Sirah Mambang – Parentis Waktu – Suara Kesunyian, 1998

Karya . Dikliping tanggal 3 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Sirah Mambang

1

Kematian tiba, dengan tanda merah
Di tengah kening dan kedua telapak tangan
Hangus terbakar, diam-diam melintasi
Jalan setapak itu, di bawah bulan sabit gemetar
Sebentar suar berkerlip di balik pelupukmu
Dua tetes air keruh di kejang dada, luka melepuh
Saat daun-daun jambu terbakar, dan mambang itu
Duduk sendiri bersandar di batang waru, menatap
Bias prisma di angakasa, cuma sejenak siulan
Berputar di ujung betis lapas itu, kabut merayapi
Ruas-ruas bambu, di tengah kesunyian abu tua
Perlahan tergambar sayatan tipis di bawah pusarmu
Mereka menyebutnya pembalasan, jelujur retak
Di samping ubun tengkorak, kutva biru lebam
Di paha, sobekan simetris di atas vagina, selebihnya
Hanya lengking hijau bergentayang di udara terbuka

2

Kutemani engkau, dosa yang samar, tapi bukan
Demi kebajikan, mengejar lelatu di galur ingatan
Terkenang sabit maut dan lengking hijau gemetar
Di hamparan embun, mereka seret tubuh silammu
Riwayat duga-dugamu, gumpalan merah hati sapi
Dan kutuk sejarah dipendam ke dalam sumur mati
Namun, aku tak datang untuk menghakimi, sekilas
Terlihat tilas sayatan bibirmu berpendar kuning api
Di pekarangan ini kita sama nelangsa yang redam
Serasa amuk bersulih saat hitammatamu melepas
Defleski lirih. “bebaskan aku, Tuan, aku tak paham
Kenapa mereka mencekikku.” Setelah mambang itu
Merayap ke depan batang kemiri, samar tergambar
Mereka bergegas menimbun sumur mati, bau karet
Muntah kembali menguar di pekarangan belakang
Rumah, “Bebaskan aku, Tuan, mereka masih terus
Mengejarku. Mereka masih tak puas mencekikku”
Angin meriap, gerimis hitam pukul 12 malam, dan
Mambang itu tiba-tiba etrpaku menatap kucing hijau
Melintas di depanmu – ekornya bergoyang perlahan

3

Mereka semata ingatan yang lesap
Dalam abu, masih kaurasakan cambuk rantai
Sepeda mendera panggungmu, sebelum
Mereka membakar dengan itu, udara lebam
Kesumba, lalu laskar mambang itu masuk
Mencincang tubuh lakimu dengan tembilang
Sedang kau duduk tertunduk di samping tiang
Tidak berdoa, hanya bergetar mendekap bayimu
Wajah-wajah pembunuh mulai bercahaya
Saat tubuh rengsamu diseret ke padang ilalang
Mereka melempar bayimu, lalu tongkat kayu itu
Memaksa lipatan vaginamu berulang menyerukan
Penebusan ilahi, tak ada malaikat di sana
Mereka hanya mencekik lehermu tatkala semilir
Angin bersaing ricik talang mengaliri parit
Di balik rumpun ilalang, sekejap kau menjelma asap
Lalu selaung kelam menderu saat kautatap
Lapuh kulitmu, pijar geni menyilap ujung-ujung
Rambutmu, bau daging panggang merayap
Dari selangkang bayimu, “Di amna engkau, Tuan?”
Kami telah menjaga ladang dan dangaumu
Kenapa kami ditinggalkan, Tuan? Kenapa kami
Dihanguskan?” Seekor kucing hijau mengendap
Dari selasar mengendus mayat lakimu, sehembus asap
Hinggap ke batang perdu, lalu laskar mambang itu
Bersorak melempar bangkai keluargamu, bau sangit
Bangkit ke atas cincin sumur mati, “Angin, angin gelap
Turun ke tangkai perenggi, lenyap di balik akar kemiri.”

