Sore Sebelum Kenduri

Karya . Dikliping tanggal 23 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

Ada bergoni daun ubi di depan para perempuan itu, daun ubi yang akan digunakan untuk kenduri, mereka duduk melingkar di bawah pohon belimbing wuluh yang berada di belakang rumah Kak Puteh, Kak Puteh yang akan mengawinkan putranya dengan gadis dari seberang sungai, esok hari. “Kemarau, kemarau telah membuat daun-daun ubi menjadi seperti ini, mengerut dan tidak segar,” Kak Na terus memisahkan daun ubi dengan tangkainya.

“Tolong ambilkan aku sedikit daun ubi itu, biar aku bantu kau pisahkan dengan tangkainya,” Wa Rabumah yang baru saja sampai di tempat itu melepas sandalnya dan duduk tepat di samping Kak Na.

“Masuk saja kau ke dalam, cari pisau, lihat itu yang sudah dipisahkan tangkainya cukup banyak, Cuda Hendon kewalahan memotongnya.”

Wa Rabumah bangkit berdiri, kemudian melangkah ke dalam melalui pintu belakang untuk menanyakan pisau pada yang empu rumah. Kesibukan persiapan kenduri terlihat jelas; sebagian perempuan kampung bergerombol membersihkan ayam, mencabut bulu-bulunya, membelah dadanya, mengambil tembolok dan membuangnya, mereka juga membelah bagian antara kedua kaki ayam, mengeluarkan jeroan dan bahan dalam lainnya dengan sangat cekatan. Sementara di lingkaran yang lain, beberapa perempuan terlihat merajang cabe hijau, bawang merah, dan bawang putih, kesemuanya saling berbicara di antara sesamanya yang menimbulkan suara berisik.

“Dari mana Kak Puteh mendapatkan daun-daun ubi ini, ya?” tanya Cuda Hendon.

“Sepertinya dari kebun Nyak Syukri,” Wa Rabumah yang muncul kembali dengan pisau di tangan, mengambil tempat duduk di tempat yang tadi ditinggalkannya.

“Ah, kau menyebut nama itu, aku jadi ingat lagi, tragis nian nasib anak muda itu, masak harus menikahi janda yang lebih cocok menjadi ibunya,” timpal Kak Na, matanya tetap fokus pada daun-daun ubi yang sedang dipisahkan dengan tangkainya.

“Aku dengar Kak Nun memang mengejar-ngejar Nyak syukri, orang kampung sering menemukan perempuan itu menunggui Nyak Syukri membersihkan kebun.”

“Sungguh keterlaluan Kak Nun itu, pemuda bau kencur saja diembat.”

“Sudah-sudah, itu memang sudah jodohnya Nyak Syukri,” sela Cuda Hendon.

“Ah, aku kasihan pada ibunya Nyak syukri, ibunya sampai menangis-nangis di halaman rumah biar mereka tak jadi menikah. Sial benar nasib ibunya, bermenantukan perempuan yang hampir seumur dirinya sendiri.” Kak Na mengeluarkan daun-daun ubi dari goni yang lain.

“Ada berapa orang tamu yang diundang oleh Kak Puteh?” tanya Wa Salamah yang terkantuk-kantuk di antara daun-daun ubi. Perempuan itu seperti mengalihkan topik pembicaraan.

“800 orang, sudah termasuk tamu dari pihak pengantin perempuan.”

“Kudengar dia menyediakan 20 kilo kacang untuk bumbu pecal, 10 karung beras, 60 ekor ayam, selain itu juga ada tauco cabe hijau dan kulit ayam, dan juga teri kering teuphep untuk tamu yang tidak doyan makan ayam.”

“60 ekor ayam?”

“Iya. Kenapa, Wa Salamah?”

“Apa cukup? 800 tamu seharusnya ada 100 ekor ayam.”

“Ah, tetua kampung yang bilang saat rapat peujok buet cukup 60 ekor.”

