Shaf yang Hilang

Karya . Dikliping tanggal 6 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
USTAD Cholil sudah lama menahan umpatan yang bergemuruh di dadanya. Dia harus berperang melawan emosi yang tak henti-henti mengusiknya. Suara anak kecil dan bayang-bayang tak jelas yang bermunculan di pikiran membuat konsentrasinya buyar. Berkali-kali kehilangan konsentrasi setiap kali salat berjemaah di masjid, membuatnya tak betah.
”Sial,” gumamnya. Meskipun begitu, Ustad Cholil terus saja berusaha untuk mengembalikan konsentrasi di antara bisik-bisik anak kecil di belakangnya. 
Sementara surat-surat panjang yang dilantunkan imam, tepat di depannya, begitu pelan, merdu  dan mendalam. Sedalam keresahan Ustad Cholil yang terus mengganggu konsentrasinya.
”Kenapa harus ayat-ayat panjang?” Ustad Cholil semakin jenuh. Keinginan untuk cepat selesai semakin mendorongnya. 
Tapi dia terus saja menahan diri, hingga salat witir selesai. Tak lama setelah itu, Ustad Cholil buru-buru naik ke atas mimbar ”Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bapak ibu yang saya hormati, mohon waktunya sebentar,” pinta Ustad Cholil sembari membenarkan pengeras suara.
Ilustrasi oleh Joko Santoso
”Mohon maaf bapak ibu sekalian, mengganggu. Minta perhatiannya sebentar. Demi kelancaran ibadah kita bersama, saya sebagai guru ngaji di dusun ini merasa tidak mampu mengendalikan anak-anak yang berbicara saat salat berlangsung. Saya harap bapak ibu sekalian bisa mengarahkan atau menegur anak-anak, agar tidak berbicara saat salat berlangsung. Jika masih bicara akan lebih baik anakanak yang masih berbicara saat salat tidak ke masjid, sebab akan mengganggu kekhusyukan orang yang salat. Demikian dari saya, terima kasih.” Ustad Cholil menutup imbauannya diikuti salawat. Para jemaah salat tarawih bergegas membubarkan shaf. Hanya yang ikut tadarusan yang masih di masjid. 
”Kalau anak-anak tidak ke masjid tidak rame dong,” celoteh Parni di antara ibu-ibu jemaah salat tarawih -masih dengan rukuh melekat di tubuh-saling bisik tentang imbauan Ustad Cholil.
”Iya. Salat berjemaah di masjid kan salah satu cara mengajari anak. Masak tidak boleh ke masjid cuma gara-gara berisik.” celetuk ibu paruh baya di sebelahnya.
”Kalau tidak rame bukan anak-anak namanya. Nek wis gedhe, lak meneng dhewe.” dari belakang seorang nenek menimpali.
Percakapan itu tidak berhenti di pinggir jalan saja. Imbauan Ustad Cholil malam itu berlanjut di terasteras rumah, di toko-toko kecil, di kamar bahkan di jalan-jalan. Ada yang mendukung, ada pula yang menentang hingga sampai ke telinga Ustad Cholil dan istrinya.
”Orang-orang membicarakanmu, Mas. Sepertinya mereka tidak semua setuju dengan imbauanmu tempo hari.” keluh istri Ustad Cholil dari dapur sambil mengiris-iris sayur seperti mengiris hatinya yang gusar karena gosip ibu-ibu tetangga. Karena itu pula istri Ustad Cholil malu untuk keluar rumah.
Ustad Cholil diam menahan gemuruh dadanya. Sesekai dia berdecak diikuti istigfar berkali-kali dari bibirnya yang kering. Ustad Cholil tidak sekali dua kali mengingatkan pada anak didiknya untuk tidak bicara di dalam masjid, terlebih saat tarawih. Seminggu sebelum memasuki bulan puasa, baik sebelum ngaji maupun sehabis ngaji dia selalu mengingatkan dengan berbagai cara.
”Saat salat tarawih tidak boleh ada yang bisik-bisik,” pinta Ustad Cholil pada anak yang ngaji di langgarnya, beberapa hari sebelum puasa. Mereka mengganggukkan kepala, tanda sepakat.
”Mengganggu orang salat itu dosa. Jika di bulan puasa kebaikan akan berlipat ganda, maka perilaku yang menjurus ke dosa juga berlipat. Kalian mau masuk neraka?” seru Ustad Cholil diikuti gelengan anak-anak yang terlihat ketakutan.
”Pokoknya tidak boleh berisik saat orang salat. Siapa yang melakukan kebaikan di bulan puasa akan dilipatgandakan pahalanya sampai tujuh puluh kali! Siapa yang mau pahala?” tanya Ustad Cholil penuh semangat.
