Setelah Pembunuhan Pertama

Karya . Dikliping tanggal 1 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
KUTUKAN itu menguntitku: aku tak bisa mati, aku harus terus memunuh dan mengembara tak kunjung henti. tentu saja aku harus melawan. Aku harus membunuh sang pengutuk atau–jika tidak bisa–aku akan melawan dengan bunuh diri.
Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan tindakan itu sekarang. Akan kuceritakan dulu kerisauanku kepadamu. Rasanya belum lama aku membunuh Abel, Nyonya Esteban Duarte Diniz, dan Mario. Rasanya, aku tak akan berurusan lagi dengan perbuatan yang sangat ingin kuhindari itu.
Kenyataannya, kini ketika berada di salah satu pantai di pinggiran Aljazair, aku terpaksa berkelahi dengan orang Arab yang mengacungkan pisau ke jantungku. Sebenarnya aku tidak berhasrat menjadi pembunuh lagi, tetapi nyala matahari yang menyengat, keringat yang mengalir di mata, dan kliatan pada pisau yang mengancam, telah membuatku mengingkari suara hati. Aku seperti dipaksa menjadi orang yang baru kali pertama membunuh manusia lagi.
KAU tahu bagaimana rasanya menjadi pembunuh yang canggung? Saat membunuh Abel, adikku, aku sungguh-sungguh tak pernah berpikir untuk menghilangkan nyawanya. Pertengkaran kami pun hanya bertolak dari masalah sepele.
Waktu itu setelah aku dan keluargaku berziarah ke Lourdez dan menapaki Jalan Salib, aku dan adikku memisahkan diri dari rombongan. Saat itu aku yang sudah berusia 15 tahun dan adikku berumur 13 tahun bertaruh: siapa yang paling cepat masuk ke pusat hutan, dialah yang bakal mendapatkan semua harta orang tua saat mereka meninggal. Rasanya bukan soal warisan restoran di di Rue Royal, Paris, yang membuat kami bertaruh. Mungkin kami hanya iseng. Mungkin kami hanya ingin menguji keberanian.
Mula-mula sepertinya akulah yang bakal memenangi pertandingan. Aku telah melewati hutan pinus dengan  dahan-dahan yang dililit ular, kuseberangi sungai dangkal, dan kulewati semak-semak belukar. Akan tetapi, Abel bisa menyusul, bahkan dia hampir melewatiku. Tentu saja aku tidak mau kalah. Karena itulah, kami terus berlari, hingga akhirnya sampai ke pusat hutan yang kelak disebut oleh siapapun sebagai Eden.
“Tak ada yang memenangi pertandingan ini,” kata Abel terengah-engah, “Jadi, kau tidak boleh mengusirku ke jalanan saat ayah dan ibu meninggal.”
“Ya, tidak ada yang memenangi pertandinganini tetapi kita masih bisa bertaruh lagi bukan?”
“Apalagi yang akan kita pertaruhkan?”
“Nyawa kita. Kau takut mati?” 
Abel menggeleng. Salah satu tangan dia masukkan ke saku celana. Apakah dia menyimpan pisau? Entahlah, jika dia memang akan mencabut pisau dan menghunuskan ke jantungku, aku pun sudah siap.
“Baiklah, mari kita menguji kembali apakah Tuhan memihak kepadamu atau kepadaku. Mari kita mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan. Aku akan mencari satwa dan kau silakan mengumpulkan bebuahan. Setelah itu, mari kita bakar, dan kita tunggu apa reaksi Tuhan.”
Tak butuh wkatu lama juga untuk mengetahui persembahan siapa yang diterima Tuhan. Karena kupersembahkan kucing liar terganas, tampaknya Tuhan lebih menerima persembahanku. Asap dari kucing yang kubakar membubung, asap dari buah-buahan bususk Abel hanya berputar-putar di pepohonan.
“Kau curang!” tiba-tiba Abel mengacungkan pisau kepadaku.
“Tak ada yang curang, Abel!” kataku, “Tuhan memang menginginkan kau mati.”
Tak ingin mendengarkan kata-kataku lagi, Abel langsung menusukkan pisau ke arah leherku. Tak kena! Aku justru bisa menghantam tangan Abel dan membuat pisau terpental entah ke mana.
