Si Pria Sachetorte

Karya . Dikliping tanggal 18 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina
Harum.
Aroma ini bukanlah hasil racikan kimiawi atau percampuran alkohol. Bukan seperti parfum, kolonye, karbol, sabun cuci, atau pewangi ruangan. Harum ini membuatmu ingin terus tersapu olehnya. Meresapinya.
Inilah kali pertama kau merasa nyaman dengan wangi seseorang. Pemuda ini bukan mengingatkanmu akan keglamoran sintetis dari Paris atau Italia, melainkan pada kehangatan scone yang dibuat ibumu dalam brunch spesial dahulu kala. Lalu, aroma cinnamon cookies dengan kastanye di atasnya, yang kau makan bersama adikmu dalam piknik enam tahun silam. Mungkin juga kenangan tentang bolu bersiram vla jeruk citrus, makanan favorit sahabatmu semasa kuliah.
Kau merasa, semua aroma kue bercampur aduk dalam diri pemuda ini.
Kau juga seolah terserap oleh dongeng Grimm yang dia baca. Kemudian, berkelana di dunia penuh rumah yang terbuat dari kue-kue, cokelat, dan permen yang menghipnotis Hansel serta Gretel. Kau berharap untuk terus mencium harum itu, tanpa diganggu nenek sihir jahat yang berambisi menceburkanmu ke kuali besar.
Kau menoleh, menatap pemuda itu. Lalu kau memandang sekeliling, berusaha mencari tahu apakah aroma manis itu berasal dari orang lain. Tetapi di dekatmu tidak ada siapa-siapa lagi. Saat itulah kau yakin bahwa wangi ini benar-benar berasal dari pemuda tersebut.
*
Tiga puluh menit silam di toilet tempatmu bekerja. Kau bersin dua puluh detik sekali—sesuatu yang sudah sering terjadi. Alergimu tak kunjung berhenti, bahkan setelah kau meninggalkan toilet berbau karbol itu. Kau berjalan ke pintu keluar dengan tergopoh—memegang seplastik besar tisu dengan tangan kananmu selagi tangan kirimu mengusap ingus. Kau mengabaikan fakta bahwa semua orang memandangmu. Mereka berhak merasa heran melihat duplikat salah satu model Victoria’s Secret berjalan terburu-buru dengan mengelap hidungnya. Cantik, jangkung, rambut cokelat gelap menyentuh bahu, mata hijau gelap. Kau.
Kau menghela napas lega setelah keluar dari tempat kerja. Angin musim gugur New York menerpa wajahmu, harumnya yang alami menyapu dan memberikan sensasi sejuk pada matamu yang berair. Kau masih bersin-bersin, tetapi tidak terlalu sering lagi. Terima kasih pada udara sejuk ini.
Rasa legamu tidak berlangsung lama. Karena matamu berair dan buram, kau menabrak seorang wanita dan hampir saja terjatuh.
“Maaf,” kau dan wanita itu berkata bersamaan. Lalu dia berlalu. Kau kembali melangkah, bersin-bersin lagi, kali ini sepuluh detik sekali. Parfum si wanita menusuk penciumanmu, membuat dadamu sesak. Sial…, kutukmu dalam hati. Padahal kau sudah hampir baikan. Kau mengenal mereknya. Adikmu juga memakainya. Harganya memang tidak murah, tetapi tidak pentinglah. Dalam persepsimu, parfum ratusan dolar tidak ada bedanya dengan sabun cuci lima puluh sen. Malangnya adikmu. Dia terpaksa harus mencari orang lain yang bisa dipameri  tiap kali dia membeli parfum baru.
Kau lanjutkan langkahmu dengan agak oleng. Kepalamu pening. Kau berada di tengah-tengah puluhan pejalan kaki, yang hampir tujuh puluh persennya memakai parfum. Kau tidak tahan dengan baunya, langkahmu  makin bergegas. Cepat… cepat…, batinmu. Kau harus tiba di stasiun secepatnya, masuk ke rumah, dan memanjakan diri di sofa empuk sambil meminum secangkir teh blackcurrant.
Satu kilometer lagi, batinmu, menghitung  tiap detik menuju stasiun. Kau berharap kereta tidak penuh orang, apalagi yang berparfum. Kau bisa pingsan. Biasanya, kau menaiki mobil tuamu untuk pergi bekerja, tetapi mobil itu sedang bermasalah, entah apanya lagi yang rusak.
