Si Pengarang Muda

Karya . Dikliping tanggal 9 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Alkisah, di sebuah negara yang menolak berkembang, hiduplah seorang pengarang muda yang nyaris putus asa disebabkan selama bertahun-tahun tidak satu pun cerita pendeknya dimuat di surat kabar. Padahal, ia sudah mengerahkan segala upaya, baik itu dengan ikut kelompok-kelompok kepenulisan, lokakarya, hingga menyapa dan berusaha akrab dengan redaktur, tetapi semuanya gagal. Sampai akhirnya ia pun pergi meminta bantuan dukun.

“Bisakah Anda memasukkan roh penulis hebat dari masa lalu ke dalam tubuh saya?”

Sang dukun menatapnya dengan heran, biasanya dia mendapat klien yang ingin dagangannya laris, ingin menang pemilu, ingin naik jabatan, atau ingin merebut istri orang. Baru kali ini ada yang memintanya memasukkan roh penulis. Tetapi, tentu sebagai dukun profesional segala permintaan tidak boleh ditolak.

“Bisa saja, Anda mau roh siapa?”

“Knut Hamsun. Peraih Nobel asal Norwegia.”

“Hm, kalau begitu tunggu sebentar,” dukun tersebut lantas menghubungi dunia gaib dan minta pada operatornya agar disambungkan dengan Knut Hamsun.

Tak disangka, Knut Hamsun bergembira sekali ketika ada yang menawarkannya untuk kembali menulis meski lewat tubuh orang lain. Maka, transaksi itu segera terselesaikan. Si pengarang muda pulang dalam keadaan bersemangat. Ia mulai mengurung diri di kamar dan mengetik berhalaman-halaman di layar komputernya.

Tak butuh waktu lama, ketika karya terbarunya ia kirim ke surat kabar terbesar di negeri itu, sang redaktur nyaris pingsan karena begitu bagusnya karya tersebut.

“Hamsun yang baru!” sang redaktur berteriak. Karya itu pun segera dimuat dalam waktu singkat.

Karya-karya si pengarang muda mulai bermunculan di berbagai surat kabar, ia mulai mendapat perhatian pembaca dan kritikus. Hal itu tentu membuatnya bahagia. Jika dahulu ia selalu kecewa, sekarang setiap akhir pekan ia melihat namanya tercetak di surat kabar atau majalah. Tetapi, roh Hamsun lama-kelamaan membuat tubuhnya menderita, sebab roh tersebut menuntutnya menulis berjam-jam, berhari-hari, sampai lupa makan dan lupa mandi. Sebagaimana riwayat Knut Hamsun semasa hidup dahulu. Rupanya dengan menjadi Hamsun, ia jadi tidak peduli kebersihan dan kesehatan tubuhnya.

Baru satu bulan, pengarang muda kita ini menjadi kurus, pucat, tidak menarik. Ia pun kembali mendatangi dukun.

“Aku ingin ganti roh.”

“Roh siapa kali ini?”

“Yasunari Kawabata.”

Maka, sebagaimana kesuksesan transaksi awal, masuklah roh Kawabata ke tubuhnya. Tulisannya langsung berubah drastis, menjadi amat lembut kata-katanya, mengutamakan deskripsi yang halus dalam setiap lembarannya. Para kritikus pun kian takjub.

“Eksperimen baru dari Pengarang Muda, kalimat-kalimatnya kini bening serupa jalinan kristal kata-kata Kawabata.”

Tetapi, tak lama setelah itu, ia ingin mengganti roh lagi. Sebabnya, ia takut bunuh diri sebagaimana Kawabata yang mati bunuh diri. Setelah Kawabata keluar, masuklah Steinbeck, lalu Marquez, lalu Chekov, lalu Coetzee, sempat juga Salman Rushdie ingin masuk, tetapi pengarang muda ini tidak mau karena alasan ideologis.