Abel kalap. Dia kemudian mencoba membantingku, tetapi justru akulah yang berhasil menindih tubuh, memukul wajah, dan memukul kepala Abel dengan batu.
Karena saat memukul kepala Abel, aku memejamkan mata, aku hanya merasakan darah Abel muncrat ke wajahku. Setelah itu, aku berlari dan tidak pernah kembali lagi ke Paris. Aku terus berpindah-pindah tempat hingga akhirnya memilih tinggal sementara di Spanyol.
Apakah tidak ada yang menguntitku? Tidak ada. Akan tetapi selalu saja seperti ada yang bertanya kepadaku, “Di mana adikmu?”
Tak pernah kujawab pertanyaan itu. Aku hanya berjanji jika ada yang bertanya lagi aku akan bilang, “Apakah aku penjaga adikku?” (1)


DI Spanyol aku tinggal di sebuah desa kecil di Provinsi Badajoz. Di desa yang sangat panas itu, dua tahun aku menjadi pengemis. Dua tahun aku seperti hidup pada masa lalu di tempat yang tampaknya hanya layak disebut sebagai kawasan purba. Pada usia 17 tahun aku bisa memulai hidup baru dengan bekerja serabutan di Almendralejo.
Di desa berjarak 10 kilometer dari Almendralejo itu aku bertetangga dengan keluarga Pascual Duarte (2). Karena itulah, aku sangat mengenal kedua orangtua PAscual, yakni Esteban Duarte Diniz dan nyonya. Aku juga berteman dengan Rosario, adik Pascual.
Pada 10 Februari 1922 ketika matahari begitu memanggang jalanan berdebu, PAscual mengeluh kepadaku.
“Apakah kau pernah membunuh saudaramu?” Pascual berkata enteng sekali seolah-olah mengetahui aku telah membunuh Abel.
“Apakah kau ingin membunuh keluargamu?” aku balik bertanya. 
Pascual menggeleng, “Aku ingin minta tolong kepadamu. Aku ingin kau membunuh ibuku.”
Tak butuh wkatu lama Pascual Duarte memengaruhiku untuk membunuh Nyonya Esteban. Nyonya Esteban, menurutku, memang layak dibunuh. Sebagai tetangga dia sangat memuakkan. Berkali-kali saat dia mabuk, dia meledekku sebagai perempuan yang bersarang di tubuh laki-laki. Setiap mabuk dia menyusup ke rumahkudan ingin mengajakku bercumbu. Tentu saja kutolak. Perempuan yang seluruh penampilannya selalu kubayangkan menyerupai reptil itu hanya layak bercinta dengan buaya.
Aku menjadi lebih muak lagi karena setiap tak bisa mengajakku bercumbu, dia berteriak-teriak tak keruan dan mengatakan kepada setiap orang bahwa aku ingin memerkosa perempuan bersisik itu. Itu dia lakukan terus-menerus bahkan setelah suaminya meninggal.
Untuk memuluskan niatku, aku hanya butuh menunggu matahari terbenam. Aku hanya butuh kegelapan menyuruk-nyuruk ke pedesaan sehingga aku leluasa menyusup ke rumah Nyonya Esteban yang saat itu ditinggalkan oleh Pascual dan isitrinya. Tak perlu terlalu berhati-hati untuk menyusup ke rumah Nyonya Esteban. Akan tetapi agaknya dia tahu ada seseorang yang menyusup ke rumahnya.
“Siapa itu?” kata Nyonya Esteban.
“Rosario, anakmu,” aku menirukan suara Rosario.
“Bohong! Aku tahu siapa kamu. Kau mau mengajakku mabuk?” kata Nyonya Esteban tanpa membuka mata.
Gila! Tak mungkin aku bercumbu dengan buaya. Tak ada cara lain, aku pun menindih tubuhnya. Nyonya Esteban menyangka aku akan mengajaknya bercumbu sehingga dia tak waspada sama sekali ketika aku dengan sangat mudah memasukkan pisau ke lehernya.
Darah segar muncrat ke wajahku. Ini sebuah isyarat agar aku segera berlari. Berlari dan terus berlari. Hanya satu cara menghindar dari polisi atau siapa pun: berlari dan tak pernah kembali pada titik awal.
