Sunyi Bercerita tentang Kesunyian

Karya . Dikliping tanggal 5 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

DI setiap jeda waktu yang tak terlalu jarang, lelaki tua itu terlihat selalu tak jauh dari mesin tik kesayangan. Terlepas dari cuaca yang sedang tak menentu, keperluan genting yang mengharuskannya keluar rumah, atau kunjungan mendadak para tamu. Sebab, benda itulah satu-satunya hiburan paling masuk akal di hari tua, mengelakkan layar televisi yang melulu bicara sensasi, bujuk rayu komersial, dan kepalsuan tingkah para politisi yang membuatnya jengah belaka. Ia telah menghabiskan hampir seluruh usia untuk mempelajari banyak hal di dunia ini, kecuali menjadi tua.

“Ide itu seperti bisikan langsung Mahakuasa yang datang tiba-tiba. Daya ingat manula makin menyusut,” gumamnya seperti bicara sendiri, menguak alasan.

Di waktu-waktu lampau saat pikiran masih setajam penglihatan, jemari si lelaki begitu lincah menari pada tuts aksara, berampai kepulan asap merajah paru, berderap laiknya langkah serdadu saat parade. Seirama Strauss memainkan Waltz tiga perempat The Blue Danube yang sering ia putar, sensasi bunyi tak-tok dari moncong mesin tulis manual adalah anestesi dari perangkap kesepian.

Mesin tik tua itu setia menemaninya hidup, sebaik-baiknya hidup secara manusiawi di tengah kehidupan manusia yang kini telah berubah, bagai mesin. Ia akan tenggelam di pusaran waktu, mengail ribuan kata untuk bercerita, perihal apa pun yang menurutnya penting dan patut untuk diceritakan. Sebagaimana ingatan lama yang masih tersisa, kecakapan itu nyatanya diwarisi dari sang ibu yang keburu mangkat sebelum ia mengenal bangku sekolah. Ia tak akan tidur sebelum ibu menceritakan sebuah kisah, menumbuhkan tunas imajinasi di kepalanya. Setelah tumbuh besar, tunas itu mengejawantahkan banyak anak tulisan.

Menulis bak pelengkap hikayat. Menjadikannya berarti setidaknya bagi diri sendiri.

“Bagaimana Bapak bertahan di penjara? Bertahan dalam kesunyian?”

“Ada saja cara membunuh sunyi.”

“Apakah Bapak mendendam?”

“Buat apa? Saya tak punya kekuatan apa-apa. Tak akan ada yang berubah. Hidup terus berjalan,” lenguhnya pelan sembari mengisap sisa keretek.

Jauh sebelum seperti sekarang, nama itu kadung dianggap lebih berbahaya dibanding sosoknya yang ceking, hanya bersenjata kertas dan pena. Awak yang tidak lebih tinggi dari pundak orangorang Londo atau bumiputra kebanyakan. Kelana—dalam artian serupa asal—adalah manusia pelintas zaman, hidup dari satu masa ke masa yang lain. Dari satu bui ke bui lain. Dari satu rezim ke rezim yang lain. Orang menganggapnya kaku dan jemawa. Kepongahan prinsip lumrah mengakibatkannya menjadi terasing.

Tetapi Arum melihat keunikan lain dari semua cap buruk yang kerap dialamatkan kepadanya. Lelaki nyentrik ini cuma kambing hitam kebuasan, pikirnya.

***

Di sekitar era kemerdekaan, Kelana muda (pendatang dari kampung) hidup menyambi apa saja untuk dapat sekadar bertahan. Karena ikut menumpang di kediaman sanak jauh, ia cukup ringan hati membayar segala kebaikan keluarga itu dengan melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci, mengepel, menyapu, dan sejenisnya. Meskipun saat itu telah diterima sebagai juru ketik di kantor berita Domei. Bersama suami dari sanaknya, ia mulai mengenal dunia tulis-menulis. Ikut membantu pengerjaan pamflet, selebaran, atau majalah-majalah berbau perjuangan. Rezim pendudukan lantas berganti. Seiring waktu karena berbagai sebab, sempat pula Kelana ikut bagian menjadi prajurit dalam front Divisi Siliwangi. Untuk pertama kalinya itu ia melihat manusia harus mati bergelimpangan tepat di hadapan. Betapa keras hidup di arena pertempuran. Kadang ia berpikir, untuk apa ada perang di dunia ini? Mengapa manusia harus saling menaklukkan satu sama lain?

