelaki itu sembari meneteskan air mata.

Si perempuan tetap tak mau bicara. Ia bangkit, menarik lengan lelaki itu, untuk naik ke loteng. Lelaki itu pun mengikuti dengan cemas.

Sepasang Kekasih di Atas LotengSetiba di loteng, perempuan itu mempersilakan tamunya mengamati keadaan sekitar. Mata lelaki itu berbinar mengamati sekitar: masih tak berubah, semua tampak seperti saat dia bersenda dengan Vita. Yang berubah hanya warna tembok, pagar loteng, dan lantai.

“Apa maksud Ibu memperlihatkan semua ini?”

“Aku ingin menunjukkan saksi kesucian cintaku kepadanya. Dulu, sebelum terpisah, kami bersenda di sini, menikmati keindahan yang tak terduakan. Namun malang,” mulut perempuan itu tiba-tiba seperti terkunci, rapat menggigit, seiring tangannya gemetar dan air mata memancar.

“Malang? Malang kenapa, Bu?”

“Ia tak sengaja menyenggol pagar ini. Sebagian pagar patah dan ia jatuh ke paving.” Perempuan itu terpejam, berusaha menahan arus air mata, isaknya meringis seperti menunjukkan keadaan batin sangat luka.

Lelaki itu terkejut. Napasnya naik-turun mengimbangi urat-urat nadi yang tegang. Cerita perempuan itu sama persis dengan keadaan yang menimpa dia sebelum tidur panjang di sebuah got. Namun ia lantas menoleh wajah perempuan itu dengan tatap cemas. Ia kurang percaya perempuan itu Vita. Ia hanya percaya perempuan itu ibu Vita.

“Vita cantik dan muda, tidak tua seperti perempuan ini,” gumam lelaki itu. Matanya masih tak alih, menyorot tubuh perempuan kurus kering, kulit keriput, mata suram dan cekung seperti lama ditusuk pisau kesedihan, bibir merah beku penuh bekas kunyahan sirih. Sesekali ia diguncang batuk dan jarinya menggaruk kepala yang dipenuhi jerumbai uban dan kutu. Perempuan itu sudah bisa disebut nenek.

“Maaf, jika boleh tahu, nama Ibu siapa?”

“Sejak peristiwa memilukan di loteng ini, aku lupa namaku. Ingatanku lebih tertuju ke kekasihku yang tampan dan muda itu.”

“Nama kekasihmu siapa, Bu?”

“Aku lebih ingat wajahnya ketimbang namanya,” tegas perempuan itu sambil menyeka air mata.

Lelaki itu bingung mesti bersikap. Sedang ia tak ingat nama kekasihnya. Sepintas ia beranggapan perempuan itu tak ada hubungan dengannya, meski pernah mengalami hal sama di loteng ini.

“Rumah ini dulu kan kontrakan. Apa Ibu yang mengontrak?”

“Sebelum aku hilang ingatan, rumah ini kubeli. Intinya tak ada yang lebih penting di rumah ini, kecuali mengabaikan loteng ini tetap seperti ini, sebagai cara mendatangkan kenangan, agar kekasihku hadir dan menemuiku dalam ingatan,” ujar perempuan itu sambil merapikan sanggul.

“Sejak kapan rumah ini kaubeli?”

“Sejak kalender itu bergantung di tembok itu.” Jari telunjuknya menuding lurus kalender usang yang lembar luarnya disilir angin, tepinya penuh cipratan tempias air hujan, bolong-bolong dan warnanya memudar. Lelaki itu bangkit menuju kalender. Ia meraba cetakan angka tahun yang masih tampak jelas: 1952.

Air mata lelaki itu kembali tumpah. Kalender itu adalah kalender yang ia pasang saat mengontrak rumah itu. Lembar kertas itu pun jadi saksi saat dia jatuh.

“Setelah jatuh dari loteng ini, kekasihmu ke mana?” Kembali ia menoleh ke perempuan tua yang menyandarkan tubuh ke tembok.

“Ia dilarikan ke rumah sakit. Tak ada luka serius pada tubuhnya. Hanya ia hilang ingatan. Ia berjalan dari satu kota ke kota lain, menyusur sunyi dan keramaian dengan tubuh dan pakaian tak terurus. Aku kasihan kepadanya. Hatiku tersayat duka bila mengingatnya. Hingga tibalah suatu waktu, ketika aku dipasung. Kata orang-orang, aku gila. Setelah dua tahun hidup terpasung, akhirnya aku menempati rumah ini lagi. Tentu dengan ingatan tak sepenuhnya kembali. Di sini aku menunggu kekasihku kembali,” ucap perempuan itu lembut.

Lelaki itu terkejut. Ia baru sadar, dia gila sejak 1952 setelah terjatuh dari atas loteng. Tangisnya pecah. Sejenak dia menoleh ke arah perempuan itu. Ia yakin perempuan itu Vita yang setia menjaga cinta di rumah ini selama puluhan tahun hingga kini sudah nenek-nenek.

Lelaki itu mencari cara untuk meyakinkan Vita bahwa dialah kekasih yang ia tunggu puluhan tahun.

“Maaf, Pak! Silakan Bapak tinggalkan tempat ini. Aku hanya menunggu kekasihku, bukan menunggu Bapak. Sampaikan ceritaku kepada orang-orang, siapa tahu kekasihku sudah waras, dan ia mendengar aku menunggu di sini,” ucap perempuan itu sambil melinangkan air mata. (28)

Gaptim, 09.2018

A Warits Rovi, lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Cerpen, puisi, esai, dan artikelnya dimuat di berbagai media massa. Buku cerpennya Dukun Carok & Tongkat Kayu (2018)


[1] Disalin dari karya A. Warits Rovi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 18 November 2018