Solituda

Karya . Dikliping tanggal 14 Januari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

GERBONG nomor 3, dari rangkaian kereta eksekutif, yang berangkat 20.33 dari M — di 4 jam sebelumnya, dari S–: tidak pernah sampai ke B. Memang kereta itu terlambat, dari seharusnya 05.49 jadi 10.11, dikarenakan anjlok di K. Aku tak ingat detilnya: Begitu naik aku mengobrol, dengan yang terlebih dulu duduk. Permisi, karena akan memakai ja-tahku, yang telah membuatnya bisa meringkuk di dua tempat duduk. Mengobrol. Mena-warinya makan, meski hanya satu nasi bungkus. Dan setelah makan, minum air mineral, pamit ke kamar kecil, dan merokok di bordes–saat itu belum ada larangan merokok.

Balik. Dan si di sebelah telah tidur–berbalut selimut, bagai kepompong

***

SUDAH tengah malam. Semua sudah tidak mengobrol lagi–sudah bosan dan cape. Agak merebahkan sandaran kursi, dan di setengah berselonjor berkerodong selimut dan membenahkan kepala di bantal kecil–melupakan sekitar, tertidur, atau pura-pura tertidur dan asyik dalam kepala, berangan-angan. Rasanya, setelah menggeronjal ketika membe-lok di jembatan kecil–hentak tetak roda menimbulkan gaung di palung sungai alit itu–, loko tersengkelit, menggelincir serta terjungkir–menghunjam dengan meluncur sambil membongkar tanah sempadan rel. Rodanya terus berputar, mesin menderam, yang keras menggerung. Disusul lesakan gerbong kesatu, dan dilanjutkan dengan si gerbong kedua, menanduk gerbong pertama–bunyinya berdebum.

Gerbong berguncang–jerit orang yang dipaksa terjaga, kaget serta kesakitan. Aku ingat: gerbong ketiga menumbuk dan terpantul, dan kembali menumbuk lagi setengah di-dorong laju dan bbot berat gerbong keempat. Terlepas dari rangkaian, dengan ujung yang melambung, dan seluruh beratnya itu tersentak ke ujung rangkaian gerbong kedua. Mera-pung separuh lingkaran, dengan inti pusat rangkaian, lalu berdebam, jatuh menghantam sempadan. Kaca jendela, yang tebal itu, pecah. Lempeng kaca menghunjam ke panggkal kepala–saat terjerunuk–, dan menggelontorkan darah. Lantas aku tak ingat apa-apa.

***

SUDAH berselang 3 tahun saat sadar: menemukan diri di rongga tanah, celah kubur. Aku panik. Tangan terulur mengorek tebing tanah yang menabir. Sukar sekali–itu tanah padas, yang masif, atau batu yang melapuk–, sebelum sadar bahwa aku ada dalam rong-ga, dengan dinding tanah padat, dengan papan yang hancur lapuk, dan ada celah di antara tanah padat dengan tanah galian yang dipadatkan. Aku menelusup, dan pelan ke luar, ba-gaikan asap rokok, yang di-sebul seusai diisap dan mematangkan paru, dan ke luar lewat hidung. Ke luar dari lahat–dan tiap saat aku bisa berada di luar kubur. Membubung atas kemboja, menyelidik ada di mana. Menerawang. Pergi ke mana mau–terutama stasiun. Aku menempel di gerbong kereta arah B. Menumpang untuk pulang kampung, dan tersadar ketika menelusuri kampung–kenangan membuat perih, karena semua ada di luar, menyelinap ke balik diding kaca, tempat aku diisolasi. Sendiri. Balik–kini, dengan meng-hentak, merapung dan berkepak arah matahari terbit, dan (lewat) tengah malam masuk ke rongga kubur. Tercenung. Sepi. Ke luar dan merapung lagi– menebal dalam kabut. Tahu, ada yang tak lampias, ada yang tak bisa dituntaskan–itu rasa terlanjur, ketertinggalan, ke-sadaran bahwa segala telah berlalu dan ini kini sudah bukan giliranku. Itukah arti kemati-an? Kenapa aku terus rindu Ayah dan Ibu– meski tahu, bahwa mereka ada dalam dimensi lain, karenanya kami tak akan bisa bertemu–? Lantas mengerti: dulu aku berniat pulang, karena rindu, dan ingin sekali lagi (sesaat) berkumpul dengan mereka. Dulu .

***

KERETAanjlok. Aku tersuruk. Kini–meski kapan saja bisa pergi ke B–, semua sudah telat: Ayah dan Ibu telah masuk rongga kubur–mengisi kubus waktu yang eksklusif: bisa melihat segala, tapi tak tergabung. Soliter–sediri. Sepi. ❑- c

7-8/1/2019

*) Beni Setia, pengarang tinggal di Caruban.


[1] Disalin dari karya Beni Setia 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 13 Januari 2019