Setagaya Aku Ingin Pulang

Karya . Dikliping tanggal 11 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Setagaya di musim dingin tampak putih berselimut salju. Dari balik jendela kamar, kusaksikan orang-orang bermantel tebal berjalan cepat menembus udara yang membuatnya menggigil.

Suhu yang begitu dingin seperti inilah yang membuatku enggan melakukan aktivitas di luar ruangan. Terlebih di usiaku yang tak lagi muda, aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar untuk sekadar beristirahat.

Terdengar bel beberapa kali dibunyikan dari luar pintu kamar. Aku terbangun dari istirahatku, dan bergegas membuka pintu.

Sumimasen! 1,” ucap seorang lelaki yang tak pernah kukenali sebelumnya. Di depan pintu yang baru saja kubuka, lelaki itu membungkukkan badan kemudian tersenyum.

Aku tak pernah berpikir akan ada yang menemuiku setelah lama tinggal di sini. Sejak kepergian Taizan−suamiku−lima tahun silam, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah apartemen kecil di kawasan ini. Kepergiannya menghadap Sang Kuasa membuatku larut dalam kesepian dan kesedihan. Aku berpikir akan sangat menderita jika harus tetap bertahan di rumah yang pernah kutinggali bersamanya. Dengan tekad bulat, kuputuskan untuk mengubur kenangan dan memulai kehidupan baru.

Gomenashai 2, sedikit menunggu,” ucapku sembari membungkukkan badan sebagai bentuk permintaan maaf. Aku membuka lembaran ingatanku ketika menatap sesosok di hadapanku. Namun, wajah lelaki itu memang tak kukenal sama sekali.

Daijobu 3. Ini ada paket untuk Anda!” Masih dalam raut wajah yang sama, lelaki itu menyodorkan sebuah kotak berbalut kertas berwarna cokelat. Dengan rasa penasaran, tanganku gemetar menerima paket yang dibawakannya.

Paket berisi baju hangat itu bertuliskan dari seseorang yang tak kuingat lagi siapa dia. Rupanya usia telah memudarkan ingatan ku akan beberapa orang yang pernah kukenali sebelumnya.

“Eh, tunggu sebentar. Apakah Anda orang Indonesia?” tanyaku pada lelaki berkulit sawo matang itu.

“Bagaimana Anda bisa tahu?” lelaki itu terkejut mendengar pertanyaanku. Meskipun aku belum mengenalinya, wajah sepertinya sudah tak asing lagi bagiku.

“Mari masuk sebentar. Ayo kita minum teh bersama. Kau pasti kedinginan kan?” pintaku pada lelaki itu.

Ia menuruti ajakanku, dan kami berbincang cukup lama di dalam kamar sambil menikmati seduhan teh hijau yang hangat. Lelaki pengantar paket asal Indonesia itu bernama Bayu. Ia bekerja sebagai kurir di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang sembari menamatkan studi S-2-nya di University of Tokyo.

Bak kejatuhan durian runtuh, bertemu dengan orang sebangsa di negeri asing adalah satu hal yang menggembirakan. Sebab, dengan begitu kami bisa sedikit menuntaskan kerinduan terhadap kampung halaman dengan berbagi cerita mengenai kehidupan di tanah rahim.

Kehadiran Bayu-san mengingatkanku pada Yoshida, putra semata wayangku yang telah jauh meninggalkanku. Bersama gadis bermata biru yang dipinangnya tujuh tahun silam, ia pergi meninggalkan Jepang dan tinggal di negeri istrinya berasal.

Awalnya tidak ada masalah mengenai keputusan Yoshida untuk tinggal di benua biru. Namun, sepeninggal suamiku, aku benar-benar merasa kesepian. Mungkin ini yang dirasakan ibu dan bapak ketika dulu aku memutuskan tinggal di Jepang dan berpindah kewarganegaraan.