Tak jarang, sewaktu pasukan mesti bergerak menuju titik sasaran, ia ikut rebahan seadanya di beranda rumah tiap penduduk yang sedang dilalui. Di salah satu rumah penduduk itulah Kelana bertemu sosok perempuan cantik, putri pedagang papier-tembakau, yang telah langsung menawan hatinya.

Apa yang lebih menggetarkan dari kisah romansa di medan peperangan?

Tak hendak mengulur-ulur, tiga sasi sejak pertemuan pertama, Kelana mempersunting Delima lewat prosesi sederhana. Tak lama setelah itu ia kemudian dipindah ke bagian perkabaran. Sayangnya, belum cukup merasakan manis madu perkawinan, ia malah tertangkap dalam suatu operasi. Setahun lebih Belanda membuinya tanpa peradilan.

Selama masa penghukuman itu ia merenung, lalu memutuskan untuk berhenti menjadi seorang prajurit. Nasib baik lalu membebaskannya dari kungkungan penjara. Ketika pulang, ternyata ia telah menjadi seorang ayah. Jati telah lahir ketika ia dipenjara. Kondisi ekonomi saat itu begitu sulit. Namun, berbekal pengalaman, ia akhirnya diterima sebagai pekerja pengarsipan di penerbit Bandar Poestaka, sebelum akhirnya menjabat redaktur sastra.

Sejak itu Kelana semakin getol dengan tulisan. Hari-harinya berkutat tak jauh dari buku, tumpukan naskah, dokumen, berbagai karya tulis prosa maupun drama. Semakin hari, pembacaannya yang dalam pada berbagai ide pemikiran semakin melebarkan sayapnya ke ranah lain yang penuh marabahaya: politik. Permainan kekuasaan di antara para gajah meminta tumbal. Peristiwa ’65 meletus. Kelana ikut terjebak di dalamnya. Semua orang saling curiga, tak jarang malah dimanfaatkan untuk menghajar mereka yang tak disukai dengan tuduhan tak berdasar. Sebelum Kelana diringkus, keluarganya lebih dulu diungsikan ke kampung halaman. Vonis hakim dari sesama bumiputra mengganjarnya hukuman 15 tahun penjara. Ia diasingkan ke pulau terpencil. Terpisah dari anak-istri, tanpa kabar.

Belasan tahun kemudian setelah menghirup udara bebas, jejak keberadaan Delima dan Jati seakan lenyap begitu saja ditelan bumi. Para tetangga menjauh, sampai kemudian sejawat dekat menyampaikan sesuatu dengan raut tak tega; Delima dan Jati pernah terlihat ada dalam rombongan orang-orang tertuduh sewaktu digiring pasrah ke Sungai Brantas. Ia membayangkan nasib nahas keduanya, sejak hilang kontak bertahun-tahun, harapan untuk berjumpa lagi saat berada dalam penjara itu nyatanya sia-sia belaka. Keyakinannya runtuh.

***

“Oleh karena itu Bapak menulis? Membuat karangan untuk lupakan kesedihan?”

“Di titik nadir, kau tak pernah yakin pada apa pun, kecuali ada sesuatu yang harus kauyakini. Sesuatu yang hanya kau sendiri yang tahu.”

“Banyak yang bilang, karangan Bapak sangat personal. Apakah itu curahan hati Bapak sesungguhnya?”

“Kamu sendiri apa sudah baca? Ya, seperti kata seorang pemikir, aku adalah satu hal, tulisanku adalah hal yang lain.”

