Seperti Merpati – Rumah Bagi Merpati – Orkestrasi Sajak – Orkestra Padi

Karya . Dikliping tanggal 13 November 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Seperti Merpati

seperti merpati digetak lambai dan tepuk tangan
aku pergi mengembara menyebrangi pulau
mencari kawanan yang lama hilang
dari jiwa juga kehidupan
sayapku mengepak langit biru
melengking-lengking sawangan rindu
sesekali hinggap aku di dahan waktu
melelehkan lelah, menyulami zikir dan doa
seperti merpati aku terbang menjauh
dari rumah dan kampung halaman
antara tanah garam dan bumi Mataram
merenungi setiap isyarat yang kerap berdentuman
mengoyak kenangan serta potret masa depan
sebab bila nasi telah jadi bubur pantang puisi disesali
seperti merpati menempuh lorong-lorong keabadian
begitu jernih ingatan menggambar jalan pulang
membawaku kembali pada asal muasal
ke lembang sunyi Batang-Batang

Rumah Bagi Merpati

telah  kukenali diri
juga setiap jengkal rumah ini
sebab selain kepada-Nya
padamulah aku berlindung
dari dingin musim hujan
dan ganasnya matahari penghabisan
di antara celah dindingmu
kusulam bulu-buluku dengan bulu perindu
supaya bila aku dilepas ke angkasa
sebagai utusan para raja
dapat kujangkau dunia
tempat di mana surat mesti dialamatkan
dan bila aku telah kembali
membawa sebiji mimpi dan selembar jawaban
selain pada-Nya
padamu aku berbagi lelah juga rinduku

Orkestrasi Sajak

seperti biola digesek ekor kuda jantan
aku menjelma instrumen dan sebentuk nyanyian
huruf-huruf mengalir bagai gemericik sungai
bergetar jiwaku menyebut kesunyian batu-batu
mendengar dengung takdir dari jauh
ditiup angin yang guruh
maka saat aku dibacakan
serupa mantra di bibir kegelapan
ruhku mengepak terbang
mengelilingi kilau gemintang-bintang
dan di saat itu pula
di bagian tubuhku yang mana
kudengar lengking seruling sendu
seperti hujan memetika senar gitar berdebu
hingga siang dan malamku kalangkabutan
kejar-berkejaran dengan dengung zaman
seperti biola digesek ekor kuda jantan
aku menjelma instrumen dan nyanyian

Orkestra Padi

siapa telah menulis hujan
di bentangan tanah moyangku
hingga daunku menjuntai hijau
buahku serupa emas mengunging
merayu paruh burung-burung
yang tengah melintasi kebon agung?
hari-hari berlalu
bulan demi bulan mengetaskan tunggu
kini akhirnya aku telah menciumi aroma tungku:
di ronjengan bagai waktu penghabisan
alu kayu demi kayu
bertalu di sore yang biru
di setiap lambaian tangan
gadis-gadis dusun, kepada hujan,
yang berbaris bersenandung di halaman
siapa telah menulis hujan semalam?
Mohammad Ali Tsabit: mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mohammad Ali Tsabit
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 13 November 2016