Sepasang Matryoshka

Karya . Dikliping tanggal 16 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Melalui kotak pesan daring Anna mengonfirmasi ia akan datang dua pekan lagi, yang berarti hari ini. Tidak perlu menyiapkan apa-apa, aku adalah bagian dari keluarga, bukan tamu istimewa, tulisnya gede rasa. Memang dikiranya aku akan menggelar karpet merah di bandara? Tapi, toh kubalas dengan gambar wajah kuning bulat menyeringai jenaka, meski saat mengetiknya mulutku mengerucut, bersungut.

Aku tak benar-benar berminat menerima kedatangannya, jauh hari, dekat hari, terencana atau tiba-tiba, bagiku sama buruknya. Setelah korespondensi panjang lewat media sosial yang entah bagaimana permulaannya itu, akhirnya Anna mengaku sebagai saudara kembarku.

Dia tuliskan, saat dikirim untuk belajar kedokteran di Universitas Saint Petersburg, Bapak kami jatuh cinta pada seorang mahasiswi lokal yang kelak ia menjadi ibu kami. Kisah cinta mereka mekar di semester ketiga perkuliahan, sejak pertemuan tak sengaja di lorong manuskrip Melayu di perpustakaan umum Saltykov-Shchedrin. Itu terjadi kira-kira satu sampai dua dekade setelah peristiwa proklamasi.

Pertengahan tahun enam puluhan Bapak lulus dan berencana membawa pulang Ibu, tapi gagal. Situasi panas di tanah air waktu itu. Pemerintahan lama dikudeta, rezim baru melarang alumni luar negeri kembali, pukul rata semua dianggap berbaluan kiri jika menolak menandatangani pernyataan mengutuk pemimpin terguling. Bapak termasuk yang menampik karena merasa berutang budi sudah diberi kesempatan sekolah tinggi. Jadilah ia pelarian, diburu sampai ke Vietnam. Kami berdua lahir di tengah sisa kecamuk perang, di Ho Chi Minh City yang masih porak-poranda. Ibu lalu membawa Anna kembali ke Leningrad dan aku dititipkan kepada entah siapa, pulang ke Amlapura. Bapak tetap tinggal dan menjadi dokter rumah sakit militer setempat. Setelah itu, semua gelap. Tak ada kabar, Ibu hanya mendengar Bapak tertembak, jasadnya tak terjejak.

***

Luh, istriku, bertanya, “Apakah ada penerbangan langsung dari Moskwa ke Denpasar?” Tolol, kubilang. Tentu saja tidak ada. Perjalanan dari Rusia ke Indonesia makan waktu 20 jam, setidaknya butuh satu atau dua kali transit, di Abu Dhabi, di Hong Kong, atau di mana saja, tergantung maskapai yang dipakai. Tidak ada direct flight!

“Tapi ini ada,” sergahnya, menggumam dengan nada rata, dengan jari-jari dan mata menumpu pada layar tablet di pangkuannya, “Aeroflot, low cost carrier. Langsung dari Domodedovo Airport ke Ngurah Rai.” Mulutku melecu. Untuk apa bertanya kalau sudah tahu?

Tak perlu resah, kata Luh, bukankah kalian hanya sepasang kakak beradik dan bukan sepasang kekasih? Aku melengos. Seharian kalimat-kalimatnya sama sekali tak menenangkan. Tapi mengapa harus aku tak tenang? Luh menyeduh kopi dan menuangkannya ke cangkir-cangkir kaca seperti biasa, satu untukku satu untuknya, pertanda ini sudah pukul lima, sudah dekat senja. Harum kafein menguar, bersahutan dengan aroma gula merah. “Minumlah, ini sempurna,” ia berlagak bersulang dengan senyumnya yang selalu menggoda, namun entah kenapa sore ini di mataku terkesan meledek.

***

Anna mengabarkan baru saja mendarat, berarti bisa tiba di sini dalam satu jam, asal kondisi lalu lintas Badung-Karangasem tak kelewat padat. Aku membayangkan apa yang akan kami bicarakan nanti ketika bertemu muka. Apakah aku harus menyambutnya dengan gembira atau memeluknya penuh rindu, mengingat kami adalah kembaran yang terpisah puluhan tahun? Atau kujelaskan saja langsung kepadanya bahwa aku sama sekali tak percaya versinya tentang riwayat kami. Kalaupun aku menerima kunjungannya, semata-mata demi sopan santun, menuruti saran istriku, bukan memenuhi penasaranku tiba-tiba memiliki saudara kandung. Seumur hidup aku yatim piatu, tak punya asal-usul, orokku ditemukan di halaman pura Desa Tumbu, kata orang ibuku bukan manusia, melainkan arca batu.

