Sihir Bisa Ular

Karya . Dikliping tanggal 23 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
Kau mungkin mengira setiap orang yang menangkap ular pasti selalu menghindar dari gigitan binatang melata itu. Jika kau kukuh dengan pendapatmu itu, kau keliru. Lihatlah seorang yang dipanggil Sona di kampungnya. Ia merelakan tangannya untuk dipatuk ular setiap kali menangkapnya. Meski seringkali menanggung rasa nyeri yang luar biasa, malam harinya ia akan bermimpi bertemu dengan bidadari berparas jelita dengan sayap di punggung.
Hampir setiap sore, Sona menuju ke sawah entah milik siapa, memeriksa lubang-lubang yang berada di tepi tegalan sawah atau di pinggir sungai yang berada di dekat sawah. Jika Sona melihat ada kepala ular menyembul dari sebuah lubang atau ular yang sedang melintas, ia akan berusaha menangkapnya dengan tangan tanpa pelindung apa pun. Ia biarkan tangannya untuk digigit ular itu.
‘’Kau dipatuk ular lagi, Sona?’’ tanya ayahnya yang sudah renta saat Sona baru saja menangkap ular dan ada bekas gigitan di tangannya.
‘’Iya.’’ Sona menyunggingkan bibirnya sambil memasukkan ular ke dalam kandang yang terbuat dari besi. Tidak semua ular yang ditangkap langsung terjual. Ular yang belum laku akan disimpan di dalam sebuah kandang. Ada lima ekor ular yang masih berada di dalam kandang.
‘’Kenapa kaurelakan tanganmu digigit dan dimasuki bisa ular?’’
‘’Hehehe…,’’ Sona hanya tertawa kecil. Dalam hati ia menjawab setiap kali digigit ular pada malam hari ia akan bermimpi bertemu dengan seorang gadis berambut panjang dengan sayap di punggung yang dalam imajinasi Sona adalah bidadari.
***
SENJA membuka pintu malam. Sona memasuki kamarnya. Sebuah ruangan yang lebih mirip dengan gudang. Kau akan menghirup bau tidak sedap dan napas tersengal karena debu jika memasuki kamarnya. Ia ingin merebahkan diri, melepas lelah. Sambil memegangi tangannya yang terasa nyeri, ia berharap segera bisa hanyut ke alam mimpi agar bisa bertemu bidadari yang selalu mendatanginya saat tangannya digigit ular.
Sosok bidadari yang mendatangi Sona dalam mimpi-mimpinya selalu mengajaknya terbang. Si bidadari menggandeng tangan Sona dan mengajaknya berkeliling kampung melihat suasana kampung dari angkasa. Dari
atas, Sona melihat kampungnya yang di kelilingi persawahan yang luas. Suasana lengang jauh dari perkotaan. Di sanalah ia di lahirkan.
‘’Kenapa kau mau berteman denganku?’’ tanya Sona saat sedang terbang bersama si bidadari dalam mimpinya.
‘’Memang kenapa?’’
‘’Aku punya banyak kekurangan. Aku hanyalah pengamen dan penangkap ular untuk kujual. Orang-orang pun memandangku sebelah mata. Ayahku punya penyakit sakit ingatan dan aku menuruninya. Menurut orangorang ibuku meninggal karena aku yang membunuhnya. Sebongkah batu aku pukulkan ke kepala ibuku. Meskipun aku tak pernah merasa sebagai pelakunya. Ada suara yang membisiki telingaku, dan pemilik suara itu pelakunya. Meskipun orang-orang kampung tak akan pernah percaya pada pengakuanku, termasuk para polisi saat menanyaiku di kantor mereka.’’
‘’Di mataku, kau adalah pemuda tampan yang menawan hatiku, Sona. Kau tak perlu minder seperti itu. Seperti baru mengenal aku saja.’’
‘’Kau bidadari yang baik. Kau sudi turun ke bumi untuk menemuiku. Aku ingin menikah denganmu.’’
‘’Kapan kita menikah, Sona?’’
‘’Hehehe….’’ Tidak di alam nyata saja, di alam mimpi Sona pun terkadang menjawab hanya dengan kekehan saja, entah apa maksudnya.
