Suatu Ketika di Ruang Gawat Darurat

Karya . Dikliping tanggal 2 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas

Tidak mudah membedakan rintihan kesakitan dan erangan kematian. Apalagi dalam ruang gawat darurat yang dipenuhi pasien pasien kritis. Mendengarkan rintihan sambil menahan sakit tentu lebih susah. Terlebih lagi jika badan tidak bisa digerakkan. Karena itu aku hanya memutar-mutar bola mata mencoba melihat siapa saja yang merintih memanggil ibu, emak atau mamanya.

Upayaku untuk memutar kepala dan mencoba mendapatkan sudut pandang lebih baik tidak berhasil, karena ikatan yang membelit dadaku menyebabkan pergerakan sangat terbatas. Bayang-bayang dokter, yang menyarankan agar aku selalu tersenyum menghadapi tekanan di dada, rasanya tidak terlalu banyak menolong. Tapi saat tersenyum, ada rasa nyaman menyeruak ke rongga dada, yang membuat aku bisa membuka mata.

“Bagus, senyuman pertama yang terpenting,” ujar dokter yang terus menggerakkan stetoskop di seputaran dadaku. “Sekarang tarik napas yang dalam,” tambahnya.

Dengan pengerahan napas perlahan dari perut ke dada terus keluar melalui hidung, aku mencoba menjernihkan pikiran sambil membuka mata, melihat berkeliling. Ternyata brankarku, tempat tidur beroda, terletak persis di pintu masuk, berdekatan dengan seorang ibu yang tiap sebentar merintih. Di kiriku seorang bapak tua dengan bantuan pernapasan kelihatan sedang berjuang menghirup oksigen. Seorang perawat tiba-tiba memindahkan bapak tua tersebut, tapi hanya satu dipan bedanya dari aku.

“Tidak banyak pilihan tempat di ruang gawat darurat,” dokter yang memeriksa denyut jantungku berkomentar seolah tahu persis apa yang kupikirkan. Aku hanya bisa tersenyum. Upaya mengumpulkan kata rasanya sangat sulit. Setiap tarikan napas untuk melafazkan satu kata seperti memerlukan ribuan kekuatan yang sulit didapatkan.

“Oke, saya sudah selesai, tidak ada yang mengkhawatirkan, hanya kecapekan dan butuh istirahat. Tapi harus tersenyum terus supaya tekanan terhadap dada berkurang,” ujar dokter yang terus meninggalkan brankarku dan memeriksa si ibu yang masih merintih kesakitan.

Dari wajahnya kelihatannya ibu tersebut setidaknya sudah berusia sekitar 70-an. Dalam sakit dan sendirian, ibu tampaknya sosok terdekat yang otomatis kita ingat untuk dimintai tolong. Mungkin itu yang menyebabkan dia terus merintih memanggil ibunya.

“Dokteer, sakiit,” tiba-tiba terdengar teriakan menggema memenuhi ruangan, diikuti entakan kaki berkali-kali dan teriakan lebih keras minta tolong. Hampir semua mata memandang seorang anak perempuan kurus yang berusaha keras melepaskan ikatan di tangan dan dadanya.

“Nina tenang saja di tempat tidur,” ujar perawat berusaha menenangkan pasien bernama Nina yang tidak berhenti mengentakkan kakinya.

“Enggak mau, Nina enggak mau diikat, lepaskan, sakiiit,” teriaknya semakin keras sambil mengentak dan meliukkan badan.

Ibu tua di sampingku yang tadinya tertidur, terbangun dan merintih memanggil lagi mamanya. “Sakit, Ma,” rintihnya perlahan diikuti koor teriakan memanggil “mama” disuarakan hampir semua pasien yang terbangun akibat teriakan Nina.

Aku separuh tersenyum melihat berkeliling mendengarkan gaung suara kesakitan memanggil mama yang tertutup teriakan keras minta tolong Nina.

“Dokter ada orang gila,” tiba-tiba Nina berteriak sambil menunjuk ke arahku, diikuti pandangan mata semua perawat ruang gawat darurat. Senyumku langsung menghilang dan aku berusaha menutup mata seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi teriakan Nina semakin keras menuding aku gila. “Orang kesakitan dia tersenyum-senyum. Gilaa,” teriak Nina membahana.

Suster yang berusaha menenangkannya tidak berhasil mendiamkan Nina. Entakan kaki dan teriakannya yang semakin keras membangunkan hampir semua pasien di ruang gawat darurat.

Namun rintihan dan erangan kesakitan hampir semua pasien malah membuat Nina semakin kesetanan. Teriakan dan entakan kakinya mengalahkan semua teriakan kesakitan di ruang gawat darurat. Ibu yang di depanku dengan napas tertahan kembali merintih memanggil mamanya. Tidak terlalu jelas apa yang diucapkannya karena ia lebih banyak menyuarakan kesakitan. Untung suster tidak lama kemudian mendekati ibu tersebut, dan dibantu perawat lain ia dibawa ke ruang operasi.