Hari demi hari berganti. Menjumpai masa tua membuatku menjadi sangat perasa. Aku kian merasa kesepian dan dilupakan oleh orang-orang tersayang. Bukan maut yang kutakuti dalam hidupku ini yang menjelang malam. Namun, kesedihan yang membunuh jiwaku akibat terlalu lama hidup dirundung sepi. Kini tiada lagi asa selain dapat berpulang dengan tenang. Apa mungkin ini balasan Tuhan atas perlakuanku terhadap ibu dan bapak dahulu. Taizan, lelaki sandaran hidupku telah berpulang, dan anak semata wayangku telah lama meninggalkanku.

Polandia terasa begitu mustahil untuk kujangkau. Meski kerinduanku terhadap Yoshida kerap memuncak, aku tetap berusaha berdamai dengan keadaan. Aku cukup tahu diri bahwa tidaklah mungkin bagi seorang wanita renta sepertiku ini menempuh perjalanan yang begitu jauh. Lagi pula, andai saja memang ada biaya untuk membeli tiket pesawat, aku akan memilih untuk pulang ke Indonesia dibandingkan menyusul mereka di sana.

Kesibukan sebagai seorang wartawan membuat Yoshida tak ada waktu meski sebatas untuk menanyakan keadaanku. Ponsel yang tergeletak di atas meja kamar sudah sangat lama tak berdering. Tidak ada lagi kabar darinya. Acap kali aku bertekad untuk menghubunginya, tapi segera kuurungkan. Aku takut mengganggunya, atau bahkan membuatnya marah karena menelepon di waktu yang tidak tepat.

Sekuat tenaga kusingkirkan kesedihan akibat rundungan sepi. Meskipun terkadang ia hadir secara tiba-tiba, dan aku tak dapat menolaknya.

***

“Apakah Rumini-san sudah lama tinggal di Jepang?” tanya Bayu-san sambil menikmati teh yang kusuguhkan.

“Sudah. Setelah menikah, saya mengikuti suami untuk menetap di Jepang. Mungkin sudah sekitar tiga puluh tahun saya meninggalkan Indonesia dan tidak pulang sama sekali,” jawabku.

“Bagaimana dengan keluarga di Indonesia, apa Rumini-san merindukan mereka?” tanyanya lagi.

“Tentu saja aku sangat rindu,” jawabku singkat, dan mataku terasa basah secara tiba-tiba.

Kami bertukar cerita hingga tak terasa waktu menjelang petang. Tak terasa pula percakapan itu sudah empat pekan berlalu, dan besok ia akan datang menemuiku lagi. Kehadiran Bayu-san, lelaki pengantar paket itu membuat gairah hidupku lahir kembali.

Aku telah berjanji akan membuatkannya sayur lodeh spesial sebagai bentuk ucap an terima kasihku sebab ia akan datang menemuiku lagi. Aku juga berharap, dengan memasak makanan khas Indonesia, kerinduan kami akan kampung halaman sedikit terobati.

Saika-chan, tetangga kamarku dengan suka hati kutitipi sayuran dan aneka bumbu. Perempuan muda asli Jepang yang lama kukenal itu memang sangat baik dan kerap membantuku.

Aku menyadari bahwa tanganku tak lagi piawai dalam meracik bumbu. Ditambah daya ingatku yang melemah, tak terasa banyak hal yang tiba-tiba hilang dari kepala dan membuat proses memasakku terganggu. Meskipun berat mengingat resep yang telah lama tidak kupraktikkan, masakan spesial itu berhasil kusiapkan. Walau pun rasanya tak sesedap sayur lodeh buatan ibu di kampung dulu, bagi lidah seorang Indonesia masakan yang kubuat kali ini sedikit lebih baik dibandingkan rasa masakan ala negeri sakura.

