Seseorang Menulis tentang Kematian – Magrib Tiba – Prasangka – Musim Hujan – Ilusi

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2018 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Lampung Post

Seseorang Menulis tentang Kematian

Lalu ia mengartikannya seba

gai ‘kebebasan dari memori

dan harapan’. Seperti kotak

hitam pesawat yang tidak lagi

berfungsi dalam investigasi

kecelakaan pesawat. Seperti

sampah-sampah plastik yang

dibakar penjaga kebersihan

taman. Seperti ada yang telah

merampok segalanya tiba-

tiba. Aku beranalogi, bahwa

kematian seperti temanku

sewaktu di Sekolah Menen-

gah Pertama, ketika alat

komunikasi belum secanggih

sekarang ini, yang kemudian

meminjam buku dariku, lalu ia

tak pernah kembali ke sekolah

bersama buku itu. Ia tak lagi

hadir di mataku.

2018

Magrib Tiba

Bersama cahaya terakhir

yang terkesan putus asa.

Cahaya lampu-lampu

di jendela dan teras-teras

bangunan serta jalan

kota mulai menyala.

 

Sementara itu kita

mulai memaksa

cahaya itu

untuk mempertahankan

halusinasi

 

dan kepalsuan

dari wajah kita,

yang penuh catatan

mimpi-mimpi

yang sobek dan terbakar

hari ini.

2018

Prasangka

Waktu meleleh dan menguap

di jalan

Hitam memudar. Ia menghil-

ang.

 

Tetapi selama jalan itu mem-

bentang

Kita seperti seorang an-

tropolog:

Melacak kembali susunan

juga alasan

Waktu sebelum ia memudar

itu.

 

Cahaya menjadi begitu dekat,

Seperti senter tukang ronda.

 

Tapi kita seperti berpras-

angka,

Tentang alasan waktu yang

menguap itu.

2018

Musim Hujan

hijau memantul di bajuku.

bau rumput menguar samar.

kupejamkan mataku

kutemukan seruang gelap

yang diterangkan kunang-

kunang.

 

sebuah arca muncul tanpa

alasan.

masa lalu, dekat sekali den-

gan

masa kini masa kini, seperti tak

tersentuh.

 

namun ruang bagi masa lalu

teramat lebar.

sementara masa kini:

seperti ruang yang hanya

mampu

memberi sekali tarikan napas.

dan masa depan,

seperti setetes air

yang jatuh tepat di matamu

ketika kau dalam keadaan

terlelap

dan seketika menghapus

bunga tidurmu.

(Kotabumi, Januari 2012)

Ilusi

Di dalamgelapmatamu

Akugenggambarahatimu

Di dalamtubuhini

Anginkemarau berkibar-kibar

2013

BonekaAgit Yogi Subandi, menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul Sebait Pantun Bujang. Puisinya dimuat di berbagai koran nasional dan lokal.