Serangan Fajar

Karya . Dikliping tanggal 22 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

AKU membagikan pamlet undangan di media sosial berlanjut penempelan kertasnya di tembok dan tiang listrik pinggir jalan kampung, esok pagi. Isinya mengundang semua remaja yang bernama Fajar di kampung datang ke rumah.

Dalam hitungan jam, remaja-remaja bernama Fajar mulai berdatangan. Mereka dari beragam profesi dan latar belakang. Dengan senyuman puas, aku melihat kerumunan orang bernama Fajar di teras rumahku. Jumlah tak banyak, mungkin hanya ada sepuluh orang.

“Kenapa kita dikumpulkan di sini?” Salah satu remaja yang bernama Fajar bertanya.

“Karena esok hari yang menentukan masa depan kampung, ya esok hari ada pemilihan ketua RW,” jawabku sok berwibawa.

“Berikan alasan kenapa kami para Fajar-Fajar harus menuruti orang yang bukan bernama Fajar?” tanya seorang Fajar yang lain. Aku terdiam sejenak.

“Karena akulah hanya bisa mewujudkan semua yang kalian, Fajar-Fajar inginkan. Aku ini masih muda, umurku tak beda jauh dengan kalian. Aku tahu nama Fajar begitu dominan di kampung ini jadi banyak orang luar menyebutnya Kampung Fajar. Dan aku ingin mengharapkan bantuan kalian yang bernama Fajar untuk mensukseskan rencanaku menjadi ketua RW baru.” Para Fajar yang ada di depanku hanya melongo mendengarkanku berkoar-koar.

“Pokoknya kalian harus buat aku besok terpilih.” Asistenku yang juga bernama Fajar menyiapkan alat tulis dan catatan kecil.

“Kita Farus paksa, kalau perlu kita fajar… fajar mereka,” kata si Fajar yang suka salah sebut H jadi F. Mataku langsung melotot kesal.

“Itu hajar bukan Fajar. Jangan ditulis!!!” Asistenku hanya mengangguk.

“Kita buat kampanye gelap,” kata si Fajar cerdas.

“Besok kita sudah pemilihan, ngapain harus kampanye gelap.”

“Maksudnya kita lancarkan kampanye pada malam ini,” kata Fajar cerdas lagi. Aku mengangguk setuju.

“Usulmu kuterima.”

“Lebih baik usul si Fajar janfan diterima,” bisik si Fajar yang tak bisa bilang huruf P dan huruf G. Aku kaget mendengarnya.

“Maksudmu?”

“Hati-hati, Bos. Dia bisa jadi fajar makan tanaman.”

“Maksudmu pagar makan tanaman.”

“Iya itu maksud saya.” Aku manggut-manggut.

“Fajar cerdas, aku ralat usulmu tak kuterima.” Si Fajar kecewa mendengarnya.

“Sekarang apa usulmu, Fajar yang gak bisa bilang huruf P dan G?”

“Kita ini kan banyak Fajar di sini, jadi kita lakukan Seranfan Fajar.”

“Maksudmu Serangan Fajar.”

“Iya itu.”

“Oke, besok pagi-pagi sekali kita lakukan Serangan Fajar. Demi nama-nama Fajar yang ada di kampung ini, kalian semua bersedia!”

“Bersedia!!!” jawab para Fajar serempak.

Pagi-pagi sekali, aku dan sekelompok orang bernama Fajar melakukan apa yang kami namakan Serangan Fajar. Tapi apesnya, Serangan Fajar ketahuan. Lalu terjadi kejar-kejaran dengan penjaga keamanan kampung.

Beruntung, kami semua berhasil lolos.

“Kita gagal!!! Serangan Fajar kita gagal!!!” kataku sambil menggebrak meja teras rumah. Beberapa orang bernama Fajar yang ikut denganku tertunduk diam.

“Mungkin namanya Serangan Pagi bukan Serangan Fajar, bikin sial saja,” kata si Fajar cerdas dengan suara gemetaran.

“Sudahlah. Yang penting nanti kalian harus bisa bujuk Fajar-Fajar di kampung ini agar pilih aku.”

“Bayaran kami mana?” tagih Fajar asistenku.

“Kerjaan gak becus, masih mau minta bayaran. Gak tahu malu kalian ini,” kataku marah.

“Uuuuuuuuuu” Fajar-Fajar menyorakiku. Termasuk Fajar asistenku. Aku yang kesalnya sudah di ubun-ubun langsung menutup rapat. Lalu mengusir pergi mereka.

Ketika pemilihan ketua RW rampung pada siang hari, bibirku tampak cemberut. Wajahku begitu tegang seakan sedang menahan emosi kesal yang berkecamuk di daaku melihat kekalahan di depan mata. Aku tak pernah membayangkan bisa kalah setelak itu. ❑ Yogyakarta, 5 April 2019

Herumawan Prasetyo 
Jalan Wonosari Km 9 Dusun Sribit Kidul RT 01/RW 11 Sendangtirto Berbah Sleman Yogyakarta 55573.


[1] Disalin dari karya Herumawan Prasetyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu 21 April 2019.