”Saya…!” serentak anak-anak itu menjawab girang. 
Masih terekam jelas anggukan dan teriakan semangat anak didiknya itu.  Ustad Cholil harus menahan kecewa saat mendapati anak didiknya masih berbicara saat orang salat berlangsung.
”Apa yang salah dengan caraku?” ustad Cholil terus menyalahkan diri.
Sejurus kemudian ingatannya melompat pada perkataan istrinya. Lalu muncul pula sikap para orang tua yang kurang setuju dengan imbauannya. 
”Sialan!” gerutu diikuti kalimat istigfar. Sejenak Ustad Cholil teringat saat masih belajar ngaji di kampung. Dulu, orangtua menyerahkan seluruhnya kepada kiai yang mengajar ngaji. Bahkan jika ada anak yang nakal, baik saat ngaji ataupun di luar langgar, orangtuanya akan mengadukan kepada kiainya untuk dihukum. Dia ingat betul saat dihukum kiai karena bicara dengan teman sebelahnya saat salat.
”Makanya jangan bicara saat salat.” Ibu Ustad Cholil memarahi setelah mendapat hukuman dari kiai. Cholil kecil dipeluk dan dielus-elus setelah itu. Ustad Cholil menghela napas dalam-dalam, mengingat perilaku ibu-ibu itu, lalu diembuskan perlahan kekecewaannya. Dia lakukan berkalikali seperti ingin mengeluarkan kekecewaan dalam pikirannya. Berjamjam dia dipenuhi cemas. Berkali-kali ingin melupakan, tapi selalu gagal bahkan semakin membuatnya gusar.
***
Setelah salat asar di masjid, Ustad Cholil keliling rumah. Sore itu, dia ikuti langkah kakinya. Mencari jalan keluar dari gonjang-ganjing yang berputar di otaknya. Tapi di teras masjidlah kakinya berhenti melangkah, masih dengan gelisah yang sama. 
”Nanti saat salat, anak-anak dijadikan satu baris dengan orangtuanya atau sederet dengan jemaah yang lebih dewasa. Kalau bisa dengan orangtuanya agar mereka tidak bicara saat salat. Tolong dikondisikan nanti ya,” pinta Ustad Cholil penuh harap pada para pengurus masjid.
***
Seperti yang diinstruksikan, anakanak diminta untuk ke depan. Dan beberapa orang dewasa diminta mendampingi mereka agar tidak satu baris dengan teman sebayanya. Malam itu, salat isak dan tarawih bisikan anak-anak berkurang. Mereka benar-benar tak berdaya dihimpit orang-orang yang khusyuk. Sesekali mereka hanya tolah-toleh kiri kanan. Selanjutnya mereka diam dan mengikuti gerakan Imam. 
Sejak saat itu, tidak terdengar lagi ocehan para ibu-ibu di jalan atau di rumah. Juga tak terdengar lagi bisikan anak-anak. Tiba-tiba mereka menjadi patuh. Suasana itu berlangsung hingga berhari-hari. Suasana masjid menjadi sunyi. Tapi beberapa hari sebelum Lebaran kesunyian itu terasa aneh di benak Ustad Cholil.
Malam itu, di tempat biasa, shaf tepat di belakang imam, Ustad Cholil kernyitkan dahi sambil memejamkan mata. Dia berusaha mengingat-ingat kembali keganjilan yang melanda pikirannya. Dia merasa, kesunyian itu sampai pada hatinya. Kali ini dia merindukan keramaian. Kembali Ustad Cholil dirundung gelisah. Di atas mimbar kecemasannya semakin berkobar di dada, tapi dia terus menahannya sambil istigfar. Entah sudah berapa kali kalimat istigfar ke luar dari bibirnya. Lalu dengan bibir bergetar dia sampaikan tentang sepuluh berkah, sepuluh pengampunan dan sepuluh hari penyucian diri di bulan Ramadan. Tanpa pengeras suara Ustad Cholil berusaha meyakinkan diri dan meyakinkan para jemaah yang tinggal empat shaf tersisa. Setelah salat tarawih anak-anak itu menjulurkan buku, meminta tanda tangan. Mereka menulis nama penceramah, tema dan kehadiran para jemaah. Terdengar bisikan anakanak yang antre minta tanda tangan.
”Tadi setelah magrib ibuku belikan aku baju Lebaran. Kamu sudah dibeliin belum?”
”Sudah, kemarin malam.”
”Sssssst…” ❑ – k 
Jejak Imaji, 2014
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sule Subaweh
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” pada 5 Juli 2015