Sesudah Tsunami – Di Suriah – Di Musim Pemilu – Di Sebuah Pagi

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

SESUDAH TSUNAMI

Dengarlah, anak.
Ada pintu-pintu terlepas,
seperti helai kertas origami.
Bangau-bangau terlihat rapi
di tanah yang memar,
laut menjadi kembar.
Bau garam sampai juga ke sini,
kampung menjadi sunyi.
Di atap rumah yang sungsang,
ada kapal besar,
lambungnya menganga,
“Itu kiamat
dan doa-doa adalah ratap
yang terlambat.”
Tidak, anak.
Yang tiba adalah tsunami,
ia menekuk mimpi:
Seribu teluk telah remuk,
sebelum pukul delapan pagi.
Waktu mati.
Jam dinding gemetar
jarumnya gugur,
seperti daun trembesi.
“Ia pasti bersama malaikat.
Karena asar belum lagi lewat.”
Entahlah, anak.
Angin datang dengan mata yang berat.
Ombak raya buta nama-nama.
Jika suatu hari ia kembali,
ingatlah. Bangau-bangau di lemari:
kita bergegas melepas mimpi.
2014

DI SURIAH

Di Suriah,
ia melihat langit menganga
pada leher lelaki itu.
Ada mata pisau. Terpejam
menunggu sebuah sayatan
rindu. Atau mungkin dendam.
Ia tak meronta.
Matahari merah saga.
Ia teringat seekor singa,
di tengah padang.
Dan seekor rusa,
menari girang.
Ia masih terngiang.
Kota-kota mandi doa.
Dubai. London. Praha.
Sebelum ia menjadi sunyi,
terdengar sebuah orkes.
Dengan nada terkunci,
di lemari es.
2014

DI MUSIM PEMILU

Di musim pemilu
ada pesan hujan yang tak terlihat:
pada perahu kertas telah dilipat
suara-suara palsu
tak perlu kornea baru
cobalah raba riwayat pigmen
dari warna-warna bendera:
apa beda hijau, kuning, biru,
dan dusta hitam maskara
di bulu matamu?
Wajah-wajah basah di poster
adalah satu gurat seribu rupa
lihat siapa yang bicara di layar kaca itu:
ada kerlip piksel merah berdarah.
Di musim pemilu
ada pesan hujan yang tak terlihat
dan kita tak juga pulih
dari sebuah pingsan purba.
2014

DI SEBUAH PAGI

Ilalang kering di tungku itu mendamba letikan api, ia menunggu,
Seperti malam menunggu matahari datang dengan gunting rumput,
lalu memangkasnya pelan, sangat pelan, hingga pada sebuah pagi
engkau lihat langit begitu ungu dengan siluet hati separuh terbakar,
hanya separuh, sebelum hujan.
2014

Nezar Patria lahir di Sigli, 5 Oktober 1970. Berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh, dan bekerja sebagai wartawan di Jakarta.
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Nezar Patria
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 25 Januari 2015