“Benarkah Bapak dulu ditangkap karena ideologi?” tanya Arum mempertanyakan hal yang terlalu sering ditanyakan kepadanya.

“Omong kosong. Di negeri ini tak ada bedanya kekuasaan tangan besi dengan ide kebebasan. Semua gado-gado. Kebebasan itu kan paradoks juga. Dia menghasilkan kelas baru yang menyebabkan kelas lain tak bisa memilih kebebasannya sendiri. Lihat saja acara televisi. Sudahlah, jangan terlalu serius. Saya ditangkap karena rezim sedang iseng. Mereka senang bermain-main dengan kemanusiaan. Anda sendiri mengapa menulis? Anda penulis juga kan?”

Tanya berbalas tanya. Begitulah kemudian percakapan demi percakapan menjadi abstraksi perkenalan Arum dengan Kelana di sebuah kafe sekitar pusat kota, semenjak Arum pertama kali mendatangi rumahnya untuk sebuah proyek tulisan. Ia merasa tersirap setiap kali mengikuti jalan pikiran lelaki tua itu kala menceritakan sejarahnya. Lelaki sunyi dengan pencapaian yang baru diakui setelah rezim jatuh.

Kesedihan dan perjuangan Kelana begitu mirip dengan kisah hidupnya. Kesunyian yang ia rasakan pastilah juga dirasakan lelaki tua itu meski ia kerap berusaha menutupinya dengan kesan slebor. Siapa yang bisa mengerti riwayat kesedihan seseorang selain seseorang dengan kesedihan itu sendiri? Hanya sunyi yang mampu merasakan kesunyian.

Sunyi itu, jeri yang merasuk ke dalam sumsum paling tersembunyi, di hati dan jiwanya setelah ia dengan tubuh lunglai berbalut pakaian habis terisak dan darah segar yang mengalir di sela-sela paha, seolah mengulang sejarah gelap yang ia tahu pernah mendera sekian tahun lamanya ingatan Kelana. Kesuciannya sebagai perempuan ternodai dalam beberapa menit adegan laknat di sebuah jembatan kota saat sepulang kantor. Beberapa wajah masih terbayang. Suasana kacau. Jalanan terlihat lengang, asap dan teriakan orang-orang yang berlarian sangat membekas. Ia coba melapor. Tapi semuanya pupus, sia-sia.

Ingatannya mungkin terlalu berbahaya bagi sekelompok orang. Satu-satunya keadilan yang mesti dijalani adalah dengan tidak melupakan ingatannya sendiri.

Maka demikianlah adanya, sejak Arum mengenal Kelana lebih dekat, ia merasakan sosok yang mengerti keberadaan dirinya secara utuh, yang bisa merasakan kegetirannya, mengisi kekayaan pikirannya, memacu cita-citanya, atau sekadar membantu mengerjakan sesuatu yang remeh seperti menemaninya berbelanja di pasar dan nonton ke bioskop, walau mulanya terasa canggung.

Atau ngopi-ngopi, seperti sekarang. Kelana penyuka kopi. Ia percaya minum kopi bisa menetralkan racun. Ada-ada saja. Tapi kini lelaki tua itu lebih banyak diam. Beberapa waktu belakangan isi kepalanya seperti kosong. Kemampuannya menulis susut, berbanding terbalik dengan kegemarannya merokok, kencang bagai sepur. Seturut halnya dengan Arum, Kelana pun sesungguhnya merasakan sesuatu yang berbeda sejak mengenal perempuan cantik dan pintar itu setelah pertemuan pertama mereka. Hari-hari yang mereka lalui di perpustakaan, pergelaran seni, atau hanya duduk menghabiskan senja di sebuah kafe adalah pengalaman baru yang menerangi hidupnya yang lusuh, tua, dan membosankan. Kini semua itu berubah. Dari jalin pertemanan antara seorang murid dan guru, ia tak bisa lagi membohongi perihal sesuatu yang telah lama tak ia rasakan dalam hidup.