***

Senyap, tak ada yang menjawab, sampai salah seorang perempuan berkain batik menjerit dan melompat-lompat dalam kelom pok orang-orang yang merajang cabe, bawang, dan lainnya. Seluruh perhatian tertuju pada perempuan yang menaik-naikkan kain batiknya itu, seekor belalang merayap di betisnya. Perempuan yang lebih tua mengambil binatang tersebut dan mem buangnya, “ternyata hanya seekor belalang, kupikir tadi pacet atau ulat. Kenapa pula harus melompat-lompat?”

“Geli aku, Wa.” Perempuan-perempuan lain ikut menyalahkan perempuan yang melompat-lompat tersebut, hanya kemudian mereka kembali merajang cabai dan ber cerita tentang harga beras yang semakin meroket.

Di ruang depan, penyewa pelaminan terlihat sedang memasang kain-kain berwarna warni dengan hiasan kasab keemasan di dinding. Sebuah pelaminan khas Aceh berwarna merah bercampur hijau sudah berdiri di dinding yang mengahadap ke pintu keluar. Salah seorang dari mereka, yang penampilannya agak kemayu menjerit tertahan karena tangannya tertusuk paku payung, lalu diisapnya luka di jempolnya, kemudian dipencet-pencetnya luka itu dan darah segar keluar. Temannya menanyakan obat merah pada pemilik rumah yang ternyata tidak menyimpan obat tersebut. Lelaki kemayu yang tangannya terluka menggeleng-geleng kepala, mengatakan tangannya tidak apa-apa. Pemilik pelaminan sepertinya menyanggupi untuk membeli obat saat pulang nanti dan mereka kembali bekerja menempelkan kain dan hiasan ke dinding rumah Kak Puteh.

Di depan rumah, para lelaki dewasa dan beberapa anak muda sedang membangun tenda, tempat tamu duduk keesokan hari, mereka juga menyusun kursi-kursi plastik di bawah tenda. Dua terpal juga dipasang di belakang rumah, satu terpal lain dipa sang di samping rumah sebagai tempat berlindung perempuan-perempuan yang sedang memotong daun ubi, mengurus ayam dan merajang cabai. Dua perempuan terlihat sedang memasukkan beras pulut ke dalam dandang, yang kemudian mereka letakkan di atas tungku dengan api yang menyala.

Langit sudah berwarna kemerahan, para perempuan di belakang rumah Kak Puteh, yang duduk bergerombol terus saja membicarakan hal-hal penting dan hal-hal yang tidak penting, sampai suara orang mengaji terdengar dari pengeras suara mesjid. Mereka membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing. Malam menjelang, perempuan-perempuan itu, tanpa diupah dan diperintah siapa pun datang kembali ke rumah kenduri untuk membereskan hal-hal yang belum beres. Dua orang di antara mereka menyalakan api, memasak air panas untuk membuat kopi dan teh, sementara tiga yang lainnya mulai menyiapkan pulut dan kelapa parut yang sudah disediakan tadi sore sebagai teman minum teh orang-orang yang datang pada malam itu. Para lelaki terlihat bergerombol di bawah tenda depan rumah. Para remaja perempuan berada di ruang depan yang sudah dipasang pe laminan dan kain di dinding, sedang sibuk membuat serbet berbentuk bunga dan buah nanas. Tengah malam, ketika semua sudah dianggap selesai, orang-orang itu pulang dengan terkantuk-kantuk ke rumah masing-masing.