***
KETIKA mengamen Sona hanya membawa gitar kecil. Ia menggenjreng sekali kemudian tangannya akan
menengadah meminta uang. Jika beruntung ia akan mendapatkan selembar atau beberapa keping uang recehan, atau sebungkus nasi. Sona juga sering bercanda dengan ibu-ibu muda yang sudah hafal dengan si pengamen itu. Sona akan menjadi bahan ledekan ibu-ibu di kampung yang didatanginya.
‘’Teman-teman sebayamu sudah menikah semua. Kau tak malu kalau ada orang yang menyebutmu bujang lapuk? Kapan kau menikah, Sona?’’ tanya seorang ibu.
‘’Ah, nanti kalau aku sudah banyak uang.’’
‘’Kau sudah banyak uang dari mengamen dan menjual ular.’’
‘’Belum cukup. Aku ingin membeli sebidang tanah dan membuat rumah untuk anak dan istriku nanti. Sudah ya, aku akan melanjutkan perjalanan ke kampung sebelah.’’
***
SUATU sore ketika gerimis membasahi bumi dan kilatan petir menyilaukan mata, Sona menuju ke sawah. Ia melihat pelangi di langit sebelah barat yang mengingatkannya pada bidadari dalam mimpinya. Kau pasti tahu apa yang akan dilakukannya. Benar. Sona bermaksud menangkap ular. Benar juga jika Sona akan dipatuk ular ketika menangkapnya.
‘’Aduh!’’
Tak seperti biasanya Sona mengaduh ketika ada ular berkepala gepeng menggigit tangannya. Dalam waktu
yang bersamaan suara petir menggelegar. Kali ini ia tak berhasil menangkap ular yang langsung meninggalkannya. Ia pulang dengan tangan hampa. Wajahnya pucat menahan rasa sakit di bekas gigitan pada pergelangan tangan kanannya.
‘’Kau digigit ular lagi?’’ tanya ayahnya.
Sona mengangguk, tak kuasa membuka mulutnya. Ia langsung rebahan di kamarnya. Matanya berkunang-kunang. Ia merasa pusing. Berhari-hari Sona hanya rebahan di kamarnya. Ketika tetangganya membujuknya untuk berobat ke puskesmas, ia menolaknya.
‘’Nanti juga sembuh,’’ jawab ayahnya jika ada orang yang menjenguk Sona.
Tubuh Sona kian lemah. Ia hanya terbaring di atas amben kamarnya. Sudah ada petugas dari puskesmas yang memberikan obat untuknya, namun Sona hanya sekali meminum setelah itu tergeletak di meja.
Setiap malam Sona tidur dengan wajah berseri-seri. Kau pasti tahu kenapa demikian. Ya benar, Sona bermimpi sedang terbang bersama seorang bidadari berkeliling kampung.
‘’Aku ingin menikahimu besok.’’
‘’Kau serius, Sona?’’
‘’Aku serius. Aku sudah mengumpulkan satu ember uang logam di bawah tempat tidurku.’’
‘’Kau benar-benar
mencintaiku, Sona?’’
‘’Hanya kau yang ada dalam hatiku.’’
Bidadari itu memeluk Sona. Sona merasakan kedamaian yang menjalar dari hatinya ke seluruh tubuhnya. Hasrat kelelakiannya ia tahan karena cintanya sangat tulus untuk si bidadari.
‘’Aku akan menyampaikan maksud hatiku ini pada ayahku dulu.’’
‘’Baiklah, Sona.’’
***
TUBUH Sona semakin lemah. Racun ular telah menjalar ke sekujur tubuhnya. Ketika ayahnya memasukkan air ke dalam mulutnya, air itu menyembur keluar lagi. Ayah Sona menangis sesenggukan. Mendengar suara tangisan, orang-orang berdatangan menuju rumah Sona. Mereka ingin tahu keadaan Sona. Jika kau menjadi tetangga Sona, kau pun pasti ingin bergegas menuju ke rumahnya. (62)
Banyumas, 6 Desember 2014
— Agus Pribadi, guru IPA yang suka menulis cerpen, tinggal di Banyumas. Buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul Gadis Berkepala Gundul sedang dalam proses penerbitan.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Agus Pribadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 21 Desember 2014