Tidak lama kemudian beberapa suster memindahkan aku ke bagian yang berdekatan dengan Nina, yang sedang terlelap, kemungkinan setelah diberikan obat tidur. Dengan leluasa aku mengamati wajah tirusnya dengan mata yang seolah melesak ke dalam. Sulit membayangkan apa saja yang telah dialami Nina dan kenapa ia harus diikat, serta apa yang menyebabkan dia tidak pernah tenang.

Dari bisik-bisik perawat yang kudengar, Nina diperkirakan mengonsumsi flakka, jenis narkoba baru yang punya efek dahsyat dan mengakibatkan pemakainya selalu berteriak seperti orang kesetanan. Jika tidak mendapatkan perawatan tepat dan segera, pemakai terancam keselamatan jiwanya.

Namun saat itu aku lebih khawatir Nina terjaga, daripada membayangkan efek mengonsumsi flakka. Aku tidak berani menduga apa lagi yang akan diteriakkan Nina, jika dia terbangun dan melihat posisi aku yang sangat berdekatan dengannya.

Tentu saja tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendengar teriakan Nina lagi. Seperti tersambar petir aku mendengar Nina berteriak menuduh aku pengedar narkoba yang memberinya flakka. “Dokter, ini orang yang mencekoki Nina dengan flakka,” tudingnya diiringi entakan kaki berkali-kali.

Seluruh mata di ruang gawat darurat serentak memandangku. Rasanya aku berharap lantai di bawahku amblas atau plafon di atas dipanku membuka dan aku terisap ke atas. Hilang dari tatapan semua mata di ruang gawat darurat. “Dokter, tolong, Nina jangan dibiarkan dekat pengedar tersebut. Ia akan terus mengejar Nina,” teriaknya sambil terus menunjuk ke arahku.

Aku melihat dokter dan perawat berbicara dan tak lama kemudian dua perawat mendatangiku dan langsung mendorong brankarku ke luar ruang gawat darurat, masuk ke ruang kardiologi. Sambil memasang elektrokardiograf (EKG), alat pengukur denyut jantung, perawat bertanya di mana aku kenal Nina sebelumnya? “Di ruang gawat darurat,” jawabku.

Perawat itu menatapku dengan tajam dan mengulang pertanyaannya, “Maksud saya sebelum di ruang gawat darurat bapak pernah ketemu Nina di mana?” Dengan tegas aku menjawab: “Belum pernah.”

Dengan agak keras perawat tersebut mencabut salah satu EKG, yang menimbulkan rasa nyeri, dan memasangnya ke bagian pinggangku. Ia terus bercerita bahwa Nina punya ingatan kuat dan bisa menceritakan semua kronologis sampai ia dibawa ke rumah sakit karena dicecoki flakka oleh teman-temannya. Tapi sejak itu tidak ada lagi yang menjenguk Nina.

“Dunia sempit ya. Nina tampaknya kenal betul bapak dan sampai dua kali menunjuk bapak,” tambah si perawat sambil menatapku tidak berkedip. Ia menjelaskan bahwa rumah sakit serasa ditinggalkan beban berat mengurus Nina yang hampir setiap hari berteriak ketakutan. Selalu dihantui, dikejar-kejar pengedar narkoba.

Aku tidak menjawab. Selain tidak tahu bagaimana harus menanggapi masalah pasien korban narkoba, aku juga bingung apa kaitanku dengan Nina. Dokter yang memeriksa denyut nadi dan jantungku juga ikutan menjelaskan bahwa pengedar narkoba biasanya tidak pernah melepaskan pasien korban narkoba begitu saja. Melalui keluarga, mereka akan terus berusaha memasok narkoba. Untuk menutup malu serta menghindarkan pasien berteriak-teriak, keluarga biasanya membiarkan pengedar mencekoki pasien. Sampai akhirnya keluarga kehabisan uang dan harta, serta tidak sanggup lagi membeli narkoba, baru pengedar melepaskan pasien.

“Beban kami mulai dari situ,” tutup dokter sambil menambahkan bahwa tentu saja tidak mungkin aku menjadi pengedar narkoba. “Walaupun tidak ada yang enggak mungkin, tapi mustahil bapak pengedar,” tambahnya sambil tersenyum.

Setelah mengecek bolak-balik hasil pemeriksaan denyut jantung dan berkas serta riwayat penyakitku, dokter menyatakan aku bisa kembali ke ruang gawat darurat. Ia bahkan menambahkan jika tidak ada perkembangan yang memberatkan aku bisa keluar segera dari rumah sakit. “Kelamaan di rumah sakit lama-lama malah bisa jadi pengedar beneran,” tambahnya sambil tertawa lebar.