***

Sore Sebelum KenduriKeesokan hari, para tamu mulai berdatangan, semakin lama, semakin ramai saja. Remaja perempuan berdiri di belakang meja prasmanan yang disediakan untuk tamu perempuan, mereka memakai gaun brokat dan bibir bergincu. Remaja pria berada di belakang meja prasmanan yang disediakan untuk tamu laki-laki, mereka memakai baju batik dan bertugas melayani tamu laki-laki. Ketika tamu sedang ramai-ramainya, di meja prasmanan mulai terlihat adanya kepanikan yang terus menjalar ke arah dapur, pada orang-orang yang bertanggung jawab untuk menyuplai makanan ke meja prasmanan. Ayam rendang yang disediakan kemarin sudah sangat menipis dan hampir habis, padahal matahari belum naik ke atas kepala dan rombongan pengantar mempelai perempuan juga belum sampai. Salah seorang dari mereka menghubungi pemilik rumah yang juga menjadi sangat panik, sementara para tamu terus berdatangan seperti semut mengerubungi gula. Adik laki-laki Kak Puteh naik motor bersama salah seorang tetua desa untuk membeli ikan segar di pasar.

Dalam kepanikan pemilik rumah dan orang-orang yang bertanggung jawab untuk komsumsi; di belakang rumah, di bawah salah satu terpal, Kak Nun terlihat mendekati Kak Na, setelah memaki beberapa kali, dia mulai menjambak Kak Na yang dituduh telah menghinanya kemarin sore. Tidak dijelaskan siapa yang telah menyampaikan hal tersebut pada Kak Nun. Kak Na yang tidak siap, tidak sempat menghindar, jilbabnya lepas dari kepala, dia mulai menangis sementara Kak Nun menjerit marah-marah. Perhatian mereka yang tadinya panik karena kehabisan lauk untuk kenduri beralih pada kedua perempuan itu.

Salah seorang lelaki berkumis yang mencoba melerai keduanya malah kena cakar kuku Kak Nun, lelaki itu memaki beberapa kali. Kemudian, muncul Nyak Syukri yang menarik tangan istrinya untuk menjauh dari tempat itu. Kak Na terus mengatakan tak bisa menerima perlakuan Kak Nun yang menyerangnya begitu saja.

Lelaki tua yang sepertinya imum gampong, meminta Kak Na untuk menahan diri dan menyelesaikan masalah itu di masjid, di depan para tetua kampung untuk mencari keadilan, di mana pihak yang bersalah diharuskan membayar denda atau sekadar meminta maaf pada pihak yang lain. Kak Na menyetujuinya, kemudian berjalan pulang meninggalkan rumah kenduri.

Ikan segar sudah dibawa pulang dari pasar, beberapa perempuan tetangga Kak Puteh mulai membersihkannya: membuang sirip, ekor, isi dalam ikan, bagian ujung kepala dan ujung pipi ikan, sambil membicarakan perkelahian Kak Nun dan Kak Na yang baru saja berlangsung di depan mereka. Ikan selesai digoreng ketika ayam benar-benar habis di meja prasmanan. Mereka mencampur bumbu rendang dengan ikan bandeng goreng dan meletakkan di meja prasmanan. Rombongan pengantin perempuan sudah sampai di pintu pagar, hantaran mereka diletakkan di atas selembar tikar, talam-talam yang berisi kue itu di tutup dengan tudung berkasab. Serombongan murid taman kanak-kanak yang sudah berhias dan dipakaikan baju adat mulai menari ranup lam puan di depan rumah, menyambut sang mempelai perempuan.

Musik menggiring anak-anak kecil itu yang membuat seekor kurcica ekor kuning yang bertengger di atas belimbing wuluh di belakang rumah menjadi cemburu. Burung itu mulai berkicau dan menari dari dahan ke dahan. Seekor kadal menggeleng-geleng kepala mengikuti irama ranup lam puan.

Tamat

Keterangan:
Rapat Peujok Buet: Rapat kecil semacam rapat panitia kenduri di mana pemilik rumah membicarakan rencana kenduri bersama keluarga, tetua desa, dan handai taulan.
Imum Gampong: Lelaki yang dituakan di kampung biasanya menjadi penasihat kampung.
Tarian ranup lam puan: Tarian penyambutan tamu pada acara tertentu.

Ida Fitri, lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Tulisannya pernah terbit di Koran Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat, Tabloid Nova, dan lain-lain. Kumcer Pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong ( 2017)

[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 22 Juli 2018