Solikui para penunggu hutan – Rontang jernang (dragon’s blood) – Lebah sialang (apis dorsata)

Karya . Dikliping tanggal 3 Februari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

solikui para penunggu hutan

          – batu geliga (bezoar)

sepulang dari eropa, racun-racun

dalam tubuhku sibuk berkelahi,
berdengung-dengung bagai lebah
bergelayut di jantung,
bagai suara kambing gunung
yang di lehernya lembing bergantung
antara-suara itu lalu-lalang secepat cahaya
di urat darah kacukanku,
jejaknya menanam sengat silau,
beribu sengat, yang sakitnya lekat
pada setiap kali mataku memandangmu
terhantuk-hantuk di sampan kayu
di pelataran sungai senja
maka, kuminta, maniskan darahku,
siapa pun dikau wahai para penunggu hutan,
dengan sebutir batu geliga itu, sebutir saja
atau, kikiskan ke dalam segelas anggur,
agar jadi jimat abad tujuh belas
di limbung mabuk badanku.
          kau bukan orang asli, bung,
          kau para munsyi yang mualaf
          pergilah ke selat, atau ke tanjung,
          atau hanyutkan saja dirimu ke Persia
          ke perdagangan terselubung
alahmak,
setengah gelepar ini,
rupanya tak membuatmu patuh,
tak sekejap saja diam dari seranah.
aku orang kota, terbuang dari kampung,
disumpahi orang darat, dikutuki orang laut.
maka darahku kadang pahit,
kadang sepat, kadang kelat.
tapi hati-hati, ujung lidahku asin,
merapal jampi-jampi untuk memikat hatimu,
untuk menciumi aroma gaharu di tubuhmu,
bismillahku masih bersirih,
masih lekat urat pinang merah di bibirku,
andai kelak kusepah semah di bibirmu.
kau ingat, sujud sembahmu di kakiku dulu,
adalah tersebab kata, padam kemilau emas
pada mata.
dan ratusan tahun, kau dengar, 
doa sejarah yang itu-itu juga
yang ditadahkan ke pintu langit tenggara.
Sampai aku hafal berapa tiang layar
yang tumbang ke cina. 
wahai, tak mungkin sembuh,
itu derita,
bahkan jatuh,
itu raja.
         tapi, batu geliga dari perut gajah telah lenyap,
         dijual ke ace, diberi nama pedro de porco siacca,
         binatang-binatang hutan merajuk, juga mengamuk
         ke kota, mereka kini makan roti di mal-mal,
         tak lagi suka daun-daun tropis
         yang membangkai di api gambut
aku tahu, sepulang dari eropa,
mulutmu mulutku bau jerebu.
yang punah oleh api adalah ranah.
kita tumbuh dari selera makan orang lapar
yang bangkit dari kuburan tuhan.
masa depan kita tinggal sungai,
yang kita minum siang malam,
yang kita tangisi pagi petang.
tapi, batu geliga, tak ada di sungai.
perut ikan-ikan hanya menyimpan pasir,
lumut limbah dari pabrik,
dan serpih syair yang terbenam di rawa.
ikan-ikan yang hidup dalam perut kita,
adalah juga ikan puaka,
menjelma racun-racun yang sibuk berkelahi
tentang warna sirip dan sisik,
sibuk mencari mitos-mitos tentang asal-usul dari kepingan uang logam yang berkarat
di bawah bantal kapuk nenek moyang.
maka, tolong, maniskan saja darahku,
dengan batu geliga itu,
yang mungkin, masih tersisa
di dalam degup jantungmu.

– rontang jernang (dragon’s blood)

ia hanya tahu, suatu hari,
ia akan menjelma jadi pohon dracaena,
di hutan hitam belakang rumah.
rasanya, ia tak tahan lagi,
tubuhnya dipaku di tiang-tiang sembahyang,
jadi penyebat anak-anak yang tak pandai
mengaji alif-ba-ta,
dijual dibeli di pasar raja-raja,
ditenggak para penyair yang tergagap
kehikangan kuasa kata.
konon, 
kemenyan merah yang dibakar di bawah dapur,
saat magrib menabuh bedug di surau-surau,
yang terus memanggil-manggil tuhan
di mata kapak orang kampung,
adalah permaisuri surga yang akan jadi bini,
tapi sejak lama, ia telah tahu, itu orang bunian
yang tak berumah di surga, tak bertanah di bumi,
tak mungkin ia pagut asap, seperti ia memagut
remang senja yang lindap.
pernah,
bagai lepas urat nadinya
dari akar-akar tanah,
saat tak dapat ia ucap alif-lam-mim
di depan madrasah,
tempat ia pernah terhimpit berhari-hari
di halaman-halaman kitab suci.
saat itu, yang terdengar oleh daun-daunnya,
adalah gaung hutan, meraung panjang,
bunyi semak yang disibak-sibak,
dan batang-batang getah tua
yang ditetak-tetak.
suara tuhankah itu?
al-faaatihah…
ia hanya tahu,
hari-hari akan lepas dari tubuhnya,
seperti kulit yang terkelupas dari dagingnya.
tak pernah ia membenci tukang kayu,
seperti ia membenci tukang tebang.
ia berani bersumpah, atas nama matahari,
yang telah melahirkannya,
bahwa di seluruh dataran rendah,
orang-orang menguliti seluruh hikayat,
seluruh riwayat, dari ujung ke pangkal,
sebagaimana mereka membuang
– dengan rasa benci – duri-duri dari batang. 
dan suatu hati, ia tak lagi ingin tahu,
di mana harus mengucap assalamualaikum,
ketika tubuhnya terpanggang,
melelehkan resin merah ke tanah,
bagai melelehkan darah
ke merah darah.

– lebah sialang (apis dorsata)

kami tinggi, karena langit tujuan kami,
teriakmu dari atas bukit.
tapi orang belanda, sebagaimana juga aku
melihat gumpalan mendung d langit utara,
langitnya orang sumatera,
seperti ribuan sarang lebah
menggantung di rimbun sialang,
bersiap jatuh ke jantung ladang.
itukah langitmu,
yang kakinya bengkak-bengkak
kena sengat teluh
orang kacuk dari siak.
tidak, katamu.
orang sakai kebal nujum
tersebab darah madu kami minum,
seperti orang Jakarta mereguk limun
dari lambung tanah kami yang tambun.
bahkan kepada inggris, di tahun 1823,
bukankah raja-raja telah menjual silsilah kami
dalam lima ribu karung lilin.
maka kita ini siapa, peramu atau pemburu,
atau binatang-binatang liar abad tujuh belas:
yang bertanya kepada hutan,
jawabnya rumah.
yang bertanya pada sungai,
jawabnya tanah.
maka kau yang tinggi
atau aku yang terbenam,
adalah adik beradik 
yang bermain galah panjang 
di halaman belakang.
Sebab, di depan, kau tengok,
di sepanjang sungai besar berarus lambat
kapal-kapal tiap petang berbaris 
menadahkan periuk bagai pengemis,
bahkan sejak berabad lampau
menanti kau bilang puah,
menunggu aku bilang puih.
kami, tak lagi tinggi,
sebab langit adalah tempat tinggal kami,
bisikmu dari dalam tanah.
Pekanbaru, Januari 2015

Marhalim Zaini lahir di Bengkalis, Riau, 15 Januari 1976. Buku puisinya yang ketiga, Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu (2013), menerima dua penghargaan: Anugerah Hari Puisi Indonesia 2013 dan Penghargaan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa 2013.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marhalim Zaini
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 1 Februari 2015
Beri Nilai-Bintang!