Sepetak Kebun – Jejak Pergulatan – Negeri Dongeng – Masih Kulukis Wajahmu

Karya . Dikliping tanggal 15 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Sepetak Kebun

Sepetak kebun leluhur
lahirkan harapan bagi kehidupan.
Anak dididik mencangkul tanah
nyemai benih untuk dituai bagi cucu 
yang masih harapan
Sepetak kebun leluhur
nyimpan benih di rahim bumi.
Anak nyekar kembang
nyiram air di segunduk tanah kakek
yang cucunya telah jelma jabang.
Sepetak kebun leluhur
dekap beton besi pondasi.
Cucu berlari di pekarang
ayah membaca koran dan udara
harum tumis ibu di dapur.
Sepetak kebun leluhur
hilang ilalang dan rumput liar.
Pohon tumbang semak terganti
tanah ditutup paving rapi warna-warni.
Sepetak kebun leluhur
nyimpan kenangan masa silam.
Anak cucu berkejaran di tanah seberang,
rumah kubur kakek ibu ditumbuhi ilalang.
Januari, 2015

Jejak Pergulatan

Perjalanan musti mengangkat kaki
meneruskan pergulatan nuju persinggahan
jika tiba waktu melangkah, gerak adalah
keharusan agar kehidupanb tetap dilanjutkan
Akan kita kumpulkan bahagia luka nyeri
meratap sementara, kemudian merangkulnya
semua perlu meletakkan semesta dalam
genggam yang disesaki rencana
kemudian mengeja ngajinya
agar sadarlah jika segala maknanya fana
Nanti tangan kudu merangkul
dengan serentak kumpulkan dulur
semua harus kur nyanyikan nasib bersama
tentang seutas waktu yang melibas napas kita
Usia terus lanjut mengaliri sungai waktu
menyusuri batu-batuhari menuju
muara kehidupan
masihkah akan dipertanyakan segala
yang tandang
jika kehendaknya sudah menggariskan?
Perjalanan cuma mengumpulkan tanpa pernah
benar-benar menuliskan, menciptakan!

Negeri Dongeng

Biar seribu tahun berlari
JIka tuju tak ditanda dalam peta
Seperti udara, cuma menerpa
Perjalanan kehilangan juntrungannya
Menyejarah, dalam epos melegenda
Biar seribu huruf mengkata
Jika makna hilang hakiki
Sepertio Utari, terhunus keangkuhan
Citra sarat kepentingan
Cinta, otak-atik politik perang

Masih Kulukis Wajahmu

: Ibunda Herlina di Belitong

Masih kulukis wajahmu di jendela
yang lembab dicumbu hujan tak reda
rambut waktu gugur satu-satu
menyeraki lantai malam rindu
berderaplah angin masuki ruang
ditunggangi imaji kepingin kau tandang
beterbanganlah hasrat dalam peluk 
nuju lempung debuan dalam petang
Aduh Mak Ai
hunjam hujan mengetuk genting
menimbul bunyi hati menggenting
aroma tubuhmu dan amis ompolku
yang khas itu, melesap dari seprei masa lalu
tergelincirlah wajah yang ngungun
diterpa kenang angan tentangmu terbantun
Masih kulukis wajah di jendela
yang hilang rangka
dalam genang sisa hujan di seberang
satu-satu kenang hilang ditelan 
bayang. Bujangmu yang nakal
belum menemu jalan pulang
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal H Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 15 Februari 2015
Beri Nilai-Bintang!