Parentis Waktu

Diam-diam kaumulai kembali perjalanan ini
Sebelum bayang silam dan lengkung lazuardi
Menjelma batang-batang tusam, tiang-tiang
Gerbang, lorong gelap duka, dingin dan licin
Berputar, lingkaran tanpa henti, melepas
Sebutir zarah di tengah badai cahaya matahari
Jalan dibentangkan, di tepi-tepinya batuan putih
Seraya kabut pagi, keriangan, dna angin sedih
Di lereng gunung itu membuka batas bahasa
Ke dalam matamu, ke dalam segala yang mungkin
Ke dalam telapak tangan mungil seorang bocah
Dengan hidung hitam dan selengkung tawa
Di depan langkah tua, pikiran bergerak, hamparan
Payung cendawan menjelma selembar catatan menghilang
Parentis waktu, ciklus yang datang dan pergi
Jalan tanpa akhir dan tangkai-tangkai suplir
Bergoyang di samping mata kakimu, di tepi lembah
Kau terus mencari kepadaman tatkala lidah api
Mendadak naik dan lenguh asing bergema di tebing
Dari ribuan belulang, mengukur ketinggian darah:
Dengan, setidaknya, telah kaupertahankan kewarasan ini

Suara Kesunyian, 1998

1

Angin kalap pada dataran coklat tua,
Serumpun hujan menjelma darah
Menggigil di hamparan rumput gajah;
Satu lanskap kuning muda terbentang
Di pasir sungai, lalu petir tiba-tiba
Menyergap luang hatimu, menyambar
Hitam bulu enggang, sebuah jurang
Menganga di paruhnya, dna kau kembali
Terjerembab ke tanah disesaki semak
Penuh onak dan ujung duri mimosa
Menggores lututmu; menjelang senja
Sekilas cahaya terpantul di tepian rawa;
Itulah mujair perak berenang ke tengah
Paya di antara gelaga dan alga biru;
Itulah fusi lumut dna lumpur gambut
Terinjak kakiku, lantas bangau bengal itu
Menukik menyambar mangsanya, gagal,
Barang sejenak hinggap ke dahan pohon
Rengas, lalu lengking asing itu bergema
Di sana, tak berapa jauh drai tepian rawa,
Saat hatimu bergidik, lekas senar ditarik,
Ujung kail persis mencungkil kornea,
Satu biji mata terapung menatap angkasa.

2

Melayang di atas ke bawah, itulah sayap
Kupu-kupu ungu melintas halaman rumah
Pas angin bukit berdesis mengitari jenazah
Itulah anyir di ujung sawah, semua berakhir
Sebelum segalanya dimulai; dan pusara itu
Hanya lampion padam menolak dinyalakan
Dalam halaman-halaman bisu buku sejarah
Tatkala gerai yang tak lain rumahmu mulai
Dibakar, di sudut kamar, jemari gemetarmmu
Terus melukis kehangatan pada tilam ungu
Hingga gerimis bunga-bunga dna melankoli
Kembali tersusun dari puing-puing ingatan
Atau sekadar cangkang kerang yang dingin
Itulah umang-umang hantu di lantai berdebu
Sendiri mengitari ubin di bekas toko sepatu
Itulah sirkus barongsai dari jerit para korban
Atau kue ketan tahun baru yang tak sempat 
Kausajikan dan badai itu belum akan berlalu
Atau luruh sebagai embun di rumpun ilalang
Subuh itu, kau kembali dengan cerita baru –
Jantungmu terbakar; halimun melukis mawar
Sebelum kilau fajar – hanya harum dalu dan
Hatimu, dna hantu-hantu, yang terus bersinar.
Ahmad Yulden Erwin lahir di Bandar Lampung, 15 Juli 1972. Ia telah menerbitkan kumpulan puisi Perawi Tanpa Rumah (2013) dan Sabda Ruang (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahmad Yulden Erwin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Sabtu 2 April 2016