Sontoloyo

Karya . Dikliping tanggal 8 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

AKU lantas mengenang masa lalu yang tergenang dalam lamunanku. Dahulu aku pernah bilang pada bapak, kalau besar nanti, aku akan mengajaknya minum kopi madu serta mengisap rokok berbatang-batang. Bapak lalu mengggariskan matanya padaku. Dia bilang aku anak sontoloyo.

SEMENTARA masa lalu mengunjungiku, kelamaan aku menyadari dulu terasa ini sekecil sekarang. Barang dua langkah saja, aku sudah sampai ke ujung serambi. Speuluh tahun ke belakang, aku bisa saja balap lari dengan ayam yang sembarangan mencret putih di tiap putih lantai keramik. Sementara bapak cukup tahu pekarangannya jadi kakus ayam-ayam. Dia tidak marah pada ayam. Maka, ketika aku melakukan hal sama yang dilakukan ayam-ayam, aku kena murka. Dia bilang aku bukan ayam. Lalu, bapak “menyontoloyoi” aku dengan nada yang lain.
Sekali lagi aku mengamati sekitar, sampai ceruk lantai serambi yang habis dikikis usia. Kaca-kaca berembun. Aku menuliskan namaku, menggambar sebuah mobil yang hanya tampak samping di sisa-sisa embun, seperti kebiasaan masa kanakku. Bedanya sekarang, aku menggambar menurut mobilku yang terparkir di depanku. Sepululuh tahun adalah waktu yang panjang untuk mengubah gambar mobil di kaca jendela ini menjadi bisa ditumpangi dan dibunyikan lengking klaksonnya.
Ingatanku kembali ketika Asri keluar dari bilik dapur. Dalam sebuah nampan, lengkaplah jamuan pagi hari, yakni kopi dan jajanan pasar dengan rasa kuno dan sederhana.
Istriku lantas pergi lagi ke bilik dapur menjemput gorengannya yang belum tuntas. Aku menjemput lagi ingatanku yang sampai ketika aku pertama kali merokok. Aku menganggap rokok adalah bumbu napas . Seperti air yang sering kita tambahkan kopi dan gula ketika kita haus.  Batuk-batuk dan sesak napas tidak membuatku jera merokok. Rokok adalah bumbu yang –meskipun terlalu banyak kita membubuhkannya dan bikin kita batuk-sesak– kita akan tetap ketagihan. Itu pula yang menjadi alasan mengapa ketika aku mencret di kakus, persaingan aroma selalu dimenangi oleh asap rokok.
Aku melihat diriku yang mengenang ke mana-mana tentang rokok. Lantas mendapati diriku yang haus tembakau. Aku memijat-mijat sebatang kretek yang diambil dari bungkusan. Membakar dan menghisapnya dalam-dalam. Membiarkan asap itu memenuhi kerongkongan. Mneyusup paru-paru dan aku keluarkan lagi lewat mulut dan hidung. Cengkeh, tembakau, tobacco sauce, dan pahpir yang padat tergulung itu hangus. Berubah wujud menjadi asap kental warna putih yang sangat serasi dengan selingan surabi dan kpi buatan istriku.
“Aku sudah bilang, kamu harus jadi orang dulu sebelum merokok!” Sembari membenarkan sarungnya yang bau lemari, bapak duduk di sebelahku, tiba-tiba. Kaos oblongnya nampak ada yang bolong, apa yang dilakukannya ketika aku pergi dan pulang ke ilahi?
“Dari dulu kan aku sudah jadi orang, Pak. Orang. Aku memang orang, kok. Anaknya orang kan, Pak?” Aku menggodanya sambil menawarkan kopi.
Ia menyambut cangkir kkopinya dengan bibir yang siap seruput. Lagi-lagi, ia balik menggodaku, “Begitu ya. Sudah jadi orang. Punya mobil, rumah, anak ya?”
Aku mengganti pandnaganku — yang membentur bapak — ke arah depan rumah. Melihat para petani yang berjalan menuju hulu. Membawa cangkul sambil mengulum rokok di masing-masing bibir.
Bibir bapak juga sekarang terdapat sebatang rokok. Ia meraba-raba sarung dan kaos oblong bolongnya. Aku yang paham maksudnya langsung menyalakan korek apik. Semangat merokoknya masih seperti pemuda. Ahh, bapakku.
Sesaat kami berbagi diam karena disihir oleh rokok dan kelontang kegiatan memasak istriku.
Aku melihat lagi bapakku. Dahulu, ia mampu menyaingi asap kereta. Apalagi rokoknya itu kretek yang — dalam waktu normal dan intensitas isapan rendah — rata-rata akan habis dalam setengah jam. Maka, kalikan saja 12 batang kali setengah jam. Lalu, hasil itu kalikan lagi dengan 12 jam waktu ia bekerja. Itulah jumlah rokok yang ia habiskan dalam sehari.
“Padahal kamu dulu gak suka rokok, kenapa sekarang jadi perokok berat kaya Bapak ini? Ia melafalkan kata ‘bapak’ seperti kata “bajingan” yang keluar melalui kegemasan dan rasa kesal.
“Tidak tahu, Pak. Mungkin Bapak juga dulu gak suka rokok. Lalu, Bapak jadi orang, lalu sempat juga menjadi perokok berat. Kayak aku ini, Pak.”
“Lalu?” bapak menarik sebelah alisnya.
“Lalu, ya sudah.”
“Lalu kok ya sudah. Lalu itu ada lanjutannya. Lalu apa?” Ia menggoda lagi, tetapi selain senyum, aku tak tahu harus jawab apa.
