Supar Anak Siluman

Karya . Dikliping tanggal 17 Desember 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka

Seorang guru bergegas menuju ke kelas. Kewajiban menanti meski tubuh makin tak waras. Memberontak. Kepalanya berputar-putar, tanda pusing merayap hebat.

Tak lupa tas di tangan kanan. Agar terlihat berwibawa, ia menggantungkan kartu nama di saku kemeja sebelah kanan. Lagi-lagi kanan. Kenapa kanan? Hanya ia yang tahu atau memang keharusan peraturan.

Pak Ali, guru itu, hidup sebatang kara. Sebenarnya ia punya keluarga. Punya dua anak yang menjadi pengusaha di kota besar, tetapi susah mengajak mereka tidur nyenyak di rumah tuanya.  Sang istri pun lebih suka tinggal bersama si sulung. Begitulah nasib dan cinta. Dapat berubah tanpa disangka-sangka.

Senja telah menggerogoti usia Pak Ali hingga berharap pensiun cepat datang. Namun hati nurani masih berapi-api, bahkan ketika raga tak kuat menyangga dunia yang selalu berganti gaya. Ia dianggap kuno. Jangankan main Whatsapp, hape saja ia tak punya. Ia lebih memilih bertanya langsung pada siapa pun daripada menjadi budak teknologi.

Di kelas, seperti biasa, Pak Ali mengajar. Jangankan menggunakan model atau media masa kini, untuk bertutur kata saja, napasnya sudah ngos-ngosan. Ia mengajar dengan cara berceramah, cara kuno. Cara yang bagi banyak orang tak lagi bermutu. Ia tak peduli karena nyaman dengan gaya itu.

Setiap ia mengajar, anak-anak didiknya terdiam, sunyi. Ada yang diam memperhatikan, diam dalam permainan, diam dalam omongan, diam dalam lelap. Apa pun keadaannya, ia menahan hati. Bagaimana mungkin ia tega marah kepada anakanaknya? Jika ia marah, lalu mereka trauma dan menirunya kelak di kemudian hari, bisa bahaya. Ia tak ingin menanam akar keburukan.

Hari Sabtu, saat mata pelajaran keterampilan, ia meminta semua anak menggambar pemandangan. Hasilnya? Semua sama. Gambar dua gunung berwarna biru dengan satu jalan di tengah menuju ke gunung itu. Tak lupa sawah atau hutan di sekitar jalanan. Gambar yang abadi, sehingga semua orang kembali ke masa lalu ketika melihat pemandangan itu.

Hanya satu anak didik yang tak menggambar gunung, bahkan tak menggambar pemandangan seperti ia minta. Supar, anak itu, malah menggambar orang bertinju. Gambarnya amburadul, hanya goresan pensil, tanpa warna. Tubuh orang yang ia gambar pun hanya sebesar garis. Kepala orang itu seperti koin, tak mempunyai mata dan telinga.

“Bukankah Bapak minta gambar pemandangan?” tanya Pak Ali.

“Bapak bicara dengan saya?”

“Iya, kamu. Siapa lagi?”

“Nama saya Supar, Pak.”

“Iya, Bapak tahu. Jawablah pertanyaan Bapak.”

“Saya tak bisa menggambar pemandangan.”

“Kalau bukan gunung, kamu bisa menggambar pantai.”

“Nggak mau!”

“Kenapa?”

“Banyak orang pacaran di sana. Aku nggak bisa menggambarnya.”

“Kalau begitu, gambar taman saja ya.”

“Nggak mau, banyak sampah di sana. Kan aku suka kebersihan.”

“Ya sudah, yang penting selain orang tinju.”

“Tinju kan juga pemandangan, Pak. Kalau bukan pemandangan, tak bakal kita bisa melihatnya.”

Pak Ali bernapas lega. Supar ternyata berpikiran amat dewasa, jauh melebihi teman sebaya. Ia kemudian berkeliling lagi dan berujar dalam hati, “Benar juga, hampir semua anak menggambar gunung dengan warna dan letak yang sama. Akankah mereka kelak bisa mengubah dunia? Atau malah tunduk sebagai pegawai yang ditindas penguasa?”