Lalu jika ada yang bertanya, “Di mana Nyonya Esteban?” maka akan kujawab, “Apakah aku penjaga perempuan setan?”
MUNGKIN seseorang akan bertanya, “Apakah para pembunuh tidak memiliki agama sehingga mereka tidak punya belas kasih? Atau jika punya, apa agama yang paling cocok untuk mereka?”
Jika pertanyaan itu kauajukan kepadaku, maka dengan mudah aku akan bilang, “Lari adalah agama para pembunuh. Lari adalah kiat terindah untuk hidup.”
Mungkin seseorang akan bertanya lagi, “Apakah para pembunuh tidak pernah merasa menyesal?”
Jika pertanyaan itu kauajukan kepadaku, maka dengan gampang aku akan bilang, “Setiap hari aku menyesal. Setiap hari, dalam pelarian, aku merasa malu luar biasa mengapa telah membunu sesama.”
Akan tetapi siapapun tahu para pembunuh gampang alpa. Aku juga alpa karena harus terlibat dalam pembunuhan lagi. Kali ini setelah bertahun-tahun tak mengasah pisau atau belati, aku harus berurusan dengan Mario. bocah kecil yang tidak dikehendaki oleh seorang jenderal.
Semua itu terjadi gara-gara Mario masuk dalam mimpi sang jenderal. Sabtu malam sang jenderal bermimpi: Mario duduk di kursi emas, sebelas rasa menjaganya dari dingin padang batu.
Tak akan bermasalah jika sang jenderal tidak menganggap mimpi itu sebagai sesuatu yang penting. Bukankah pada malam yang sama, dia juga bermimpi tentang sebelas sungai yang mengalir di paang batu? Juga sebelum fajar, bukankah dia bermimpi tentang lima belas anjing menggonggong bersama di ranjang?

Sang jenderal tidak mau melakukan sendiro keinginan-keinginan konyol itu. Karena itulah dia menyuruhku. 
“Kau tahu mengapa aku memilihmu untuk melakukan tugas ini?” kata sang jenderal.
“Aku tak tahu,” kataku yang pada saat itu terengah-engah di padang batu.
“Karena kau orang asing. Karena orang yang berada di sini biasanya para pembunuh yang melarikan diri.”
Tak bisa mengelak dan merasa tidak berguna berbohong kepada seseorang yang sangat mungkin tidak memberikan tawaran untuk hidup bebas bagi seorang pembunuh, aku langsung menanyakan siapa calon korbanku.
“Dia adalah bocah kecil yang jika tidak dibunuh sekarang bakal menjadi pemberontak yang akan membunuhku pada masa mendatang?”
“Bagaimana kau tahu dia yang akan membunuhmu?”
“Kau jangan pernah menganggap aku hanya sebagai jenderal yang mahir berperang. Asal tahu, aku juga menafsir mimpi. Tafsir  mimpi itu menyatakan, seorang bocah kecil bernama Mario jika tidak dibunuh sekarang, kelak dia jadi pemberontak yang akan menghabisiku.”

“Kau sama sekali tidak merasa ditipu oleh tafsir mimpimu sendiri?”
“Aku tidak mendapatkan kesan tafsiranku sebagai sebuah kebohongan. Mimpi justru selalu jadi isyarat terpercaya. Tafsir mimpi juga mengatakan kepadaku, Seorang dari masa lalu yang tersesat di padang batu akan menolongku membunuh Mario.”

Mario bukanlah Yesus yang dilindungi oleh jutaan Malaikat. Karena itu aku begitu gampang menyeret dan menyiksa bocah kecil itu ke padang batu dan menyalib mayatnya di padang salib secara terbalik.
Tak perlu kuceritakan dengan detail bagaimana aku membunuh bocah kerempeng itu. Tak perlu. Akan tetapi aku yakin benar begitu orang-orang melihat Mario, mereka akan segera berteriak tak keruan.
“Aduh! Hidung dan mulutnya sobek!”
“Darah dari lambungnya terus mengucur!”
“Matanya hampir terlepas!”
“Kakinya hampir patah!”
“Cara menyalibnya keterlaluan.”
Tentu teriakan mereka memang hanya sepotong-sepotong. Setelah berteriak mereka pasti berlari tak keruan. Karena itu, mereka tidak mungkin mengatakan, “Aduh, kepalanya telah pecah, otak memburai, lidah tertarik keluar, dan seluruh tubuh disundut rokok!”