Ia jatuh cinta. Tapi bibir yang menghitam itu sulit sekali mengatakannya.

***

Sunyi Bercerita tentang Kesunyian“Kamu percaya tidak, seseorang yang telah mati akan selalu ada di dekat sesuatu yang dicintainya saat masih hidup?” tanya perempuan itu menerawang.

“Sebagai orang yang agamais, tentu saja tidak. Memangnya kenapa? Kamu dihantui seseorang? Jangan-jangan mantan,” seloroh sang lelaki.

“Entahlah, akhir-akhir ini seperti ada yang berbisik kepadaku untuk terus menyelesaikan novelku yang terbengkalai.”

“Editor.”

Perempuan itu tersenyum kecut.

“Yaa, itu juga. Targetku sebulan lagi.”

“Kamu terlalu banyak baca fiksi. Ayo, kita piknik minggu ini.”

“Tidak, Ray. Ini penting. Solusimu tak membantu,” ujar perempuan itu serius. Mimiknya berubah.

“Iya, maaf. Aku tak bermaksud apa-apa.” Keduanya diam sesaat.

“Novelmu tentang apa, boleh aku jadi orang pertama yang tahu kisah dari calon buku laris tahun ini?”

Perempuan itu kembali tersenyum, “Kisah cinta,” tuturnya singkat. Menatap raut sang lelaki yang menunggu penjelasan, ia melanjutkan, “Tentang pengarang tua yang jatuh cinta pada perempuan muda yang juga seorang penulis. Awalnya hubungan mereka tak lebih dari status murid dan guru. Seorang pembaca dan idolanya. Karena kesamaan latar belakang, mereka jadi sering berhubungan, menghabiskan waktu bersama sampai tumbuh benihbenih cinta di antara keduanya.”

“Siapa nama tokohnya?”

“Arum dan Kelana.”

“Nama yang bagus. Mengapa mereka bisa saling jatuh cinta?”

“Keduanya memiliki sejarah kelam masing-masing. Kelana adalah penulis tua legendaris yang pernah dipenjara belasan tahun oleh rezim despotik atas tuduhan subversif. Sementara Arum perempuan malang korban pemerkosaan brutal sekelompok orang tak dikenal di periode yang chaos, memilih sastra sebagai pelarian dari bisikan-bisikan asing yang kerap menyuruhnya bunuh diri. Kesunyian masing-masing membuat mereka saling mengisi karena empati yang murni tumbuh dari suatu rasa yang pernah sama-sama terluka,” tutur sang perempuan dengan nada bergetar.

Lelaki itu mematung. Dadanya sesak mendengarkan cerita yang sudah tak asing di telinganya. Cerita masa lalu sang kekasih yang telah terkubur hendak ditulis kembali. Ia memeluk erat perempuan itu seakan esok tak akan lagi menyapa.

Sementara itu, di suatu sudut yang lain, di ruang dan waktu yang berbeda, seorang lelaki tua terlihat selalu tak jauh dari mesin tik kesayangan, bermerek Brother, menanti sebuah kisah yang belum rampung untuk dituntaskan. Kisah yang bercerita tentang dirinya.

Ia ingin sekali menyentuh tombol-tombol itu, deret rangkaian huruf yang pernah membuatnya merasa hidup. Sejak pikirannya mandek seiring tubuh yang menua, kesunyian terasa begitu nyata—tak teraba oleh bahasa puisi apa pun, digambarkan dengan prosa paling realis sekalipun.

Ia rindu bernostalgia dengan kenangan yang tak pernah ada. (*)


D. Hardi. Menulis cerpen, puisi, dan resensi yang sudah tersebar di media cetak dan digital. Karya terbarunya adalah antologi puisi berjudul “Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari” | “Jawa Pos“.

Beri Nilai-Bintang!

Keterangan

[1] "Sunyi Bercerita tentang Kesunyian" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 3 Maret 2019