Lama sudah aku menunggu Bayu-san datang untuk mencicipi masakan yang telah kusiapkan sedari pagi. Namun, hingga larut malam tiba, tiada tanda ia akan hadir. Aku yakin lelaki itu tidak akan mengingkari janji. Benar saja, bukan salahnya, tapi aku. Setelah kulihat agenda di smartphone-ku, baru kusadari bahwa Bayu-san tidak berjanji datang di hari ini. Rupanya ketidaksabaranku menanti kedatangannya membuatku lupa bahwa ia akan datang tepat sebulan setelah pertemuan pertama kami.

***

“Ting-Tong!”

Seorang lelaki tegap berkulit sawo matang berdiri dengan gusar. Semenit berlalu setelah bel ditekan, tibalah pintu terbuka secara perlahan.

“Aku datang, Rumini-san!” lelaki itu berteriak riang dengan senyum yang tersungging lebar. Namun, seketika ia menjadi salah tingkah sebab yang ditemui bukanlah Rumini-san.

Lelaki itu mengeluarkan sebuah catatan kecil dari dalam tasnya. Ia membuka di salah satu halaman, lalu menengok nomor yang tertera di pintu kamar. Tidak ada yang salah. Alamat yang ditujunya tepat.

Gomenashai 2, Anda pasti Bayu-san?” tanya seorang wanita muda setelah pintu kamar terbuka.

“Benar. Apakah Rumini-san ada di dalam?” senyum canggung terlempar dari wajah lelaki itu.

“Tunggu sebentar,” wanita itu bergegas kembali ke kamar dan mengambil sesuatu.

“Ini ada sesuatu untukmu,” ucap wanita itu sambil menyodorkan sebuah kotak kayu berukir bunga sakura.

 

“Untukku, dari siapa?” dengan diliputi kebingungan Bayu-san menerima kotak itu.

“Bukalah! Kau akan tahu sendiri nanti,” jawab wanita itu.

Lelaki itu hanya mengangguk berusaha untuk memahami ucapan wanita itu.

“Maaf, aku harus segera kembali beristirahat,” ucap wanita itu kemudian menutup pintu.

Lelaki berbadan tegap itu berdiri mematung di depan pintu. Perlahan ia membuka kotak kayu yang diberikan padanya, dan membaca sebuah surat di dalamnya.

“Teruntuk Bayu-san,
Terima kasih telah menepati janjimu untuk menemuiku lagi. Aku sungguh tidak sabar untuk bertemu denganmu, lelaki yang mengingatkanku akan Yoshida, putra semata wayangku yang telah lama meninggalkanku.
Tepat kemarin Yoshida dan istrinya menjemputku dan mengajakku tinggal bersamanya. Aku tak pernah menyangka mereka akan datang menemuiku lagi. Mereka memutuskan untuk meninggalkan Polandia dan menetap di Osaka. Sebenarnya kerinduanku akan kampung halaman sudah teramat dalam. Namun, aku tak mau menolak ajakan Yoshida dan kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Tak perlu cemas ataupun sedih. Kau bisa mengunjungiku ketika rindu. Alamat rumahku ada di balik surat ini.
– Rumini-san -”

Mata lelaki itu berkaca-kaca. Ada kesedihan yang menyelinap sebab ia terlambat menjumpai Rumini-san. Kejutan istimewa berupa tiket pesawat menuju Indonesia yang disiapkan untuk wanita itu urung ia berikan.

“Tak apa, Rumini-san. Kau akan menjumpai kebahagiaanmu saat ini,” lelaki itu tersenyum, kemudian bergegas meninggalkan apartemen.

Catatan:
1 Sumimasen = Permisi
2 Gomenashai = Maaf
3 Daijobu = Tidak apa

AGUNG ZAKARIA

lahir di Malang, 07 Desember 1998. Mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya ini memiliki ketertarikan pada dunia sastra sejak duduk di bangku SLTA. Salah satu cerpennya yang berjudul “Ibu dalam Secangkir Ingatan” pernah dimuat di surat kabar Pikiran Rakyat.


[1] Disalin dari karya Agung Zakaria
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 10 Maret 2019