Anna memperkenalkan dirinya dengan cara yang amat formal, tegak dekat leneng di pintu gerbang, menghadapku dengan sikap tubuh lurus dan senyum ramah. Menyebut namanya, menanyakan kabar, mengagumi rumah tradisional kami sambil tetap berdiri. Lalu seperti sudah terencana, lengannya bergerak laksana petugas pengibar bendera pada upacara di halaman gedung-gedung negara, membentuk persis sudut siku-siku, menyodorkanku sebuah kotak kayu seukuran kotak sepatu, “Dari ibu.”

Apakah maksudnya ini oleh-oleh, hadiah, wasiat atau apa, tak diterangkannya. Jadi kuterima pemberiannya itu dengan separuh syak dan sebuah pertanyaan tak bermutu, “Ia menitipkannya padamu?”

“Pada hari terakhir Ibu sadar.”

Aku tak siap harus menimpali apa. Melihatku canggung, Luh buru-buru menyela, “Mari, mari masuk jeroan. Kita ngeraos, ngobrol-ngobrol di dalam….” Mulutnya langsung nyerocos menanyakan apa saja, tangannya lalu sibuk menawarkan berbagai penganan kampung yang sejak tadi disiapkannya, jaje lukis yang manis, jaje ketimus yang gurih, pisang rai yang legit. Suasana kaku perlahan berubah sesegar es tambring.

Sepasang Matryoshka

Anna mengatakan tak akan tinggal terlalu lama. Ia hanya membawa satu koper tanggung dan satu tas tangan yang ditentengnya ke mana-mana, mirip kantung ajaib karena dari dalamnya ia mengambil berbagai macam benda, termasuk sebuah album kecil, “Ini kakek,” ditunjuknya potret lelaki berkumis setebal milik Stalin. Seorang perempuan tambun tersenyum anggun yang duduk dekat pria berkumis itu diperkenalkannya sebagai nenek. Kemudian seraut wajah tirus berdiri semampai, disebutnva sebagai Ibu. Wajah wanita ayu dalam gambar itu seperti kukenal entah di mana, mirip seseorang tapi aku lupa siapa. Di situ ia berpose mendekap sesosok bocah mungil montok bertopi renda di puncak kepala. Anna tersenyum seakan ingin mempermaklumkan dirinya sendiri di masa lalu, “Itu aku.”

Istriku tertawa gemas ketika mengatakan lucu sekali anak ini, manis sekali.

“Nah, ini kau,” Anna menarik sepucuk foto lagi, melihat ke arahku. Telunjuknya menuding wajah bayi yang terbungkus selimut serapat kepompong, sebelah pipinya menempel pada pundak kiri seorang lelaki muda berkulit sawo tua, berperawakan sedang, berkemeja longgar, berjas tanpa dasi, tak berpeci, “Dan ini Bapak.”

“Cukup!” putusku. Anna kaget, dahinya mengernyit. Luh ikut gugup, tersenyum kecut, tikar lampit tempat kami duduk ikut-ikut menciut.

“Jangan teruskan omong kosong ini,” aku mendesis.

“Maksudmu?” Anna herusaha berhati-hati.

“Maaf, Anna,” aku mulai iba kepadanya, “Barangkali memang saja kau dan aku memiliki beberapa hal yang sama. Tapi sudah pasti kita bukanlah saudara!”

Anna terdiam sebentar. “Kau harus tahu, Ibu membuat sebuah lemari yang berisi baju-bajumu. Masih utuh sampai sekarang. Setahun sekali ia menjahit setelan baru seukuran tubuhmu, membelikanmu sepasang kaus kaki dan longjohn satu nomor lebih besar setiap Natal.”

“Itu tidak membuktikan apa pun!”

“Tidak ada yang perlu disangkal, Ananta.”

“Dengar,” kurendahkan suara, “Boleh jadi aku lahir dari rahim seorang ibu, mewarisi darah seorang ayah. Tapi kalau alam raya ini saja terjadi karena satu tubrukan maha dahsyat hingga hancur berkeping-keping, bukan mustahil juga pada suatu ketika, sebutir di antara miliaran debu serpihan terhalusnya terbawa angin ke suatu bukit yang luar biasa jauhnya, tersambar petir, tercatu listrik, lalu hidup, dan… jadilah aku!” Anna tak menyangka mendengarku sesinis itu.