Masuknya roh-roh secara bergantian itu membuat tulisannya memiliki beragam gaya, tak tertebak, tetapi tetap dengan kualitas yang terjaga. Ia selalu bisa menghindari zona nyaman. Di mana ada zona nyaman di situ ia yang pertama kali menyingkir. Ia selalu berada di zona tidak nyaman.

Namanya kian dikenal di media sosial. Status-status Facebook yang ditulisnya mulai banyak mendapat jempol dan dibagikan. Ia mulai menulis tips-tips menulis cerita, sesekali berkomentar tentang politik, tentang ideologi, dan juga berkonflik dengan penulis lain. Ia pun mulai kebanjiran pesanan. “Bisakah Anda menulis untuk kolom cerpen bertema keluarga? Bisakah tentang G30S/PKI? Bisakah menulis untuk Idul Fitri? Bisakah menulis cerpen religi? Bisakah menulis cerpen eksperimen? Bisakah ini? Bisakah itu?”

“Bisa! Bisa! Bisa!”

Ia menerima semua permintaan, tubuhnya kini seperti mesin cerita pendek. Ia bahkan tak tahu mengapa harus menulis semua cerita itu. Roh demi roh bergantian merasukinya sesuai dengan kepentingan cerita yang hendak dibuat. Untuk cerita keluarga dan cinta ia memakai gaya Kawabata, untuk cerita bertema kritik sosial ia memakai gaya Steinbeck atau Dostoevsky, untuk cerita bertema kemanusiaan ia memakai roh Tolstoy dan Chekov, untuk cerita yang surealis memusingkan ia meminjam roh Marquez.

Ia mulai diundang seminar, menjadi pemateri lokakarya, diundang khitanan, selamatan, tujuhbelasan. Bahkan paling tingginya ia pernah membacakan cerita pendeknya di hadapan para undangan makan malam kepresidenan. Presiden yang sebenarnya tidak peduli dengan dunia sastra apalagi cerita pendek, pada akhirnya harus berpura-pura takjub disebabkan memang si pengarang muda ini tengah menjadi fenomena. Sastrawan muda amat sangat berbakat telah lahir di negara kita.

Sebagai efek domino, ratusan perempuan bergegas antre untuk menyampaikan kekaguman dan harapan apakah bisa bertemu dengannya. Duhai, andai pengarang muda ini tidak kenal moral-moral mendasar, ia pasti sudah menjadi Florentino Ariz terhadap para perempuan itu.

Adapun saldo rekeningnya jangan lagi ditanya. Sudah banjir dengan honor-honor. Para tetangga keheranan, pengarang muda yang kesehariannya tampak seperti pengangguran kelas kakap ini tiba-tiba bisa membeli mobil secara tunai, dan juga jalan-jalan keluar negeri atas nama residensi. Ia diundang ke Vietnam, ke Thailand, ke Myanmar, ke Bangladesh.

Sebagai seorang yang telah diakui sebagai sastrawan muda berbakat tak sedikit pula yang membencinya. Penulis-penulis yang heran bagaimana ia bisa menulis secanggih itu, setara para penulis dunia. Para penulis senior yang mulai terkena post-power syndrome pun turun tangan untuk mencari celah-celah yang bisa dikritik. Namun, karya-karyanya begitu sempurna, nyaris tanpa celah untuk dicela sehingga mau tidak mau mereka mulai berbalik memujinya, atau setidaknya memilih diam karena mengakuti kehebatannya, seakan mengibarkan bendera putih di atas bukit kata-kata.

Dalam waktu kurang dari setahun ia telah mencapai puncak daari segala puncak kesuksesan yang pernah dibayangkan oleh seorang penulis muda. Semua pujian datang bagaikan angin musim semi yang menyejukkan para kekasih di taman-taman bunga menjelang senja….

Namun tiba-tiba….

(“Namun tiba-tiba” adalah sebuah frasa yang, sebagaimana kata Anton Chekhov, sering kita temukan di dalam cerita pendek). Namun, tiba-tiba, pada suatu pagi yang kelabu, ia kehilangan kemampuan menulisnya. Bahkan untuk menulis satu paragraf pembuka pun tak bisa. Ia panik, sebab hari itu ada janji dua naskah untuk dua penerbit.