Lagi-lagi setelah membunuh, aku tidak peduli dengan korbanku. Apakah kisah pembunuhan itu akan dikenang sebagai peristiwa terkejam atau menjadi inspirasi sebuah novel agung, sudah bukan urusanku. Seperti biasa–setelah menerima bayaran yang bisa kugunakan untuk sekadar keliling Eropa–aku meninggalkan Spanyol. Aku melesat ke Aljazair.
Jika pada saat bersamaan ada yang bertanya, “Mengapa kau membunuh Mario dengan cara yang teramat kejam?” maka akan kujawab, “Mengapa ada yang mengutukku menjadi pembunuh tak berkesudahan?”
KINI ketika berada di salah satu pantai  di pinggiran Aljazair, aku terpaksa berkelahi dengan orang Arab yang mengacungkan pisau ke jantungku. Sebenarnya aku tidak berhasrat menjadi pembunuh lagi, tetapi nyala matahari yang menyengat, keringat yang mengalir di mata, dan kilatan pada pisau yang mengancam, telah membuatku mengingkari suara hati. Sekali lagi kukatakan, aku seperti dipaksa menjadi orang yang baru kali pertama membunuh manusia lagi.
Baiklah, kuberi tahu diapa aku. Namaku Kain, tetapi orang-orang di seluruh dunia lebih mengenalu sebagai Mersault(3), lelaki biasa yang menggunakan pistol Raymond untuk membunuh orang Arab.
Lewat Albert Camus, dunia tahu, setelah pembunuhan itu, aku ditangkap, diperiksa beberapa kali, diminta memilih seorang pembela, dicandai oleh hakim dengan ungkapan “Tuan Anti-Kristus”, dan pada akhirnya menunggu hukuman mati.
Akan tetapi dunia tidak pernah tahu pada Rabu yang teramat panas seseorang berwajah gabungan antara pembela, pendeta, dan hakim mengajakku bercakap tentang hal-hal yang memuakkan.
“Aku tahu kau tidak takut mati karena kau memang mengharapkan kematian,” kata lelaki yang kemudian mengakubernama Michel itu setengah berbisik.
“Jangan sok tahu,” kataku sambil berusaha menduga-duga siapa sesungguhnya lelaki yang diberi kesempatan menengokku sebelum pelaksanaan hukuman matiku.
“Manusia sepertimu sudah tidak memerlukan pembela atau hakim.”
“Sekali lagi jangan sok tahu. Aku membutuhkan mereka agar bisa lepas dari penjara yang panas dan pengap ini.”
“Bohong! Sudah lama kau mengharapkan agar hukuman matimu secepatnya dilakukan bukan? Kalau kau tak sanggup menunggu, mengapa kau tidak bunuh diri saja?”
“Karena tahu aku tak akan bisa mati dengan cara apa pun, buat apa aku bunuh diri?”
“Oo, jadi kau percaya pada kutukan itu? Kau percaya hidupmu tak akan pernah berakhir?”
“Aku percaya.”
“Apakah kau pernah mencoba bunuh diri?”
Aku menggeleng.
“Kenapa tak pernah kaucoba Bukankah kau akan merasa merdeka dari siapa pun jika kau bisa menentukan kematianmu sendiri? Jadi, apa salahnya jika sekali waktu dalam hidupmu kau mencoba menusukkan pisau ke jantung atau menembakkan sebutir peluru ke jidat?”
Tak kujawab tantangan itu. AKu kian melihat Michel sebagai hantu.
“Atau begini: pernahkah kau meniadakan sang pengutuk dalam hidupmu?”
Aku menggeleng.
“Apakah kau pernah punya keinginan membunuh sang pengutuk?”
Aku menggeleng lagi.
“Mengapa? Kau akan menjadi manusia agung jika  bisa membunuh sang pengutuk.”
“Manusia agung?”
“Ya, manusia agung adalah mereka yang bisa membunuh musuh sejati. Musuh yang senantiasa mengganggu dalam kehidupanmu. Musuh yang seakan-akan tak bisa terkalahkan, tetapi sesungguhnya dia sangat rapuh.”
