Seseorang dalam Ramalan

Karya . Dikliping tanggal 8 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

KAU hanya harus mendengar kisahku sampai selesai untuk mengakhiri bencana yang terjadi. lni akan panja ng, jadi simak baik-baik.

KAU adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan. Kau adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan meskipun kau adalah pecundang. Kau adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan meskipun kau adalah pecundang yang tak menyadari bahwa kau adalah pecundang. Kau adalah seseorang yang dikatakan dalam ramalan meskipun kau adalah pecundang yang tak menyadari bahwa kau adalah pecundang yang dikatakan dalam ramalan.

Ramalan itu sampai kepadaku berpuluh-puluh tahun lalu.Alam memberikanku sehelai benang takdir yang berisi masa depan suram kerajaan ini. Di benang itu, aku menatap air tak mengalir di sepanjang kerajaan, sehingga rakyat harus meminum darah saudaranya sendiri.

Maka perang berlangsung terus-menerus sepanjang jarum jam berputar dan takkan ada pemenang. Suara tangis terdengar di seluruh kerajaan sepertidetak jan­ tung. Angin topan dan gempa bumi bergantian datang tiap bulan seperti datangnya darah dari kemaluan perempuan.

Aku melihat Sang Nasib tak lagi menyayangi kerajaan ini. Ia pergi jauh dan takkan kembali seperti seseorang yang mati. Sementara itu, Dharma tidak lagi menjadi panutan dan tuntunan hidup manusia. Semua yang kulihat di benang itu hanya gelap tanpa cahaya. Hanya hitam seperti malam tanpa bulan, tanpa bintang, tanpa obor, bahkan tanpa kunang-ku­nang.

Aku mencari cahaya dalam penglihatanku seperti seorang ibu mencari anaknya yang hilang. Di mana terang yang seharusnya ada sebagai penyeimbang kehidupan? Lalu aku mendapatkan sedikit cahaya yang bersembunyi di selatan. Seorang perempuan muda yang akan menghentikan segala kekacauan yang ada. Perempuan dari selatan dengan tulisan asing yang terpatri di dadanya. Tulisan yang hanya dipahami oleh kehidupan dan oleh aku si penglihat benang.

**

AKU lanjutkan ceritaku dulu. Kau harus mendengarkanku karena itulah satu-satunya cara agar segala bencana ini berakhir. Sebagai abdi kerajaan, tentu saja aku mencintai Maja. Aku lahir, belajar, dewasa, menikah, dan bekerja di Maja. Aku mengagumi gunung agung Maja, hijau pohon pinus, angin kencang dari utara, laut luas di selatan, lebih dari segala yang kukagumi dari lekuk tubuh istriku.

Maka hanya kengerian yang kurasakan saat aku menatap benang takdir itu. Aku memutuskan untuk menyampaikan semuanya pada Raja Maja. Akan tetapi, ia malah mengusirku dan membuatku mengasing di tanah tak bernama ini. Raja tak percaya dan tak mau percaya sehingga ia menganggapku dungu seperti keledai dan mengusirku dari hadapan­nya seakan aku adalah kucing yang mencuri ikan di dapur pribadinya.

Aku bertahan bertahun-tahun di tempat ini tanpa ditemani siapa pun. Seakan-akan segala hal yang telah kulakukan demi kerajaan tak berarti seperti buah bu­ruk yang telah dimakan kelelawar. Raja bahkan tak mengizinkan istriku untuk ikut dalam pengasinganku. Jauh dari sini, aku bisa melihat Raja menjadikan istriku selir terbarunya. Tentu saja itu menyakiti hatiku. Akan tetapi, hatiku lebih sakit menatap Maja yang kucintai sedang berjalan menuju ramalan yang telah ku­ peringatkan.

Aku mendengar kabar dari burung bahwa Raja telah menyesal atas perbuatan tidak baiknya kepadaku. Ia memerintahkan beberapa pasukan un­ tuk menjemputku, tapi mereka tidak menemukanku seolah-olah aku adalah hantu. Raja memerintahkan beberapa pasukan lagi untuk menjemputku dan menjemput tentara yang tak kem­bali, tapi mereka tidak menemukan kami seolah-olah kami adalah hantu.

Raja memerintahkan hal serupa, tapi hasilnya tetap sama. Setiap bulan, pasukan akan dikirim dan takkan kembali.Aku mengirimkan pesan pada daun-daun gugur bahwa hanya seseorang yang dikatakan dalam ramalanlah yang bisa menemukanku.

**

RAJA mendengar pesanku setelah bertahun-tahun. la menghentikan pengiriman pasukan, dan mulai mencari seseorang dalam ramalan. Setiap perempuan muda diselatan akan dilihat dadanya. Mereka pun menemukan itu didada ranummu. Mereka bersujud di hadapanmu dan memintamu mencariku agar segala benca na ini berakhir. Mereka berjanji akan meng­hadiahkan apa pun yang kau minta asal kau mengu­capkannya.

Tapi kau adalah pecundang karena mengatakan iya dengan cepat seperti seorang perawan tua yang dila­mar oleh pangeran, meski kau tahu tentang tentara yang tak kembali, dan kau tak merasa harus menjadi salah satu dari mereka. Kau pecundang karena merasa ditakdirkan untuk menjadi pahlawan dalam ra­malan, meski kau merasa bahwa ramalan hanyalah dongeng yang diceritakan nenek moyang.

Kau pecundang karena berangkat dengan segera tanpa bala tentara, meski kau tak tahu arah angin mana yang akan menuntunmu padaku. Kau adalah pecundang karena kau menempuh perjalanan dengan semangat, meski kau tak percaya apakah kau akan selamat. Kau adalah pecundang karena telah membunuh naga penjaga tempatku,meski kau pikir kaulah yang terbunuh. Kau adalah pencundang karena telah tiba di sini.

**

KAU bersujud di hadapanku. Kau memperkenalkan diri sebagai utusan kerajaan dan utusan takdir. Kau mengatakan tentang kerajaan yang hancur sepertira­ malamku. Kau bercerita tentang rakyat yang meminum darah saudaranya sendiri.

Kau menggambarkan angin topan dan gempa bumi yang datang sebulan sekali seperti darah dari kemaluan perempuan. Kau menyampaikan salam dan maaf dari Raja untukku. Aku mempersilakan kau duduk dan memberikanmu air bersih yang sudah tak kau temukan sejak lama. Kau meminum dengan sekali teguk. Kau mengucapkan terima kasih. Kau meminta petunjukku tentang apa yang kehidupan wariskan padamu. Aku memintamu untuk menunjukkan tulisan yang terpatri di dadamu, karena hanya dari sanalah aku bisa menafsirkan takdirmu.

Kau manut dan membuka bajumu. Aku menatap dada ranummu yang dijadikan kertas oleh kehidupan. Aku membaca tulisan itu, “Pecunda g”. Kau terheran dan langsung mengenakan kembali pakaianmu.Aku berkata bahwa itulah arti dari tulisan di dadamu. Kau pecundang karena itulah yang kehidupan tulis di dadamu.

Kau kebingungan. Kau bertanya apa yang harus kau lakukan agar semua bencana ini berakhir. Maka aku menjawab, “Kau hanya harus mendengar kisahku sampai selesai untuk mengakhiri bencana yang terjadi. lni akan panjang, jadi simak baik-baik…”***

 


[1] Disalin dari karya Jein Oktaviany
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 7 Oktober 2018