Sudah genap setahun ini Ibu terbaring koma. Anna lalu bercerita begitu saja tanpa menghiraukan apakah aku menyimak atau mengabaikannya. Catatan rumah sakit mengatakan batang otaknya masih berfungsi, jantungnya masih berdetak, beberapa organ masih merespons baik. Setiap kali sepupunya yang menetap di Desa Troparyovo datang ke Moskwa menumpang kereta metro untuk menjenguk dan menyanyikan lamat-lamat senandung cinta Katyusha di samping ranjangnya, kepalanya bergerak lemah ke kanan ke kiri seperti berusaha mengikuti tempo. Jika ada seseorang menyebut nama Bapak dan namamu, sudut bibirnya terangkat seperti tersenyum. Saban ada kesempatan anggota keluarga berkumpul membacakan doa untuk kesembuhannya, ujung matanya menitikkan air seperti terharu.

Kata Nenek, bukan rencana Ibu terpisah dari Bapak, tapi waktu itu harus diputuskan bagaimana menyelamatkan anak-anak. Amerika berkoar, agresi komunis sedang mengancam seluruh dunia, sangat-sangat berbahaya, Eisenhower dengan domino effect-nya berteori, jika tidak dihancurkan ideologi ini akan merajalela ke seantero Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Tentara-tentara diturunkan menumpas komunisme di mana-mana, mulai dari Vietnam sampai ke negara-negara sekitarnya yang saling bertetangga. Alih-alih, baku bunuh terjadi setiap hari, di kota, di desa, di perbatasan, di pedalaman, di kampung, di hutan. Semua orang tiba-tiba saja menjadi musuh bagi yang lain tanpa terkecuali. Mayat bergelimpangan sampai nyaris tak terkenali. Dalam nalar perang, sama sekali hal biasa jika ada satu, dua, bahkan seratus orang hilang, atau dihilangkan, sekalipun ia bukan siapa-siapa, tak mengancam, tak membahayakan bahkan tak punya pengaruh apa-apa, seperti Bapak, atau siapa saja yang tahu-tahu enyah, lenyap.

Anna berhenti berkisah. Matanya menyusuri nat-nat lantai keramik di bale daja. Luh meninggalkan kami beberapa saat lalu, pamit ke paon mengambil sesuatu.

“Aku telah terbiasa hidup tanpa Ibu,” kataku. “Tak ada nama Bapak dalam Kartu Susunan Keluarga, akta kelahiran sampai paspor, kolom tempat tanggal lahirku pun kosong,” kutekankan setiap kata sambil kupandangi wajah Anna. Aku ingin ia memercayaiku sebagaimana aku mulai menganggap bualannya masuk akal. Anna hanya mengangguk. Langit adalah pantulan kopi hitam ditaburi remah roti, cahaya ribuan bintang menggambar bayang-bayang lereng Gunung Agung di bahu malam. Wangi dupa melintas menenteramkan.

“Aku sering memikirkan, bagaimana aku bisa sampai di tempat ini.”

“Ibu sering memikirkan di belahan dunia mana kau berada.”

“Ia tak menganggapku mati?”

“Ia menganggapmu selalu ada di dekatnya.”

Kotak yang tadi diserahkan Anna kepadaku, isinya sebuah boneka kayu gendut yang beranak pinak jika dibuka. Yang terbesar seukuran genggaman tangan dewasa, berturut-turut empat lagi lebih kecil, lebih kecil lagi, hingga yang terkecil seukuran ibu jari. Anna mempermainkan gelas belimbing kosong di tangannya, bersandar pada salah satu sakanem, tiang penyangga rumah.

“Aku menghubungi empat ratus empat puluh sembilan akun lelaki seumuranmu di negeri ini. Kutanyai masing-masing dari mereka, adakah di antara kalian yang memiliki matryoshka?”

Anna memerinci sambil tertawa kecil membayangkan lagi perjuangannya, “Seperti menolong pangeran mencari sebelah sepatu Cinderella ke seluruh pelosok dunia. Tapi aku yakin pasti menemukannya.”

Boneka kayu itu kini ada di timanganku, “Jadi, Bapak adalah seorang dokter?” pertanyaanku ini bukan basa-basi. Anna mengangguk, “Dokter muda yang belum sempat berbuat apa-apa, kecuali menyelamatkan orang-orang yang dicintainya.”