***

Sebentar lagi kenaikan kelas. Pak Ali harus menyiapkan nilai dengan matang. Jangan sampai ada anak didik tinggal kelas, meski ia harus menaikkan nilai secara paksa. Alhasil,semua murid naik kelas. Saat pulang, ia membawa buku-buku ulangan dan buku gambar mereka. Hitung-hitung, lumayan, dapat dijual kiloan.

Sampai di rumah, Pak Ali tak langsung mengemasi dan menjual buku-buku itu. Ia ingin melihat goresan tinta dan warna anak didiknya, terutama Supar yang unik itu. Ia memang jarang mengecek gambar mereka. Tanpa melihat karya mereka, ia langsung memberikan nilai tertinggi untuk satu kelas karena mereka sudah berusaha keras.

Pak Ali kaget. Dalam buku Supar, sejak awal hingga akhir halaman, hanya ada gambar orang bertinju atau baku pukul. Ia pernah meminta Supar menggambar pemandangan di papan tulis. Alih-alih menggambar, Supar malah menangis.

Saat semua buku ia kemas menjadi satu, bertumpuk-tumpuk menjulang, siap jual kiloan, ia menyisihkan buku gambar Supar. Ia ingin menjadikan buku itu sebagai kenang-kenangan, sekaligus mencari tahu ada apa dengan anak itu. Apakah Supar bercita-cita jadi petinju?

***

Anak Siluman

Supar anak dari Desa Kebonjambu. Daerah kumuh yang belum teraliri listrik. Ia hidup bersama keluarganya. Bersyukur, iya, karena memiliki ayah dan ibu. Namun bahagia? Jelas tidak! Ia anak tunggal dan harus bekerja keras tiap hari. Sepulang sekolah dia berjalan menuju kota untuk menjajakan koran. Tanpa alas kaki, sengatan panas matahari tak ia hiraukan, asal pulang bawa uang. Jika tidak, ia akan disiksa habis-habisan oleh ayahnya.

Setengah hari penuh ia berjualan hingga peluh terasa asin di lidah. Senja menyurut hendak digantikan purnama. Langit merah itu menjadi saksi perjalanan pulang Supar. Senja yang diagung-agungkan banyak orang serasa tak berarti di hadapannya. Percuma senja yang cantik melukis langit, karena tak bisa memberinya makan.

Di depan pintu rumah, langkahnya tiba-tiba terhenti oleh teriakan-teriakan mencekam. “Janganjangan kau selingkuh lagi ya!”

“Jaga mulutmu! Aku bekerja seharian, pulang untuk kalian, dan sekarang kautuduh aku selingkuh?”

“Kenapa? Kau tak terima?” ucap ibu Supar dengan wajah berkerut amarah.

Supar melihat dari celah-celah dinding rumah. Tak ada ekspresi apa pun di wajahnya. Dulu hatinya berdegup kencang saat melihat hal yang sama. Sekarang sudah terbiasa.

“Lama-lama kau berani juga ya, omong kosong dengan cinta!”

Plak! Plak! Plak!

“Tampar saja aku! Pukul saja aku sebelum Supar pulang! Pukul aku sepuasmu!”

“Dasar perempuan makin kurang ajar saja. Sana pergi, bawa sekalian anak siluman itu!”

“Kaulah siluman itu!”

***

Di kelas yang baru, Supar kembali bersekolah. Tahun ini ekspresi wajahnya makin datar, senyum tipisnya sirna.Tubuhnya mengering, kurus. Buku-bukunya ia beri nama dan nomor absen seperti biasa. Bedanya, di kolom nama tertulis: Supar Anak Siluman. (28)

Hidar Amaruddin, lahir di Kudus, 16 Desember 1995, penulis musiman berdomisili di Semarang. Kini, dia sedang menyiapkan buku sastra pertamanya.


[1] Disalin dari karya Hidar Amaruddin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu 16 Desember 2018