Sesotya Murca Saking Embanan – Bantala Rengka – Suta Manut Marang Bapa – Waspa Kumembeng Jroning Kalbu – Pancuran Mas Sumawur ing Jagad

Karya . Dikliping tanggal 26 Juli 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Sesotya Murca Saking Embanan

Juni-Agustus
Daun-daun lepas dari ikatan
melayang jatuh di jalanan
Dan kau adalah pohon kering – subuh itu –
berdiri dengan tubuh yang ceking
Setumpuk jerami membakar diri
mengirim kabar pada langit
Dan kau adalah pohon kering
berdiri dengan wajah yang gering
Serangga menghilang ke dalam tanah
Membangun liang rahasia
Bersembunyi dan bercinta tanpa wajah
Di punggungku – tanah-tanah terbuka
Kau kubur seluruh sakitmu
Kau tanam segenap nyerimu
Ini bulan di mana segala jatuh
Ini bulan di mana segala hilang
Tak ada lagi kamu
Dan sesuatu
yang berbau tubuhmu

Jogja, 2014

Bantala Rengka

Agustus
Di antara tanah retak dan angin kering
Pada kelopak bunga-bunga randu
: ada yang terus memanggil namamu
Sepanjang Agustus. Sepanjang Agustus
Tidak ada yang benar-benar bergerak
Sepanjang Agustus. Sepanjang Agustus
Hanya serangga yang beranak-pinak
Di antara tanah retak dan angin layu
Hanya daun-daun yang tumbuh di tubuhku
Dari luka yang kutanam bulan lalu

Jogja, 2014

Suta Manut Marang Bapa

Agustus-September
Belukar menjalar hingga luar pagar
seperti anak mencari bapaknya
Sementara tunasbambu menetas
Angin bergerak pelan dari utara
menuju selatan mencari samudra
Orang-orang berangkat ke ladang-ladang
Memanen luka yang kemarin ditanam
Diam-diam banyak yang tumbuh bulan ini
Dan kemarau akan segera pergi

Jogja, 2014

Waspa Kumembeng Jroning Kalbu

September-Oktober
Kau pernah bilang
: ada saatnya burung kembali bersarang
membangun segala yang pernah hilang
Dan kapuk-kapuk randu
bergetar sebab rindu
Di antara September dan Oktober yang riuh
lubang-lubang yang kautinggalkan
telah penuh terisi hujan
menggenang seperti rawa-rawa
Kau pernah bilang:
tanam saja padi gaga di sana
sebab aku tidak akan kembali
seperti Dewi Sri pada Sadana
Jogja, 2014

Pancuran Mas Sumawur ing Jagad

Oktober-November
Di satu pagi laron-laron terbang
dari lubang yang kautinggalkan
Sebab di satu subuh hujan runtuh
menghapus seluruh jejakmu
Dan daun-daun memaksa keluar
dari pohon asam jawa
Menjalar seperti anak rambutmu
Dan rontoklah bunga angsana!
Mengenangmu pagi ini
: mengenang selokan di pagar rumah
yang mengalir menuju sawah
Mengenangmu pagi ini
: mengenang cemas hujan emas
dari pohon-pohon angsana

Jogja, 2014

Mulya Rasa Kasuciyan

November-Desember
Burung-burung belibis itu datang lagi
Hinggap di genangan sisa hujan semalam
Mereka bersiulan sepanjang bulan
Pada yang berkelebat dalam lebat hujan
Di penghujung tahun ini kukenang kamu
Kukenang kaki-kaki telanjangmu itu
Turun pelan dari ranjang meninggalkanku
Menuju rumput berselimut embun beku
Dan tak pernah kembali
menebar benih-benih padi
di sawah-sawah kita

Jogja, 2014

Wisa Kentir ing Maruta

Desember-Februari
Langit gelap
Angin beracun
Tetapi janji-janji
mesti ditepati
Seperti bibit padi
yang harus ditanam
Pada hujan yang berlebihan
aku hanya berdoa
sisakan jejak kakinya
sisakan harum tubuhnya
Pada sungai-sungai yang keruh
aku hanya berdoa
sisakan bayang wajahnya
sisakan sedikit saja

Jogja, 2014

Anjrah Jroning Kayun

Februari
Kaudengarkan di atas genting kucing berlarian
Mencari jodohnya di dalam kegelapan malam
Persetubuhan yang mirip dengan tangisan panjang
yang suatu malam pernah kaudengar dalam kamar
Tangis kehilangan yang disembunyikan Dewi Sri
Dalam padi yang hijau. Dalam kamar bau dupa
Di antara gelagah-gelagah yang mulai kembang

Jogja, 2014

Wedharing Wacana Mulya

Maret
Kau yang berdiri di ujung musim hujan
Di antara bunga gelagah berguguran
Kupanggil namamu. Kupanggil namamu
Lewat nyanyi tonggeret di pohon randu
Lihatlah padi-padi mulai berkembang
Musim hujan akan segera berakhir
Dengarlah sungai-sungai kembali tenang
Mengalirkan kesedihanmu yang sepi
Wahai kau yang masih berdiri di ujung musim hujan
Mengabur di antara bunga gelagah gugur
Kucari kamu di sepanjang musim kemarau tahun depan

Jogja, 2014

Gedhong Mineb Jroning Kalbu

Maret-April
Tubuhmu menguning seperti album usang
Mengundang kemuraman kembali datang
Masuk ke dalam dadaku yang terkunci
Bagai rumah yang kehilangan penghuni
Burung-burung bertelur di dalam sarang
Memeram kecemasan yang akan pecah
Dan terbang di langit yang kering kerontang
Menyambut pulangnya kemarau yang lelah
Mungkin mesti kulupakan kamu sementara waktu
Agar rindu ini terus tumbuh di sekujur tubuh

Jogja, 2014

Sesotya Sinarawedi

April-Mei
Tiba saat padi merebahkan diri
Bersama gerimis yang semakin tipis
Dan anak-anak burung telah menetas
Dan kapuk-kapuk randu telah merekah
Tiba waktunya kukuburkan dirimu
Di tengah ladang menjadi masa lalu
Terselip di sela tumpukan jerami
yang akan habis terbakar oleh api
Hujan sebentar lagi akan benar-benar pergi
Seperti kamu yang perlahan habis oleh api

Jogja, 2014

Tirta Sah Saking Sasana

Mei-Juni
Tidak ada lagi yang sungguh tersisa
Air telah pergi tinggalkan gelasnya
Kini kosong dan dingin yang berkuasa
Serta angin yang menggigilkan segala
Tapi ladang yang sepi mesti kau isi
Sesuatu mesti kau tanam di sini
Agar kelak ada yang bisa kau ingat
Selain angin dingin yang cepat lewat

Jogja, 2014

Gunawan Maryanto menulis puisi dan prosa. Buku puisinya antara lain The Queen of Pantura (2013). Ia aktif di Teater Garasi, Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gunawa Maryanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 26 Juli 2015

Beri Nilai-Bintang!