Kau bersin berulang-ulang setelah memasuki gerbang stasiun. Seharusnya tidak separah ini, gumammu. Mungkin karena kondisi kesehatanmu sedang tidak baik, diperparah oleh bau-bauan yang begitu tajam dan tidak berperasaan. Kuantitas bersinmu biasanya lebih masuk akal, paling tidak seplastik tisu cukup untuk lima hari. Kau akan berhenti bersin setelah lima belas menit. Namun sekarang, stok tisumu hampir habis. Kau merasa tersiksa; sampai-sampai ingin menarik hidungmu sampai lepas dan membuangnya ke Hudson River.
Kau menghela napas lega begitu memasuki kereta. Tak terlalu banyak orang. Kursi-kursi tampak longgar. Kau menoleh ke tempat duduk paling ujung, area favoritmu. Tempat itu sudah diduduki seorang pemuda yang membaca Hansel and Gretel. Dahimu otomatis berkerut. Pemuda itu tampak terlalu tua untuk membaca karya Grimm.
Di sudut berlawanan, seorang wanita glamor yang sedang berdandan. Tipe pemburu wewangian sejati. Kau memilih duduk di sebelah pemuda itu.
Sedetik setelah duduk di sebelahnya, kau langsung berhenti bersin.
Begitulah kau berkenalan dengan aroma yang bisa berkompromi dengan hidungmu, bahkan menjadi pereda alergimu.
*
Tanpa kau sadari, tatapanmu tak juga teralihkan dari pemuda tersebut. Entah apakah karena pengaruh harum yang menguar darinya atau karena imajinasimu semata. Kau kini merasa pemuda tersebut begitu menyenangkan untuk dilihat. Wajahnya tampak tenang, dengan kulit pucat dan mata lebar. Rambut cokelat gelapnya menyentuh leher, sebagian poninya menutupi matanya yang berwarna argent.
Menyadari tatapanmu, pemuda itu menoleh.
Kau memalingkan wajah. Kedua tanganmu kaku. Walaupun begitu, kau tidak berani berpaling sepenuhnya. Kau takut kehilangan detik-detik saat kau bisa menghirup aromanya.
Setelah yakin pemuda itu memusatkan perhatian pada bukunya lagi, kau mencuri pandang ke arahnya. Kau berharap kereta melambat, karena kau tak ingin saat-saat itu berakhir. Harum sang pemuda  makin menggiringmu ke momen-momen silam penuh kehangatan. Beberapa di antaranya melibatkan konfeti, dan kue-kue manis pelengkap suasana. Kau teringat kembali anniversary ayah dan ibumu, saat strawberry tarte terhidang. Aroma hangatnya melayang-layang. Sebuah kontras manis di tengah-tengah musim dingin. Lalu, ayahmu menghidangkan secangkir cokelat berhiaskan marshmallow mini. Membuatmu rileks, menenangkan dirimu yang kala itu sedang mengalami patah hati kronis.
Otakmu  makin rajin memindai memori yang dibangkitkan oleh harum pemuda itu, ketika tiba-tiba saja kereta berhenti.
Horor yang kau takutkan terjadi. Pemuda itu berdiri, lalu melangkah menuju pintu kereta. Tiap inci jarak yang diambilnya membuat aromanya memudar. Tanpa pikir panjang kau mengikutinya walaupun stasiun itu bukanlah yang kau tuju. Seolah pemuda itu tiang penyangga tubuhmu, dan kau akan jatuh jika tidak bertumpu padanya.
Senja telah tiba. Warna oranye membingkai langit New York. Harum musim gugur masih menyambut, tetapi sekarang kau tidak peduli. Kau memfokuskan diri untuk menghirup aroma pemuda itu. Kau mengikuti si pemuda dalam jarak dekat. Tetapi tak lama. Tiba-tiba saja dia berhenti dan kau menabrak punggungnya.
Kau sulit menggambarkan perasaanmu. Di satu sisi, kau bahagia saat wajahmu bersentuhan dengan tengkuknya yang beraroma apple pie. Di lain sisi, kau begitu malu karena tertangkap basah. Kau otomatis melangkah mundur.
“Kau?” pemuda itu berbalik, memandangmu. “Kau yang di kereta tadi, kan?” tanyanya. Suaranya agak lugu.
“Benar. Aku suka sekali aromamu,” katamu. Tidak, pikirmu panik, lagi-lagi bersikap bodoh saat sedang gugup.
“Apa?”
“Aroma kue-kue manis,” kau menjelaskan. “Scone, tarte, pie, Sachertorte.”
“Oh,” pemuda itu berkata polos. “Mungkin karena aku tinggal di rumah yang pemiliknya suka membuat kue.”
“Toko kuekah itu?”