Mataku hangat, “Kata orang-orang sejak dulu, bapakku pemberontak dan ibuku pelacur.”

Terngiang lagi rundungan di masa kecil, untukku yang berkulit putih, berambut merah, bertubuh dan berhidung tinggi. Ke mana pun aku pergi sebayaku akan bernyanyi, cunguhne gede cara nyambu, hidungnya besar seperti jambu, cunguhne gede cara nyambu…. Terus menerus berolok tentang bapak ibuku, sambil tertawa-tawa, menungguku merengek dan akhirnya meraung. Aku marah dan malu, tapi tak tahu harus kepada siapa mengadu. Anna meletakkan gelas dan menghela napas, “Ibu adalah seorang penyair yang beralih jadi buruh pabrik.”

Lama sesudah itu kami sibuk dengan hiruk-pikuk pikiran dan perasaan sendiri. Aku bertanya-tanya, siapa kiranya yang keluar dari perut Ibu lebih dulu di antara kami? Kupindah-pindahkan dari tangan kanan ke kiri, ke tangan kanan, ke kiri lagi—seperti membulatkan jaje pulung-pulung ubi, boneka yang terbuat dari kayu lipa itu lalu kupisahkan dari induknya dengan menariknya satu per satu hati-hati. Pada setiap dasarnya terpahat nama-nama.

Namaku tertera pada yang paling kecil: Ananta, satu suku kata lebih singkat dari nama Bapak, Anantara. Nama Anna, selisih dua huruf dari Ivanna, nama Ibu. Déjá vu ini mengesalkan dan menggelikan pada saat yang bersamaan. Didahului kokok ayam pertama dini hari itu, Anna menyatakan ulang niatnya, “Aku bertekad menemukanmu, untuk Ibu.” Orang-orangan kecil bersusun-susun itu satu-satunya petunjuk ia mengacu.

Dari arah merajan, dengan anteng terlingkar di pinggang bersiap sembahyang, Luh datang menghampiri, sebuah besek bambu berdebu diangsurkannya ke tengah kami. Kukeluarkan isinya, persis seperti yang Anna bawa, boneka kayu gendut yang beranak pinak jika dibuka. Yang terbesar seukuran genggaman tangan dewasa, berturut-turut empat lagi lebih kecil, lebih kecil lagi, hingga yang terkecil seukuran ibu jari. Pada setiap dasarnya terpahat nama-nama, Ananta, Anna, Ivanna, Anantara.

Telapak kaki boneka terbesar bertuliskan kalimat yang sama, Svetit vsegda, Vestit vezde—bersinarlah selalu, bersinarlah di mana saja. Kutipan stanza tua penyair Rusia kesukaan Ibu. “Ibu pernah bilang,” kata Anna, “Pada suatu ketika, tanpa sengaja, bisa saja kita menjadi bagian gelap bahkan tergelap dari kehidupan seseorang. Sungguh pun begitu, jangan padam.”

Matahari belum lagi mekar seutuhnya, tapi sinarnya yang lembut membuat pipi-pipi matryoshka merona. Pagi ini aku adalah seorang anak, seorang adik, seorang lelaki yang memiliki sejarah hidup, setelah separuh abad lebih tanpa kejelasan asal-usul. Perempuan yang duduk di seberangku itu, yang wajahnya mentah-mentah seperti wajahku, kakak kandungku Anna, tampak letih tapi lega. “Ananta,” ia melirih, “Ibu memintamu memaafkannya.”

 

Vika Wisnu, pengajar Program Ilmu Komunikasi Untag Surabaya dan sukarelawan Gerakan Sadar Autisme. Cerpennya pernah termasuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2014. Tulisan terbarunya dimuat dalam antologi “Tumbuh Bersamamu, 27 Kisah Inspiratif Ibu Anak Berkebutuhan Khusus”. Buku pertamanya, ditulis bersama Gadis & Kika, berjudul BER317AN diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Bambang Pramudiyanto, lahir di Klaten, 10 September 1965. Kini menetap di Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, setelah menempuh pendidikan STSRI “ASRI” Yogyakarta. Lima Besar The Philip Morris Group of Companies Indonesia Art Award 1995. Selama kariernya sebagai pelukis telah menggelar tiga kali pameran tunggal pada periode 1995 sampai 2001.


[1] Disalin dari karya Vika Wisnu
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 14 Oktober 2018