“Kok memaksa.”
“Kamu belum jadi orang, Rowo. Ditanya balik gak bisa jawab.” Bapak mendelikku tajam sampai kacamatanya melorot ke ujung hidung. Aku tetap tak acuh dan mengalihkannya dengan melahap habis kue dan kopi buatan Asri.
“Kok kamu bisa jadi orang gini, Wo? Apa yang bikin kamu jadi orang?” Kembali ia bertanya, sambil siul perkutut dan menggapit rokok di kota.”
“Itu sebabnya kamu merokok?” Kacamatanya melorot lagi.
“Itu salah satu sebabnya. Aku dapat jatah perusahaan. Rokokku ini gratis, Pak. Mau?” Aku menawarkan.
Sontoloyo! Apa hubungannya naik jabatan dengan mengubah kebiasaanmu menjadi perokok?”
Aku tidak menjawab. Jawabanku berganti pada negosiasi. “Ini kesukaan bapak.”
Ia malah pergi ke dalam rumah. Perasaanku jadi tidak menentu. Apa aku salah bicara? Tapi, ia kembali lagi ke beranda. Tangannya mengggenggam peti sebesar kotak sepatu. Warnanya cokelat tua berukiran gaya Jepara.
“Walaupun kamu kerja di pabrik rokok dan ngerti rokok, tapi tetap aku yang lebih tahu soal rokok dari kamu. Sebelum kamu merokok merek itu, kamu harus mengisap rokok yang ini dulu.”
Peti kecil itu dibuka olehnya. Isinya adalah berbagai merek rokok, tembakau, pahpir dan semua tentang rokok. Diambil bungkus rokok berwarna putih. Ada tulisan “mild” di badan bungkus rokoknya.
“Rokok ini kadar nikotin rendah. Bapak biasa mengisap rokok ini sehabbis mengepel lantai dan mencuci baju karena gak bikin dada sesak. 
Ia lalu mengambil bungkusan lain.
“Kalau rokok ini yang bungkusnya merah putih impor langsung dari Amerika. Bapak biasa panggil ‘rokok koboi.’ “Rokok koboi” ini biasanya nemenin Bapak kalau minum bir dulu. Kamu mau?”
Aku menolak dan menunduk menahan tawa. Ia mengira aku tidak tahu apa mereknya.
Bapak melanjutkan
“Ini rokok penulis. Kamu tahu penyair temen Bapak itu? Orangnya suka bikin puisi. Dia doyan ini. Tapi, selain puisi, dia gak bisa bikin apa-apa lagi. Rokok ini juga yang selalu menyediakan dana untuk beasiswa. Itu kata koran. Makanya aku suka mengisap rokok ini agak sering. Lah kan praktis. Merokok iya, menmdanai uang kuliahmu juga iya.” Betul, merek rokok ini yang menjadi beasiswa sampai lulus kuliah. Tapi, aku tidak menyukai rokok ini, aroma seperti permen karet melumuri setiap batangnya.
“Ini rokok Bapakmu sekarang. Aromanya pas dengan kopi.” Bapak membuka bungkus rokok yang berwarnamerah hati. Mengambil dua batang dan menawarkannya padaku. Aku menerimanya. Bapak ternyata sudah mengakui aku menjadi orang, meskipun dengan sontoloyo, yaitu memmperkenalkan jenis-jenis rokok.
Manis betul senyumnya. Meski usia lambat laun memakan tubuhnya yang kian lama merenta. Tapi, aku penasaran pada kotak kecil dalam peti itu. Kotak besi yang agak karatan berwarna kuning bergambar gadis berbikini merah dan menggunakan topi pelaut.
“Itu isinya apa, Pak?” Aku bertanya dan memotong pandangan bapak yang sedang menikmati pemandangan pagi.
“Ini rokok keluarga, tradisi dari eyang-eyangmu bahwa anak laki yang sudah jadi orang wajib mengisap rokok keluarga ini.” Bapak melentangkan dua pahpir berwarna putih. Menaruh dua gulungan tembakau yang berwarna coklat. Meratakan dan melintingnya jadi dua gulung. Jadilah dua batang rokok. Aku pernah mengisap rokok lintingan macam itu, tapi asing betul wanginya.
Aku menggeret korek api, menyalakan rokok kami. Bapak tersenyum melihat padaku. Matanya berair dan tertawa. Bapak terlalu berlebihan, pikirku. Merokok sampai terharu seperti itu.
“Tapi, seketika, aku jadi pening. Aku mengisap rokok itu lagi. Pulan sekali rasanya. Aku teruskan isapan. Ini yang keempat, lalu keima. Aku jadi teringat kenangan-kenangan indah bersama bapak, Ibu. Aku mengisap enam kali dan sampai akhirnya mengenang masa pacaran dan bulan madu dengan Asri. Aku menjadi sangat bahagia.
Rokok apa ini? Sebahagia inikah kita merokok? Aku meneruskan isapanku yang selanjutnya. Tubuh ini terasa ringan, terbang. Aku dan bapakku tertawa sejadi-jadinya. Ia bilang rokok keluarga, artinya tembakau rokok ini berasa dari kebun bakau atau tempat lain sekitar sini. Tapi, ingatanku tertuju pada daun yang tumbuh di Aceh dan musik reggae.
“Sontoloyo! Semakin banyak mengisap, semakin cepat habis persediaan terakhirku!”
Aku senyum lagi. Sontoloyo ini senyum lagi.***
Rendra Wicaksono, penulis
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Rendra Wicaksono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 6 September 2015