“Bukan. Hanya rumah. Aku tinggal di sana, membantu pemiliknya, terkadang juga membantunya membuat kue.”
Kau ingin menanyainya lebih lanjut, tetapi dia berkata, “Maaf, aku terburu-buru.”
Pada saat bersamaan, ponselmu berbunyi. Mau tak mau kau harus mengangkatnya—panggilan telepon untukmu selalu penting. Kau juga memutuskan untuk terus mengikuti pemuda itu. Harumnya  makin samar,  makin tertelan oleh jarak yang memisahkannya darimu.
“Halo?” sapamu tak sabar pada ponselmu. Kau panik saat pemuda itu mulai terhalang para pejalan kaki. Rambut cokelatnya timbul tenggelam.
“Coba ulangi,” kau berkata lagi pada ponsel. Aroma manis itu kini lenyap. Hilang. Kau hanya bisa menghirup bau orang-orang yang berpapasan denganmu. Tak ada lagi apple pie atau Sachertorte, yang ada hanyalah … parfum. Kolonye. Sabun. Kau berhenti melangkah, menyadari bahwa kau kehilangan pemuda-mu. Serbuan aroma artifisial kini menyerang hidungmu. Kau bersin-bersin. Lagi.
“Ya…,” katamu terbata. “Ya, baik … aku akan kembali….”
Kau berbalik. Menoleh sesekali. Berharap pemuda itu muncul lagi. Namun dia benar-benar lenyap, seperti embun yang tersapu siang. Menggerutu, kau berjalan menuju stasiun. Kau harus kembali ke tempat kerjamu. Seperti biasa, kolegamu tidak akan peduli, walaupun kau telah mengajukan izin untuk pulang lebih awal. Keberadaanmu sangatlah mereka butuhkan, apalagi dalam situasi mendadak dan tidak terprediksi.
*
Autopsi yang kau lakukan akhirnya selesai.
Kau kini melamun di atap rumah sakit, dinaungi malam dan bintang. Mayat yang harus kau tangani tadi adalah korban pembunuhan. Dia disembunyikan di sebuah gudang selama seminggu, membuatnya membusuk dan menguarkan bau bacin menyengat.
Kau sudah terbiasa dengan itu. Bau yang selalu menguar di ruangan yang telah menjadi bagian dari hidupmu. Kau, ahli forensik. Sering kali, kau menghadapi korban pembunuhan berantai.
Bau itu bukan lagi hal baru. Namun, ada kalanya kau ingin menyegarkan dirimu dari udara ruang autopsi. Kau ingin sekali menghirup keharuman yang nyaris tak pernah kau temui. Sayang, kau tak bisa menemukannya dalam bentuk parfum atau kolonye artifisial. Sama sekali tidak bermanfaat. Malah membuat kondisimu bertambah parah. Sejak kecil kau alergi berbagai jenis wewangian.
Sesekali, kau pergi ke toko kue, bistro, atau café untuk menenangkan diri. Tetapi itu pun tidak banyak membantu. Kau tak bisa lagi membedakan aroma teh. Kau tak mampu lagi meresapi hangatnya meringue anggur. Sejak menyelesaikan kuliah forensikmu, naluri penciumanmu seperti terkikis. Kau terlalu sering berkutat dengan kamar jenazah. Baunya tak pernah meninggalkanmu.
Hanya pemuda itu yang bisa benar-benar menyegarkanmu, bahkan menghadirkan kembali aroma manis yang telah lama terlupakan. Kau sendiri tidak tahu mengapa. Mungkin karena, menurutmu, dia tidak memakai hiasan artifisial. Atau karena, kebetulan aroma tubuhnya mirip kue-kue dalam kenanganmu.
Apa pun itu, kau benar-benar menyesal telah kehilangannya. Tadinya kau ingin menanyainya banyak hal, mampir ke tempat tinggalnya, bercerita tentang hidupmu. Kau bahkan telah menyusun rencana ke depan: jika kau merasa jenuh, kau akan mengajaknya bertemu. Kau akan duduk di sampingnya. dengan bahagia menghirup aromanya.
Namun itu mustahil. Bisakah kau bertemu dengannya lagi di kota sebesar ini?
Lalu, terlintas di pikiranmu: mungkin kalau besok kau naik kereta itu lagi, kemudian turun di stasiun yang tadi tadi, kau punya peluang untuk melihat pemuda itu lagi.
Kau tidak sabar menunggu esok hari, meskipun tak berani terlalu berharap.
Lagi pula, mungkin bersahabat dengan aroma korban-korban post-mortem sudah menjadi nasibmu.(f)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Prisca Primasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”