Sepeninggal Ibu

Karya . Dikliping tanggal 4 Desember 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Sepeninggal Ibu

Kusapa perempuan di jalan raya
Tidak sebagai kemarin: mata
Bunga biru kehijauan
Lengkung alis rembulan limabelasan
Mancung hidung dada membusung
Pinggang menari dipegang kendali
Kuda betina dipacu di padang gelanggang

Kusapa perempuan sebagai matahari
Terit ke esok hari : cahaya
Menembus jendela kamar
Pandang ke cakrawala dengan sabar
Harapan dan doa-doa yang
Tidak berkesudahan

Memang indah tubuh
Tetapi megah ruh
Akan tiada henti menari
Hingga megatruh

Sekalipun  matahari terasa senja di jalannya
Matahari toh akan tenggelam di hari rabu
Seperti lingsirnya nenekmoyangku : di jalanku
Kusapa setiap perempuan sebagai ibu

Abdul Wachid BS, lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur. Penulis alumnus Sastra Indonesia Pascasarjana UGM (Magister Humaniora), jadi dosen-negeri di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, dan sekarang sedang studi Program Doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdul Wachid BS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 9 Oktober 2016