Seragam Batik

Karya . Dikliping tanggal 5 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
LIS hanya diam, sesekali ia menundukkan kepala karena malu bercampur sedih, saat temannya bertanya, alasan Lis memakai baju seragam putih-biru di hari Rabu. Padahal hari itu seharusnya Lis memakai seragam batik sekolah dengan corak biru tua bercampur abu dan putih.
Lis bersekolah di SMP negeri yang tidak jauh dari rumahnya. Sekolah yang bukan hanya tempat Lis belajar, tapi juga ladang mengais rezeki. Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, Lis tak tega melihat ibunya yang sakit-sakitan mencari uang sendirian. Lis membawa gorengan ke sekolah untuk dijual.
“Lis kamu kok masih pakai baju putih sih? Belum beli baju batik? Padahal kan stok baju batik masih banyak di koperasi sekolah?” tanya Dita, teman sekolah Lis. Tapi Lis hanya tersenyum tanpa mengucapkan apapun.
“Kamu nggak punya uang ya Lis? Kalau kamu gak punya uang, kamu bisa pinjam uangku.”
“Makasih Dit, nanti aku pasti beli kok baju batiknya,” lanjut Lis dengan sedikit senyum yang sontak membuat lesung pipitnya terlihat. Begitu manis. Kalau kamu pinjamin uang, aku harus mengembalikan dengan apa? Pikir Lis.
***
“GAWAT, kalau begini terus, kapan aku bisa beli seragam batik sekolah. Gorenganku saja masih banyak yang belum terjual,” Lis berbicara sendiri.
Terkada ia merasa putus asa. Tapi putus asa tak akan menyelesaikan masalah. Akhirnya ia ke Pasar Glodok, menjual gorengan yang belum terjual.
“Bang, gorengannya Bang, mari dibeli. Murah Bang, murah. Ayo… ayo… ayo dibeli gorengannya. Goreng pisang, bakwan, kroket masih panas Bang.” Lis menawarkan gorengannya kepada jajaran tukang ojek. Tapi yang laku cuma empat biki, Rp 4000 uang yang berhasil masuk kantong.
Ia duduk di terowongan penyeberangan orang stasiun Jakarta Kota. Melepas capek dan dahaga. Matanya mulai berkunang-kunang karena dehidrasi.
“Bisa habis uangku kalau aku pakai beli air mineral,” pikirnya.
Ia berjalan menuju masjid belakang gedung bank, persis depan stasiun, meminum air keran. Sekalian salah Asar. Air keran diminumnya banyak-banyak. Segar. Berhasil ia usir. Separuh nyawanya serasa balik lagi, tak jadi pergi.
Malamnya, Lis tidur dengan senyuman serupa bulan yang melengkung. Uang yang ia berhasil kantongi Rp 9500. Sisanya ia berikan kepada ibunya, untuk makan dan modal jualan besok.
***
“LIS, kamu dipanggil sama guru BP tuh. Disuruh menghadap ke ruangannya,” seru Ratna teman sekelas Lis.  Seketika Lis bergegas menuju ruang guru dan meninggalkan Dita yang sebelumnya sedang asyik ngobrol.
“Oke, makasih ya,” jawab Lis.
Hatinya tidak enak. Ini pasti mengenai baju batik yang belum ia beli. Ia pasrah jika memang harus kena marah.
“Bapak memanggil saya?” Lis mencoba memulai pembicaraan dengan sedikit gugup.
“Ya, duduk, Lis,” jawab guru BP dengan kacamata yang merosot sampai ke ujung hidung.
Suasana hening. Hanya terdengar tik tok jam yang lagi-lagi seperti tidak pernah lelah berjalan mengelilingi angka.
“Maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Lis memulai pembicaraan.
“Tidak Lis, terima aksih. Bapak hanya ingin tanya, kenapa kok kamu belum beli seragam batik sekolah?” Suara Pak Rusdi serak.
“Lis belum punya uang Pak, maaf.” Lis menundukkan kepala.
“Segera diusahakan Lis, masalahnya kalau kamu belum beli batik sekolah, kamu bisa-bisa tidak boleh ikut ulangan tengah semester.” Suara Pak Rusdi menyengat Lis dan membuat dadanya sesak.
“Iya, iya Pak. Maafkan saya.” Kali ini Lis menjawab dengan agak terbata. Air matanya hampir mengucur. 
“Maafkan Bapak, Lis. Tapi ini peraturan sekolah.”
“Iya Pak, Lis ngerti.”
Lis keluar ruangan dan berjalan seperti tanpa tenaga. Pandangannya kosong. Ia putuskan tidak mengikuti pelajaran sejarah, dan mengurung diri di toilet sekolah. Ia melihat bayangan dirinya di cermin toilet. Terlihat matanya sembab. Di tengah lamunan, ia ingat sahabatnya: Dita, pernah menawari pinjaman uang untuk membeli batik sekolah.
“Lis kamu kok nggak masuk pelajaran sejarah? Kamu ke mana aja tadi? Bu Reni marah lho! Tadi nanyain kamu.” Dita segera membredel Lis dengan banyak pertanyaan, seperti polisi yang menginterogasi. Wajah Dita terlihat beda kali ini. Sedikit pucat.
“Aku. emm.” Lis gugup
“Aku apa Lis?”
Lis kaget luar biasa ketika cahaya matahari memnadikan wajahnya. Menyorot lewat celah-celah ventilasi juga jendela kamarnya. Ia terbangun dari tidurnya. Dan dilihatnya uang Rp 9500 hasil berjualan kemarin masih tersimpan di atas meja belajar, di sampingnya sudah ada baskom berisi gorengan.
***
LIS berjalan menuju sekolahnya. Dalam hatinya ia tekadkan bersedia menerima tawaran Dita, sahabat baiknya. Ia ingin sekali memakai seragam batik sekolah. Tapi di sekolah tak ada Dita.
Lis tak langsung pulang ke rumah. Seperti biasa, ia harus berkeliling menjajakan gorengannya. Di alpangan museum Fatahilah, tiba-tiba ada yang memanggil Lis. Suara Ratna dan Inez.
“Lis! Lis! Tunggu Lis!” Ternyata benar, itu suara mereka.
“Lis kamu sudah dengar kabar Dita meninggal tadi pagi karena terjadi penyumbatan di jantung.” Suara Ratna membuat Lis kaget luar biasa.
“Ya Tuhan. Dita sahabatku!”
Hari itu menjadi hari paling menyedihkan bagi Lis. Berkali-kali ia harus menyeka air matanya yang mengucur deras sekali.
“Lis…?” Terdengar suara memanggil namanya dengan bercampur tangisan. Ternyata suara ibunya Dita.
“Iya Bu,” jawab Lis dengan terisak.
“Sebelum Dita meninggal, dia menitipkan ini buat Lis.” Terlihat mamanya Dita menyodorkan baju batik sekolah kepada Lis.
“Ini baju batik sekolah bekas Dita. Dita ingin Lis memakainya, ambillah.” Seketika itu tangisan Lis makin mengencang. Tak tahu haruskah ia sedih atau senang.
Taufiq A Prayogo. Lahir di Karawang, bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Taufiq A Prayogo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 4 Oktober 2015