“Kau menganggap pengutukku sebagai makhluk rapuh?”
“Rapuh dan tak rapuh hanya persoalan persepsi. Musuh tampak kuat jika kau menganggapnya kuat. Musuh tampak lemah kalau kau menganggapnya lemah.”
“Tapi aku yakin musuhku memang benar-benar kuat.”
“Kau tak pernah meragukan keyakinanmu itu?”
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, kau sesungguhnya sudah mati. Sia-sia hakim memberi hukuman mati kepadamu. Mati beberapa kali lagi pun tidak akan mengubahmu menjadi manusia mulia.”
“Aku tak berhasrat menjadi manusia mulia,” kataku tegas, “Aku tak berhasrat menjadi manusia agung. Aku hanya ingin berhenti membunuh. Aku hanya ingin berhenti mengembara.”
“Kalau begitu kembali saja pada gagasan pertama: bunuh diri,” kata Michel menggoda, “Apakah kau butuh panduan bunuh diri?”
Aku tersenyum mendengar usula Michel. Sejak tiba di Aljazair bunuh diri sudah menjadi salah satu pilihanku menghindarkan diri dari kutukan. Akan tetapi tindakan yang barangkali kauanggap gampang, bukanlah perkara mudah bagiku. Segala alasan untuk bunuh diri–misalnya untuk mempertahankan kehormatan, lari dari keterkucilan masyarakat, menderita stres, mengejar keindahan, dan tak menemukan ayat pelarangan di Kitab Suci–tak berguna karena kutukan bahwa aku tak bisa mati, tak mengecualikan mati akibat tindakan yang sejak mula kuanggap sebagai sikap patriotik itu.
Bahkan jika ada wabah bunuh diri massal pun, aku hanya akan jadi manusia yang berdiri tegak di antara  mayat-mayat yang bergelimpangan dan berserakan di hutan.
Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Menunggu kutukan sirna? Menunggu keajaiban hukuman mati? Menunggu cercaan-cercaan penonton kematianku? Mendnegar mereka bilang, “Tuan Anti-Kristus sebentar lagi Anda akan mati dan tak bisa menolong diri sendiri?”
Tidak! Tidak! Peristiwa itu tidak mungkin terjadi . Bisa-bisa yang kudengar justru suara menggelegar dari langit. “Masih butuh tujuh kali kematian lagi untuk menjadikanmu sebagai manusia sempurna, Kain. Masih tujuh kali kematian lagi.”
Tentu saja aku tidak bisa memprotes. Tentu saja aku tidak bisa berteriak seperti Kristus , “Bapa! Bapa! Mengapa Kautinggalkan aku?” Paling-paling aku cuma akan bergumam lirih, “Aku hanya Kain, Bapa. Aku hanya manusia yang menunggu hadiah kematian dari-Mu.”
Apakah Michel tahu apa yang sedang berkecamuk di benakku? Aku tidak peduli. Ya, aku tidak peduli apapun, kecuali membayangkan gilotin akan segera memancung leherku hingga tujuh kali.
Tujuh kali? Ya, dalam sekali pancung, gilotin memang memutuskan leherku. Akan tetapi karena sang pengutuk bilang, “butuh tujuh kali kematian,” maka aku berharap gilotin akan tujuh kali juga memancung leherku yang putus-nyambung itu.
Setelah itu kau tahu, mungkin suara dari langit akan menggelegar lagi, “Sekarang kau boleh bilang, Bapa selesailah smeua, Kain. Apakah kau punya keinginan lain?”
Tentu saja aku punya banyak keinginan. Banyak sekali. Tetapi kuputuskan tak akan kukatakan keinginan-keinginan terakhirku kepada siapa pun. Bahkan kelak kepada gilotin yang tajam dan berkilau-kilau dalam balutan cahaya bulan, tak akan kuceritakan kesukacitaanku menyambut keindahan kematian.
Tak akan….
Semarang, 2015

Catatan:
(1) Ucapan Kain yang ditujukan kepada Tuhan
(2) Pascual Duarte adalah tokoh dalam novel Keluarga Pascual Duarte karya Camilo Jose Cela
(3) Marsault adalah tokoh dalam novel Orang Asing karya Albert Camus.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triyanto Triwikromo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 30 Agustus 2015