Seumpama Kata – Menyusu di Puisi Ibu – Ihwal Cerita Pendek – Riwayat

Karya . Dikliping tanggal 3 April 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Seumpama Kata

seumpama kata 
kita susup dalam makna
dari kedalaman matamu derita pun lesup di tengah
kesunyian menghawa hidup
abadabad yang bisu meninggalkan kalender, menjauh dari
angkaangka
sejumlah luka dipaketkan hujan tiap desember
bagai musafir yang rindu rindang pohon. aku berlindung dari
teduh matamu
dari segala godaan terik yang hiruk pikuk. kutuk demi kutuk
pemuja kuasa
memanjang sesaknya jalanan kota
sebab di kota macam ini apa yang dicari pengembara selain
waktu seketika
sepi bersitaut puisi. Kepulangan paling dekat emlampaui jarak
hati kekasih
dan kelindan perasaan
aku berteduh di rindang keluhuranmu, aku berlindung dari
payung puisimu
yang meluruhkan sepi saat bayangan maut menghampiri
penyair yang ingin berakhir sebagai martir
seumpama kata, kita terpenggal makna
matamu
          : kapak es yang memecah lautan beku dalam diriku
Krapyak, 2015-2016

Menyusu di Puisi Ibu

di kota ini, ibu
air susumu menjelma mendung yang mencairkan
kerinduanku bersusu di buah puisimu yang mengkal
bersisian adik-adikku: kata-kata yang banal
di kota ini, ibu
air susumu telah menjelma pembuluh listrik
mengalirkan detik ke tiang-tiang lampu merah
      demikianlah, aku acap berhenti
mendongak ke langit
      menyaksikan buah puisimu
menggerhanakan matahari
yang tampak hanya
                        kelebatan sunyaruri
Krapyak, Maret 2016

Ihwal Cerita Pendek

yang tersisa di kepalaku sewaktu membaca cerita pendek
karanganmu hanya penyesalan
kenapa bukan sedari awal kau perkenankan nasib sial
menjadi aduh perpisahan jauh sebelum kita saling kenal
sebab yang selalu jadi sasaran adalah kepala dan dada kita.
aku prihatin
sehari setelah rabu ini jemari angin merenda jerami
dari sawah-ladang ingatan. adalah mungkin burung luput
sarang lupa jalan pulang
akan mampir menembang untuk ranting hampir patah
       ketika hawa dingin berkobar di musim lain
ingatan padamu telah kukuh menghari kemarin
dan esok akna timbul cerita lain. barangkali
      kehilangan hanya sebentuk fiksi. maksud lain dari 
kias atau majas dari imbuhan ke berakhiran an, termasuk
perih ini
karena yang menarik dari cerita pendekmu adlaah plot maju-
mundur
yang buatku melantur. oh ya, begini rupanya kejutan itu!
Krapyak, Maret 2016

Riwayat

(00.01)
seingatmu
mungkin aku cuma lelaki pelupa
di detik pertama, cuaca berangkat pucat
yang kuingat hanya denyut nadiku sendiri
: mengalirkan bah di lika-liku darah
sebilah pisau yang pernah memintas separuh
dari sejarahmu: kau pernah ibu bagi waktu
menyusu hari lalu, hanya mungkin pad aingatan seluruhnya
dimakamkan. sebab
     dalam hidup memang ada yang tersimpan, ada
yang membelukar. seibarat makan dan buang air besar
     apa yang rambat senantiasa bercecabang
ini malam ke dua puluh dari ikhtiarku melupakanmu. kenangan 
           adalah mayat ikan yang disiangi ibu dengan pisau berkarat
agar bandul airmata bergulir lebih lambat
telah aku amsalkan kota ini tanpa tugu
dan aku tanpa dikau. ytapi tahulah, mengingatmu
kata-kata melebat rimbun bambu
tak akan sampai padamu seberapa desir angin ini merantas
daun nipah
               sudah begitu, lantas kepada apakah memar ini
pantasnya diserahkan?
(09:11)
sepagi ini sehabis kita saling menghapus
yang tersisa hanya kain melilit badan
di luar angin beramai-ramai mendorong badai
ketika kau bangun sedang mataku diberati pucat mimpi-mimpi
berisi cuplikan usia sembilan belas
yang kini membatu jadi riwayat di kulit buku-buku lawas
Yogya, 7 Maret 2016
Achmad Sabil: lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 7 Maret 1996. Mahasiswa Komunikasi Konseling Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Bergiat di Forum Mahasiswa Pencinta Pena UMY. Bermukim di komplesk perindekosan seniman Jalan Panjaitan Jogokaryan Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Sabil
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 3 April 2016