Segera ia berangkat ke dukun.

“Ada apa ini, Duk? Kenapa tiba-tiba saya tidak bisa menulis sama sekali?”

Dukun itu tampak sedih. “Saya baru dapat kabar. Roh-roh itu tidak mau lagi masuk ke tubuhmu.”

“Kenapa?”

“Karena mereka merasa dimanfaatkan.”

“Tapi, bukankah saya sudah membayar? Cepatlah, paksa mereka untuk masuk lagi. Aku punya rencana yang sibuk hari ini. Kalau perlu kubayar sepuluh kali lipat.”

Maka, sang dukun pun mencoba menghubungi dunia roh untuk negosiasi. Memang, dalam dunia roh, terjadi percakapan antarpara penulis dunia.

“Si kafir tak tahu adat itu ternyata mempermainkan kita,” kata Hamsun.

“Orang busuk seperti dia seharusnya tidak dibantu sejak awalnya,” dukung Steinbeck.

“Kita semua begitu tolol sampai mau menutupi kebodohannya dan memberinya kesuksesan,” kata Jaroslav Hasek.

“Jika dia hidup lebih dari dua puluh lima tahun, itu sungguh memalukan,” kata Dostoevsky.

“Barangkali ia layak dimakamkan sebelum musim gugur menjatuhkan helai daun pertamanya tahun ini,” kata Kawabata. Ada pun Tolstoy dan Chekov tidak ikut berkomentar karena sibuk main catur.

Lalu datanglah JM Coetzee, “Tenang kawan, kita masih bisa memberinya pelajaran. Lihatlah dukun itu kembali menghubungi kita.” Lalu Coetzee pun menerangkan rencananya, dan seluruhnya tersenyum lantas mengangguk setuju.

Sepulang dari dukun, pengarang muda itu kembali bisa menulis dengan lancar. Semua janji kepada penerbit dan redaktur berhasil diselesaikannya tepat waktu.

Namun, ternyata, karya-karyanya kali ini sangat kental nuansa plagiasi. Mulailah bisik-bisik itu terjadi di forum-forum kecil.

“Cerpennya yang ini mirip sekali dengan Tolstoy, Tuhan Maha Tahu, Tapi Ia Menunggu. Dia hanya mengubah bagian akhirnya.”

“Kalau yang ini mirip sekali dengan JM Coetzee, hanya diganti satuan mata uangnya!”

“Nah. Ini sungguh hanya bongkar pasang novel Lelaki Tua dan Laut-nya Ernest Hemingway!”

Para pembaca dan khalayak sastra mulai heran, karya-karya terbaru pengarang muda itu seluruhnya cenderung plagiat. Tetapi, karena namanya telah begitu besar, para kritikus juga sudah telanjur memujinya, ditambah label sastrawan pun telah melekat, maka tak ada seorang pun yang berani menuduhnya plagiat secara terang-terangan.

Bahkan sampai suatu hari pengarang muda itu ditemukan mati dengan cara menenggak sebotol obat penumbuh rambut yang dicampur larutan pembasmi serangga, ia tetap dikenang sebagai sastrawan hebat di negaranya.

 

Sungging Raga, lahir pada 25 April 1987. Sempat menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada. Mulai menulis fiksi sejak 2009. Di antara bukunya yang telah terbit adalah Sarelgaz (Indie Book Corner) dan Reruntuhan Musim Dingin (Diva Press). Sedang menyiapkan buku terbaru berjudul Apeirophobia.

_____________

Ifat Futuh, lahir di Wonosobo, 25 Agustus 1977, dan menetap di Sleman, Yogyakarta. Terakhir berpameran bersama Kridaro di Omah Petroek, Karangkletak, Pakem, Yogyakarta.

 

[1] Disalin dari karya Sungging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” Minggu 8 Juli 2018