Aku tidak sempat menanggapi pernyataan dokter yang terakhir karena si perawat langsung mendorong brankarku ke luar ruangan kardiologi dan melewati Nina yang kelihatannya sudah tertidur pulas.

Lampu ruang gawat darurat yang sudah dimatikan karena malam semakin larut membuat aku sangat mengantuk. Suasana di ruang gawat darurat yang sangat senyap serta tidak ada lagi teriakan kesakitan, membuat hampir semua pasien dan perawat tertidur pulas. Aku perlahan mulai memicingkan mata.

Suatu Ketika di Ruang Gawat DaruratPersis saat menutup mata aku melihat seorang perawat mendekati brankar Nina dan terlihat seperti menyuntikkan sesuatu ke lengannya. Tak lama kemudian Nina terdengar berteriak keras sekali: “Sakiiit, kepala Nina sakit sekali, dokter toloong.

Lampu ruang gawat darurat otomatis menyala semuanya. Nina kelihatan sangat kesakitan dan membenturkan kepalanya ke tempat tidur, sambil mengentakkan kaki dan meliuk-liukkan badan. Dokter dan semua perawat memenuhi ruang gawat darurat. Tidak lama kemudian petugas keamanan rumah sakit masuk sambil menyerahkan sesuatu kepada dokter yang terus meninggalkan ruangan diikuti sejumlah perawat.

Suasana sangat tegang. Apalagi polisi kemudian tampak memasuki ruang gawat darurat dan terus menyisir semua tempat serta berkali-kali melewati brankarku. Tak lama kemudian Nina dibawa ke ruang operasi. Pintu masuk ruang gawat darurat dikunci dan tidak ada yang diperbolehkan masuk dan juga keluar ruang gawat darurat. Anehnya, dalam keadaan tegang tersebut, tidak terdengar teriakan dan keluhan pasien kesakitan. Suasana menjadi hening dan mencekam.

Perawat yang biasanya saling melontarkan lelucon mengatasi rasa bosan, semuanya terdiam. Hanya suara langkah bolak-balik petugas keamanan yang menyisir dan memeriksa setiap sudut ruang gawat darurat mulai terdengar menyiksa.

Tak lama kemudian dokter kepala bagian ruang gawat darurat terlihat mengumpulkan para perawat. Setelah mendengarkan briefing dokter kepala dan petugas keamanan, seorang perawat terlihat digiring ke luar ruangan oleh petugas keamanan. Tidak ada penjelasan atau keterangan apa pun sampai lampu ruangan gawat darurat dipadamkan.

Menjelang pagi, ruang gawat darurat kembali hiruk-pikuk menerima pasien kritis dan silih berganti memindahkan pasien yang masuk hari sebelumnya menggantikannya dengan yang baru datang. Aku termasuk yang dikeluarkan dari ruang gawat darurat. Dua perawat mendorong brankarku dan memasukkan aku ke mobil ambulans menuju ruang perawatan. Dan dalam ruangan tersebut aku melihat Nina sedang tiduran. Kelihatannya aku akan berbagi kamar dengan Nina, yang terlihat sangat sehat serta penuh senyum.

Tidak banyak yang dikatakannya kecuali bahwa ia petugas yang berusaha mengungkapkan jaringan pengedar narkoba di rumah sakit dan kebetulan aku berada di ruang gawat darurat saat jaringan pengedar hampir terungkap. Keberadaanku menurut Nina sangat membantu karena anggota sindikat pengedar di rumah sakit merasa aman untuk meracuninya guna menghilangkan bukti. Tapi untung usaha tersebut tidak berhasil dan Nina dapat diselamatkan. Ketika kutanya apakah dia akan lama bersamaku di ruang perawatan, Nina hanya berkata singkat: “Siapa yang mau sekamar dengan pengedar narkoba.”

Des Alwi lahir 3 September 1960 di Pariaman dan saat ini bekerja di Kementerian Luar Negeri. Bercita-cita sebagai penulis, ia pernah menjadi wartawan di majalah Fokus (1982) dan harian ekonomi Bisnis Indonesia (1985). Cerpen pertamanya dimuat di majalah SMA 2 Padang tahun 1978 dan cerpen keduanya, “Ms. Watso”, masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas 2014.

Susilo Budi Purwanto lahir di Magelang, 26 Juli 1966. Menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta dan kemudian menetap di kota yang sama. Pertama kali berpameran tahun 1999 di Edwin’s Gallery, Jakarta. Susilo juga menjadi salah satu komponen dalam Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas tahun 2012 di Bentara Budaya Jakarta. Alamat surel: susilobp@gmail.com. Selebihnya ia sudah berpameran puluhan kali di sejumlah galeri di Tanah Air.


[1] Disalin dari karya Des Alwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” edisi Minggu 30 September 2018